Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 4.400 (15%) ; Rp. 4.150 (17%)

Lampung
Rp. 4.050 (15%) ; Rp. 3.900 (17%)

Balaraja
Rp. 4.350 (15%) ; Rp. ——-  (17%)

Cirebon
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.150  (17%)

Semarang
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.000  (17%)

Surabaya
Rp. 4.150 (15%) ; Rp. 4.050  (17%)

Makasar
Rp. 4.100 (15%) ; Rp. 3.900  (17%)

Last Update 6 September 2017
Saham BISI

1.495

Last Update 13 September 2017
Nurdin, Intani 602 : “Luar Biasa Banyak”
15 August 2017 [ 67 views ]

Baru pertama kalinya mencoba dan langsung jatuh cinta. Itulah pengalaman Nurdin dengan padi hibrida Intani 602 yang ia tanam di lahan pasang surut Pesawaran, Lampung.

Yang coba ditanamnya tidaklah banyak. Hanya 2,5 kilogram benih di luasan lahan sekitar 10 rantai (4.000 m2). Nurdin memang lebih hemat dalam penggunaan benih padi, karena ia menerapkan sistem tanam satu bibit per lubang tanam dengan jarak tanam 30 x 30 cm.

Sistem tanam yang dilakukan petani padi asal Desa Kejadian, Kecamatan Tegineneng, Pesawaran, Lampung itu sudah jamak dilakukan para petani padi di Lampung. Untuk luasan satu hektar, rata-rata petani padi di Lampung hanya membutuhkan benih sekitar 6 kg.

Pengalaman pertamanya menanam padi hibrida terbaru produksi PT BISI International, Tbk. tersebut membuat Nurdin benar-benar merasa terpuaskan. “Hasile sae (hasilnya bagus-red.). Dari 2,5 kilogram benih bisa dapat 57,5 karung (sekitar 3,5 ton) gabah (kering panen). Per karung itu beratnya rata-rata 60 kilogram,” ujar Nurdin.

Menurut Nurdin, hasil panennya itu jauh lebih banyak dibanding hasil panen padi yang sebelumnya biasa ia tanam. “Hasil panen biasanya tidak pernah sampai 50 karung. Jadi selisihnya cukup banyak, lebih dari tujuh karung,” ungkapnya.

Bukan hanya hasil panen gabahnya yang lebih melimpah, saat dijadikan beras pun hasilnya juga berhasil membuat Nurdin girang. Ia sengaja menyelepkan sebagian gabah hasil panennya, dari 105 kg gabah Intani 602 yang diselep, Nurdin bisa mendapatkan 77 kg beras.

“Ternyata hasil berasnya juga menang, lebih banyak. Kalau dari 105 kg gabah bisa dapat 77 kg beras, berarti rendemennya juga tinggi, lebih dari 70 persen,” terang Nurdin.

Hingga saat ini, Nurdin sendiri belum menjual hasil panen gabah Intani 602 miliknya. Pasalnya, harga yang ditawarkan oleh pedagang dinilainya belum sepadan dengan kualitas dan kuantitas padi hibrida tersebut.

“Sudah ditawar pedagang Rp490 ribu per kuintal gabah, tapi saya belum mau. Padahal di petani padi lain harga itu sudah lebih tinggi, karena gabah petani lain hanya dibeli sekitar Rp480 ribu. Saya tawarkan harga gabah Intani 602 ini Rp510 ribu per kuintal, kurang dari harga itu tidak saya jual. Karena rendemennya terbukti lebih tinggi,” jelas Nurdin.

Bukan hanya karena alasan rendemen yang tinggi, keengganan Nurdin menjual gabah Intani 602 di bawah harga yang ia tetapkan juga dikarenakan kualitas berasnya yang dinilainya lebih baik.

“Berasnya tidak banyak yang pecah saat diselep. Terus nasinya pulen, harum, dan enak. Menurut saya kualitasnya premium, cocok untuk kalangan menengah ke atas. Saat masih panas maupun sudah dingin tetap enak, dan tidak kemrotok (kering-red.) saat sudah dingin,” katanya.

Hasil panen yang lebih melimpah sekaligus ‘premium’ tersebut menjadikan Nurdin makin jatuh hati dengan Intani 602. Melimpahnya hasil panen padi hibrida ini sudah bisa diprediksi sejak tanaman di lahan. Menurut Nurdin, tanaman padi hibridanya itu mampu tumbuh kokoh dan bermalai panjang. Tidak sekedar panjang malainya, tapi jumlah bulir padi yang ada pada malai itu juga berlimpah.

“Pernah saya hitung, jumlahnya 350 bulir. Luar biasa banyak. Dan yang luar biasa lagi adalah hampir tidak ada bulir yang hampa, jadi bulirnya mentes (berisi-red.) semua. Jadi kalau dijual gabah, sangat wajar kalau harganya menjadi lebih tinggi, karena hasil berasnya juga akan lebih banyak,” kata Nurdin.

Hasil panen riil padi hibrida Intani 602 milik Nurdin yang mencapai 3,5 ton GKP tersebut tidak jauh berbeda dengan hasil ubinan yang dilakukan sebelum panen. “Saat diubin itu hasilnya 8 ton per hektar. Kalau hasil panen saya yang 3,5 ton per 10 rantai tadi dijadikan ke hektar, hasilnya 8,7 ton. Menurut saya Intani 602 ini saat menjadi yang terbaik, karena terbukti lebih unggul dibanding yang lain,” kata Nurdin.

“Saya mau ajak semua keluarga saya untuk ikut tanam Intani 602 ini,” imbuhnya.

Aplikasi BOOM Padi

Meledaknya hasil panen padi hibrida Intani 602 milik Nurdin itu selain karena faktor genetik benih yang mampu berproduksi tinggi, juga karena adanya asupan nutrisi yang cukup serta perawatan tanaman yang baik. Di samping perlakuan standar budidaya padi, Nurdin juga memberikan tambahan nutrisi dan pelindung tanaman berupa paket pupuk dan pestisida BOOM Padi yang terdiri dari pupuk majemuk Multi Padi, fungisida Recor Plus 300EC, ZPT Bigest 40EC, dan perekat Besmor Ultra.

Menurut Nurdin, aplikasi paket BOOM Padi tersebut ia aplikasikan sejak tanaman padi masih berada di persemaian, yaitu saat tanaman berumur 12 hari setelah benih disebar. Tujuannya untuk memacu pertumbuhan bibit agar saat pindah tanam umur 20 hari tidak terlalu kecil, karena sistem tanamnya satu bibit per lubang tanam.

Aplikasi berikutnya, lanjut Nurdin, pada umur 45 hari (saat mulai keluar malai) dan 60 hari setelah pindah tanam (saat malai padi keluar semua). Tujuannya untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan tanaman sekaligus memaksimalkan keluarnya malai sehingga bisa mengoptimalkan dan meningkatkan produksi serta kualitas hasil panen padi Intani 602. “Hasil akhirnya bulir padi menjadi lebih banyak dan berisi semua, sehingga hasil panennya bisa lebih banyak,” ungkapnya.

____________________________________________________

Gratis, aplikasi BISI.
klik pada gambar untuk download

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856