Harga Jagung Pipil

Medan
Rp. 5.150 (15%) ; Rp. 4.950 (17%)

Lampung
Rp. 4.600 (15%) ; Rp. 4.500 (17%)

Balaraja
Rp. 4.950 (15%)

Cirebon
Rp. 4.800 (15%) ; Rp. 4.600 (17%)

Semarang
Rp. 4.700 (15%) ; Rp. 4.500 (17%)

Surabaya
Rp. 4.600 (15%) ; Rp. 4.500 (17%)

Makasar
Rp. 3.750 (15%) ; Rp. 3.650 (17%)

Last Update 9 April 2019
Saham BISI

1.430

Last Update 9 April 2019
Produksi jagung surplus. Hanya saja, lokasi menyebabkan kendala distribusi.
14 February 2019 [ 0 views ]

Pelaku usaha penyebut kelangkaan jagung di dalam negeri disebabkan lokasi panen jagung berjauhan dengan lokasi kebutuhan, ditambah lagi dengan kendala distribusi. Walhasil, jagung yang dihasilkan petani tidak sampai kepada sentra produksi dengan cepat.

“Panennya tidak pas dengan lokasi yang dibutuhkan. Misal, panen di Medan, sudah panen sejak bulan lalu, sedangkan yang dibutuhkan di Jawa. Jadi memang masalah jarak dan waktu,” kata Direktur Utama PT Bisi International Tbk Jemmy Eka Putra di Hotel Mulia, Senin (11/2).

Bisi International merupakan perusahaan produsen benih hibrida untuk jagung, padi dan hortikultura lain.

Jemmy memperkirakan produksi jagung tahun lalu surplus. Hanya saja, masalah lokasi menyebabkan kendala distribusi antara sentra penghasil jagung dan produksi, sehingga terjadi kelangkaan jagung pada sentra produksi.

Pemerintah berhasil mengekspor jagung sebanyak 380 ribu ton tahun lalu. Di sisi lain, total impor jagung tercatat sebesar 280 ribu ton. Rinciannya, 100 ribu ton pada November 2018. Kemudian, pemerintah menambah impor jagung sebanyak 30 ribu ton pada awal tahun ini. Selanjutnya, pemerintah kembali membuka keran impor jagung sebanyak 150 ribu ton pada akhir Januari 2019.

“Jadi secara total (produksi jagung) surplus. Hanya saja produksi pertanian sifatnya tidak seperti di pabrik. Produksi pertanian terpengaruh misalnya hujan datang terlambat atau cepat. Itu yang saya pikir menyebabkan ada missmatch antara kapan produksinya muncul dan kapan penyerapannya,” jelasnya.

Menurut dia, pengaturan impor pemerintah berhasil membangun semangat petani jagung Indonesia. Sebab, izin impor hanya dikeluarkan ketika ada kebutuhan sehingga harga membuat harga stabil sekaligus menjaga pendapatan petani.

Tahun ini, Jemmy memprediksi harga jagung bisa lebih terkendali. Alasannya, pemerintah telah menugaskan Perum Bulog untuk menyerap seluruh hasil produksi jagung petani.

“Kalau Perum Bulog bisa menyerap, tidak usah banyak-banyak mungkin 1 juta hektar, barangkali bisa dijadikan stock (ketersediaan) cadangan pada saat antara musim panen dan kebutuhan tidak mencukupi. Jadi di sana lah Perum Bulog bisa membantu,” imbuhnya.

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856