Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 4.400 (15%) ; Rp. 4.150 (17%)

Lampung
Rp. 4.050 (15%) ; Rp. 3.900 (17%)

Balaraja
Rp. 4.350 (15%) ; Rp. ——-  (17%)

Cirebon
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.150  (17%)

Semarang
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.000  (17%)

Surabaya
Rp. 4.150 (15%) ; Rp. 4.050  (17%)

Makasar
Rp. 4.100 (15%) ; Rp. 3.900  (17%)

Last Update 6 September 2017
Saham BISI

1.495

Last Update 13 September 2017
Penerapan Bioteknologi, Solusi Tingkatkan Produksi Pangan
15 August 2014 [ 102 views ]

Jakarta, InfoPublik – Badang Pangan Dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO) memprediksi populasi penduduk Indonesia pada tahun 2050 akan mendekati 300 juta orang. Ledakan jumlah populasi penduduk mengakibatkan kebutuhan pangan naik signifikan.

Namun kenaikan kebutuhan pangan tidak diimbangi pasokan karena produksi pangan Indonesia mulai memasuki trend penurunan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan, produksi pertanian perlu ditingkatkan setidaknya 70 persen.

Upaya itu memiliki banyak tantangan terutama perubahan iklim, dinamika ekologis, degradasi kualitas tanah dan air. Selain itu juga konversi pertanian yang berubah menjadi pemukiman dan serangan penyakit hama.

Peneliti Senior Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, Agus Pakhpahan mengatakan, solusi yang bisa diterapkan di tingkat petani adalah penggunaan bioteknologi.

“Pemanfaatan bioteknologi di 27 negara selama 17 tahun telah berhasil memperluas areal tanam dari awalnya 1,7 juta hektare tahun 1996 hingga saat ini sudah mencapai 175 juta hektare,” ujar Agus Pakhpahan di Jakarta, Jumat (15/8).

Secara umum bioteknologi adalah meningkatkan kualitas suatu organisme melalui aplikasi teknologi. Aplikasi teknologi tersebut dapat memodifikasi fungsi biologis suatu organisme dengan menambahkan gen dari organisme lain atau merekayasa gen pada organisme tersebut.

Lewat pemanfaatan teknologi, Agus meyakini mampu memecahkan persoalan sektor pertanian lewat peningkatan produktifitas pertanian dalam negeri. Hal ini berkaca pada kesuksesan negara yang telah mengembangkan pertanian berbasis bioteknologi.

Misalnya, petani di Hokaido, Jepang, semula lahan sawah yang dimiliki sebesar 4 hektare melonjak 20 hektare. Bahkan, petani di Amerika Serikat yang tadinya menguasai 80 hektare menjadi bertambah menjadi 200 hektare setelah memanfaatkan tanaman bioteknologi.

Petani India, Tiongkok dan Filipina telah memulai penggunaan bioteknologi. Di India sudah ada 7,3 juta petani yang menggunakan bioteknologi, Tiongkok mencapai 7,5 juta petani dan Filipina mencapai 400 ribu petani.

Menurut Agus, proses industrialisasi agribisnis menjadi salah satu kunci. Indikatornya, berkurangnya jumlah petani karena diserap sektor industri dan jasa. Setidaknya, setiap pengurangan satu persen Produk Domestic Bruto akan mengurangi dua persen angkatan kerja sektor pertanian. “Tidak ada eksodus tenaga kerja ke kota,” terangnya.

Sementara Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis IPB, Arief Daryanto menambahkan, melalui bioteknologi, petani memperoleh manfaat berupa peningkatan produktivitas pertanian sekaligus efisiensi biaya produksi.

Merujuk hasil studi Graham Brookes pada tahun 2012, petani jagung di Filipina memperoleh keuntungan sebesar 125 sampai 135 dollar AS per hektare. Selain itu, peningkatan pendapatan di lahan pertanian jagung bioteknologi tahan herbisida secara global mencapai 1,2 miliar dollar AS.

Sumber : http://infopublik.kominfo.go.id (14/08/2014)

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856