Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 4.400 (15%) ; Rp. 4.150 (17%)

Lampung
Rp. 4.050 (15%) ; Rp. 3.900 (17%)

Balaraja
Rp. 4.350 (15%) ; Rp. ——-  (17%)

Cirebon
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.150  (17%)

Semarang
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.000  (17%)

Surabaya
Rp. 4.150 (15%) ; Rp. 4.050  (17%)

Makasar
Rp. 4.100 (15%) ; Rp. 3.900  (17%)

Last Update 6 September 2017
Saham BISI

1.495

Last Update 13 September 2017
Mewaspadai OPT Pasca El Nino Dan La Nina
16 August 2017 [ 0 views ]

Fenomena El Nino dan La Nina yang terjadi berurutan turut memicu perubahan pola dan siklus perkembangbiakan organisme pengganggu tanaman (OPT) tertentu. Lantas, patogen dan hama apa saja yang patut diwaspadai di musim kemarau pasca El Nino dan La Nina saat ini?

Dalam dua tahun terakhir, Indonesia harus melewati dua fenomena iklim El Nino dan La Nina yang terjadi secara berurutan sekaligus. Diawali munculnya El Nino di tahun 2015 yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan di sebagian besar sentra pertanian, dan tercatat sebagai gejolak El Nino terkuat yang pernah terjadi di Indonesia sepanjang 71 tahun terakhir dengan intensitas 2,44%. Kemudian di tahun berikutnya, ‘saudara kembarnya’, La Nina, bergantian menggantikan posisi El Nino. Berkebalikan dampaknya, La Nina justru membawa efek terjadinya musim hujan yang lebih panjang dari biasanya. Sehingga musim kemarau yang terjadi bersifat basah lantaran masih tetap ada hujan.

Munculnya dua fenomena iklim secara berurutan itu tentu telah membuat perubahan pola tanam dan pergeseran musim tanam banyak komoditas, baik itu tanaman pangan maupun hortikultura. Hal itu pada akhirnya juga diikuti oleh perubahan pola dan siklus perkembangbiakan organisme pengganggu tanaman (OPT).

“Perkembangan OPT sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan iklim. Perubahan suhu dan curah hujan tentunya akan mengakibatkan perubahan pola dan siklus perkembangbiakan patogen dan hama tertentu,” terang Rudy Lukman, GM Departemen Bioteknologi PT BISI International, Tbk..

Seperti serangan hama wereng cokelat pada tanaman padi saat ini. Menurut Rudy, perubahan kondisi cuaca dan iklim akhir-akhir ini telah merubah perkembangbiakan wereng cokelat dan pola makannya hingga menempatkannya sebagai hama utama pada tanaman padi yang berdampak luas.

“Saat ini wereng cokelat menjadi hama utama pada padi akibat perubahan suhu yang ekstrim. Hal itu mengakibatkan percepatan siklus hidup sekaligus mempengaruhi rasio seks dan meningkatkan daya makan serangga,” jelas Rudy.

Selain wereng cokelat, hama dan penyakit yang perlu diwaspadai pada pertanaman padi saat memasuki musim kemarau pasca La Nina kali ini adalah hama penggerek batang dan cendawan Pyricularia grisea penyebab penyakit blast.

Sementara pada tanaman jagung, para petani juga patut mewaspadai munculnya serangan penyakit yang selama ini sudah ‘familiar’, yaitu downey mildew atau yang lebih terkenal dengan sebutan penyakit bulai yang disebabkan oleh infeksi cendawan Peronosclerospora maydis.

“Selain itu petani juga perlu mewaspadai serangan hama penggerek batang dan tongkol pada tanaman jagung. Serta lalat bibit,” ujar Rudy.

Untuk komoditas hortikultura, Rudy menekankan perlunya mewaspadai serangan thrips dan lalat buah. Pasalnya, dua hama utama ini sangat peka terhadap perubahan iklim, khususnya suhu dan kelembapan yang tinggi.

“Di samping itu, saat musim kemarau juga memungkinkan terjadinya outbreak penyakit layu bakteri, layu fusarium, phytophtora, dan antraknosa di solanaceae (kerabat cabai-cabaian) dan penyakit geminivirus pada tanaman famili solanaceae, cucurbitaceae (timun-timunan) dan leguminosae (kacang-kacangan,” jelas Rudy.

Lebih lanjut Rudy menjelaskan, untuk tanaman sawi dan kubis atau tanaman dari kerabat brassicaceae, petani sebaiknya perlu mewaspadai adanya serangan ulat daun kubis Plutella xylostella, ulat krop atau jantung kubis Crocidolomia binotalis, dan ulat grayak Spodoptera litura.

Budidaya yang baik dan monitoring

Menurut Rudy, sebagai langkah antisipasi dalam mencegah dan mengatasi serangan OPT pasca gejolak El Nino dan La Nina, petani bisa menerapkan prinsip atau konsep pengelolaan hama terpadu (PHT). “Diawali dengan pemilihan jenis tanaman dan waktu penanaman yang tepat. Kemudian membersihkan lingkungan dari sisa-sisa pertanaman musim sebelumnya yang berpotensi menjadi sumber penyakit atau hama,” ujarnya kepada Abdi Tani.

Penggunaan benih unggul bersertifikat dan tahan terhadap serangan OPT akan sangat membantu dan penting untuk dilakukan. Karena, menurut Rudy, benih bersertifikat sudah melalui serangkaian pengujian, baik pada musim kemarau maupun pada musim hujan di berbagai lokasi yang berbeda.

Sementara dalam teknis budidayanya, Rudy menyarankan untuk menerapkan sistem budidaya tanaman yang baik dengan mengatur penggunaan pupuk dan pestisida yang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Di samping itu, hendaknya juga memahami pentingnya bertani skala luas yang mengedepankan faktor ekologi sebagai dasar pengelolaan OPT yang disertai dengan pemanfaatan agens hayati antagonis patogen dan pemanfaatan musuh alami hama, baik dengan cara augmentasi (membanjiri (inundasi) populasi hama dengan musuh alami) maupun konservasi (upaya melestarikan, melindungi, dan menjaga populasi musuh alami).

Untuk mengantisipasi kejadian munculnya OPT sejak dini, petani juga harus rajin melakukan monitoring OPT secara berkala dan intensif. “Untuk keperluan ini, petani sebaiknya selalu berkoordinasi dengan Dinas Pertanian setempat guna mendapatkan data terkini mengenai iklim di daerahnya. Berdasarkan data iklim setempat, petani bisa mendapatkan data OPT apa saja yang diduga atau diramalkan akan menyerang komoditasnya,” terang Rudy.

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856