Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 4.400 (15%) ; Rp. 4.150 (17%)

Lampung
Rp. 4.050 (15%) ; Rp. 3.900 (17%)

Balaraja
Rp. 4.350 (15%) ; Rp. ——-  (17%)

Cirebon
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.150  (17%)

Semarang
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.000  (17%)

Surabaya
Rp. 4.150 (15%) ; Rp. 4.050  (17%)

Makasar
Rp. 4.100 (15%) ; Rp. 3.900  (17%)

Last Update 6 September 2017
Saham BISI

1.495

Last Update 13 September 2017
BISI-18 yang Kuat di Bawah dan Tangguh di Atas
24 April 2014 [ 164 views ]

Masalah bulai dan busuk tongkol adalah dua hal klasik yang akrab menghampiri pertanaman jagung. Hanya dengan menggunakan varietas yang memiliki gen tahan lah, dua masalah klasik itu bisa lebih efektif diatasi. Seperti varietas jagung super hibrida BISI 18 yang terbukti tangguh menghadapi gempuran dua masalah utama tersebut.

Bulai dan busuk tongkol bisa jadi adalah dua hal yang akan selalu menjadi masalah bagi para petani jagung. Namun keduanya bukanlah dua hal yang akan menyerang dan menghabiskan pertanaman jagung dalam satu waktu sekaligus. Keduanya memiliki ritme dan karakteristik tersendiri dalam menyerang salah satu komoditas pangan penting itu.

BISI-18 kuatatasbawah
Bulai yang dipicu oleh munculnya jamur Pheronosclerospora maydis biasanya banyak menyerang pertanaman jagung yang ada di dataran rendah yang memiliki derajat suhu dan kelembaban yang tinggi. Penyakit ini telah terkenal sebagai penghancur tanaman jagung dengan tingkat kerusakan hingga 80%, bahkan bisa sampai gagal panen.

Periode pergantian musim, baik itu dari musim hujan ke musim kemarau ataupun sebaliknya, merupakan saat-saat yang disukai jamur P. maydis untuk berkembang biak. Meski begitu, bukan berarti di luar periode tersebut bisa terbebas sama sekali dari serangan penyakit ini. Bisa jadi di luar periode tersebut tetap ada tanaman jagung yang terserang meskipun intensitasnya sangat kecil. Namun, jika intensitas serangan yang boleh dibilang tidak merugikan itu tidak diantisipasi, maka bisa menjadi momentum serangan yang lebih besar. Pasalnya, tanaman yang terserang, meskipun jumlahnya sangat sedikit, akan menjadi sumber infeksi bagi tanaman yang ditanam periode berikutnya.

Sementara untuk busuk tongkol, penyakit ini juga sama-sama dipicu oleh ulah jamur. Ada beberapa macam jamur yang menjadi biang keroknya, tiga di antaranya adalah: Fusarium moniliforme, Giberella zeae, dan Diplodia maydis. Ketiga spesies jamur tersebut semuanya memberikan dampak buruk pada perkembangan tongkol, penurunan kualitas hasil panen, hingga kegagalan panen.

Untuk berkembang biak, jamur penyebab busuk tongkol itu sendiri umumnya menyukai lingkungan yang sejuk dan lembab. Kondisi lingkungan seperti itu umumnya kerap dijumpai di kawasan dataran tinggi.

Oleh karena itu, untuk mengatasi dua masalah utama tanaman jagung itu memang dibutuhkan langkah-langkah spesifik sesuai karakter penyakitnya masing-masing. Hanya saja, masalah bulai dan busuk tongkol tersebut bisa diatasi dengan satu cara yang lebih efektif, yaitu dengan menggunakan varietas yang memiliki ketahanan genetis yang bagus terhadap dua penyakit itu.

Terlebih varietas jagung tersebut memiliki dua gen ketahanan sekaligus, yaitu mampu menghadapi gempuran penyakit bulai di kawasan dataran rendah sekaligus tangguh mengatasi busuk tongkol yang banyak menyerang di kawasan dataran tinggi.

Varietas super hibrida BISI 18

Saat ini memang sudah begitu banyak varietas jagung hibrida yang dikenalkan kepada para petani dengan berbagai kelebihannya. Entah sudah berapa varietas yang telah dilepas ke pasaran, dan tentunya hanya akan ada beberapa varietas saja yang mam-pu bertahan dan menjadi pilihan favorit petani.

Seperti halnya petani jagung di Sumatera Utara, mulai dari kawasan dataran rendah hingga kawasan pegunungan memiliki kriteria sendiri terhadap varietas jagung yang hendak mereka tanam.

“Untuk petani di daerah bawah (dataran rendah-red.) seperti di Kabupaten Langkat dan Deli Serdang, selain menghendaki varietas yang memiliki hasil yang tinggi, mereka juga menginginkan varietas yang tahan bulai. Sedangkan petani di atas (dataran tinggi-red.) seperti di Tanah Karo, lebih menghendaki varietas jagung yang tahan busuk tongkol,” terang Senior Manager Corns Seed Market Development PT BISI International, Tbk., Doddy Wiratmoko.

