Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 4.200 (15%) ; Rp. 4.150 (17%)

Lampung
Rp. 4.000 (15%) ; Rp. 3.900 (17%)

Balaraja
Rp. 4.150 (15%) ; Rp. ——-  (17%)

Cirebon
Rp. 4.100 (15%) ; Rp. 3.900  (17%)

Semarang
Rp. 3.975 (15%) ; Rp. 3.850  (17%)

Surabaya
Rp. 3.900 (15%) ; Rp. 3.800  (17%)

Makasar
Rp. 4.000 (15%) ; Rp. 3.700  (17%)

Last Update 8 November 2017
Saham BISI

1.685

Last Update 23 November 2017
BISI Semakin Melambung
10 November 2016 [ 91 views ]

Pergerakan saham PT Bisi International Tbk. diperkirakan berbanding lurus dengan kinerja perusahaan yang terus menanjak. Sejauh mana harga saham emiten berkode BISI ini dapat membumbung?

Pada penutupan perdagangan kemarin, harga saham BISI turun 50 poin atau 2,51% menuju Rp1.940. Artinya, sepanjang tahun berjalan 2016, harga saham BISI sudah meningkat 43,7%.

Dalam setahun terakhir, harga saham perusahaan milik Sumet Jiaravanon, orang ketujuh terkaya di Thailand versi Forbes 2016, ini mencapai puncaknya pada 18 Oktober 2016 sebesar Rp2.010. Sementara itu, titik terendah di posisi Rp1.250 pada 3 Februari 2016.

Ranumnya pergerakan saham BISI berbanding lurus dengan kinerja perseroan. Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2016, emiten ini mengantongi penjualan Rp1,91 triliun, naik 19,67% dari kuartal III/2015 sebesar Rp995,38 miliar.

Penjualan benih jagung sebesar Rp484,99 miliar menjadi kontributor utama terhadap penjualan 40,71%, disusul oleh produk pestisida dan pupuk senilai Rp482,67 miliar atau 40,52%.

Kemudian benih sayuran dan buah mencatatkan hasil Rp192,6 miliar atau 16,16% dari total penjualan, benih padi Rp26,11 miliar atau 2,19%, serta produk lain-lain Rp4,86 miliar atau 0,4%.

Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga meningkat 24,26% menuju Rp233,23 miliar dari sebelumnya Rp187,68 miiliar. Laba per saham tumbuh ke Rp78 dibandingkan kuartal III/2015 senilai Rp63.

Menurut Christine Natasya, analis Daewoo Securities Indonesia, dalam publikasi risetnya yang dirilis pada medio Oktober, ada empat faktor yang membuat BISI menarik perhatian investor.

Faktor tersebut ialah dominasi perusahaan dalam pasar jagung nasional, kebijakan pemerintah yang menguntungkan, intervensi Bulog untuk menjaga harga dasar jagung, dan masih rendahnya konsumsi ayam domestik.

BISI menguasai 48% pangsa pasar benih jagung hibrida dalam negeri pada 2015, naik dari tahun sebelumnya sekitar 43%. Dominasi perusahaan masih kokoh meskipun pesaing internasional seperti Pioneer (Dupont), Monsanto, dan Syngenta.

bisimelambung

Peluang menaikkan penjualan juga semakin terbuka karena adanya potensi perluasan perkebunan jagung di Tanah Air.  Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), perkebunan jagung sebesar 3,7 juta hektare merupakan tanaman pertanian kedua terluas di Indonesia setelah padi sekitar 14 juta hektare.

Di sisi lain, jagung memiliki keunggulan yang cenderung tahan di wilayah dengan air minim dibandingkan tanaman lainnya seperti padi dan kedelai. Tumbuhan ini juga menjadi pilihan petani untuk menggantikan beras sebagai makanan pokok masyarakat.

“Mengingat benih jagung memiliki margin kotor yang lebih tinggi bagi perusahaan, kami percaya BISI akan memperbesar penjualan dari segmen ini,” ujar Christine.

