paking bisi-18     paking bisi-222     paking bisi-12     paking bisi-816     paking bisi-16     paking bisi-2     ciherang     iklan-banner-rambo-2

Budidaya Jagung BISI-18, Peluang Usaha Petani Ladang
5 November 2014 pukul 10:24 WIB [ 33 views ]

Jagung (Zea mays) memiliki potensi pasar yang menjanjikan akhir-akhir ini, sebagai komoditi sumber pangan alternatif jagung merupakan penyedia karbohidrat tertinggi setelah padi. Daya tarik ini memancing minat para petani ladang untuk membudidayakan tanaman jagung. Tanaman Jagung membutuhkan lahan pertanian yang mendukung, diantaranya media tumbuh yang terbuka, lembab dan cukup memiliki kandungan air. Selain itu tanaman jagung dapat tumbuh dengan baik dan berkualitas terutama pada daerah yang beriklim sejuk dengan ketinggian sampai 3.000 meter diatas permukaan laut. Derajat keasaman tanah juga berpengaruh dalam pertumbuhan jagung, derajat keasaman tanah dipengaruhi oleh banyaknya kandungan unsur kimia dalam tanah serta kadar air dalam tanah tersebut. Sedangkan tanah yang kering berkapur dengan kadar air yang sedikit akan lebih bersifat basa.

Tanaman jagung sebenarnya mampu beradaptasi pada lingkungan dengan derajat keasaman antara 5,5 sampai 7, intensitas cahaya yang banyak dan cukup sangat dibutuhkan terutama untuk kebutuhan berfotosintesis dan berproduksi hingga terbentuk bunga yang nantinya akan menghasilkan buah. Suhu yang paling baik untuk pertumbuhan jagung adalah antara 21-30 derajat celcius. Sedangkan untuk proses perkecambahan jagung yang paling tepat antara suhu 21-27 derajat celcius.

Awal musim penghujan tahun ini menggugah para petani ladang didesa Ujungmanik, Kawunganten, Cilacap untuk memulai penanaman lahan pertanian. Pangsa pasar yang menjanjikan menarik perhatian mayoritas petani didesa Ujungmanik yang selama ini masih menggunakan pola tanam tradisional. Para petani ladang didesa Ujungmanik sebenarnya sudah mengenal jika untuk membudidayakan Jagung dapat dilakukan dengan Multikultur (penanaman bersamaan dengan tanaman lain) ataupun Monokultur (penanaman satu jenis secara bergantian), namun karena kurangnya pengetahuan rata-rata petani tersebut hanya menanam dengan prinsip “Asal Tumbuh” tanpa memperhatikan sisi kualitas ataupun kuantitas hasil yang nantinya akan didapatkan. Pemilihan biji dan perawatan tanaman yang tepat adalah prasyarat lain yang medukung suksesnya hasil panen.

Baru-baru ini Paguyuban Petani Ladang desa Ujungmanik dikenalkan dengan varietas terbaru bibit jagung super hibrida hasil produksi dari PT.Bisi International Tbk yang diberi nama BISI-18. Koordinator kegiatan Rusman menyampaikan jika keunggulan bibit jagung BISI-18 sudah dibuktikan didesa lain tepatnya didesa Mentasan, Kawunganten, Cilacap dengan mampu memproduksi jagung dari bibit BISI-18 rata-rata dari tiap 1 kg bibit dapat menghasilkan hingga 7 kwintal jagung siap jual dengan masa tanam selama 100-105 hari, hal ini dibenarkan oleh salah satu petani, Dislam yang sudah menyempatkan diri melihat secara langsung kelokasi tersebut.

rusman cilacap

Bibit jagung Bisi-18 yang dikemas dalam kantong berukuran tiap-tiap 1 kg dan berisi hingga ± 2.200 butir biji jagung dijual dengan harga cukup terjangkau yakni Rp. 70.000,00 tiap kantongnya (tentunya akan berbeda jika berada ditoko pertanian). Menurut Wahyu (Sales Promotor PT.Bisi), berbeda dengan varietas Bisi sebelumnya yang menghasilkan 2 tongkol dalam 1 tanaman, untuk varietas BISI-18 hanya menghasilkan 1 tongkol namun memiliki volume lebih besar jika dibandingkan dengan yang bertongkol 2. Biji jagung super hibrida BISI-18 lebih berbobot dengan warna biji yang mengkilat oranye kekuningan. Berat per 1.000 bijinya (kadar air 15%) mencapai ± 303 gram. Dalam satu tongkol, rata-rata berat bijinya mencapai 223 gram. Sementara berat tongkolnya sendiri rata-rata 242 gram. Dengan melihat perbandingan berat biji per tongkol dengan berat tongkolnya seperti itu, maka bisa dihitung bahwa jagung ini memiliki ukuran janggel yang kecil.

