Brosur
Call Us
Toko
Ulat FAW Ganas Tapi Bisa Dikendalikan
569 views

Penyebaran hama ulat ‘FAW’ Spodoptera frugiperda memang begitu cepat, hingga menimbulkan dampak serius yang sangat merugikan. Mengenalinya dengan lebih detail dan kemudian melakukan upaya pengendalian yang komprehensif menjadi solusi yang baik untuk mengatasi masalah serangan hama yang sangat rakus tersebut.

Hama S. frugiperda begitu cepat perkembangannya dan begitu cepat juga menyebarkan dampak kerugian yang signifikan bagi para petani jagung. Kondisi lingkungan yang mendukung serta belum banyaknya musuh alami disebut sebagai salah satu faktor penyebabnya.

“Hama ini bisa berkembang optimal pada kondisi lingkungan yang bersuhu hangat, mulai suhu 30-an derajat Celcius. Kemudian belum adanya musuh alami yang potensial menjadikannya lebih leluasa untuk berkembang biak,” terang Hoerussalam,  dari Laboratorium Proteksi Tanaman, Departemen Bioteknologi PT BISI International, Tbk.

Selain itu, lanjut Salam, ledakan serangan FAW juga disebabkan oleh waktu peletakan telur pada daun tanaman jagung oleh imago yang bertepatan dengan fase umur tanaman jagung yang masih muda, yang menjadi makanan favorit FAW. Sehingga, menyediakan ‘makanan’ yang melimpah bagi ulat setelah telur tersebut menetas.

 

 

Untuk mencegah serangan FAW tersebut, penggunaan varietas jagung yang tahan menjadi pilihan yang paling bagus dan ekonomis. Hanya saja, hingga saat ini belum terkonfirmasi varietas yang secara genetik tahan terhadap serangan ulat.

“Tapi ada beberapa peneliti yang menyebutkan karakter daun jagung yang agak tegak, tidak mendatar, itu cenderung tidak disukai imago Noctuidae saat meletakkan telurnya di permukaan daun. Posisinya mungkin lebih sulit dibanding daun jagung yang mendatar,” terang Dr. Suputa, pakar hama UGM.

Pengaturan waktu tanam yang serempak bisa dilakukan untuk mencegah perkembangan FAW. Pasalnya, apabila penanaman jagung dalam satu wilayah tidak serempak dengan beragam umur, maka sama artinya menyediakan inang dan makanan yang terus menerus bagi hama tersebut.

Suputa juga menyebutkan pentingnya keterlibatan masyarakat secara langsung dalam rangkaian upaya pencegahan dan pengendalian hama FAW. Oleh karena itu diperlukan informasi yang lengkap dan menyeluruh terkait pengenalan dan pencegahan serta pengendalian hama jagung “baru” tersebut.

“Di beberapa negara membuat leaflet-leaflet tentang FAW sebagai salah satu media sosialisasi. Sehingga warga masyarakat menjadi ikut mengamati. Bukan petugasnya saja. Sehingga upaya pencegahan dan pengendaliannya bisa lebih cepat,” terang Suputa.

Konservasi Musuh Alami

Salah satu hal yang menyebabkan serangan FAW begitu cepat dan luas adalah belum banyaknya musuh alami. Menurut Suputa, ada beberapa musuh alami yang bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan ulat gerayak jagung tersebut. Seperti Microplitis sp. yang berfungsi sebagai parasitoid ulat FAW. Imago Microplitis sp. tersebut meletakkan telurnya pada permukaan abdomen ulat FAW, terutama pada fase instar ke-3. Kemudian telur tersebut menetas dan berkembang di tubuh ulat FAW hingga menjadi kepompong.

Microplitis sp. ini selama menempel pada ulat gerayak jagung akan mengambil atau menyedot isi perut ulat gerayak tersebut. Sehingga pada akhirnya ulat gerayak tersebut mati karena isi tubuhnya diambil oleh Microplitis,” terang Suputa.

 

 

 

Selain itu, ada juga serangga yang berperan sebagai predator bagi FAW. Misalnya, cecopet (Euborellia annulipes) yang menjadi predator telur FAW. Predator lainnya yang bisa dimanfaatkan adalah kelompok kumbang kepik, seperti: Coleomegilla maculate, Cycloneda sanguine, dan Neda conjugata yang banyak ditemukan pada pertanaman jagung.

Keberadaan semut di ladang jagung juga bisa diberdayakan sebagai predator FAW. Caranya dengan melatih para semut untuk mengenali FAW sebagai calon mangsanya. “Cara mengenalkannya dengan mengambil ulat FAW kemudian diletakkan di kelompok semut yang kita temukan di lahan. Secara perlahan semut tersebut akan memanggil kawanannya untuk menjadikan ulat itu sebagai mangsanya,” terang Ali Mashari, Pesticide Product Development PT Multi Sarana Indotani.

Menurut Hoerussalam, ada beberapa jenis semut yang bisa dimanfaatkan sebagai predator. Di antaranya adalah: Camponotus spp., Odontoponera denticulate, Solenopsis geminate, Diacamma spp., Monomorium spp., Pheidole spp., dan Pheidologeton spp..

