Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 4.400 (15%) ; Rp. 4.150 (17%)

Lampung
Rp. 4.050 (15%) ; Rp. 3.900 (17%)

Balaraja
Rp. 4.350 (15%) ; Rp. ——-  (17%)

Cirebon
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.150  (17%)

Semarang
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.000  (17%)

Surabaya
Rp. 4.150 (15%) ; Rp. 4.050  (17%)

Makasar
Rp. 4.100 (15%) ; Rp. 3.900  (17%)

Last Update 6 September 2017
Saham BISI

1.495

Last Update 13 September 2017
Lahan Kritis Tanjungpinang Berhasil Ditanami Jagung
20 December 2013 [ 84 views ]

(Berita Daerah – Sumatera) Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) berhasil melakukan uji coba penanaman jagung di lahan tandus atau kritis bekas tambang bauksit di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau.

Jagung tumbuh subur di atas lahan bekas tambang. Di atas lahan itu ditaburkan serbuk sabut kelapa yang berfungsi seperti humus.

Penanaman jagung di lahan bekas tambang bauksit yang dilakukan AISKI merupakan tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman antara AISKI dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terkait penerapan teknologi biji tumbuh mandiri untuk rehabilitasi lahan kritis dan pascatambang.

jagung

Uji coba penanaman jagung di lahan pascatambang bauksit di Sungai Tocha, Kelurahan Dompak, Kecamatan Bukit Bestari, Kota Tanjungpinang, yang sukses dilaksanakan AISKI mendapat apresiasi dari BPPT. Tidak tanggung-tanggung BPPT langsung menurunkan sejumlah perekayasa utama yang dipimpin oleh Direktur Pusat Teknologi Sumberdaya Lahan, Wilayah dan Mitigasi Bencana, Isman Justanto.

Tim tersebut melakukan pengkajian lebih mendalam terkait rencana Pemerintah Kota Tanjungpinang dan Pemkab Bintan menjadikan lahan pascatambang bauksit di daerahnya sebagai kawasan produktif penghasil bahan pangan.

Bahkan BPPT berencana menjadikan Tanjungpinang dan Bintan sebagai proyek percontohan revegetasi lahan pascatambang menggunakan rekayasa serbuk sabut kelapa yang diberi nama teknologi biji tumbuh mandiri.

Selama berada di Tanjungpinang, Tim BPPT akan mengkaji potensi pemanfaatan lahan pascatambang bauksit untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Tanjungpinang dan Bintan memiliki potensi pasar tanaman holtikultura yang cukup besar. Apalagi posisinya yang berdekatan dengan Singapura yang membutuhkan sayur-sayuran puluhan ribu ton per bulan.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia dituntut mampu meningkatkan produksi jagung nasional hingga 9 persen per tahun untuk dapat menurunkan atau mengurangi laju impor komoditas pangan tersebut.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), selama 2000-2011 kenaikan konsumsi jagung setiap tahun rata-rata 8 persen sementara itu angka peningkatan produksi jagung hanya 6 persen per tahun. Sedangkan data dari Kementerian Pertanian Amerika Serikat (USDA) menyebutkan kebutuhan impor jagung Indonesia rata-rata 9 persen atau 1,4 juta ton per tahun, sedangkan kenaikan areal tanam hanya 1 persen per tahun.

Dengan kondisi yang ada saat ini maka untuk menutup gap antara produksi dan kebutuhan jagung dalam negeri dibutuhkan lahan baru sekitar 400 ribu hektar serta petani lebih kurang 800 ribu orang untuk menanam jagung jika rata-rata produktivitas lahan 4,8 ton/ha serta kepemilikan lahan 0,5 ha per orang.

Sejak 2006 – 2011 Indonesia telah mengeluarkan biaya sekitar 2,5 miliar dolar AS untuk mengimpor jagung. Tingginya beban pemerintah dan pelaku bisnis pakan ternak dalam impor jagung dapat berkurang apabila Indonesia dapat meningkatkan produksi jagung nasional.

Melalui pemanfaatan teknologi pertanian transgenik diharapkan menaikkan produktivitas jagung hingga 10 persen dan meningkatkan keuntungan petani hingga 26-47 persen di Indonesia.

Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan produksi nasional, Indonesia mengimpor 76 persen jagung dari negara-negara yang mengembangkan transgenik seperti Argentina sebanyak 832.202 ton, Brazil (340.985 ton), AS (188.206 ton) dan selebihnya dari Cina serta India.

Adopsi transgenik mampu meningkatkan produksi secara signifikan seperti misalnya di Filipina sebelumnya produktivitas hanya mencapai rata-rata -0,4 persen namun dengan pengembangan rekayasa genetika pada jagung mampu menaikkan produksi hingga 6 persen per tahun.

Transgenik merupakan salah satu solusi yang tersedia saat ini yang dapat dikembangkan di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan tantangan yang dikeluhkan petani jagung di Indonesia seperti tingginya biaya penanggulangan gulma, hama penyakit pengerek batang, serta kualitas produksi yang rendah.

Melalui hasil ujicoba yang dilakukan oleh tim CARE IPB, pemanfaatan jagung transgenik toleran herbisida mampu menaikkan keuntungan petani antara 26-47 persen.

Bila Indonesia mengembangkan benih jagung transgenik diharapkan tidak hanya mampu memenuhi konsumsi jagung dalam negeri namun juga untuk kebutuhan ekspor ke negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand.

(et/EA/BD)

Pic: ant

Sumber : http://beritadaerah.com (19/12/2013)

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856