Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 4.400 (15%) ; Rp. 4.150 (17%)

Lampung
Rp. 4.050 (15%) ; Rp. 3.900 (17%)

Balaraja
Rp. 4.350 (15%) ; Rp. ——-  (17%)

Cirebon
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.150  (17%)

Semarang
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.000  (17%)

Surabaya
Rp. 4.150 (15%) ; Rp. 4.050  (17%)

Makasar
Rp. 4.100 (15%) ; Rp. 3.900  (17%)

Last Update 6 September 2017
Saham BISI

1.495

Last Update 13 September 2017
Jagung : Menggadang Sentra Baru
2 March 2014 [ 42 views ]

Di 2014 ini pemerintah berambisi mematok produksi jagung 20,82 juta ton. Sejumlah daerah pun digadang sebagai kawasan baru sentra jagung.

Catatan Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT) menunjukkan impor jagung oleh perusahaan-perusahaan pakan di 2013 mencapai 3 juta ton. Angka ini melonjak dari impor di 2012 yang tercatat di angka 1,7 juta ton. Ketua Umum GPMT, Sudirman mengatakan, ketergantungan industri peternakan, utamanya perunggasan, pada jagung impor tak terelakkan. Pasalnya di satu sisi permintaan akan jagung terus meningkat, seiring terus bertumbuhnya industri pakan ternak yang mengikuti perkembangan usaha peternakan nasional. Di sisi lain produksi jagung nasional belum mampu memenuhi kebutuhan pasokan jagung.

Gambaran berbeda tersaji saat jumpa pers akhir tahun di Kementerian Pertanian (Kementan) beberapa waktu lalu (30/12/13). Menteri Pertanian, Suswono dalam keterangannya menyebutkan produksi jagung nasional 2013 ada di kisaran 18,51 juta ton (Tabel 1). Dan meskipun produksi tersebut turun 4,15 % dari angka capaian 2012 yang 19,39 juta ton, pemerintah mengklaim 2013 masih surplus komoditas jagung. “Kebutuhan jagung pada 2013 adalah 14,38 juta ton, sehingga tahun lalu surplus 4,12 juta ton,” ujar Suswono menampilkan data.

Lagi-lagi fakta ini mencuatkan kembali sebuah pertanyaan yang sudah menahun senantiasa mengemuka dan tidak pernah terjawab. Dimanakah keberadaan jagung yang melimpah tersebut ketika pabrikan pakan membutuhkannya? Tidak bertemunya antara permintaan dan pasokan ini masih saja jadi “misteri”. Produksi pakan yang menurut GPMT di 2013 13,4 juta ton menuntut ketersediaan jagung sekitar 7 juta ton (komposisi jagung sedikitnya 50 % dalam formulasi pakan). Logikanya jumlah itu akan mudah dipenuhi dari produksi dalam negeri. Apa lacur, pabrikan pakan unggas di waktu-waktu tertentu mengeluhkan langka dan mahalnya jagung lokal, alhasil langkah impor harus ditempuh.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Direktur Budidaya Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, Hasil Sembiring kepada Trobos Livestock mengatakan, saat ini tataniaga jagung belum ada yang mengatur sehingga penggunaan jagung bebas digunakan industri pakan, industri pangan dan industri lainya. Kebutuhan jagung oleh produsen pakan ternak yang tercatat hanya oleh perusahaan besar. Sedangkan produsen pakan ternak lokal yang kecil-menengah tidak tercatat dengan baik. “Padahal peternak skala kecil-menengah ini jumlahnya cukup besar,” kata Hasil. Selain itu, tambah dia, jagung lokal untuk kebutuhan pangan dan bahan baku industri lainnya juga cukup besar.

