Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 4.400 (15%) ; Rp. 4.150 (17%)

Lampung
Rp. 4.050 (15%) ; Rp. 3.900 (17%)

Balaraja
Rp. 4.350 (15%) ; Rp. ——-  (17%)

Cirebon
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.150  (17%)

Semarang
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.000  (17%)

Surabaya
Rp. 4.150 (15%) ; Rp. 4.050  (17%)

Makasar
Rp. 4.100 (15%) ; Rp. 3.900  (17%)

Last Update 6 September 2017
Saham BISI

1.495

Last Update 13 September 2017
Saat Kualitas Hasil Panen BISI-18 Menjadi Penentu
8 January 2015 [ 303 views ]

Kualitas biji jagung hasil panen petani menjadi rambu utama bagi produsen pakan ternak untuk menghasilkan pakan yang berkualitas sesuai standar mutu yang berlaku. Oleh karena itu, diperlukan varietas jagung yang mumpuni di samping penanganan pascapanen yang tepat.

Sebagai komoditas pangan penting kedua setelah padi atau beras, kebutuhan jagung sebagai bahan pangan maupun pakan dari tahun ke tahun akan terus meningkat seiring pertumbuhan dan perkembangan penduduk di Indonesia. Bahkan, lebih dari itu, dengan semakin pesatnya perkembangan industri peternakan turut merubah peta konsumsi jagung tanah air.

cp

Seperti diketahui, jagung merupakan komponen utama dalam industri pakan ternak, porsinya mencapai 60% dalam ransum pakan. Hal inilah yang menjadikan lebih dari 50% produksi jagung di Indonesia digunakan untuk kebutuhan industri pakan ternak, sementara untuk konsumsi pangan diperkirakan hanya berkisar 30 persennya saja. Sedangkan sisanya untuk kebutuhan industri lain.

Sebagai bahan baku utama pakan ternak, kualitas biji jagung hasil panen para petani tentu akan menjadi parameter utama untuk menghasilkan ransum pakan yang berkualitas dan aman bagi kesehatan ternak itu sendiri. Oleh karena itu, masing-masing produsen pakan ternak telah menetapkan standar mutu biji jagung yang dipasok dari para petani. Standar mutu yang ditetapkan itu biasanya meliputi: kadar air, biji mati, biji berjamur, biji rusak, kotoran, dan kandungan aflatoxin.

PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk. misalnya, produsen pakan ternak terbesar di Indonesia ini mensyaratkan kandungan kadar air dalam biji jagung berkisar 17-28%, jumlah biji mati dan biji berjamur masing-masing maksimal 5%, biji rusak/pecah maksimal 3%, kotoran maksimal 2%, dan tidak berkutu, serta kandungan aflatoxinnya maksimal 100 Ppb.

“Lebih dari itu langsung ditolak,” ujar Danial Dg. Naba, salah satu suplier jagung dari Kelurahan Salaka, Kecamatan Matalasa, Takalar, Sulawesi Selatan yang rutin memasok jagung ke pabrik Pokphand yang ada di Makassar.

Danial Dg. Naba, pedagang jagung asal Kelurahan Salaka, Kecamatan Matalasa, Takalar (2)

Menurut Danial, selama ini masalah kadar air masih menjadi perhatian utama. Pasalnya, kandungan kadar air biji sangat menentukan daya simpan dan kualitasnya. “Semakin tinggi kadar airnya, maka semakin jelek daya simpannya. Kualitas bijinya juga kurang bagus,” katanya.

Bagi pedagang jagung seperti Danial, di saat jagung yang dibeli dari para petani memiliki kadar air yang terlalu tinggi, maka resiko yang harus ditanggung juga akan lebih besar. “Yang pasti adalah resiko ditolak pabrik pakan, kita mau lempar ke mana lagi barangnya. Bisa saja kita keringkan lagi barangnya, tapi itu juga memerlukan biaya yang tidak sedikit,” terang Danial yang setiap harinya memasok hingga 330 ton jagung ke Pokphand.

 Varietas menentukan kualitas

Untuk menghasilkan biji jagung yang berkualitas dan memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan pabrik pakan ternak, diperlukan sinergi yang tepat antara aspek budidaya dengan penanganan pascapanennya. Menurut Doddy Wiratmoko, Senior Manager Market Development Corn Seed PT BISI International, Tbk., dengan memperhatikan cara budidaya yang baik dan benar, maka kualitas dan kuantitas hasil panen jagung juga akan lebih baik.

