Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 3.900 (15%) ; Rp. 3.850 (16%)

Lampung
Rp. 3.725 (15%) ; Rp. 3.625 (17%)

Balaraja
Rp. 4.000 (15%)

Cirebon
Rp. 3.750 (15%) ; Rp. 3.650  (17%)

Semarang
Rp. 3.700 (15%) ; Rp. 3.600  (17%)

Surabaya
Rp. 3.600 (15%) ; Rp. 3.500  (17%)

Makasar
Rp. 3.650 (15%) ; Rp. 3.350  (17%)

Last Update 14 December 2017
Saham BISI

1.790

Last Update 15 December 2017
Menakar Kualitas Super Hibrida BISI 222 di Belahan Selatan Sumatera
1 October 2012 [ 633 views ]

Belahan selatan pulau Sumatera, mulai dari Lampung, Bengkulu, hingga Sumatera Selatan, merupakan salah satu kawasan pengembangan jagung di Indonesia. Di kawasan ini pula beredar beragam varietas jagung dengan ciri khasnya masing-masing. Hanya varietas yang memiliki potensi sekaligus kualitas hasil panen yang tinggi yang akan dipilih banyak petani. Salah satunya adalah varietas super hibrida BISI 222.

Saat ini, untuk bisa berkembang, petani tidak cukup bermodal keberanian saja, tapi juga harus pintar, kreatif, dan sekaligus melek teknologi serta informasi. Termasuk dalam usaha tani jagung. Beragamnya varietas jagung yang berkembang di pasaran, menuntut para petani untuk lebih pintar dalam memilih dan menyesuaikannya dengan kondisi iklim setempat sekaligus memperhitungkan pangsa pasarnya.

Bagi petani yang hanya ikut-ikutan tanpa memperhitungkan sendiri aspek teknis yang harus dikuasai dan untung ruginya, bisa jadi akan terus-terusan jatuh bangun tanpa ada perubahan yang berarti, layaknya sebuah lagu yang dibawakan almarhum Meggy Z yang berjudul ‘jatuh bangun’.

Penguasaan teknis budidaya yang baik dan sempurna adalah suatu keharusan bagi para petani untuk mendapatkan hasil panen yang bagus. Mulai dari aspek penyiapan lahan, pemupukan, hingga pengendalian hama dan penyakit mutlak harus dikuasai petani. Namun semua hal itu belumlah cukup, aspek penanganan pascapanennya juga harus dikuasai untuk menjaga harga jualnya.

Seperti yang dilakukan Abdul Khosim (47), petani jagung di Desa Margototo, Kecamatan Metro Kibang, Kabupaten Lampung Timur, Lampung. Selain menguasai teknis budidaya secara lengkap, ia juga lebih selektif dalam memilih varietas yang sesuai dengan kondisi iklim setempat dan prospek pasarnya.

Baru-baru ini, ia pun menjatuhkan pilihan pada varietas jagung super hibrida BISI 222 produksi PT. BISI International Tbk. Keputusannya itu lebih didasarkan pada performa tanamannya yang lebih baik dibanding jagung lainnya, mulai dari fase vegetatif sampai generatifnya.

Menurut Khosim, pertumbuhan vegetatif BISI 222, atau petani setempat menyebutnya BISI dua sekurung, terlihat lebih seragam dan serempak. Pun saat memasuki fase generatif, bunga betinanya mampu tumbuh dengan rambut jagung (silk) yang lebih lebat dan berwarna merah menyenangkan. Bunga jantan atau tasel-nya juga banyak, sehingga memberikan jaminan hasil yang lebih bagus.

Hal itu dibuktikan sendiri oleh Khosim dengan pertumbuhan tongkol yang lebih bernas dan cepat besar. Selain itu ukuran dan letak tongkolnya juga lebih seragam.

“Senengnya tanam BISI 222 itu gini lho mas, walaupun ditanam dengan pupuk yang agak telat-telat dikit, ataupun jumlahnya agak kurang, hasil tongkolnya masih bisa tetap besar-besar,” ungkap Khosim.

Tahan kekeringan

Sementara itu, di wilayah Kecamatan Martapura, Kabupaten OKU Timur, Sumatera Selatan, BISI 222 dikenal paling tahan terhadap kekeringan. Hal ini dibuktikan pada musim tanam tahun lalu, tepatnya pada Nopember 2011. Dimana saat tanaman jagung memasuki fase vegetatif, hujan yang diharapkan ternyata tidak kunjung turun hingga tiga minggu lamanya. Di saat tanaman jagung varietas lain sudah menunjukkan gejala kekeringan (daun mulai menggulung), BISI 222 masih bisa bertahan dengan performa yang tetap normal.

