Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 4.400 (15%) ; Rp. 4.150 (17%)

Lampung
Rp. 4.050 (15%) ; Rp. 3.900 (17%)

Balaraja
Rp. 4.350 (15%) ; Rp. ——-  (17%)

Cirebon
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.150  (17%)

Semarang
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.000  (17%)

Surabaya
Rp. 4.150 (15%) ; Rp. 4.050  (17%)

Makasar
Rp. 4.100 (15%) ; Rp. 3.900  (17%)

Last Update 6 September 2017
Saham BISI

1.495

Last Update 13 September 2017
Saatnya jagung menguntungkan
10 August 2015 [ 434 views ]

Jagung masih menjadi polemik yang tidak kunjung ada ujungnya. Setelah dengan mendadak Menteri Pertanian Amran Andi Amran Sulaiman menghentikan impor jagung pada hari Rabu (22/7/2015), dan membuka kembali beberapa saat setelahnya. Sehingga hingga Jumat (7/8/2015), sekitar 483.185 ton jagung impor, masih tertahan di pelabuhan.

Tujuan penghentian sebetulnya cukup baik, karena berdasarkan pengumuman Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin, pada hari Rabu (1/7/2015), produksi jagung tahun 2015 diperkirakan 20,67 juta ton pipilan kering, naik 1,66 juta ton (8,72 persen) dibandingkan 2014. Sehingga impor dihentikan karena industri dalam negeri harus menyerap jagung dari petani lokal, yang ujungnya akan meningkatkan kesejahteraan petani.

Apalagi seringkali diberitakan oleh media masa bahwa petani selalu mendapat harga yang murah pada saat panen raya jagung berlangsung. Dan yang menjadi biang kesalahan selalu dua hal, yaitu “perusahaan pakan ternak dalam negeri” dan “impor jagung”.

Harus diketahui, bahwa petani amat sangat jarang sekali menjual langsung jagung hasil panennya pada perusahaan pakan ternak dalam negeri seperti Charoen Pokphand, Japfa Comfeed, Wonokoyo, dll. Petani menjual hasil panennya pada pedagang pengepul jagung di tingkat desa atau kecamatan. Kemudian pedagang pengepul jagung tingkat desa/kecamatan akan menjual pada pedagang yang lebih besar atau agen. Dan agen-agen itulah yang nantinya akan menjual jagung pada perusahaan pakan ternak dalam negeri. Bahkan agen pun seringkali menjual pada perusahaan pembeli hasil bumi yang mendapat kontrak dari perusahaan pakan ternak.

Mata rantai perdagangan jagung dari petani hingga pengguna jagung yaitu perusahaan pakan ternak cukup panjang, melewati dua hingga empat tingkat. Wajarlah apabila kemudian harga jagung di tingkat petani berada di level yang paling rendah.

Pedagang desa, pedagang kecamatan, pedagang kabupaten yang lebih besar, atau agen harus menambahkan ongkos angkut dan bongkar muat, bahkan juga menambahkan ongkos pengeringan agar kadar air jagung mencapai prosentase yang disyaratkan perusahaan pakan ternak, dan juga harus menjaga agar selama masa proses tidak timbul jamur/aflatoxin dan hama gudang yang menyebabkan jagung ditolak oleh perusahaan pakan ternak.

Harga terima jagung di perusahaan pakan ternak sebenarnya sudah cukup tinggi, tetapi dengan syarat-syarat tertentu. Di Charoen Pokphand misalnya harga terima jagung dengan Kadar Air 15% (KW) selama tiga bulan terakhir ini berkisar Rp. 3.000 – 3.250 per kg. Sedangkan GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak) juga sudah menetapkan harga pembelian terendah sejak tahun 2013.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Sudirman menyatakan, untuk mencegah jatuhnya harga jagung di tingkat petani dan untuk memberikan kepastian pasar, sejak 2013 GPMT membuat kebijakan pembelian harga jagung terendah (floor price) di tingkat petani ataupun kelompok tani dan gabungan kelompok tani di enam provinsi sentra produksi jagung nasional.

Untuk harga jagung terendah di Jawa Barat, GPMT menetapkan Rp 2.900/kg, di Jawa Tengah dan Jawa Timur Rp 2.800/kg, Lampung Rp 2.700/kg, Sumatera Utara Rp 2.900/kg, dan Sulawesi Selatan Rp 2.550/kg.

Tetapi sekali lagi, sangat jarang petani yang menjual jagungnya secara langsung ke pabrik pakan ternak. Sehingga pastilah yang menikmati harga terendah adalah pedagang atau agen yang tentunya secara langsung berhubungan dengan pabrik pakan ternak.

Dengan demikian apabila kita hitung turun ke tingkat petani maka dengan mata rantai yang begitu panjang pastilah petani akan mendapat harga di kisaran Rp. 2.000/kg. Bahkan bisa dibawah itu. Inilah yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah.

Sebenarnya inilah saatnya untuk menjadi momentum yang baik agar Indonesia bisa berswasembada jagung. Saat ini petani jagung sudah mampu meningkatkan produksi jagung secara nasional. Impor jagung sudah bisa dihentikan. Sesuai kesepakatan Menteri Pertanian dan GPMT, perusahaan industri pakan ternak sudah siap dan harus menyerap jagung nasional. Bulog seharusnya bisa menjadi media antara di balik itu semua.

Dengan berandai-andai, Bulog harusnya bisa membeli jagung di petani atau pedagang pengepul untuk menjadi cadangan stok jagung nasional. Tentunya dengan harga yang menguntungkan petani. Pada saat musim panen raya jagung sudah lewat, petani sudah tidak mempunyai stok jagung di tangan, pedagang juga sudah kehabisan. Saat itulah perusahaan industri pakan ternak membeli jagung pada Bulog untuk menutupi kekurangan bahan baku saat masa tidak ada panen jagung di Indonesia.

Distribusi dan komunikasi dilakukan dengan regulasi yang jelas, sehingga lingkaran petani sebagai produsen, pedagang dan perusahaan pakan ternak sebagai pengguna menjadi jelas dan saling menguntungkan.

Seandainya hal tersebut terjadi maka, “impor jagung” tidak lagi menjadi biang dalam penurunan harga jagung di tingkat petani, dan perusahaan industri pakan ternak juga tidak lagi menjadi sasaran kesalahan, juga petani akan mendapat harga yang menguntungkan.

Semoga…. Amin.

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856