Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 4.400 (15%) ; Rp. 4.150 (17%)

Lampung
Rp. 4.050 (15%) ; Rp. 3.900 (17%)

Balaraja
Rp. 4.350 (15%) ; Rp. ——-  (17%)

Cirebon
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.150  (17%)

Semarang
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.000  (17%)

Surabaya
Rp. 4.150 (15%) ; Rp. 4.050  (17%)

Makasar
Rp. 4.100 (15%) ; Rp. 3.900  (17%)

Last Update 6 September 2017
Saham BISI

1.495

Last Update 13 September 2017
BISI 18,si penipu yang disayang dan dicari petani di kaki Sulawesi
25 July 2013 [ 885 views ]

Predikat sebagai penipu akan selalu memberikan kesan yang negatif dan dijauhi semua orang. Namun, beda halnya dengan predikat “si penipu” yang melekat pada BISI 18, predikat tersebut justru menjadikan jagung super hibrida ini sebagai icon baru yang keberadaanya selalu dinantikan para petani di Sulawesi Selatan.

sulsel

Sebagai salah satu sentra komoditas jagung nasional, hampir semua wilayah di Provinsi Sulawesi Selatan merupakan kawasan pengembangan jagung. Mulai dari bagian selatan hingga belahan utara provinsi ini, keberadaan komoditas pangan utama kedua setelah padi itu selalu ada sepanjang tahun dan telah menjadi salah satu komoditas utama para petani.

01. Hamrudin, Ds Mario, Baebunta. Luwu Utara (6)“Petani di sini sekarang ini sudah banyak yang tanam jagung, dalam setahun bisa sampai tiga kali tanam. Pokoknya sepanjang tahun tidak pernah berhenti tanam jagung. Sebelumnya kebanyakan adalah petani coklat, tapi setelah tidak menguntungkan lagi banyak yang beralih tanam jagung,” ujar Hamrudin, petani sekaligus pengepul jagung di Desa Mario, Kecamatan Baebunta, Kabupaten Luwu Utara.

04. H. Demaneseh, Ds. Tandung, Malangke, Luwu UtaraHal itu juga dibenarkan Haji Demanasah, pedagang pengepul jagung dari Desa Tandung, Kecamatan Malangke, Luwu Utara, yang rutin memasok jagung ke sejumlah pabrik pakan ternak seperti Charoen Pokphand Indonesia dan Japfa. Menurutnya, jika saat panen tiba, ribuan ton jagung pipil hasil panen petani tiap harinya dikirim ke pabrik pakan.

“Saya sendiri tiap minggu ada sekitar 200 ton kirim ke Japfa atau Pokphand. Jagung dari sekitaran Malangke saja itu sudah ribuan ton per hari, dan kendaraannya (truk pengangkut-red.) kalau diparkir di jalan itu panjangnya bisa sampai empat kilometer,” terang Haji Demanasah.

15. Nasir Jappa, Kel. Lale Bata, Panca Rijang, Sidrap (9)Pun demikian dengan di wilayah Kabupaten Sidrap. Usaha tani jagung sudah menjadi mata pencaharian rutin yang sepanjang tahun tidak pernah jeda sedikitpun. “Di sini sepanjang tahun selalu tanam jagung, tidak pernah berhenti,” ucap Nasir Jappa, petani asal Desa Lale Bata, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidrap, yang sepanjang tahun rutin menanam jagung hingga puluhan hektar.

Lain halnya dengan di bagian selatan Sulawesi Selatan, seperti Kabupaten Jeneponto, tanaman jagung lebih banyak ditanam saat musim hujan. Karena, lokasi tanamnya kebanyakan berada di kawasan pegunungan tadah hujan, sehingga praktis pengairannya hanya mengandalkan air hujan.

“Dalam setahun hanya dua kali tanam, yang pertama sekitar bulan Maret-April, yang kedua sekitar Oktober-Nopember,” kata Hatta Tengang, salah seorang petani jagung di Desa Gantarang, Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto.

Kehadiran “si penipu”

Jika diamati, hampir semua petani jagung di Sulawesi Selatan menjual hasil panennya dalam bentuk pipilan kering kepada para pedagang pengepul jagung untuk kemudian dikirim ke pabrik pakan ternak sebagai bahan baku utama pembuatan pakan. Oleh karena itu, indikator hasil panen berupa rendemen menjadi pertimbangan utama para petani, disamping karakteristik dan kualitas biji jagung yang juga harus bagus.

