Brosur
Call Us
Toko
Ulat FAW Indonesia Identik Dengan India
0 views

Ulat gerayak jagung S. frugiperda memang paling suka dengan tanaman jagung, meskipun dia memiliki banyak sekali inang. Sehingga sudah sewajarnya kalau petani jagung harus ekstra waspada sekaligus mampu mengenali gejala serangan dan ciri-ciri si gerayak tersebut. Apa saja penanda ulat ‘baru tersebut’?

Menurut Dr. Suputa, pakar hama Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, untuk mengenali ulat Spodoptera frugiperda di lapang mungkin akan sedikit sulit bagi yang belum terbiasa. Namun, terdapat ciri khusus yang dimiliki oleh ulat tersebut yang bisa dijadikan panduan untuk mengidentifikasinya. Yaitu pada bagian kepala dan perut atau abdomennya.

Karakter khusus tersebut, lanjut Suputa, akan lebih mudah diamati secara visual jika ulatnya sudah pada fase di atas instar ke-3. “Ciri khusus itu akan tampak lebih jelas. Karakter yang khas adalah huruf Y terbalik pada bagian kepalanya. Kemudian pada segmen ke-7 abdomen ada empat titik hitam yang membentuk pola trapesium, dan pada segmen ke-8 bentuknya bujur sangkar. Pada segmen abdomen ke-9 bentuknya trapesium lagi. Ini yang menjadi penciri frugiperda,” jelas Suputa.

 

 

Ulat S. frugiperda juga terbilang sangat rakus. Dalam waktu singkat, hanya semalam, ratusan hektar tanaman jagung bisa hancur. Selain itu, ulat tersebut juga ‘kanibal’. Dalam satu tanaman inang, terutama jagung, hanya ada satu ulat yang berkuasa. Dengan kata lain, untuk merusak satu tanaman jagung dalam waktu singkat hanya cukup satu ulat saja.

“Hama ini kanibal. Pada satu tanaman, hanya ada satu larva. Kalau ada dua larva, atau lebih, maka yang lain akan dimakan. Dan yang memakan itu belum tentu yang besar memakan yang kecil. Bisa jadi yang kecil memakan yang besar,” terang Suputa.

FAW tergolong bermetamorfosis sempurna. Dalam siklus hidupnya, S. frugiperda melalui empat tahapan metamorfosis, yaitu: telur, larva (terdiri dari 6 instar), pupa, dan ngengat.

“Siklusnya berlangsung 24 sampai 40 hari. Imago dewasa betina hidup sampai 21 hari, tapi rata-rata 10 hari. Kemudian masa sebelum meletakkan telur atau pre-oviposition selama 3-4 hari,” jelas Suputa.

Dalam kondisi yang ideal yang hangat, imago atau ngengat betina akan meletakkan telurnya di bawah permukaan daun jagung, terkadang di atas permukaan daun. Sepanjang hidupnya (2-3 minggu), seekor ngengat betina mampu menghasilkan 6 hingga 10 kelompok telur, dimana masing-masing kelompok tersebut berisi 100-300 butir. Kelompok telur tersebut biasanya dilapisi rambut-rambut halus seperti kapas, dan ini menjadi tanda penting keberadaan FAW.

“Telur yang diletakkan seekor ngengat betina bisa mencapai 2.000 butir,” ujar Suputa.

Pasca telur tersebut diletakkan, perlu waktu 2-3 hari untuk menetas menjadi larva muda (instar 1). Proses penggerekan daun jagung pun dimulai. Larva muda (instar 1-3) hanya akan memakan bagian permukaan atas daun dan menyisakan lapisan epidermisnya saja. Selebihnya, pada instar 3-6, baru akan memakan bagian daun tanaman secara keseluruhan, hingga memotong titik tumbuhnya juga. Dengan kepadatan populasi 0,2-0,8 larva per tanaman saja, sudah bisa mengurangi hasil 5-20%.

“Masa larva, dari instar 1 sampai instar 6, memerlukan waktu 14 hingga 22 hari. Kemudian dilanjutkan dengan masa pupa di dalam tanah selama 7 hingga 13 hari,” jelas Suputa.

 

 

Identik dengan FAW India

Merujuk sejarahnya, hama FAW S. frugiperda disebutkan sebagai serangga asli daerah tropis dari daratan Amerika Serikat hingga Argentina. Seiring perkembangan penanaman jagung secara besar-besaran di Amerika, populasi hama tersebut juga turut berkembang. Hingga kemudian dampaknya dilaporkan telah menyebabkan gagal panen 20% di Florida pada 2010. Sebelumnya, di tahun 1997, negeri Paman Sam terpaksa menggelontorkan anggaran hingga US$297 juta akibat ulah si ulat gerayak tersebut.

Kemudian, hama tersebut menyebar ke benua hitam Afrika, yang diduga kuat karena imagonya terikut penerbangan komersial. Serangga ini ditemukan pertama kalinya di Afrika pada awal 2016, tepatnya di Afrika Tengah dan Barat. Kemudian menyebar di seluruh daratan Afrika bagian selatan, kecuali Lesotho. Hingga pada 2018 lalu dilaporkan, FAW telah ditemukan di hampir seluruh negara Sub-Sahara Afrika.

“Migrasi imagonya bisa ratusan kilometer. Ada juga yang menduga kuat, imago FAW dari Amerika ke Afrika itu karena terikut badai tornado. Karena populasinya yang sangat banyak, maka ada beberapa yang hidup dan berkembang di Afrika,” ujar Suputa.

Perjalanan FAW pun berlanjut ke India. Sejak laporan pertama kalinya pada Mei 2018, hama ini telah menyebar ke 14 provinsi di India. Bahkan FAW juga telah menginvasi tanaman tebu dan padi di negeri para dewa tersebut.

Lantas, FAW yang dilaporkan di Indonesia saat ini lebih identik dengan FAW yang mana? Ataukah dia memang asli Indonesia?

Menurut Suputa, dari hasil analisis PCR atau Polymerase Chain Reaction terhadap spesimen ulat yang diambil dari Lampung, menunjukkan bahwa ulat tersebut memang S. frugiperda. “Hasil PCR, ternyata sampel yang dari Lampung itu 100% sama dengan Spodoptera frugiperda. Artinya, sampel tersebut memang Spodoptera frugiperda,” jelasnya.

Lantas, dari hasil analisis filogeni atau kedekatan kekerabatan, hama FAW yang ada di Indonesia lebih identik dengan yang menyerang di India. “Bisa jadi S. frugiperda yang ada di tempat kita itu berasal dari India,” lanjut Suputa.

Bagikan :     facebook      twitter        
Copyright @ MD|BISI 2020