cilacap

Hal menarik yang didapatkan petani adalah pengetahuan berbeda dengan yang selama ini telah dilakukan, bahwa untuk hasil yang baik hendaknya tidak menggunakan bibit tanaman jagung yang tidak diambil dari bibit turunan (hasil buah yang ditanam kembali), namun tetap menggunakan bibit yang baru karena bibit yang baru tentunya sudah melalui pemilihan dan imunisasi bibit. Selain itu, bila terjadi kematian bibit hendaknya tidak perlu ditanam bibit baru (ditanjangi) lagi karena proses penyerbukan jagung adalah penyerbukan silang dengan tanaman jagung lainnya sehingga waktu berbunga dari jagung haruslah bersamaan agar penyerbukan bisa sempurna menghasilkan buah.

Diterangkan selanjutnya bahwa jarak tanaman Jagung yang baik berjarak 20 cm x 70 cm dengan hanya menanam 1 biji saja disetiap lobang tanam. Hama/penyakit tanaman masing-masing lahan itu tidaklah sama meskipun jenis tanamannya sama, sehingga petani harus pandai memilih obat pemberantas hama/penyakit yang tepat. Dimaksud hama tanaman jika penyebabnya terlihat dan efek yang ditimbulkannya juga terlihat, sedangkan penyakit tanaman jika penyebabnya tidak terlihat namun tiba-tiba terlihat jelas dampak yang ditimbulkannya. Untuk pemberantasan hama/penyakit yang efektif haruslah jelas penyebabnya sehingga dapat dengan tepat apakah akan menggunakan obat Sistemik (jenis obat yang disemprotkan pada daun) ataukan menggunakan obat Kontak (jenis obat yang langsung disemprotkan pada hama biasanya berupa hewan). Jenis-jenis hama/penyakit tanaman jagung diantaranya Ulat daun Lalat bibit, Ulat agrotis, Penggerek daun, Penggerek batang, Ulat tongkol, Penyakit Bulai Jagung dan sebagainya.

Sebelum ditanam bibit jagung diberikan imunisasi dan proteksi (pencegahan) agar bila tumbuh nanti dapat kebal terhadap penyakit terutama penyakit bulai jagung. Caranya dengan melumuri bibit jagung terlebih dahulu sebelum ditanam menggunakan fungisida. Untuk pengendalian gulma tanaman dapat dilakukan dengan menyemprotkan Herbisida yang bekerja selektif apabila menggunakan takaran yang tepat. Cara mudah menghitung takaran penyemprotan yang tepat dengan melihat ketentuan penggunaan yang biasanya terdapat pada bungkus/botol obat tersebut. Sebagai contoh jika tertulis 300 ml / 1 ha maka digunakan rumus penghitungan (Luas Lahan : 10.000) x 300 ml, atau dapat pula dengan bantuan media gelas dan ember yang disesuaikan dengan volume tangki semprot sehingga didapatkan volume semprotan yang merata diseluruh lahan.

Usaha yang dilakukan para petani ladang didesa Ujungmanik ini perlu terus ditingkatkan, terutama dalam hal perubahan pola tanam yang selama ini masih dilakukan dengan cara tradisional hingga nantinya sedikit demi sedikit berkembang menggunakan pola tanam yang lebih modern, efisien dan berkualitas. Peran pemerintah setempat dalam hal pemberian stimulant / bantuan dalam bentuk ilmu pengetahuan maupun lainnya juga sangat dibutuhkan agar target yang hendak dicapai segera dapat terwujud. Tentunya hal ini akan berujung pada upaya untuk hasil yang lebih maksimal dan makin meningkatnya ekonomi masyarakat. (pwu)

Sumber : http://ujungmanik.desa.id (30/10/2014)

Kirim komentar Facebook atau bagikan dengan
twitter share button Share Budidaya Jagung BISI-18, Peluang Usaha Petani Ladang on Google+