BISI18       BISI222      BISI12      BISI816      BISI16       BISI2     iklan-banner-rambo-2

Pabrik Pakan Ternak Kurang Jagung
23 April 2012 pukul 23:53 WIB [ 44 views ]

Sumber : www.tribunnews.com (23/04/2012)

JAKARTA – Kurangnya pasokan jagung lokal dikeluhkan pengusaha pakan ternak. Mereka pun meminta pemerintah segera membuka keran impor jagung untuk mencukupi kekurangan jagung yang diperkirakan mencapai 100.000 ton per bulan.

Permintaan itu dikemukakan oleh Desianto Budi Utomo, Sekjen Gabungan Pengusaha Makan Ternak (GPMT). Menurutnya, jagung adalah bahan baku utama pakan ternak terutama unggas. “Pasokan kurang karena panen raya jagung lokal sudah berlangsung pada Februari-April,” katanya, akhir pekan lalu.

Desianto mengatakan, panen jagung Februari-April merupakan panen terbesar mencapai 50 persen total produksi nasional. Sementara panen Juli-Agustus hanya sekitar 20 persen-30 persen. Padahal Mei tidak ada panen raya jagung, sehingga pasokan akan semakin berkurang.

Dia menghitung, setidaknya industri pakan nasional membutuhkan jagung sebanyak 600.000 ton per bulan. Namun berdasarkan survei Kementerian Pertanian (Kemtan), stok jagung lokal hingga April ini hanya mencapai 500.000 ton.

Walau kena bea masuk 5 persen, data GPMT menunjukkan, impor jagung selalu meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2009, impor jagung sebesar 350.000 ton, pada 2010 naik menjadi 1,5 juta dan 3,5 juta pada 2011.

Impor dilakukan untuk mencukupi kebutuhan jagung nasional yang tahun lalu mencapai 5 juta ton. Dari jumlah itu, sebanyak 30 persen atau 1,5 juta ton diserap di industri pakan. Tahun ini, kebutuhan jagung diperkirakan akan meningkat menjadi 6 juta ton.

Harga naik

Dengan pasokan yang minim, harga jagung pun meningkat. Jika pada Februari lalu harga rata-rata jagung Rp 2.100 per kilogram (kg), saat ini naik 43 persen menjadi Rp 3.000 per kg. Lonjakan harga ini membuat biaya produksi yang harus ditanggung pengusaha semakin tinggi.

Kenaikan biaya secara otomatis akan membuat harga pakan terdorong. Kenaikan harga akan membuat efek domino yaitu kenaikan biaya produksi ternak unggas sehingga akan menaikkan harga daging ayam dan telur. Tidak hanya itu saja, kurangnya pasokan bahan baku akan membuat kinerja perusahaan pakan ternak tidak maksimal.

Untuk mengatasi persoalan bahan baku, menurut Desianto, perusahaan pakan ternak bisa menggantikan jagung dengan gandum. “Tetapi harganya lebih mahal,” katanya. Selain itu, dalam proses pembuatan pakan, gandum juga membutuhkan tambahan enzim tertentu untuk membantu pencernaan unggas, sehingga harganya melambung.

Oleh karena itu, jika menggunakan gandum sebagai bahan baku, harga pakan akan terdongkrak lebih tinggi dari 40 persen. Sekadar catatan, saat ini harga pakan unggas pedaging rata-rata Rp 5.000-Rp 5.500 per kg, sedangkan ayam petelur sekitar Rp 4.000 per kg.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Suswono mengatakan kalau pihaknya akan memastikan dahulu produksi jagung dalam negeri sebelum mengeluarkan izin impor. Untuk itu Kemtan akan meminta data dinas pertanian di sentra-sentra produksi jagung.

Deddy Saleh, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemdag) mengatakan, hingga saat ini belum ada perusahaan atau pihak yang mengajukan ijin untuk melakukan importasi jagung. Untuk menjaga stabilitas pasokan jagung, dia menambahkan, pemerintah akan mengatur tata niaga importasi jagung.

Selain itu Kemdag juga akan mengatur impor kedelai. “Peraturan sedang disusun dan akan dikeluarkan secepatnya,” kata Deddy. Tata niaga jagung perlu dilakukan untuk menghindari kelebihan suplai saat petani lokal memasuki musim panen dan mencegah masuknya penyakit.

Kirim komentar Facebook atau bagikan dengan
twitter share button Share Pabrik Pakan Ternak Kurang Jagung on Google+