Karena itulah, para petani jagung Martapura dan sekitarnya mulai tertarik dengan benih jagung ini. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang memutuskan untuk mencoba langsung di lahannya masing-masing.

“Saya sudah coba membuktikan sendiri, BISI 222 juga sangat cocok ditanam di area yang kekurangan air. Produksinya bisa tetap bagus. Sehingga jagung ini juga cocok untuk ditanamam pada musim tanam kedua,” ujar Aswin (34), petani jagung di Desa Tulang Bawang, Kecamatan Bunga Mayang, OKU Timur.

Penyebaran jagung super hibrida BISI 222 di Sumatera bagian selatan sendiri sudah cukup merata, mulai dari Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Utara, dan Lampung secara umum, serta Sumatera Selatan mulai dari OKU Timur, Ogan Ilir, Musi Banyuasin, Banyuasin, hingga Lubuk Linggau. Demikian juga di kawasan Bengkulu, mulai dari Manna, Seluma, Bengkulu Utara, Muko muko, hingga Lunang Silaut yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat.

Diterimanya BISI 222 di bagian selatan Sumatera lantaran stabilitas produksinya yang cukup tinggi, baik saat ditanam di daerah perladangan tadah hujan maupun di daerah sawah. “BISI 222 sudah menjadi idaman petani. Dalam kondisi kritis pun varietas ini masih bisa menghasilkan dengan baik. Maksudnya kritis adalah kritis unsur hara maupun kritis air,” ungkap Heri Purwantoro, petani dari Metro Lampung.

Selain itu, saat ditanam di area pesisir pun performa jagung ini tetap bagus. Seperti penanaman BISI 222 di kawasan pesisir Provinsi Bengkulu dengan tiupan anginnya yang cukup kencang. Para petani di daerah ini mengakui kalau tanaman jagung BISI 222 lebih kokoh dan tahan roboh.

Kualitas tinggi

Selain performa tanamannya yang menggembirakan, produksi jagung BISI 222 juga dapat diandalkan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas hasil panennya. Untuk produktivitas, rata-rata hasil di Sumatera bagian selatan, terutama di Lampung Selatan, Lampung Timur, hingga Martapura, mencapai 10 ton per hektar pipil kering panen.

Hasil itu terbilang cukup tinggi untuk kawasan Sumatera bagian selatan. Stabilitas produksinya pun cukup baik, hal ini bisa dibuktikan dari perbedaan variasi dan fluktuasi produksi yang tidak terlalu tinggi dari beragam pengujian yang telah dilakukan di beberapa tempat.

Kualitas hasil panennya juga mumpuni dan berani diadu dengan yang lain. Warna bijinya yang kuning kemerahan dengan bentuk semi flint menjadi salah satu indikator utamanya. Warna biji jagung yang kuning cerah kemerahan identik dengan kandungan protein yang baik untuk bahan baku pakan ternak. Selain itu, berdasarkan pengalaman di lapangan, biji jagung yang demikian juga menjadi penanda bahwa kadar airnya lebih rendah dibanding varietas lainnya meskipun umurnya sama.

Dari beberapa studi banding dan panen raya, berat rata-rata tongkol jagung BISI 222 yang dipanen pada umur 105 HST berkisar 300 gram dengan kadar air 21% dan rendemen mencapai 80%. Dengan kondisi ini, petani dan pedagang akan sangat beruntung. Kadar air yang mencapai 21% saat panen bisa memudahkan petani untuk memasukkan jagungnya sebagai jagung KW (berkualitas) dalam industri pakan ternak. Pasalnya, dengan dijemur manual selama dua hari saja kadar airnya sudah bisa mencapai 18%, yang merupakan salah satu standar baku jagung KW yang ditetapkan pabrik pakan ternak. Rendemen yang tinggi juga akan lebih menguntungkan petani saat jagungnya dijual dalam bentuk pipilan kering.

Sementara bagi pedagang, BISI 222 dinilai lebih menguntungkan lantaran kualitas jagungnya yang memang lebih baik, baik dari kadar airnya maupun warna bijinya. Sehingga pedagang pun akan lebih mudah untuk memasukkannya ke gudang ataupun pabrik pakan ternak dengan nilai kompetensi yang lebih baik dan tidak akan takut ditolak. Tentunya dengan nilai jual yang lebih baik.