Menurut Doddy, dua kriteria dari dua topografi berbeda tersebut kini sudah bisa dipenuhi sekaligus oleh satu varietas jagung hibrida, yaitu BISI 18. Kualitas dan kuantitas hasil varietas jagung terbaru dari PT BISI ini telah terbukti dan diakui banyak petani di Sumatera Utara “bagian bawah” dan bagian atas”.

Sionita Br. Ginting misalnya. Wanita tani sekaligus pengepul jagung dari Desa Sigara Gara, Kecamatan Patumbang, Kabupaten Deli Serdang ini mengaku sangat puas dengan hasil jagung BISI 18. Ia sendiri sudah dua kali berturut-turut menanamnya dengan hasil yang menurutnya sangat memuaskan.

Sionita Br Ginting-Kampong Karo-Ds Sigara Gara-Kec Patumbang-Kab Deli Serdang-Sumut“Hasilnya luar biasa. Jagungnya lebih berat dibanding yang lain. Biasanya saya nimbang dari satu karug itu 70 kilogram (gelondongan), tapi BISI 18 bisa dapat lebih dari 80 kilogram. Jadi selisihnya bisa 10 kilogram per karung,” ujar Sionita.

Yang lebih penting baginya adalah ketahanan BISI 18 terhadap serangan penyakit bulai. Menurutnya, lantaran lebih aman dari bulai, jagung hibrida tersebut kini lebih dipilih petani di daerahnya.

“Sekarang ini lebih banyak petani yang lebih memilih tanam BISI 18. Karena, sekarang ini musimnya jagung lain banyak yang terkena bulai, jadi banyak petani yang beralih ke BISI 18,” sambung Sionita.

Hal yang sama juga disampaikan Sudarwin, petani jagung di Desa Kuala Mencirim, Kecamatan Sei Binggei, Kabupaten Langkat. Menurutnya, selain lebih aman dari serangan penyakit bulai, jagung super hibrida BISI 18 yang ditanamnya juga memiliki postur tanaman yang sangat seragam dan lebih kokoh, sehingga tidak mudah roboh terkena angin.

Sudarwin-Ds Pasar 6-Kuala Mencirim-Kec Sei binggei-Langkat-Sumut“Bulainya nggak ada sama sekali. Batangnya rata tingginya, tongkolnya juga rata besarnya. Menurut saya, kalau kutengok, BISI 18 ini juga lebih tahan angin, soalnya yang lain kalau sedang bunga dan ada musim angin seperti sekarang ini tanamannya mudah putus (roboh-red.),” terang Sudarwin.

Sementara itu, Model Bangun, petani jagung di Desa Narigunung 2, Tigandreket, Tanah Karo, mengungkapkan, jagung BISI 18 di kawasan pegunungan yang ia tanam terbukti lebih aman dan tahan dari serangan busuk tongkol yang selalu menjadi masalah bagi petani di daerahnya.
“Dari awal tumbuh tanamannya bagus dan seragam. Hasilnya masih lebih baik dari jagung yang pernah saya tanam. Karena, BISI 18 ini lebih aman dari busuk tongkol dan busuk batang,” terang Bangun.

Bangun juga mengatakan, bahwa masalah busuk tongkol tidak bisa begitu saja disepelekan. Pasalnya, hal itu sangat mempengaruhi hasil dan kualitas panen. “Kalau sudah terkena busuk, sudah pasti tidak akan bisa dipanen dan juga tidak akan laku dijual,” terangnya.

Didimus Barus-Kampong Karo-Ds Sigara Gara-Kec Patumbak-Kab DeliSerdang-SumutHal itu juga dibenarkan Didimus Barus, pedagang pengepul jagung di Desa Sigara Gara, Kecamatan Patumbak, Deli Serdang. Menurutnya, tanaman jagung yang terserang busuk secara kualitas sudah tidak layak untuk dijual.

“Sebagai agen, saya juga tidak mau menerima jagung yang terkena busuk tongkol. Karena pasti tidak laku di pasaran. Pabrik pun juga pasti akan menolak,” terang Didimus.

Lantaran itu pula, Didimus Barus akhirnya juga lebih memilih untuk menanam sendiri BISI 18 di lahannya. Dan memang terbukti, tanamannya itu aman dari bulai sekaligus busuk batang dan busuk tongkol hingga masa panennya tiba.

“Dengan menanam BISI 18 jelas lebih menguntungkan. Karena, tidak ada yang busuk, aman dari bulai, dan hasil panennya juga lebih banyak, dari satu kilogram benih bisa dapat 600 kilogram pipil kering,” ujar Didimus.

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856