Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 4.400 (15%) ; Rp. 4.150 (17%)

Lampung
Rp. 4.050 (15%) ; Rp. 3.900 (17%)

Balaraja
Rp. 4.350 (15%) ; Rp. ——-  (17%)

Cirebon
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.150  (17%)

Semarang
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.000  (17%)

Surabaya
Rp. 4.150 (15%) ; Rp. 4.050  (17%)

Makasar
Rp. 4.100 (15%) ; Rp. 3.900  (17%)

Last Update 6 September 2017
Saham BISI

1.495

Last Update 13 September 2017
Menyiapkan Senjata Hadapi Bulai
20 December 2014 [ 767 views ]

Layaknya seperti orang yang sedang berperang, perbekalan dan senjata yang lengkap serta strategi yang jitu disebut sebagai kunci keberhasilan. Pun demikian pada tanaman jagung, menyiapkan “senjata” dan taktik jitu sejak dini juga menjadi kunci utama untuk melindungi tanaman dari gempuran penyakit bulai.

Penyakit downy mildew atau lebih dikenal dengan sebutan penyakit bulai kerap mendapat perhatian lebih dalam budidaya tanaman jagung. Pasalnya, dibanding dengan penyakit lainnya, serangan bulai bisa mengakibatkan kehilangan hasil hingga 100% pada varietas yang rentan.

Selain itu, penyakit ini juga telah masuk kategori sebagai penyakit paling berbahaya pada tanaman jagung. Karena, semua kawasan penghasil jagung dunia, mulai dari Amerika, Afrika, India, Thailand, Filipina, hingga Indonesia tidak luput dari serangan penyakit ini.

Jamur atau cendawanlah yang menjadi biang kerok di balik merebaknya serangan bulai tersebut. Dari catatan Wakman dan Burhanuddin dari Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros, Sulawesi Selatan, dalam “Pengelolaan Penyakit Prapanen Jagung”, ada 10 spesies jamur dari tiga generasi yang menjadi penyebab bulai. Di antaranya adalah: Peronosclerospora maydis (bulai Jawa), Peronosclerospora philippinensis (bulai Philipina), Peronosclerospora sorghi (bulai sorgum), Peronosclerospora saccari (bulai tebu), Peronosclerospora spontanea (bulai Spontanea), Peronosclerospora miscanthi (bulai Miscanthi), Peronosclerospora heteropogani (bulai Rajasthan), Sclerophthora macrospora (crazy top), Sclerophthora rayssiae var. zeae (brown stripe), dan Sclerospora graminicola (bulai Graminicola).

Di Indonesia sendiri, jamur penginfeksi bulai yang banyak berkembang adalah Peronosclerospora maydis. Menurut Wakman dan Burhanuddin, jamur ini dapat menginfeksi tanaman jagung muda melalui permukaan daun. Konidia yang disebarkan oleh angin dan menempel di permukaan daun akan masuk ke jaringan tanaman melalui stomata tanaman muda dan lesio lokal akan berkembang ke titik tumbuh yang menyebabkan infeksi sistemik. Konidiofor dan konidia jamur sendiri akan terbentuk dan keluar dari stomata pada malam hari yang lembab. Karena, P. maydis menghendaki suhu di bawah 240C dan kondisi gelap sekaligus lembab untuk berkembang.

Wakman dan Burhanuddin juga menulis, apabila biji jagung juga terinfeksi jamur P. maydis, maka kotiledon atau daun yang muncul dari kecambah jagung akan selalu terinfeksi. Tapi jika sumber inokulumnya dari spora, maka daun kotiledon akan tetap sehat.

Perlu diketahui juga bahwa jamur tersebut sejatinya bersifat parasit obligat dimana seluruh hidupnya berperan sebagai parasit, sehingga hanya mampu berkembang pada jaringan inangnya. Oleh karena itu, jamur ini hanya akan menyerang tanaman jagung yang notabene merupakan inangnya.

Tanaman jagung yang terinfeksi P. maydis biasanya akan menunjukkan gejala berupa perubahan daun jagung yang menjadi kuning pucat dan bergaris sejajar tulang daun. Lebih lanjut daun tersebut akan mengalami nekrotik coklat, sempit, dan kaku. Jika diamati lebih dekat, pada bagian atas dan bawah daun terdapat massa seperti tepung berwarna putih yang merupakan spora dari jamur P. maydis.

Jika tidak segera dikendalikan, pertumbuhan tanaman jagung akan terhambat dan mengganggu pembentukan tongkol, bahkan bisa sampai tidak bertongkol sama sekali. Infeksi sistemik pada tanaman muda (berumur 3-4 minggu) biasanya akan menimbulkan kerusakan parah hingga tanaman mati.

Pengendalian sejak dini

Gejala lainnya adalah terbentuknya anakan yang berlebihan dengan daun-daun yang menggulung dan terpuntir. Bunga jantan yang terbentuk juga akan berubah menjadi massa daun yang berlebihan dan daunnya sobek-sobek.

Menurut Dr. Ir. Andi Khaeruni, MSi., dosen Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo Kendari, untuk mengatasi serangan penyakit tersebut diperlukan tindakan antisipasi sejak dini dengan mengutamakan prinsip-prinsip pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHT).

“Prinsip PHT itu adalah dengan menggunakan beberapa metode pengendalian yang kompatibel dan memberikan hasil yang terbaik,” ujar Andi.

Lebih lanjut Andi menjelaskan, terdapat beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengendalikan penyakit pada tanaman jagung secara terpadu. Antara lain: menggunakan benih yang bebas patogen, yaitu benih yang berasal dari induk yang sehat (bersertifikat) atau benih yang telah diberi perlakuan fungisida; Penanaman dilakukan jauh dari pertanaman yang terinfeksi penyakit; Lakukan teknik budidaya yang baik, sanitasi lahan, pemupukan berimbang, dan teknik irigasi yang baik, serta pemeliharaan tanaman; Lakukan pergiliran varietas atau rotasi tanaman pada waktu tertentu; Dalam kondisi cuaca yang sangat mendukung perkembangan penyakit, sebaiknya dilakukan pengendalian dengan menggunakan fungisida atau bakterisida sesuai dosis anjuran.

Andi juga menekankan pentingnya penggunaan varietas jagung yang tahan terhadap penyakit bulai. Pasalnya, hal tersebut merupakan salah satu cara yang paling murah, mudah, aman, dan efektif. “Murah, karena tidak membutuhkan biaya penyemprotan. Mudah, karena tidak diperlukan teknik khusus. Aman, karena tidak mempunyai efek residu kimia. Kemudian efektif, karena dapat mengendalikan penyakit-penyakit yang tidak bisa menggunakan cara lain,” terangnya.

benih

Sementara itu, Doddy Wiratmoko, Senior Manager Pengembangan Pasar Benih Jagung PT BISI International, Tbk., ada beberapa produk benih jagung yang secara genetis memiliki karakter tahan penyakit bulai. Sehingga bisa dijadikan pilihan dan andalan para petani jagung. Varietas yang dimaksud antara lain: jagung super hibrida BISI 18, BISI 816 dan BISI 222.

Sumber : Majalah Abdi Tani Vol. 15 No. 4 Edisi LIV, Oktober-Desember 2014

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856