Harga Jagung Pipil

Medan
Rp. 6.150 (15%) ; Rp. 5.650 (17%)

Lampung
Rp. 5.600 (15%) ; Rp. 5.350 (17%)

Balaraja
Rp. 6.000 (15%)

Cirebon
Rp. 5.800 (15%) ; Rp. 5.700 (17%)

Semarang
Rp. 5.750 (15%) ; Rp. 5.650 (17%)

Surabaya
Rp. 5.700 (15%) ; Rp. 5.600 (17%)

Makasar
Rp. 5.600 (15%) ; Rp. 5.500 (17%)

Last Update 3 December 2018
Saham BISI

1.570

Last Update 3 December 2018
Dirjen TP Lepas Ekspor Benih Jagung Hibrida BISI Ke Srilanka
16 August 2018 [ 0 views ]

Setelah pada April 2018 lalu mengekspor benih hortikultura ke sejumlah negara di Asia, PT BISI International, Tbk. (BISI) kembali melakukan ekspor benih produksinya. Kali ini giliran benih tanaman pangan, yaitu benih jagung hibrida yang diekspor.

Ekspor benih jagung hibrida tersebut dilepas langsung oleh Direktur Jenderal Tanaman Pangan (Dirjentan) Kementerian Pertanian Sumarjo Gatot Irianto di pusat produksi benih jagung BISI di Desa Tulungrejo, Pare, Kediri, Jawa Timur (16/8/2018).

“Kami mengucapkan selamat kepada jajaran BISI dan segenap pihak terkait yang telah berhasil memecahkan stigma negara pengimpor benih selama berpuluh-puluh tahun menjadi negara pengekspor benih pada hari ini,” ujar Gatot dalam sambutannya.

Menurut Gatot, pemerintah telah melarang importasi benih jagung hibrida ke Indonesia. Hal itu dilakukan sebagai sebuah langkah nyata untuk mewujudkan Indonesia yang tidak hanya berdaulat pangan tapi juga berdaulat benih.

“Dengan melarang impor sampai waktu yang tidak terbatas dan produk benih kita bisa membanjiri pasar benih di luar negeri, maka salah satu poin penting yang bisa kita raih adalah dignity, atau harga diri. Saya malu, kalau di forum internasional kita disebut sebagai negara pengimpor. Rasanya tidak ada harganya diri kita,” tegas Gatot.

Lebih lanjut Gatot menegaskan, dengan melakukan ekspor benih, maka produk benih Indonesia sudah mampu bersaing di pasar internasional. “Tapi jangan berhenti di situ saja. Ibaratnya, kita sudah jadi peserta olimpiade dengan segala atributnya, dan kita sudah bisa masuk ikut perlombaan. Tapi kita belum pernah sekalipun naik podium juara. Saya mau kita bisa menjadi peserta olimpiade yang mampu meraih medali dan memenangkan serta mengendalikan dunia,” terangnya.

Sementara itu, Presiden Direktur BISI Jemmy Eka Putra mengungkapkan, ekspor benih yang dilakukan BISI tersebut sejalan dengan amanat Presiden RI yang mengajak kita untuk mendatangkan dollar sebanyak-banyaknya melalui kegiatan ekspor ke luar negeri.

“Kita patut bangga bahwa kita telah mampu melakukan ekspor benih yang produksinya dilakukan oleh para petani kita sendiri yang sangat kita banggakan. Dan benih yang dihasilkan merupakan benih hasil breeding yang dilakukan oleh para peneliti dan pemulia kita di Indonesia. Jadi tempat dan tanggal lahirnya benih ini di Kediri,” terang Jemmy.

Lebih lanjut Jemmy mengungkapkan bahwa ekspor benih jagung hibrida ke Srilanka tersebut menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Pasalnya, selain benih produksi BISI itu bisa diterima dengan baik di Srilanka karena sesuai dengan iklim setempat, Indonesia juga menjadi salah satu dari tiga negara, selain Australia dan Thailand, yang boleh mengekspor benih jagung ke negara tersebut.

“Jadi kita sudah setara (dengan Australia dan Thailand). Walaupun kami juga diingatkan oleh Pak Dirjen, kalau hanya setara itu artinya kita hanya ikut sebagai kontingen tapi belum mendapatkan medali sama sekali. Ini menjadi tugas kami semua untuk bisa memenangkannya,” lanjutnya.

Pada tahun 2018 ini, BISI akan melakukan ekspor benih jagung hibrida ke dua negara, yaitu Srilanka dan Pakistan. “Kalau pada hari ini kita melakukan ekspor ke Srilanka, maka tahun ini kita juga melakukan ekspor ke Pakistan,” jelasnya.

 Genderang perang bagi para pemalsu benih

Sing tukang malsu benih, pokoke tak enteni. Aku ora trimo, deloken wae mengko (yang biasa memalsukan benih, tunggu saja. Saya tidak terima, lihat saja nanti-red.). Akan berhadapan dengan saya. Saya serius, tidak main-main!”

Begitulah ungkapan tegas Dirjentan Sumarjo Gatot Irianto menanggapi maraknya pemalsuan benih jagung hibrida. Bagaimanapun, menurutnya, praktik pemalsuan benih itu sangat merugikan semua pihak. Bukan hanya produsen benih, tapi pemerintah sendiri dan khususnya para petani juga sangat dirugikan.

Petani misalnya, dengan menggunakan benih palsu, tidak akan terjamin hasilnya. Baik itu dalam hal produktivitasnya maupun jaminan ganti rugi. Sehingga mereka akan merugi karena hasilnya tidak sesuai harapan.

“Sebagaimana umumnya, kalau barangnya itu bagus dan peminatnya banyak, maka akan banyak dipalsukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,” ujar Gatot.

Oleh karena itu, Gatot meminta kepada para produsen benih untuk lebih memperketat proteksi terhadap praktik pemalsuan. “Kemasannya harus dibuat khusus, ada kode batch dan barcodenya. Saya juga apresiasi BISI yang menggunakan satu distributor dalam distribusi benih, sehingga kalau ada apa-apa tinggal potong lehernya,” ungkapnya.

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856