“Seperti pemilihan varietas jagung yang akan ditanam. Dengan memilih varietas yang terbukti tahan di segala musim dan memiliki karakter biji yang baik, maka hasil panen akan lebih terjamin. Hal itu akan lebih baik lagi jika ditunjang dengan penanganan pascapanen yang tepat, seperti cara penyimpanan dan pengeringan yang baik, maka kualitas hasilnya pun akan selalu terjaga sampai dikirim ke pabrik,” terang Doddy.

Hal yang sama juga diutarakan Danial, menurutnya faktor musim dan varietas tanaman yang ditanam memang sangat menentukan kualitas hasil nantinya. Seperti di Takalar, saat musim tanam kedua yang notabene masuk musim hujan, menurutnya kualitas hasil panen secara umum lebih jelek dibanding musim tanam pertama di musim kering, terutama dalam hal kadar air dan masalah daya simpan.

“Saat musim tanam kedua, di Takalar ini jarang yang bisa panen dengan kualitas baik. Karena itu kebanyakan pedagang takut membeli jagung dari petani, karena masalah kadar air yang luar biasa tinggi, di atas 40%. Makanya tahun lalu ada satu gudang yang merugi lebih dari Rp 1 miliar, karena jagung yang mereka beli dari petani kandungan airnya sangat tinggi,” kata Danial.

Namun demikian, lanjut Danial, permasalahan tersebut kini sudah bisa diatasi dengan mengganti varietas jagung yang bagus di segala musim, baik kuantitas maupun kualitasnya. Dua tahun terakhir ini ia bersama sejumlah pedagang lain dan para petani mitra mengganti varietas jagung yang selama ini mereka tanam dengan varietas super hibrida BISI 18.

“Hasilnya Alhamdulillah memang bagus. Kadar airnya tidak terlalu tinggi meskipun ditanam di musim hujan, sekitar 30% saat panen basah. Oleh karena itu, sekarang ini saat musim tanam kedua di Takalar sudah bisa dipastikan 70 hingga 80 persen petani tanam BISI 18, karena lebih terjamin hasilnya,” ujar Danial.

Hal itu dibenarkan Thamrin, salah seorang petani jagung di Kelurahan Baramamase, Kecamatan Galesong Selatan, Takalar. Semenjak dirinya ganti tanam jagung BISI 18, hasil panennya tidak pernah ditolak lagi masuk gudang pengepul. Karena kadar airnya dinilai lebih rendah meskipun dipanen basah. “Kalau bibit yang lain dulu sering ditolak masuk gudang, karena kadar airnya yang masih terlalu tinggi,” ungkapnya.

Thamrin, salah seorang petani jagung di Kelurahan Baramamase, Kecamatan Galesong Selatan, Takalar

Sementara itu H. Bahar Dg. Bani, salah seorang pengepul jagung di Kelurahan Paddinging, Sanrobone, Takalar, juga mengatakan kalau jagung produksi PT BISI tersebut saat ini memang menjadi pilihan utama petani dan para pedagang jagung seperti dirinya.

H. Bahar Dg. Bani, pengepul jagung di Kelurahan Paddinging, Sanrobone, Takalar

“Di petani disukai karena pertumbuhannya bagus dan hasilnya tinggi, rata-rata di atas 10 ton per hektar. Sementara di pengepulnya juga disukai karena kadar airnya lebih rendah dari jagung yang lain. Setelah dijemur beberapa hari kadar airnya sekitar 20%, kalau yang lain masih sekitar 30%. Makanya tidak heran kalau BISI 18 selalu lolos masuk pabrik, ya karena memang bagus, mulai dari kadar air kurang hingga biji mati yang tidak ada,” papar H. Bahar.

Lantaran itulah, menurut Doddy, dengan varietas yang tepat seperti BISI 18 itulah, maka resiko pascapanen jagung bisa ditekan sekecil mungkin. Sehingga pendapatan petani pun juga akan lebih terjamin.

Sumber : Majalah Abdi Tani, Vol. 15 No. 4. Edisi LIV, Oktober-Desember 2014

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856