BISI18       BISI222      BISI12      BISI816      BISI16       BISI2       iklan banner

Dongkrak Produktivitas Jagung Di Nganjuk Dengan BISI-816
8 October 2011 pukul 15:32 WIB [ 82 views ]

Sumber : Majalah Abdi Tani

Bupati Nganjuk H. Taufiqurrahman pada 6 Oktober 2011 lalu menyempatkan diri untuk melakukan panen raya jagung super hibrida BISI 816 di Desa Sonobekel, Tanjunganom, Nganjuk, Jawa Timur. Di lahan milik gabungan kelompok tani (Gapoktan) Harapan Timur itu, BISI 816 mampu menghasilkan 10,1 ton per hektar pipil kering.

Dalam kesempatan itu, Bupati didampingi oleh Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Nganjuk Subiyantoro, Plt. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk Istanto Winoto, dan Market Development Corn Seed PT. Tanindo Intertraco Jawa Timur Endang Syahroni, serta Camat Tanjunganom Sudipo, memetik langsung jagung BISI 816 yang ditanam di areal SLPTT (Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu) Sonobekel.

“Bagus ya jagungnya, bisa seragam besarnya,” ujar Bupati saat berjalan menuju lokasi panen.

Dari hasil ubinan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, di dua titik sampel diperoleh hasil 11,14 kg gelondongan basah atau setara dengan 10,11 ton per hektar pipil kering panen. Menurut Endang Syachroni, hasil ubinan itu sudah sesuai dengan rata-rata hasil riil yang biasa dihasilkan jagung super hibrida BISI 816.

“Rata-rata hasil yang bisa dihasilkan BISI 816 memang segitu, sekitar 10 ton pipil kering per hektar,” kata Endang.

Rasa puas disampaikan oleh Suwarno, Ketua Gapoktan Tanjunganom Harapan Makmur. Menurutnya hal itu bisa mengobati rasa kecewa setelah pada musim lalu sempat mengalami gagal panen akibat cuaca yang tidak mendukung. “Hasil ini sangat memuaskan, karena sebelumnya sempat terkena musibah puso,” ujarnya.

Istanto Winoto kepada Abdi Tani mengatakan, hasil panen itu bisa memberikan harapan bagus bagi para petani dan juga sektor pertanian di Nganjuk. Pasalnya, produktivitas jagung BISI 816 itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata produktivitas jagung di kabupaten yang menjadi salah satu lumbung pangan Jawa Timur ini.

“Rata-rata produktivitas jagung di Nganjuk baru mencapai 6,2 ton per hektar, sehingga ini bisa mendongkrak produksi jagung di Nganjuk dan juga pendapatan petani sendiri,” terang Istanto.

Menurut Istanto, penggunaan varietas hibrida masih menjadi alat utama untuk mendongkrak produksi dan produktivitas jagung di daerahnya. Hingga saat ini, katanya, sudah lebih dari 90 persen petani jagung di Nganjuk menggunakan varietas hibrida, salah satunya BISI 816.

Istanto menambahkan, peningkatan produktivitas jagung di Nganjuk berkisar antara lima hingga sepuluh persen per tahun. “Harapan saya, dengan penggunaan varietas hibrida BISI 816 ini, suatu saat nanti produktivitas jagung di Nganjuk bisa mencapai 13,5 ton per hektar, seperti potensi produksi yang dimiliki jagung ini,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati juga menyambut baik hasil panen jagung itu. Dengan hasil sebesar itu, kata Bupati, maka produksi jagung di Nganjuk bisa meningkat dengan signifikan. Saat ini, dengan luas areal tanam jagung mencapai 28.000 ha dan produktivitas rata-rata 6,2 t/ha, maka produksi jagung di Nganjuk sebesar 173.600 ton.

“Coba kalau produktivitasnya 10 ton per hektar seperti jagung (BISI 816) ini, maka produksi jagung di Nganjuk sudah berapa? Bisa hampir dua kali lipatnya,” kata Bupati kepada Abdi Tani.

Dalam acara yang dimulai sekitar pukul 08.35 WIB dan berlangsung lebih dari satu jam itu, selain melakukan panen bersama, Bupati juga mengadakan temu wicara bersama para petani, kelompok tani, dan Gapoktan yang ada di Tanjunganom, terutama Desa Sonobekel.

Temu wicara tersebut dimanfaatkan para petani untuk mengutarakan beragam permasalahan dan permintaan kepada pemerintah daerah, mulai dari permintaan bantuan mesin pompa air dan alat pengolah pupuk organik (APO), hingga masalah tataniaga pupuk dan harga jual jagung yang akhir-akhir ini terus menurun.

Menyikapi hal itu, Bupati menyatakan kesanggupannya untuk memenuhi permintaan seperti yang disampaikan itu. “Permintaan bantuan itu akan kami penuhi, insyaAllah tahun ini bisa terealisasi atau paling lambat tahun 2012 pasti sudah turun,” kata Bupati.

Sementara terkait dengan permasalahan harga jual jagung yang terus menurun, Bupati menyebut bahwa hal itu sudah menjadi mekanisme pasar, karena jagung bukan lagi komoditas lokal ataupun regional, tapi sudah menjadi komoditas global yang harganya juga sangat tergantung dengan perkembangan pasar di dunia.

“Memang, biasanya saat panen jagung bagus, harganya justru turun, saya juga tidak bisa mengatur itu. Kita berharap semua pihak terkait dan para stakeholder bisa memperhatikan hal ini,” ujar Bupati.

Bupati juga menawarkan solusi kepada para petani untuk mengikuti pola kemitraan jagung yang diadakan oleh pabrik-pabrik produsen pakan ternak. Dengan pola kemitraan itu, kata Bupati, petani bisa mendapat kepastian harga jual jagung yang ditanamnya.

“Karena sistemnya kan kontrak, jadi harganya stabil,” ujar Bupati.

Selain itu, untuk mengatasi masalah pengairan selama musim kering, Bupati akan dan sedang membangun waduk-waduk penampungan air. “Idealnya masing-masing kecamatan bisa memiliki waduk, namun sementara ini pembangunannya kami prioritaskan di daerah-daerah tinggi dulu,” kata Bupati.

Kirim komentar Facebook atau bagikan dengan
twitter share button Share Dongkrak Produktivitas Jagung Di Nganjuk Dengan BISI-816 on Google+