“Orang tanam jagung di sini yang penting hasil panennya (pipilan) tinggi dan kualitas biji jagungnya bagus, tidak banyak biji mati,” ungkap Hamrudin.

Dengan dipenuhinya syarat ideal tersebut, lanjut Hamrudin, maka benih jagung yang ditawarkan kepada para petani pasti akan mendapatkan respon positif, dan petani sendiri tidak akan berpikir panjang lagi untuk menanamnya. Hal itu seperti yang terjadi pada benih jagung super hibrida BISI 18.

jagung enre“Begitu petani tahu, termasuk saya, kalau tanaman BISI 18 itu ternyata hasilnya luar biasa, langsung tidak ragu lagi untuk mencoba dan menanam lagi di musim-musim berikutnya. Saya sendiri pertama kali mencoba sebanyak 63 kilogram benih, dan hasilnya memang luar biasa. Dan sekarang ini, BISI 18 menjadi buruan para petani di sini,” papar Hamrudin kepada Abdi Tani.

Menurut Hamrudin, keunggulan utama benih jagung produksi PT. BISI International, Tbk. itu terletak pada hasil panennya yang lebih tinggi dibanding jagung sejenis lainnya, dan yang lebih penting lagi adalah kualitas biji panennya juga lebih bagus.

“Jagung ini lebih berat timbangannya, makanya hasilnya juga lebih banyak. Rendemennya juga tinggi, lebih dari 90 persen,” ujar Hamrudin.

Terkait hasil panen yang lebih tinggi tersebut, banyak petani jagung di Luwu Utara menyebut BISI 18 sebagai “jagung penipu”. Pasalnya, apa yang dilihat dan diprediksi sewaktu masih dalam bentuk gelondongan dengan sesudah dipipil ternyata hasilnya jauh berbeda dan di luar dugaan.

06. Mustafa, Ds. Tandung, Malangke, Luwu Utara“Sewaktu masih dalam bentuk tongkol dan belum dipipil kelihatannya tidak seberapa, tapi ternyata setelah dipipil dan ditimbang, hasilnya lebih berat, dan di luar perkiraan kita. Makanya disebut jagung penipu, dan tidak heran kalau produktivitasnya juga tinggi, rata-rata di sini bisa dapat 10 ton per hektar pipil kering panen,” ujar Mustafa, petani jagung di Desa Tandung, Kecamatan Malangke, Luwu Utara.

Selain itu, lanjut Mustafa, saat dimasukkan karung, bobotnya juga lebih banyak dibanding jagung lainnya. Selisihnya sekitar 5 hingga 10 kilogram tiap karungnya.

23. Hatta T., Ds. Gantarang, Kelara, JenepontoHal serupa juga disampaikan Hatta. Menurutnya, bobot jagung pipilan BISI 18 tidak ada tandingannya. Dari satu karung yang pernah dia timbang, rata-rata bobotnya mencapai 150 kilogram. “Yang lain rata-rata hanya 120 kilogram per karung, ini yang membuat petani tertarik. Benar-benar jagung penipu,” ucap Hatta sambil tertawa.

Menurut Nasir Jappa, salah satu penyebab tingginya hasil panen BISI 18 itu adalah ukuran tongkolnya yang sangat seragam, selain itu ukuran janggelnya juga lebih kecil, sehingga rendemennya bisa lebih tinggi. Selain itu, kadar air biji jagungnya juga lebih rendah, sehingga proses pengeringannya lebih cepat dan bobotnya tidak banyak mengalami penyusutan.

“Pernah saat setelah panen BISI 18, paginya dipipil, siangnya dilihat pedagang, dan sorenya langsung diambil pedagang tanpa dijemur dulu. Mereka (pedagang-red.) berani langsung ambil karena bijinya sudah terlihat lebih kering dan keras, berbeda dengan jagung lainnya,” ungkap Nasir.

18. Muslihadi, Ds. Lilliangtang, Amali, Bone (7)Hal itu juga dibenarkan oleh Muslihadi, petani jagung BISI 18 dari Desa Liliangtang, Kecamatan Amali, Kabupaten Bone. Lantaran kadar air yang rendah itu pula, hasil panen BISI 18 lebih mudah masuk pabrikan pakan ternak. “Hasil panenan saya kemarin juga langsung dibawa ke pabrik tanpa dijemur dulu, karena sudah cukup kering setelah dipanen,” ujarnya.

