Brosur
Call Us
Toko
Masih Bermasalah Dengan FAW? Ini Insektisidanya
100 views

Serangan ulat gerayak jagung (Spodoptera frugiperda) atau Fall Army Worm (FAW) beberapa waktu lalu telah menimbulkan banyak kerugian bagi petani di sentra-sentra jagung di Indonesia. Cepatnya perkembangan dan penyebaran ulat yang didukung oleh kondisi lingkungan yang ideal, menjadikan efek serangannya semakin merugikan.

Saat ini, musim tanam jagung kembali tiba. Serangan hama asal Amerika itu pun masih menjadi salah satu ancaman merugikan yang perlu diantisipasi sejak dini. “Mengenali dan kemudian mengidentifikasi tanda-tanda serangan akan sangat membantu dalam mengantisipasi dan mengendalikan serangan FAW,” ujar Dr. Suputa, pakar hama Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Menurut Suputa, salah satu ciri khas serangan FAW yaitu menyerang titik tumbuh tanaman, dan umumnya yang diserang adalah tanaman muda yang baru berumur 15 hari setelah tanam hingga awal masa generatif.

Tapi, lanjut Suputa, apabila populasinya banyak, FAW juga menyerang tanaman jagung dewasa. Karena, pada dasarnya larva hama ini bisa merusak hampir semua bagian tanaman, mulai dari akar, batang, daun, bunga, hingga tongkol.

Gejala serangannya bisa dilihat dari bagian tanaman, terutama titik tumbuh yang terpotong dan terdapat banyak sisa gerekan yang menyerupai serbuk gergaji dan bercampur dengan kotoran ulat.

Penggunaan insektisida yang tepat dan bijaksana bisa menjadi salah satu langkah antisipasi yang efektif dalam mengendalikan serangan FAW. Hanya saja, waktu penyemprotan insektisida sebaiknya dilakukan saat ulat tersebut aktif, yaitu saat matahari terbenam atau sebelum matahari terbit.

Berikut beberapa insektisida yang sudah terdaftar dan efektif untuk mengendalikan hama ulat FAW:

Crumble 100EC

Insektisida berbahan aktif Emamektin Benzoat 100 g/L ini merupakan insektisida non sistemik yang bekerja secara kontak sebagai racun lambung. Menurut Ali Mashari, Pesticide Product Development PT Multi Sarana Indotani (MSI), insektisida dengan bahan aktif tertinggi di kelasnya itu masuk melalui jaringan daun dengan gerakan translaminer, sehingga bagian daun yang tidak terpapar langsung oleh bahan aktif insektisida tetap bisa terlindungi.

“Hasilnya bisa lebih efektif, karena semua bagian daun bisa terlindungi. Crumble 100EC ini beraksi dengan merangsang keluarnya asam aminobutirat pada tubuh hama sasaran. Sehingga bisa menghambat neurotransmiter dan menyebabkan paralisis,” terang Ali.

Ulat atau hama Lepidoptera yang mengalami paralisis, kata Ali, memiliki tanda yang bisa dimati, yaitu ulat akan berhenti makan. “Itu terjadi pada beberapa jam setelah ulat tersebut makan daun yang sudah tersemprot insektisida. Kemudian, 2 hingga 4 jam kemudian ulat akan mati,” ujarnya.

Lantaran memiliki kandungan bahan aktif tertinggi di kelasnya, menjadikan Crumble 100EC sebagai salah satu insektisida yang irit dosisnya. “Cukup 0,5 ml per liter air. Sebaiknya, setiap kali penyemprotan dicampur dengan insektisida biologi Turex WP yang juga sudah terdaftar untuk mengendalikan FAW,” ujar Ali.

Turex WP

Turex WP merupakan insektisida biologi yang mengandung bakteri Bacillus thuringiensis 3,8%. Menurut Ali, bakteri tersebut merupakan bakteri yang mampu menghasilkan protein yang bersifat toksik atau racun bagi berbagai jenis hama dari golongan Lepidoptera, Coleoptera, dan Hemiptera.

Bacillus thuringiensis memiliki kemampuan menginfeksi serangga hama yang spesifik atau dapat mematikan serangga tertentu saja, sehingga tetap aman bagi hama yang bukan sasarannya,” terang Ali.

Sebagai insektisida biologi, selain efektif mengendalikan FAW, Turex WP juga mudah terurai dan tidak menimbulkan residu kimia yang mencemari lingkungan. “Juga tidak menimbulkan resistensi,” kata Ali.

Menurut Ali, karena bekerja sebagai racun lambung, maka Turex WP yang disemprotkan ke bagian tanaman harus termakan oleh ulat agar masuk ke dalam sistem pencernaannya.

“Untuk mengendalikan FAW, dosisnya cukup 2 gram per liter air. Waktu penyemprotannya sebaiknya juga saat pagi sebelum matahari terbit atau sore setelah tenggelamnya matahari, agar kinerja Turex WP lebih optimal karena tidak terpapar matahari secara langsung,” terang Ali.

Valetudo 600SC

Insektisida berbahan aktif Klorfenapir 600 g/L ini terbukti efektif dan efisien dalam mengendalikan serangan hama ulat, khususnya FAW. Pasalnya, bahan aktif tersebut menjadi yang tertinggi di kelasnya.

“Aplikasinya dianjurkan bergantian dengan insektisida lain seperti Crumble 100EC agar tidak menimbulkan resistensi dari hama sasaran,” terang Ali.

Untuk hasil lebih optimal, lanjut Ali, setiap kali penyemprotan Valetudo 600SC sebaiknya juga dikombinasikan atau dicampurkan dengan insektisida biologi Turex WP.

Takarannya sendiri juga irit, cukup 1,5 ml/L air. “Karena kandungan bahan aktifnya tertinggi, maka dosisnya menjadi lebih irit,” ujar Ali.

Valetudo 600SC, lanjut Ali, juga memiliki efek translaminer, sehingga kinerja bahan aktifnya semakin efektif. “Karena sifatnya translaminer, sehingga bisa menembus ke bagian dalam daun. Ulat yang bersembunyi di bagian dalam daun pun bisa dikendalikan,” terangnya. (AT)

Bagikan :     facebook      twitter        
Copyright @ MD|BISI 2020