Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 3.900 (15%) ; Rp. 3.850 (16%)

Lampung
Rp. 3.725 (15%) ; Rp. 3.625 (17%)

Balaraja
Rp. 4.000 (15%)

Cirebon
Rp. 3.750 (15%) ; Rp. 3.650  (17%)

Semarang
Rp. 3.700 (15%) ; Rp. 3.600  (17%)

Surabaya
Rp. 3.600 (15%) ; Rp. 3.500  (17%)

Makasar
Rp. 3.650 (15%) ; Rp. 3.350  (17%)

Last Update 14 December 2017
Saham BISI

1.790

Last Update 15 December 2017
H. Umar Shodiq – Sulitnya Berpisah dengan BISI-2
2 May 2012 [ 155 views ]

Terhitung sudah lebih dari 13 tahun H. Umar Shodiq (78) menggunakan benih jagung hibrida BISI-2. Hingga saat ini pun, ia enggan untuk beralih dari jagung hibrida ‘legendaris’ produksi PT. BISI International Tbk itu.

Susah sekali meninggalkannya, demikian penegasan yang disampaikan oleh H. Umar Shodiq terhadap jagung hibrida BISI-2. Pasalnya, sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 1998 ia merasa sudah benar-benar jatuh cinta dengan jagung bertongkol dua itu. “Saya kira berpisahnya kok sulit, karena menanam yang lain hasilnya kurang,” ungkap Umar saat ditemui Abdi Tani di kediamannya di Desa Watudandang, Prambon, Nganjuk, Jawa Timur.

Ada dua alasan utama yang menjadi pertimbangannya enggan beralih dari BISI-2, yaitu: lebih tahan hama dan produksinya yang bagus. Ia mengaku juga pernah mencoba menanam varietas lainnya, namun akhirnya balik kucing menanam BISI-2 lagi. “Pernah juga nyoba yang lain, tapi tetep balik lagi ke BISI-2, karena hasilnya nggak bisa menyamai BISI-2,” ujar bapak dari enam orang anak ini.

Lahannya cukup luas, total ada delapan hektar, namun kini sudah dibagi-bagikan kepada keenam anaknya. Meski demikian, tiap kali musim tanam jagung, lahan tersebut selalu ditanami BISI-2. Hanya saja yang mengelola bukan Umar sendiri, tapi sudah diserahkan kepada masing-masing anaknya.

Imam Bukhori (33), anak ketiga Umar yang dipercaya untuk mengelola lahan seluas dua hektar, mengatakan, dirinya juga tetap menyukai BISI-2 sampai sekarang. Ia pun mulai menanam sendiri jagung hibrida BISI-2 di lahan tersebut sejak lima tahun yang lalu. “Kakak dan adik-adik saya setiap tanam jagung juga lebih memilih BISI-2. Karena tanamannya bagus, rendemennya tinggi, dan lebih disukai penebas,” ujarnya.

Imam mengatakan, pada panenan terakhir, jagung BISI-2 yang ditanamnya diborong pedagang seharga Rp. 4 juta per 125 ru atau setara dengan Rp. 22,4 juta per hektar. Sehingga untuk lahan seluas dua hektar yang dikelolanya itu omsetnya mencapai Rp. 44,8 juta untuk sekali tanam BISI-2.
Dengan omset sebesar itu, bisa dihitung juga berapa total penghasilan dari bertanam BISI-2 di lahan seluas delapan hektar yang dikelola oleh keluarga Umar, yaitu mencapai Rp. 179,2 juta per musim tanam atau sekitar empat bulan. Bisa diartikan juga bahwa penghasilan per bulan keluarga tersebut dari bertanam BISI-2 seluas delapan hektar tidak kurang dari Rp. 44,8 juta.

Nggak mau ninggal BISI-2

Menurut Umar, dalam setahun, pola tanam yang biasa diterapkan oleh para petani di daerahnya adalah padi-padi-jagung. Dari dua komoditas yang biasa ditanam itu, jagung menjadi komoditas yang dinilainya paling mudah dan menguntungkan. Karena, perawatannya lebih mudah dan tidak banyak terkendala hama penyakit layaknya padi. “Paling enak tanam jagung, pokoke angger kelire lan dedege standar hasile pun mesti akeh (pokoknya selama warna dan performa tanamannya standar hasilnya sudah pasti banyak-red),” ujar Umar.

