Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 4.400 (15%) ; Rp. 4.150 (17%)

Lampung
Rp. 4.050 (15%) ; Rp. 3.900 (17%)

Balaraja
Rp. 4.350 (15%) ; Rp. ——-  (17%)

Cirebon
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.150  (17%)

Semarang
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.000  (17%)

Surabaya
Rp. 4.150 (15%) ; Rp. 4.050  (17%)

Makasar
Rp. 4.100 (15%) ; Rp. 3.900  (17%)

Last Update 6 September 2017
Saham BISI

1.495

Last Update 13 September 2017
Hama Tikus Lantak Jagung Petani
12 July 2011 [ 51 views ]

Sumber : http://www.radarlamteng.com (12/07/2011)

SEPUTIHRAMAN – Masa tanam palawija saat ini, merupakan masa yang sangat mendebarkan bagi para petani. Terutama para petani yang ada di Kecamatan Seputihraman, Lamteng. Pasalnya, puluhan hektar lahan yang ditanami jagung, diserang habis oleh hama tikus. Akibat keganasan hama pengerat ini, sudah banyak petani yang merugi.

Dikatakan oleh salah seorang petani dari Kampung Rejoasri, Rosidi, 1,5 hektar lahan jagungnya, telah diserang hama tikus. Tanaman jagungnya yang baru berusia sudah berusia 30 hari, ludes tak bersisa.

”Kalau usia jagungnya sudah lebih dari 3 minggu, maka yang diserang adalah batang, daun, dan bakal buahnya. Sedangkan, jika usia jagungnya masih di bawah 2 minggu, yang diserbu adalah daun dan batangnya,” terangnya kepada Radar Lamteng, Senin (11/7).

Bahkan, ada kejadian yang lebih seru lagi. Kejadian ini dialami oleh Paikin, petani dari Kampung Rejoasri 5. Ia mengatakan, pada Jumat (8/7) ia menabur jenih jagung di lahannya seluas 1 hektar. Tiba-tiba, keesokan harinya, pada Sabtu (9/7) pagi, ia terkejut bak disambar petir di siang bolong.

”Bagaimana saya enggak kaget, bibit yang kemarin baru saja saya taburkan, pagi harinya habis tak tersisa. Kalau saja mental saya enggak kuat, saya pasti sudah stres karena hama tikus yang luar biasa dahsyat di wilayah ini. Modal yang sudah saya keluarkan, terbuang sia-sia,” paparnya kepada Radar Lamteng, Senin (11/7).

Hal serupa juga diungkapkan oleh Dasirin, petani dari Rejoasri 6. Ia menambahkan, lahannya seluas setengah hektar juga ditanami jagung. Namun, tanaman yang menjadi tabungannya untuk biaya sekolah cucu-cucunya itu, hanya dapat bertahan hingga umur 25 hari. Sebab, pada usia yang ke-26 hari, tanaman jagungnya juga ludes diserang hama tikus.

Itulah penuturan beberapa petani yang terpaksa harus gagal panen, karena tanaman jagungnya diserang hama tikus. Berdasarkan pantauan Radar Lamteng di areal pertanian jagung Kecamatan Seputihraman, masih banyak lagi petani yang menjadi korban keganasan hama tikus. Misalnya para petani di Rejobasuki, Ratnachaton, Ramaindera, Ramaklandungan, Ruktiharjo, Ramadewa, Ramagunawan, Ramamurti, Ramanirwana, dan Ramayana.

Serangan hama tikus yang lebih dahsyat, adalah di areal pertanian yang letaknya berdekatan dengan aliran rawa dan perbatasan dengan lahan tidur. Karena, sepanjang aliran rawa dan lahan tidur yang dipenuhi dengan semak belukar, adalah sarang yang ideal bagi hama tikus.

Jika lahan di sekitar sarangnya sudah mulai ditanami, maka tikus-tikus itu akan keluar untuk mendapatkan persediaan makanan. Akibatnya, lahan yang di dekat sarang itulah yang menjadi korban pertama dan utama. Apalagi pemilik tanaman adalah petani yang kurang peduli dengan kondisi tanamannya, tentu menjadi sasaran empuk tikus-tikus itu.

Para petani di Seputihraman, sebenarnya juga sudah menjalankan program-program dari UPTD Pertanian kecamatan setempat. Antara lain adalah gropyokan, pengomporan, dan penggunaan obat-obatan. Namun, semua usaha itu sepertinya sia-sia. Sebab, populasi hama tikus justru meningkat sangat drastis.

Namun, berdasarkan kenyataan yang terjadi di lapangan, meskipun sebagian besar petani menjadi korban keganasan hama tikus, tetapi juga masih ada beberapa petani yang beruntung. Sebab, lahan dan tanaman jagungnya aman dari serangan hama tikus. Tidak dipungkiri, faktor nasib juga sangat menentukan apa yang kita alami di dunia ini.

Sudah Upayakan Berbagai Program

Kepala UPTD Pertanian Seputihraman, I Nyoman Gunadi, SP.YP. mengatakan, pihaknya juga tak pernah berhenti untuk bersosialisasi kepada para petani di wilayah kerjanya.

”Bahkan, dalam perkumpulan IPA Air, saya sudah menginstruksikan kepada para petani untuk mengadakan iuran, sebesar Rp5 ribu/hektar. Sebab, bantuan belerang dari Dinas Pertanian Kabupaten Lamteng, hanya 50 kilogram setiap kecamatan,” ujarnya.

Jika hanya mengandalkan itu, tentu saja tidak akan mencukupi. Oleh karena itu, diminta untuk swadaya mengadakan belerang bagi para petani. Dengan harapan, para petani juga memiliki greget guna mengurangi dan menekan populasi hama tikus ini.

Namun, program tersebut tidak berjalan lancer. Karena, masih banyak petani yang mbalelo (tidak mau iuran, Red). Akibatnya, banyak juga petani yang menjadi korban keganasan hama tikus yang dirasa semakin luarbiasa.

”Selain program iuran, kami juga sudah mengimbau agar para petani, dalam masing-masing kelompoknya, juga tetap melaksanakan gropoyokan secara serempak. Program itu pun, semakin lama juga semakin tidak diindahkan oleh para petani. Makanya, populasi hama tikus juga semakin mengganas,” tandas Gunadi. (ayp)

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856