Menurut Haji Demanasah yang rutin menyuplai jagung ke pabrik pakan ternak di Makassar, kualitas jagung BISI 18 memang lebih baik dibanding jagung lain yang biasa ia kirim. Selain kadar airnya yang lebih rendah, kualitas biji jagungnya juga lebih bagus dibanding yang lain, sehingga lebih disukai pabrik pakan ternak.

“Bijinya lebih kering, keras, dan warnanya juga lebih merah mengkilat. Tidak ada biji matinya. Kalau jenis lain biji matinya bisa sampai 30%. Karena lebih kering, maka bijinya tidak mudah terserang jamur, dan lebih mudah diterima pabrik,” terang Haji Demanasah yang juga tengah menanam BISI 18 seluas lima hektar.

Lebih tahan genangan

Selain memiliki produktivitas yang lebih tinggi, jagung super hibrida BISI 18 di ranah Sulawesi Selatan juga diakui lebih tahan dalam kondisi lahan yang tergenang. Hal itu dibuktikan sendiri oleh para petani di Luwu Utara yang lahannya terletak di daerah yang rawan banjir.

“BISI 18 ini ternyata juga cocok di daerah yang curah hujannya tinggi dan rawan banjir seperti di sini (Malangke, Luwu Utara-red.). Bahkan, saat tergenang hingga empat hari pun tidak ada masalah, tanamannya tetap normal. Padahal jenis lainnya tergenang sehari saja sudah langsung rusak,” ungkap Mustafa.

13. M. Iqbal, Ds. Arusu, Malangke Barat, Luwu Utara (5)Hal yang sama juga disampaikan Muhammad Iqbal, petani jagung BISI 18 di Desa Arusu, Kecamatan Malangke Barat, Luwu Utara. Menurut ceritanya, jagung BISI 18 yang ditanamnya pernah tergenang banjir hingga lima hari, namun tanamannya yang baru berumur sekitar 40 hari masih mampu tumbuh normal dan selamat hingga panen.

“Tanamannya masih bisa bertahan sampai panen. Padahal, jagung lain yang ditanam bersebelahan sudah tidak kuat dan nyaris gagal panen,” tutur Iqbal.

Lebih hemat benih

Terdapat satu aspek lain yang juga disukai petani jagung di Sulawesi Selatan dari BISI 18, yaitu ukuran benihnya yang lebih kecil dari benih jagung lainnya. Hal itu menjadikannya lebih hemat dalam penggunaan benih. Pasalnya, dengan ukuran benih yang lebih kecil, maka dalam satu kemasan benih yang sama, jumlah benihnya menjadi lebih banyak.s

21. Supriyadi, Ds. Tuara, Enrekang, Enrekang (9)“Biasanya setiap kali saya tanam jagung habis 8,5 kilogram benih, tapi setelah menanam BISI 18, benihnya cukup 7 kilogram saja. Jadi benih yang saya beli masih sisa 1,5 kilogram. Perlakuan tanamnya juga sama saja, satu lubang dua biji,” ujar Supriyadi, petani jagung di kawasan perbukitan di Desa Tuara, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang.

Meskipun benihnya lebih kecil, tapi hasil yang diperoleh Supriyadi lebih tinggi dari jagung yang biasanya ia tanam. Menurutnya, dari tujuh kilogram BISI 18 tersebut ia bisa mendapat 3,3 ton jagung pipil kering. Padahal, saat ia menanam jagung yang lain sebanyak 8,5 kilogram benih, hasilnya maksimal hanya 2,2 ton pipil kering.

BISI-18-120“Dengan BISI 18 ini bibitnya lebih hemat, hasilnya meningkat, dan keuntungan petani juga menjadi berlipat,” ujar Supriyadi sembari tersenyum.

Nasir Jappa pun membenarkan hal itu. Dalam satu kemasan benih ukuran satu kilogram, jumlah benih BISI 18 memang lebih banyak. “Karena ukurannya lebih kecil, jadinya lebih banyak. Ini jelas sangat menguntungkan petani, karena bisa lebih menghemat penggunaan benih setiap kali tanam,” ujarnya.

Tak ayal, kehadiran “si penipu” BISI 18 di kaki pulau Sulawesi ini pun akan selalu dicari, disayang, dan dirindu sepanjang waktu.

http://jagungbisi.com/bisi-18/

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856