Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 4.200 (15%) ; Rp. 4.150 (17%)

Lampung
Rp. 4.000 (15%) ; Rp. 3.900 (17%)

Balaraja
Rp. 4.150 (15%) ; Rp. ——-  (17%)

Cirebon
Rp. 4.100 (15%) ; Rp. 3.900  (17%)

Semarang
Rp. 3.975 (15%) ; Rp. 3.850  (17%)

Surabaya
Rp. 3.900 (15%) ; Rp. 3.800  (17%)

Makasar
Rp. 4.000 (15%) ; Rp. 3.700  (17%)

Last Update 8 November 2017
Saham BISI

1.685

Last Update 23 November 2017
Ir. Sabar Sitepu “jujur, saya sangat kagum”
21 April 2012 [ 484 views ]

BISI-18 merupakan salah satu varietas jagung super hibrida terbaru PT. BISI International Tbk yang memiliki keunggulan utama pada ukuran tongkol yang besar dan sangat seragam serta daya adaptasinya yang bagus terhadap berbagai kondisi lingkungan. Seperti yang telah dibuktikan oleh Sabar Sitepu yang menanam jagung ini dengan sistem tumpangsari pada hamparan tanaman kelapa sawit seluas 2,5 hektar di Deli Serdang.

Bagi Ir. Sabar Sitepu, bercocok tanam jagung bukanlah hal yang asing lagi. Insinyur pertanian asal Dusun Ujung Namutualang, Desa Ujung Beringin, Kecamatan Biru-biru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara itu sudah lebih dari 16 tahun berkecimpung di dunia perjagungan.

“Sudah sejak tahun 1995 saya menanam jagung,” ujar suami dari Susan Br. Sembiring yang selalu berkeinginan untuk mempraktikkan ilmu yang didapatnya selama kuliah dan menyebarluaskannya kepada masyarakat di sekitarnya.

Seperti saat ia mencoba menanam jagung yang ditumpangsarikan dengan tanaman kelapa sawit. Dengan menggunakan tiga macam varietas jagung hibrida produksi PT. BISI, yaitu: super hibrida BISI-18 (1.000 m2), super hibrida BISI 222 8.000 m2), dan super hibrida BISI-12 (5.000 m2), Sabar mencoba peruntungan dari bertanam jagung di sela-sela hamparan kebun kelapa sawit seluas 2,5 hektar yang baru berumur dua tahun.

“Hasilnya ternyata sangat luar biasa. Saya sangat puas dengan hasil yang saya dapatkan,” ungkap Sabar dengan bangga. Dari ketiga varietas itu, total ia bisa mendapatkan hasil 14,7 ton jagung pipil kering berkadar air 20%.

Sabar juga mengaku tertarik dengan salah satu dari ketiga varietas jagung yang ditanamnya itu, yakni dengan jagung super hibrida BISI-18. Varietas teranyar dari PT. BISI ini menurut Sabar mampu menghasilkan tongkol dengan ukuran yang besar dan sangat seragam. Dari tanaman seluas 1.000 m2 di sela-sela kebun sawit tersebut, jagung ini bisa menghasilkan 1,2 ton pipil kering atau setara dengan 12 ton per hektar pipil kering berkadar air 20%.

“Pertumbuhan tanamannya sangat bagus dan merata, buahnya juga tumbuh sama besar atau seragam buahnya. Tanamannya juga lebih tahan bulai dan tidak mudah roboh,” terang ayah dari Abram David Levi Sitepu, Alvina Christy Br Sitepu, dan Regina Trivania Br Sitepu ini.

Hasil itu menurutnya masih lebih tinggi dibandingkan dengan jagung lain yang biasa ia tanam sebelumnya. Bahkan untuk pipilan keringnya, hasil BISI-18 bisa 26 persen lebih tinggi. Biasanya, saat menanam jagung jenis lain (bukan produk BISI), maksimal ia hanya mendapatkan 14 ton gelondongan kering untuk luasan lahan 2,5 hektar. Hasil pipilan keringnya pun paling banyak hanya 9,5 ton. “Itupun ditanam dengan sistem monokultur tanpa kelapa sawit,” kata Sabar.

Sabar Sitepu juga mengatakan, hasil panen jagung BISI, terutama super hibrida BISI-18, yang ditumpangsarikan dengan kelapa sawit itu merupakan yang tertinggi sepanjang sejarahnya menanam jagung di Deli Serdang. Ia pun berkeinginan untuk kembali menanam jagung yang memiliki potensi hasil hingga 12 ton per hektar pipil kering ini. Pertimbangan utama yang menjadi alasannya adalah performa dan hasilnya yang sangat luar biasa tersebut. Menurutnya, dengan sistem tumpangsari saja hasilnya sudah sangat memuaskan, bagaimana jika ditanam biasa (monokultur), tentu hasilnya akan lebih tinggi lagi.

“Jujur, saya sangat kagum dengan semua produk jagung dari BISI. Karena masih bisa tumbuh dengan baik di sela-sela tanaman sawit. Salut buat produk BISI, terutama BISI-18,” katanya.

Sementara itu, Market Development Corn Seed Manager PT. BISI Doddy Wiratmoko mengatakan, kesuksesan jagung super hibrida BISI-18 yang ditumpangsarikan dengan tanaman kelapa sawit itu menjadi bukti bahwa varietas jagung ini memang memiliki daya adaptasi yang sangat baik terhadap beragam kondisi lingkungan, baik saat ditanam di dataran rendah maupun dataran tinggi.

“BISI-18 memang memiliki keunggulan pada daya adaptasinya yang sangat baik terhadap berbagai kondisi lingkungan, di samping ukuran tongkolnya yang sangat seragam. Sehingga, meskipun ditanam dalam kondisi basah maupun kering hasilnya tetap bisa bagus, termasuk saat ditanam dengan sistem tumpangsari itu,” ujarnya.

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856