Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 4.400 (15%) ; Rp. 4.150 (17%)

Lampung
Rp. 4.050 (15%) ; Rp. 3.900 (17%)

Balaraja
Rp. 4.350 (15%) ; Rp. ——-  (17%)

Cirebon
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.150  (17%)

Semarang
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.000  (17%)

Surabaya
Rp. 4.150 (15%) ; Rp. 4.050  (17%)

Makasar
Rp. 4.100 (15%) ; Rp. 3.900  (17%)

Last Update 6 September 2017
Saham BISI

1.495

Last Update 13 September 2017
Kabar Baik di Lahan Jagung
20 April 2015 [ 109 views ]

Provinsi Nusa Tenggara Timur yang dikenal kering dan berbatu kini percaya diri mematok target sebagai lumbung jagung nasional. Tekstur tanah keras dan batu karang bercurah hujan minim bukan halangan. Itu justru modal menyelesaikan berbagai tantangan dan masalah lokal. Kata kuncinya, pertanian konservasi.

Dua tahun terakhir, 200 kelompok masyarakat lokal dikenalkan model pertanian konservasi. Konservasi dalam ini adalah kualitas tanah dijaga-bahkan ditingkatkan kesuburannya-dengan cara sederhana.

Inti metode itu mewajibkan petani mengolah tanah yang minim, menutup permukaan tanah dengan serasah atau tanaman rambat, merotasi jenis tanaman, dan menggunakan pupuk kompos buatan sendiri. Meski sederhana, cara itu tak lazim dan aneh bagi petani setempat yang 30 tahun dicekoki model pertanian intensif/ekstensif.

Tak heran, Herman Bereseran (55), warga Desa Bakiruk di Malaka, NTT, awalnya tak percaya pertanian konservasi mampu “menyulap” lahan kering yang ia olah sejak muda, dapat menghasilkan pangan jagung yang baik. Herman akhirnya yakin meski satu lahan demplot kelompoknya yang ditanam Januari 2015 belum dipanen.

Semua berawal dari pengalaman. Daun jagung pada sepetak lahannya menguning tak sehat, permukaan tanah dipenuhi rumput liar. Itu jauh berbeda dengan kebun jagung lahan sebelah yang dijalankan dengan model pertanian konservasi. Demplot kebun jagung itu hijau tua segar, dipenuhi tanaman merambat kacang-kacangan di antara tunggul tanaman.

Di Humusu Sainiup, Kecamatan Insana Utara di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nicolaus Awit (60) pun awalnya tak percaya metode “aneh” pertanian konservasi itu menghasilkan produktivitas jagung tinggi. Selain aneh, metode ini awalnya butuh kerja otot ekstra.

Tanah kering dan keras diubah jadi lubang media tanam. Caranya bermacam-macam sesuai kemampuan petani. Bisa dengan lubang 30 x 30 x 30 sentimeter, membuat parit, atau membuat alur. Cekungan itu lalu diisi campuran pupuk kompos dan pupuk kandang 3-4 kilogram per lubang.

Lubang dan “parit” yang tak lagi dibuat setiap musim tanam itu jadi semacam “penjebak” dan penyimpanan unsur hara. Sementara itu, penanaman tanaman kacang-kacangan di antara tanaman jagung berfungsi sebagai tanaman penutup yang menahan penguapan air dan menjaga agar permukaan tanah tidak ditumbuhi rumput.

“Menyiangi rumput biasanya dilakukan ibu-ibu karena suami kerja tukang. Dengan kacang-kacangan menutup permukaan tanah, rumput yang bikin kurus tanaman tak bisa hidup,” kata Ujang Suparman, Manajer Program NTB-NTT Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) Indonesia. Akar kacang-kacangan yang bersimbiosis dengan bakteri rhizobium menghasilkan nitrogen sehingga menyuburkan media tanam.

Metode itu pertama kali dilakukan di Amerika Serikat tahun 1930. Saat itu, terjadi erosi tanah parah akibat terbawa aliran sungai maupun angin yang dikenal Great Dust Bowl. Kehilangan lapisan atas tanah ini membuat tanah tak subur.

Untuk mengembalikan lapisan atas tanah, mereka meninggalkan kebiasaan membajak tanah. Petani lokal juga membiarkan sisa tanaman yang telah dipanen di lahan. Tujuannya untuk menambah biomassa.

Tahun 2000-an, metode itu dipraktikkan di 60 juta petak lahan pertanian, terutama di wilayah Amerika Utara dan Amerika Selatan, dengan kerusakan tanah serupa. Kini, metode pertanian konservasi itu meluas di hampir seluruh lahan pertanian Afrika (Conservation Agriculture: A manual for farmers and extension workers in Africa, 2005).

Di Indonesia, metode itu diperkenalkan dua tahun terakhir oleh FAO bersama pemda dan LSM lokal. Mereka mencontohkan model pertanian konservasi di 237 demplot di NTB-NTT melibatkan 4.907 petani. Kedua provinsi itu dipilih karena umumnya punya persentase kandungan unsur C-organik (salah satu faktor penentu kesuburan tanah) yang amat rendah.

Di Lombok, kandungan C-organik kurang dari 1 persen mencapai 76,4 persen, sisanya rendah (1-2 persen). Di Pulau Timor, kandungan C-organik kurang dari 1 persen mencapai 35,82 persen, rendah (1-2 persen) 56,72 persen, dan moderat (2-3 persen) 7,46 persen.

Hasil perbandingan panen pada demplot dan kontrol (cara konvensional) menunjukkan hasil mencengangkan, peningkatan produksi mencapai lebih dari dua kali lipat. Jika dengan metode konvensional jagung yang dihasilkan 2 ton per ha, berlipat menjadi rata-rata 4,5 ton per ha saat menggunakan berbagai teknik pertanian konservasi.

Melalui pertanian konservasi, petani mendapat “bonus” panen berbagai jenis kacang-kacangan. Itu menambah gizi dan penghasilan petani usai panen jagung yang di sebagian NTT hanya dilakukan sekali setahun.

Ubah pola pikir

Dengan cara ini, petani juga mengubah pola pikir yang umumnya menyiapkan lahan penanaman dengan cara membakar. Selain polusi asap dan melepas emisi, pembakaran lahan pun merusak tekstur dan struktur tanah.

Lewat pemanfaatan pupuk kandang, warga tak lagi membiarkan ternaknya berkeliaran jauh dan melintas di jalan. Ternak dikandangkan atau diikat agar kotoran bisa dikumpulkan dengan mudah untuk pupuk.

Setelah panen, sisa tanaman jagung maupun kacang-kacangan kini tak lagi dikumpulkan. Sampah-sampah organik itu ditaruh di atas permukaan tanah untuk mempertebal tutupan biomassa. Perawatan selanjutnya menambahkan pupuk organik.

Edgar R Tibuludji, Sekretaris Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan NTT, mengakui, percontohan metode pertanian konservasi itu akan memudahkan replikasi. “Cara yang relatif mudah meski memang berat dilakukan di awal,” katanya. Di NTT, pertanian konservasi merupakan kabar baik.

Sumber : http://print.kompas.com (20/04/2015)

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856