DIUNTUNGKAN

Dia menyampaikan kinerja BISI juga bakal terdongkrak kebijakan pemerintah untuk menyediakan benih dan pupuk dengan metode penunjukan langsung.

Beleid yang diatur dalam Peraturan Presiden ini lahir setelah karena kasus korupsi benih yang menimpa PT Sang Hyang Seri (SHS).

Adanya kebijakan baru dari pemerintah itu dapat bermanfaat bagi BISI karena reputasinya yang terbilang baik. Perusahaan juga memiliki fasilitas pengolahan yang memungkinkan produksi biji jagung hibrida sebesar 40.000 ton per tahun.

Angin segar dari kebijakan pemerintah juga datang dari program ketahanan pangan yang dicanangkan Presiden Joko Widodo, yakni ihwal pengurangan impor pertanian, yang salah satunya adalah jagung. Presiden menyatakan Indonesia adalah negara agraris sehingga memiliki potensi luar biasa untuk memproduksi makanan dari hasil tani sendiri.

Daewoo percaya kuota impor benih jagung mulai dikurangi menjadi 2,2 juta ton pada 2014, dari tahun sebelumnya sebanyak 3,4 juta ton.

Produsen benih jagung dalam negeri tentunya diuntungkan dengan kondisi tersebut, apalagi pemerintah menargetkan menghentikan impor jagung pada 2017.

Kementerian Pertanian juga sudah mempeluas peran Bulog sebagai stabilisator harga pangan. Bulog diharapkan menyerap minimal 1 juta ton jagung per tahun, dari produksi nasional yang diprediksi mencapai 2,2 juta ton pada 2016.

Sekitar 80% produksi jagung nasional digunakan untuk pakan ternak. Selain itu, impor jagung yang digunakan untuk pakan ternak juga dibuat satu pintu melalui Perum tersebut.

Beberapa waktu lalu, Tjiu Thomas Effendy, Komisaris Utama Bisi International sekaligus Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Tbk., (CPIN), menyampaikan kebijakan pembatasan impor jagung melalui Bulog memberikan keuntungan bagi BISI dalam memacu pendapatan. Adanya program swasembada ini dapat membuat permintaan bibit jagung semakin meningkat.

Kinerja BISI maupun CPIN berpotensi terus bertumbuh karena masih rendahnya konsumsi ayam domestik. Berdasarkan catatan Daewoo, pada 2015 konsumsi ayam per kapita di Tanah Air hanya sebesar 6,3 kg per kapita.

Angka ini masih jauh dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia yang mencapai 54 kg per kapita. “Rendahnya konsumsi menunjukkan banyaknya ruang untuk pertumbuhan,” papar Christine.

Dalam publikasi riset lainnya, Inav Chandra, analis OCBC Sekuritas, memperkirakan laba bersih BISI pada tahun ini dapat tumbuh 47% secara tahunan menjadi Rp388 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan 2015, perusahaan mengantongi laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp263,95 miliar.

Peningkatan pendapatan terutama ditopang pertumbuhan penjualan benih jagung menjadi 47% dari 2015 sekitar 42%. Adapun faktor eksternal yang mendukung kinerja perseroan ialah menanjaknya pertumbuhan ekonomi nasional, kebijakan-kebijakan yang positif dari pemerintah, dan depresiasi dolar AS.

Sementara itu, lanjut Inav, ada tiga faktor yang dapat menekan pendapatan BISI, yaitu penguatan dolar AS, rendahnya harga di dalam negeri akibat kebijakan yang tidak menguntungkan, dan kendala cuaca terhadap proses perkebunan.

OCBC memberikan rekomendasi beli terhadap saham BISI dengan target harga Rp2.600. Sementara itu dalam konsensus Bloomberg, dua analis merekomendasikan beli dengan target harga Rp2.300, sedangkan satu analis memberikan saran hold.

Sumber : http://koran.bisnis.com (04/11/2016)

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856