Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 4.400 (15%) ; Rp. 4.150 (17%)

Lampung
Rp. 4.050 (15%) ; Rp. 3.900 (17%)

Balaraja
Rp. 4.350 (15%) ; Rp. ——-  (17%)

Cirebon
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.150  (17%)

Semarang
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.000  (17%)

Surabaya
Rp. 4.150 (15%) ; Rp. 4.050  (17%)

Makasar
Rp. 4.100 (15%) ; Rp. 3.900  (17%)

Last Update 6 September 2017
Saham BISI

1.495

Last Update 13 September 2017
Petani Lampung Kesulitan Benih Jagung
23 August 2014 [ 219 views ]

BANDAR LAMPUNG-Hujan yang mulai sering turun sejak dua pekan belakangan ini dimanfaatkan petani di Provinsi Lampung untuk menanam jagung. Namun aktivitas penanaman jagung terhambat oleh kekurangan stok benih jagung.

Kuswanto, petani jagung di Desa Trirahayu, Kecamatan Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran mengatakan, begitu hujan mulai sering turun para petani buru-buru mempersiapkan lahan untuk menanam jagung.

“Namun setelah lahan siap tanam, kami mengadapi kesulitan benih jagung hibrida. Mungkin karena petani mau tanam jagung bersamaan sehingga stok di distributor kurang,” ujar Kuswanto di rumahnya, Jumat (22/8) siang.

Menurut Kuswanto, dalam menyiapkan lahan untuk menanam jagung para petani di daerahnya bisa cepat karena mereka menerapkan pola semi tanpa olah tanah (TOT). Lahan bekas tanaman jagung sebelumnya cukup disemprot dengan herbisida. Lalu bagian yang akan ditanam jagung dibajak segaris dengan bajak sapi, kemudian ditebar pupuk kandang dan dibuat lobang untuk menanam benih jagung.

Sementara di Kabupaten Lampung Timur, petani di daerah ini malah menerapkan TOT sepenuhnya. Setelah lahan disemprot dengan herbisida untuk mematikan gulma, lalu ditugal untuk selanjutnya ditanami benih jagung.

“Karena itu sebagian besar sentra jagung sedang bersiap menanam jagung,” tutur Nazarudin, petani jagung di Desa Pugung, Kecamatan Pugung, Kabupaten Lampung Timur.

Diakuinya, pada musim tanam sebelumnya bagi petani yang menanam jagung bulan Februari dan Maret tanamannya terkena kemarau sehingga poduksinya turun.

“Karena khawatir kekeringan lagi maka kami buru-buru menyiapkan lahan untuk segera ditanami jagung. Tapi terkendali oleh kesulitan benih jagung hibrida,” ungkapnya.

Sementara di Kecamatan Bumiratu Nuban, Kabupaten Lampung Tengah para petani masih menunggu musim hujan lebih merata untuk menanam jagung. “Kami masih belum menanam jagung masih menunggu musim hujan merata. Kalau kami perhatikan, sekarang baru musim pancaroba sehingga dikhawatirkan jagung sudah ditanam, hujan tidak turun sehingga kami rugi,” ujar Eko Siswanto,petani jagung di Desa Sidowaras, Kecamatan Bumiratu Nuban, Kabupaten Lampung Tengah.

Pada musim tanam sebelumnya sebagian besar petani jagung di Kecamatan Bumiratu Nuban, Kabupaten Lampung Tengah menjual tebon (batang jagung-red). Selain harga tebon cukup mahal, petani juga khawatir harga jatuh pada saat musim panen

Menurut Eko, pada panen pertama sekitar Januari -Februari lalu, petani di daerah ini memanen jagung biji karena harga jual masih tinggi. Tapi pada panen kedua yang jatuh pada Mei-Juni lalu, banyak yang menjual tebon  karena jagung sudah bisa dijual pada usia 70 hari. Sementara jika mau menjual jagung kering harus menunggu usia 90 hari dan jika hujan masih sering turun, kadar air juga tinggi hingga 40% sehingga dihargai murah oleh pedagang. “Jadi, selain mengejar waktu, juga trend harga jagung turun. Sebaliknya saat ini harga tebon sedang bagus,” jelasnya.

Dari 2 ha kebun jagungnya, Eko menjual 1 ha berupa tebon dengan harga Rp20 juta. Harga itu dinilai Eko lebih menguntungkan dibandingkan nanti dipanen jagung kering, meski produksinya  bisa 10 ton, tapi harganya dikhawatirkan turun hingga di bawah Rp2 ribu/kg.

Sumber : http://sinarharapan.co (22/08/2014)

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856