Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 4.200 (15%) ; Rp. 4.150 (17%)

Lampung
Rp. 4.000 (15%) ; Rp. 3.900 (17%)

Balaraja
Rp. 4.150 (15%) ; Rp. ——-  (17%)

Cirebon
Rp. 4.100 (15%) ; Rp. 3.900  (17%)

Semarang
Rp. 3.975 (15%) ; Rp. 3.850  (17%)

Surabaya
Rp. 3.900 (15%) ; Rp. 3.800  (17%)

Makasar
Rp. 4.000 (15%) ; Rp. 3.700  (17%)

Last Update 8 November 2017
Saham BISI

1.685

Last Update 23 November 2017
Di Sulawesi Selatan BISI 18 dipilih lantaran lebih tahan simpan
24 July 2013 [ 182 views ]

Lain ladang, lain belalang. Lain lubuk, lain pula ikannya. Peribahasa singkat itu nampaknya juga berlaku bagi BISI 18 di Sulawesi Selatan bagian selatan, tepatnya di kawasan pegunungan Gowa, Jeneponto dan Bantaeng. Di tiga wilayah itu, jagung super hibrida ini diminati lantaran lebih tahan selama penyimpanan di lahan sembari menunggu kondisi yang ideal untuk diangkut turun dari lahan.

Kabupaten Gowa, Jeneponto dan Bantaeng merupakan tiga kabupaten yang menjadi lumbung jagung di belahan selatan Provinsi Sulawesi Selatan. Nyaris di tiap jengkal tanahnya, terutama di kawasan pegunungannya, seperti tidak pernah sepi dari barisan tanaman jagung.

Bahkan, jika tengah melintas di sepanjang jalan poros yang melewati tiga kabupaten ini saat musim jagung, terasa seperti disambut lambaian daun jagung yang berjajar rapi di sebelah kanan dan kiri bahu jalan. Sejauh mata memandang pun seperti tidak pernah luput dari hamparan permata kuning ini.

jeneponto

Saat musim hujan tiba, kawasan pegunungan, baik di Gowa, Jeneponto maupun Bantaeng, menjadi kawasan yang paling banyak dan paling luas ditanami jagung. Pasalnya, hanya saat hujanlah bentangan lahan yang luas itu tersedia cukup air dan memungkinkan untuk ditanami jagung.

25. Mulyadi, Ds. Mangngepong, Turatea, Jeneponto (2)“Penanamannya hanya dua kali dalam setahun. Pertama, di awal musim hujan, sekitar bulan sepuluh, dan kedua menjelang akhir (musim) hujan, pada bulan-bulan tiga atau empat,” ujar Mulyadi, petani jagung asal Desa Mangngepong, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto.

Meskipun penanaman jagung di kawasan pegunungan di tiga kabupaten tersebut terbilang cukup luas, namun saat panen tiba, hasil panen yang baru dipetik oleh para petani tidak bisa langsung dibawa turun. Pasalnya, selama musim hujan belum berakhir, akses jalan masuk ke lahan tidak bisa dilalui kendaraan roda empat atau lebih. Oleh karena itu, hasil panennya pun dengan terpaksa harus disimpan dahulu di lahan sampai kondisi memungkinkan untuk dilewati kendaraan pengangkut.

24. Sarroh, Ds. Pencong, Birung Bulu, Gowa“Memang begitulah kondisinya, hasil panen disimpan dulu di lahan dalam bentuk gelondongan. Di sana (lahan-red.) dibuatkan tempat sederhana untuk menampung hasil panen,” ujar Sarroh, petani asal Desa Pencong, Kecamatan Birung Bulu, Kabupaten Gowa.

Lantas, sampai berapa lama jagung panenan tersebut disimpan? Menurut Sarroh, lamanya penyimpanan tersebut tergantung kondisi cuaca. Apabila hujannya sudah reda dan jalannya bisa dilalui kendaraan, maka akan langsung dibawa turun. Namun apabila belum memungkinkan, maka hasil panen tersebut akan lebih lama tertahan di lahan.