Sementara itu, Kepala UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Ir. Ali Son’any, MM., mengemukakan pentingnya konservasi musuh alami sebagai upaya pengendalian OPT, khususnya FAW ini. Caranya dengan menanam tanaman refugia, yaitu jenis tumbuhan yang dapat menjadi sumber makanan sekaligus tempat hidup bagi musuh alami, parasitoid dan predator. Jenis tanaman yang bisa dijadikan refugia antara lain: bunga matahari (Helianthus annuus), bunga kertas zinnia (Zinnia perruviana), kenikir (Cosmos caudatus), dan bunga tahi ayam (Tagetes erecta).

“Refugia fungsinya sebagai tempat hidup dan makannya musuh alami, terutama parasitoid. Refugia tersebut juga sebagai media konservasi musuh alami. Kalau parasitoidnya banyak, maka sebanyak apapun hama akan bisa dikendalikan dengan baik,” terang Ali Son’any saat ditemui Abdi Tani dalam rangkaian acara Gelar Manajemen Tanaman Sehat 2019 di Pasuruan, Jawa Timur.

 

 

FAW sendiri juga memiliki patogen yang bisa menyebarkan penyakit pada hama tersebut, yang biasa disebut entomopatogen. Beberapa entomopatogen yang mempengaruhi FAW antara lain: cendawan (Metarhizium anisopliae, Metarhizium rileyi, dan Beauveria bassiana), virus (Spodoptera Frugiperda Multicapsid Nucleopolyhedrovirus/SFMNPV), bakteri (Bacillus thuringiensis/Bt), nematoda, dan protozoa.

Menurut Suputa, entomopatogen tersebut, misalnya cendawan, akan menginfeksi FAW hingga tidak bisa berkembang dengan baik. “Cendawan tersebut bisa diekstrak dan kemudian disemprotkan ke tanaman jagung,” ujarnya.

Penggunaan Insektisida yang Tepat

Sementara untuk penggunaan pestisida kimia, beberapa bahan aktif seperti: Emamektin Benzoat, Klorfenapir, Siantraniliprol, Spinetoram, dan Tiametoksam bisa digunakan untuk mengendalikan serangan ulat gerayak jagung S. frugiperda.

Menurut Ali Mashari, salah satu insektisida yang bisa dijadikan alternatif pilihan bagi para petani jagung adalah Valetudo 600SC yang berbahan aktif Klorfenapir 600 g/L. Insektisida tersebut memiliki kandungan bahan aktif paling tinggi di kelasnya, sehingga lebih efektif dan efisien dalam mengendalikan serangan hama, khususnya ulat FAW.

“Aplikasinya dianjurkan bergantian dengan insektisida lain seperti CrumbleCarb 150SC yang berbahan aktif Emamektin Benzoat dan Indoksakarb untuk mencegah resistensi dari hama tersebut. Dan setiap kali melakukan penyemprotan sebaiknya dikombinasikan dengan insektisida biologi Turex WP,” terang Ali.

Lebih lanjut Ali mengatakan, efek translaminer dari insektisida CrumbleCarb 150SC turut membuat kinerja bahan aktifnya semakin efektif. “Karena sifatnya translaminer, yang bisa menembus ke bagian dalam daun, sehingga ulat yang bersembunyi di bagian dalam daun pun bisa dikendalikan,” ujarnya.

 

Turex WP, kata Ali, merupakan insektisida biologi yang mengandung bakteri Bacillus thuringiensis yang bekerja sebagai racun perut. Sehingga harus termakan oleh ulat dan masuk ke dalam sistem pencernaannya. Selain itu, insektisida ini juga tidak menimbulkan resistensi. “Dikombinasikan dengan insektisida kontak (Valetudo atau CrumbleCarb), maka efektifitasnya menjadi lebih tinggi,” tambahnya.

Lantas, kapan waktu yang paling tepat untuk aplikasi insektisida? Menurut Suputa, waktu yang paling rentan bagi ulat FAW terhadap insektisida adalah saat fase di bawah instar ke-3.

“Insektisida yang efektif itu diaplikasikan saat penerbangan pertama imago. Karena pada saat itu larvanya masih sangat muda, baru menetas atau di bawah instar tiga dan sangat rentan terhadap insektisida. Apabila ulatnya sudah pada fase instar ketiga atau lebih, maka akan lebih sulit dikendalikan dengan insektisida,” terang Suputa.

Aplikasi insektisida sebaiknya juga dilakukan pada malam hari, atau pagi hari saat matahari belum terbit dan sore hari setelah matahari tenggelam, mengingat ulat FAW merupakan hewan nocturnal yang aktif pada malam hari. “Hal ini untuk memaksimalkan hasil penyemprotan, karena ulatnya bisa terkena langsung insektisida. Selain itu, daya kerja Turex WP juga bisa tetap optimal, karena kandungan bakterinya tidak berkurang akibat paparan panas matahari,” ujar Ali.

Bagikan :     facebook      twitter        
Copyright @ MD|BISI 2020