Pabrik pun tentu akan lebih senang menerima jagung dengan kualitas seperti itu. Pasalnya, pabrik tidak perlu repot lagi untuk melakukan pengeringan ulang ataupun pemberian desinfektan untuk mengendalikan toksin dari jamur yang ada pada biji jagung sebelum disimpan atau diolah lebih lanjut menjadi pakan ternak.

Harga jual tinggi

Disparitas atau kesenjangan harga yang tinggi antara yang diterima petani dengan harga yang berlaku di pasaran sudah menjadi cerita klasik yang hampir selalu dialami para petani jagung di Sumatera bagian selatan. Tingginya harga jagung yang dipatok pabrikan pakan ternak tidak serta merta bisa dinikmati para petani.

Kesenjangan itu terutama dialami para petani yang hasil jagungnya masih memiliki kadar air yang tinggi (biasanya ditandai dengan warna biji yang pucat) dan para petani yang biasa panen muda (sekitar 90 HST). Hal itu tentu merugikan petani sendiri. Karena, dengan kadar air yang masih tinggi akan memudahkan biji jagung terkontaminasi toksin, sehingga kualitas dan harga jualnya juga akan turun, bahkan pabrik mungkin akan menolak kualitas jagung yang demikian.

Berbeda dengan yang dialami Mukhlis, petani jagung di Desa Way Megat, Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan. Saat harga jagung pipilan panen di tingkat petani rata-rata sekitar Rp. 1.300 per kilogram, jagung BISI 222 yang dipanennya dihargai lebih mahal, yaitu Rp. 1.900 per kilogram, karena kualitasnya lebih bagus. Sementara harga jagung KW di gudang Lampung sekitar Rp. 2.200 per kilogram.

Meskipun masih ada perbedaan harga sekitar Rp. 300 per kilogram, hal itu bagi Mukhlis masih terbilang wajar sebagai biaya angkut pengepul ke gudang. Bandingkan dengan selisih harga para petani lain yang mencapai Rp. 900 per kilogram lantaran kualitasnya yang memang kurang bagus akibat dari jenis varietasnya ataupun penanganan pascapanen yang kurang tepat.

Lain halnya dengan para petani jagung di Martapura, kebiasaan selalu panen tua hingga kering di lahan serta kebanyakan petani menggunakan varietas jagung produksi PT. BISI, mampu meningkatkan kualitas hasil panen mereka. Mereka pun bisa menikmati harga jual jagung yang lebih tinggi. Bahkan pada musim panen Februari-Maret 2012 kemarin, harga jual jagung para petani Martapura tidak pernah di bawah Rp. 2.000 per kilogram.

Disuka karena lebih tahan hama penyakit

Sementara itu, Presiden Direktur PT. BISI International Tbk Jemmy Eka Putra di Jakarta mengatakan, benih jagung super hibrida BISI 222 saat ini memang menjadi salah satu favorit petani. Sejak diluncurkan di awal tahun 2011 hingga kuartal I 2012 ini, penjualannya telah mencapai 480 ton. Bahkan, benih jagung ini menjadi salah satu andalan penjualan perusahaan selama kuartal pertama tahun ini.

Menurut Jemmy, produktivitasnya yang tinggi dan ketahanannya dari serangan hama penyakit menjadi daya tarik utama bagi para petani untuk mengembangkan BISI 222. Jagung super hibrida ini memiliki potensi hasil hingga 13,65 t/ha pipil kering dan terbukti sangat tahan dari serangan penyakit bulai (Peronosclerospora maydis) serta penyakit busuk pucuk tongkol (Giberella zeae).

Selain itu, menurut Market Development Corn Seed Manager PT. BISI Doddy Wiratmoko, jagung ini juga cocok jika dipanen muda sebagai jagung rebus atau jagung bakar. Pasalnya, kadar kemanisannya cukup tinggi jika dibanding jagung sejenis lainnya. “Kadar kemanisan atau brixnya mencapai delapan persen, sehingga cocok juga untuk direbus ataupun dibakar menjadi santapan yang lezat,” ujar Doddy. (M. Haris Sukamto, Market Development Corn Seed Sumatera Bagian Selatan)

Sumber : Majalah Abdi Tani edisi 46, 2012

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856