“Lamanya bisa sampai tiga atau empat bulan, tergantung kondisi,” ungkap Sarroh.

 

Semakin tahan simpan, semakin baik

Lantaran hasil panen jagung harus tertahan lama di lahan, maka baik petani maupun pedagang sama-sama menghendaki varietas yang mampu bertahan selama dalam penyimpanan di lahan. Hal itu untuk menjamin kualitas jagung saat dipipil dan dikirim ke pabrik pakan ternak.

“Kalau lebih tahan simpan kan petani tenang, pedagang yang membawa hasil panen pun juga tenang. Karena kualitas jagungnya tetap bagus, sehingga mudah masuk ke pabrik,” ujar Hatta Tangeng, petani sekaligus pengepul jagung dari Desa Gantarang, Kecamatan Kelara, Jeneponto.

23. Hatta T., Ds. Gantarang, Kelara, JenepontoHanya saja, kata Hatta, tidak semua varietas jagung yang ada memiliki daya simpan yang lama dan kuat dengan sistem penyimpanan ala petani Gowa, Jeneponto, dan Bantaeng. Menurutnya, ada jagung yang secara produktivitas cukup tinggi, tapi daya simpannya kurang bagus dan kualitasnya langsung drop selama penyimpanan di lahan.

Harapan para petani dan pedagang tersebut sepertinya terjawab dengan adanya BISI 18. Hatta sendiri juga telah membuktikan keunggulan daya simpan dan produktivitas jagung super hibrida produksi PT. BISI International, Tbk. itu. Ia mengaku sudah kedua kalinya menanam benih jagung tersebut.

“Memang bagus, setelah dipanen dari lahan dan langsung disimpan dalam bentuk gelondongan tidak ada masalah sama sekali, jagungnya tetap bagus. Sebulan kemudian saya lihat juga masih tetap bagus, tidak ada biji yang menghitam dan berjamur,” terang Hatta.

Hal itu juga dibenarkan Mulyadi. Meski jagung BISI 18 miliknya disimpan hingga tiga bulan, biji jagungnya tidak ada yang rusak dan berjamur. “Kalau jagung yang lain maksimal disimpan satu bulan saja bijinya sudah banyak yang putih dan busuk. Tapi BISI 18 ini tidak ada masalah sampai tiga bulan disimpan,” ujar Mulyadi yang menanam BISI 18 hingga puluhan hektar di kawasan pegunungan di Jeneponto..

27. H. Suwardi, Ds. Tombolo, Gantarangkeke, Bantaeng (6)Pun demikian dengan Suwardi, petani jagung dari Desa Tombolo, Kecamatan Gantarangkeke, Bantaeng yang juga telah menanam dan membuktikan sendiri kekuatan simpan jagung super hibrida BISI 18. “Daya simpannya memang lebih bagus, karena jagungnya lebih kering. Kalau jagung yang lain itu lebih mudah tumbuh selama di penyimpanan,” paparnya.

Yang menarik, meskipun disimpan cukup lama dalam bentuk gelondongan, sewaktu dipipil dengan mesin pemipil jagung, kualitas biji jagungnya tetap bagus dan bobotnya tidak banyak mengalami penyusutan.

“Setelah didros (dipipil dengan mesin pemipil-red.), bijinya itu tampak cantik dan mengkilat, pokoknya menarik lah. Karena itulah biji jagung BISI 18 lebih diminati pedagang dan lebih mudah masuk pabrik pakan ternak,” ungkap Hatta.

Sarroh juga membenarkan hal itu. Selain lebih tahan simpan, biji jagung BISI 18 juga lebih bobot dan keras. Sehingga saat diselep tidak berhamburan seperti jagung yang lain. “Jagung yang lain itu lebih ringan, jadi saat diselep itu berterbangan seperti debu. Kalau BISI 18 itu tidak, karena lebih keras, kering, dan bobot,” terangnya.

Lantaran itulah, kata Hatta, sekarang ini banyak petani yang tanam BISI 18. Bahkan, ia menyebut kehadiran BISI 18 tersebut sebagai angin segar yang menyejukkan bisnis permata kuning para petani setempat.

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856