Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 4.400 (15%) ; Rp. 4.150 (17%)

Lampung
Rp. 4.050 (15%) ; Rp. 3.900 (17%)

Balaraja
Rp. 4.350 (15%) ; Rp. ——-  (17%)

Cirebon
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.150  (17%)

Semarang
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.000  (17%)

Surabaya
Rp. 4.150 (15%) ; Rp. 4.050  (17%)

Makasar
Rp. 4.100 (15%) ; Rp. 3.900  (17%)

Last Update 6 September 2017
Saham BISI

1.495

Last Update 13 September 2017
Hati-hatiI!! Jagung Ini Serba ‘AMOH’
23 October 2016 [ 471 views ]

Baru dan memberikan kesan berbeda di benak petani. Itulah BISI 226, jagung super hibrida terbaru dari PT BISI International, Tbk.. Varietas ini memang baru dikenal petani, namun performanya membuat banyak petani penanamnya tertegun. Hingga petani di Tegal menjulukinya sebagai “jagung serba amoh”.

Serba ‘amoh’. Itulah yang diucapkan Sucipto, salah seorang petani penanam jagung BISI 226 di Desa Dermasuci, Kecamatan Pangkah, Tegal, Jawa Tengah. Ungkapan itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, jagung super hibrida baru ini mampu menunjukkan performa yang meyakinkan petani jagung sepertinya. Hingga lahirlah istilah ‘jagung serba amoh’.

Amoh, dalam bahasa sehari-hari orang Tegal artinya mudah. Sehingga kalau para petani menyebut BISI 226 sebagai jagung yang serba amoh, maka artinya BISI 226 adalah jagung yang serba mudah.

“Pertumbuhane bagus, perawatane mudah, panennya mudah, pipilane mudah. Pokoknya (BISI) 226 serba amoh,” ujar Cipto saat ditemui Abdi Tani di rumahnya.

Menurut Cipto, ‘keamohan’ jagung hibrida satu ini yang paling disukai olehnya dan juga petani jagung lain di daerahnya adalah amoh pipilane atau mudah pemipilan bijinya. Pasalnya, dengan biji yang mudah dipipil, selain bisa menghemat tenaga kerja, kualitas biji jagung hasil panennya juga lebih bagus karena lebih bersih, tidak ada kotoran dari janggel yang biasanya tersertakan saat dipipil.

“Kalau di sini, kebanyakan hasil panen dipipil sendiri pakai tangan. Karena lahannya jauh di pegunungan, sulit dijangkau mesin pemipil. Jadi kalau pipilannya mudah seperti BISI 226 ini tentu sangat memudahkan petani,” terang Cipto.

Sementara menurut Warso, petani jagung lain di Pangkah yang juga menanam BISI 226, selain amoh, jagung super hibrida baru ini juga memiliki produktivitas yang tinggi. “Kemarin saya tanam 5 kilogram benih dapat 2,5 ton pipil. Tumben-tumbene bisa dapat sebanyak itu, biasanya hanya dapat 1 ton,” ujarnya.

Tongkol besar, tahan hama penyakit

Bagi kebanyakan petani jagung, performa tanaman dan besarnya tongkol masih menjadi acuan utama bagi mereka dalam menentukan pilihan. Karena, dua parameter itu memang menjadi faktor penentu tinggginya hasil yang bisa didapatkan petani. Lantaran alasan itu pula BISI 226 langsung menjadi pilihan petani.

 

Sukarso, petani sekaligus pedagang jagung di Desa Joho, Kecamatan Bawang, Banjarnegara, Jawa Tengah mengatakan, pertumbuhan BISI 226 mulai tampak luar biasa setelah dilakukan pemupukan susulan kedua (umur sekitar 30 hst). “Awal pertumbuhannya itu biasa saja, tapi setelah pupuk kedua langsung kelihatan bagusnya. Luar biasa tumbuhnya. Tanamannya sangat seragam, batangnya besar, kokoh, dan daunnya hijau subur. Nyenengaken (menyenangkan-red.),” jelasnya.

Selain itu, lanjut Karso, jagung super hibrida satu ini juga memiliki karakter tongkol yang besar dan panjang, sehingga wajar kalau bobot hasil panennya pun juga tinggi. “Tongkole ageng-ageng tur panjang. Bobote sae (Tongkolnya besar-besar dan panjang. Bobotnya bagus-red.),” terangnya.