Menurut Umar, keberhasilan tanam jagung selain ditentukan oleh kualitas benih dan perawatan yang baik juga ditunjang oleh seberapa luas lahan yang ditanami. Semakin luas lahannya, maka akan semakin besar keuntungan yang bisa diperoleh untuk menghidupi keluarga. “Biar bisa nyanthel (cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan lainnya-red), harus punya lahan minimal dua hektar. Kalau kurang dari itu masih pas-pasan,” ujar Umar.

Umar pun mengatakan, untuk urusan benih ia tidak akan ‘berpaling’ dari BISI-2, karena memang sudah terbukti kualitasnya dan telah menjadi salah satu tumpuan hidup dirinya dan keluarga besarnya. “Dibanding jagung yang lain, BISI-2 memang membutuhkan pupuk yang lebih banyak, tapi hasilnya jauh berlipat. Saya nggak mau ninggal BISI-2,” tegasnya.

Keengganan Umar dan keluarganya berpaling dari BISI-2 itu juga dilatarbelakangi oleh panjangnya perjalanan dan perjuangan hidup hingga bisa meretas sukses seperti sekarang ini. “Saya dan keluarga bisa seperti sekarang ini juga hasil dari bertani, termasuk hasil dari tanam jagung BISI-2,” ujar Umar yang masih tetap terlihat segar dan tegas dalam berbicara meskipun usianya sudah menginjak 78 tahun. Bagaimanapun, kata Umar, kesetiaannya terhadap BISI-2 selama lebih dari 13 tahun itu telah berhasil memberi warna pada kehidupannya saat ini. Ia mengaku bisa mengambil untung lebih dari usaha tani jagung bertongkol dua itu, hingga usaha tani jagung yang menjadi salah satu sumber pendapatan utama keluarganya bisa semakin berkembang.

“Tanah saya dulu hanya empat hektar, kemudian sedikit demi sedikit ditambah hingga akhirnya delapan hektar,” ungkap Umar. Dari hasil usaha tani itu pula ia bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. “Anak-anak saya alhamdulillah juga bisa sekolah sampai perguruan tinggi semuanya, dan setelah mereka menikah semuanya saya buatkan rumah sendiri-sendiri, ben gak ngrepoti besan (biar tidak merepotkan mertuanya-red),” tutur Umar yang sudah dua kali menunaikan ibadah haji itu.

Tidak sulit untuk menemui Umar beserta keluarga besarnya. Pasalnya, rumah mereka dibangun bersebelahan dan saling berdekatan satu sama lain. Kini, di antara ‘komplek’ rumah keluarga besar Umar itu tengah dibangun sebuah masjid yang pembangunannya diprakarsai Umar beserta keluarganya. “Alhamdulillah kita juga bisa membangun masjid dari hasil usaha tani dan juga infak dari masyarakat di sekitar sini,” kata Umar.

Menurut Umar, bertani memang sudah menjadi profesi yang tidak akan lepas dari keluarganya. Meskipun beberapa anaknya sudah ada yang mendapatkan pekerjaan di luar pertanian, namun mereka tidak pernah meninggalkan profesi yang telah membesarkan mereka hingga sekarang.
“Anak-anak saya tetap bertani meskipun ada yang sudah jadi guru. Saya sendiri dari dulu ya petani, mau jadi apalagi? Wong bisanya ya hanya bertani,” ungkap Umar. Meskipun kini ia sudah tidak lagi terjun langsung ke ladang, Umar masih tetap mengontrol dan mengikuti perkembangan usaha tani yang kini sudah banyak dikelola anak-anaknya. “Sekarang hanya sesekali saja ke sawah, kalau lagi pengen saja. Soalnya sudah nggak boleh sama anak-anak,” katanya sembari tersenyum.

Termasuk dengan usaha tani jagungnya. Umar mengaku masih akan tetap mempertahankan ‘tradisi’ bertanam jagung BISI-2 melalui anak-anaknya. “Sepertinya kok sulit untuk berpisah dengan BISI-2,” tegasnya lagi.

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856