Tujuh Sentra Jagung
Di 2014 ini pemerintah berambisi mematok produksi jagung 20,82 juta ton. Sementara kebutuhannya diperkirakan sebesar 14,26 juta ton, sehingga bakal terjadi kembali surplus 6,56 juta ton.

jagung-menggadang

Menteri Pertanian yakin target ini bakal tercapai melalui kegiatan peningkatan produktivitas, pengamanan produksi, pengawalan dan pendampingan, perluasan areal tanam dan kegiatan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) seluas 260.000 hektar di 29 provinsi, 201 kabupaten.

Demi tercapainya target yang sudah dipatok, pemerintah pusat menyiapkan anggaran melalui APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) Rp 200 M. Peruntukannya antara lain penyediaan benih, operasional pendampingan, dan bantuan pasca panen. Selain dari APBN, sumber dana berasal dari dana APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah), dan swasta.

Lebih lanjut dijelaskan Hasil, secara umum ada 17 provinsi yang akan menjadi sentra jagung. Tetapi secara khusus pada rentang 2012 – 2014 pemerintah menggadang peningkatan produksi jagung di 7 provinsi yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Utara (Sulut), Sulawesi Tengah (Sulteng), dan Sulawesi Tenggara (Sultra).

Total areal luas lahan di 7 provinsi tersebut yang potensial untuk pengembangan jagung mencapai sekitar 3,16 juta ha, dan dapat ditanami 2 kali setahun. Potensi yang bagus dan komitmen pemerintah daerah setempat yang kuat disebut Hasil sebagai alasan dipilihnya daearah-daerah itu untuk pengembangan sentra jagung. “Dan pertimbangan utama adalah sangat dekatnya 7 provinsi tersebut dengan pasar jagung,” tutur Hasil. Pemerintah daerah-daerah tersebut siap mendukung dengan mengalokasikan anggaran daerah (APBD), serta melakukan pembinaan dan pengawalan program. Dikatakan Hasil, tambahan tanam di areal baru ini diharapkan memberikan tambahan produksi 2 juta ton pipilan kering dalam setahun sehingga target produksi 2014 tercapai.

Sudirman menyambut baik program pemerintah untuk mengembangkan sentra baru jagung, dan mengaku sejauh ini selalu terlibat dalam pengembangan jagung tersebut. “Kalau tidak salah pemerintah punya rencana menaikkan produksi jagung 2 juta ton di 2014 dengan anggaran Rp 200 miliar. Itu bagus, meski perlu waktu untuk itu,” kata dia. Dan beberapa anggota GPMT telah memulai menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah dalam pengembangan jagung.

Sudirman menyarankan, rencana menggenjot produksi jagung perlu dilengkapi dengan penetapan harga terendah untuk memberikan kepastian kepada petani jagung. Dan kabar baik disampaikan Sudirman, Bulog rencananya akan mengambil peran dalam penyerapan komoditas jagung.  Badan usaha pelat merah ini bakal membeli jagung petani untuk mengatur pasar jagung lokal. “Diharapkan tahun ini dapat berjalan,” ucapnya. Sehingga impor jagung di 2014 yang disebutnya diperkirakan mencapai 3,6 juta ton, dapat ditekan.

Kepada TROBOS Livestock, saat masih menjabat sebagai Direktur Budidaya Serealia Kementan, Fathan A. Rasyid mengatakan, dana asal pemerintah untuk mengembangkan sentra jagung hanya 5%, karena itu harus bersinergi dengan swasta. Dan di 7 provinsi tadi, akan dijalin kerja sama dengan swasta sebagai penjamin pasar dan harga. Diharapkan, kebutuhan pabrikan pakan akan ketersediaan jagung dapat bersinergi dengan kebutuhan petani akan kepastian serapan dan jaminan stabilitas harga jagung. “Semoga kualitas yang dituntut perusahaan dapat dipenuhi oleh petani,” kata dia di awal tahun. Fathan menyebut, kebutuhan jagung sebagai bahan baku pakan ternak mencapai 600 ribu ton tiap bulannya.

Sumber : http://www.trobos.com (01/03/2014)

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856