Hal itu juga dibenarkan Wawan, petani sekaligus pemilik kios asal Desa Blambangan, Kecamatan Bawang, Banjarnegara. Menurutnya, petani jagung di daerahnya mulai beralih ke BISI 226 lantaran ukuran tongkolnya yang besar.

“Kalau di sini, petani lebih suka jagung yang tongkolnya lebih besar. Kalau besar kan hasilnya pasti banyak, itu yang ada di pikiran petani jagung di sini,” ujar Wawan.

Di samping itu, lanjut Wawan, petani lebih memilih BISI 226 juga karena varietas ini memiliki keunggulan yang tidak dimiliki varietas lain yang selama ini dipakai petani setempat. “(BISI) 226 sangat tahan bulai. Yang selain jagung BISI sudah tidak kuat ditanam di sini, hancur karena bulai,” katanya.

Hadiyono, petani jagung lain di Desa Blambangan juga membenarkan hal itu. “Tanamannya memang terbukti tahan bulai. Yang lainnya sudah banyak yang habis karena terserang bulai, BISI 226 di lahan saya masih aman-aman saja,” terangnya.

Selain tahan bulai, jagung ini juga tahan serangan busuk batang. “Biasanya serangan busuk batang itu muncul saat tanaman mulai berbunga. Dari yang saya tanam kemarin semuanya aman dari busuk batang,” kata Hadiyono.

Sementara menurut Karso, jagung BISI 226 juga aman dari serangan wereng yang banyak menyerang di musim kering atau istilah petani setempat musim garingan. “Kata petani di sini, jagung produksi BISI itu, termasuk BISI 226 ini, kebal dari segala hama penyakit. Wereng dan bulai aman. Makanya jagung ini bisa langsung disenangi di sini,” terangnya.

Tahan simpan

Petani jagung di kawasan pegunungan dengan lahan yang letaknya jauh dari akses jalan seperti Cipto, daya simpan menjadi pertimbangan lain yang selalu dicermati petani. Bagaimana tidak, setelah dipanen dari lahan, hasil panen tidak bisa langsung dibawa ke rumah atau ke tempat pengepul jagung. Jagung yang telah dipanen akan ‘transit’ dulu di tempat penampungan sementara di dekat lahan.

“Penyimpanan di lahan bisa sampai 2 atau 3 bulan. Hasil panen baru diambil saat mau tanam musim berikutnya secara bertahap dengan menggunakan ojek motor,” terang Cipto.

Lantaran menggunakan ‘ojek motor’ itulah pengambilan hasil panen di lahan tidak bisa serta merta dilakukan dalam satu waktu sekaligus. Karena ongkos ojeknya juga cukup mahal. “Rp30 ribu sekali jalan dan hanya mampu membawa sekarung atau sekitar 50 kilogram,” terang Sunaryo, petani jagung di Desa Dermasuci, Pangkah, Tegal.

Menurut Sunaryo, daya simpan BISI 226 lebih bagus dibanding jagung selain produknya PT BISI. Dengan waktu simpan yang cukup lama di penampungan, kondisi biji jagung saat hendak dijual masih tetap bagus.

“Kualitasnya tetap bagus, tidak jamuran. Menurut saya karena kadar air BISI 226 lebih rendah dari yang lain sehingga bisa tetap bagus saat disimpan,” ucap Sunaryo.

Hal itu juga dibenarkan Karso yang juga merupakan pedagang pengepul jagung. Menurutnya, kadar air jagung yang memiliki potensi produksi hingga 15 ton/ha pipil tersebut memang lebih rendah, sehingga selain kualitasnya tetap bagus, saat dijemur untuk pengeringan, susutnya tidak banyak.

“Dari setelah panen hingga siap jual, paling susutnya maksimal 10% saja. Bijinya juga bersih tidak mudah jamuren. Pengalaman saya kemarin, dari 3 kilogram benih bisa dapat 32 karung atau sekitar 27 kuintal gelondong. Setelah dipipil dan dikeringkan, bisa dapat sekitar 19 kuintal pipil kering siap jual, ” ujar Karso saat ditemui Abdi Tani di rumahnya.

Sumber : Majalah Abdi Tani (Oktober 2016)

aplikasi-pertanian-bisi

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856