All posts by jagung bisi

BISI-18 semakin perkasa di Gunung Balak

Di lahan jagung BISI-18 Pak Wayan Sutame seluas setengah hektar, terlihat wajah wajah yang penasaran karena keingintahuan yang besar.  Mereka mengamati timbangan hasil pemipilan jagung BISI-18 di dalam tenda undangan. Ya, mereka adalah petani-petani dari seluruh area Gunung Balak yang diundang oleh PT BISI International Tbk untuk melihat langsung panen jagung BISI-18.

Tanggal 21 Agustus 2014 lalu, di dusun  Rawa Jambu Desa Sri Kaloko, Kec. Bandar Sri Bawono, Kabupaten Lampung Timur,  sekitar 150 petani memang menjadi saksi keperkasaan jagung BISI-18 yang ditanam di Area Gunung Balak.  Setelah dipanen pada umur 103 hari, jagung langsung di timbang dan dipipil.  Seluruh petani yang diundang diminta untuk menebak berat hasil pipil dari jagung BISI-18. Yang berhasil menebak mendekati atau malah benar mendapat hadiah langsung. Layak mereka penasaran karena hasilnya diluar dugaan seluruh petani undangan.

Hasil gelondong panen untuk 1 karung adalah seberat 100 kilogram. Setelah dipipil diperoleh hasil pipil seberat 83,04 kilogram. Jadi rendemen yang didapat sebesar 83 %. Sungguh luar biasa!! Wajar bila para petani banyak yang tidak menduga hasilnya bisa sebanyak itu. Kekaguman bertambah lagi ketika dipipil, janggel tidak hancur padahal saat dipanen umur 103 hari, sementara untuk ukuran varietas lain dapat dipastikan janggelnya hancur bila dipanen dan langsung dipipil pada umur yang sama.

Haris Sukamto, Market Development PT BISI Lampung menyatakan bahwa kondisi rendemen yang tinggi ini disebabkan karena kecilnya janggel BISI-18 sehingga hasil pipilnya menjadi lebih banyak dibanding janggelnya. Selain itu setiap biji dari jagung BISI-18 ini mempunyai bobot yang berat. “BISI-18 juga cocok sekali untuk daerah Gunung Balak ini, karena tahan Bulai dan tahan juga pada waktu kering seperti saat penanaman disini ini,” tambahnya

Panen Jagung BISI-18 di Gunung Mas, Super Hasilnya!!

Tidak ada kata lain selain Super! untuk hasil panen jagung BISI-18 di Gunung Mas, kec. Marga Sekampung – Lampung Timur pada tanggal 28 Agustus 2014 lalu.  Di Lahan jagung Pak Khoiri ini, seluas 1 hektar, sekitar 150 petani menyaksikan dan membuktikan secara langsung “Super” nya hasil panen pipil jagung BISI-18.

Meskipun BISI-18 sudah banyak ditanam di Gunung Mas ini, tetapi acara FFD yang digelar PT BISI Lampung seolah membuktikan bahwa tidak salah apabila BISI-18 sekarang menjadi pilihan utama petani di daerah tersebut.

Demo panen dan pipil langsung yang dilakukan PT BISI di acara tersebut membuat petani-petani yang diundang menjadi kagum. Dari 1 karung tongkol jagung dengan total berat 100 kilogram, setelah dipipil langsung dengan mesin pipil yang didatangkan ke lokasi, mendapatkan hasil pipil seberat 82,03 kilogram. Jadi rendemen yang didapat adalah sebesar 82 %. Super sekali!

gunungmas

“Kondisi inilah yang diharapkan oleh petani di Gunung Mas ini”, kata M Haris Sukamto, Market Development PT BISI Lampung. “dengan hasil panen yang tinggi seperti ini pasti petani akan mendapat keuntungan yang berlebih”, lanjutnya.

Rendemen yang tinggi ini disebabkan karena kecilnya janggel BISI-18 sehingga hasil pipilnya menjadi lebih banyak dibanding janggelnya. Sebagai ilustrasi apabila petani mendapatkan hasil tongkol sebanyak 10 ton, maka hasil pipilnya akan mendapat 8,203 ton. Lebih banyak dari hasil panen yang selama ini didapat oleh petani di Gunung Mas bila menggunakan benih selain BISI-18.

Tidak salah bila slogan BISI-18 adalah “Super Hasilnya”

Enrekang “Kampung BISI”

Kabupaten Enrekang terletak antara kilometer 196 dan kilometer 281 di utara kota Makassar.  Enrekang berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja di sebelah utara, Kabupaten Luwu di bagian timur, Kabupaten Sidrap di sebelah selatan, dan Kabupaten Pinrang di sebelah barat.

enrekang01

Enrekang memiliki wilayah perbukitan dan pegunungan dengan ketinggian antara 70-3.000 meter di atas permukaan laut. Salah satu gunung yang terkenal adalah Gunung Latimojong yang memiliki ketinggian 3.239 meter di atas permukaan laut, dan merupakan gunung tertinggi di Sulawesi Selatan. Enrekang juga memiliki beberapa sungai besar, seperti Sungai Tabang, Sungai Mata Allo, Sungai Mamasa, dan Sungai Saddang. Sungai Saddang merupakan sungai terpanjang di Pulau Sulawesi yang melewati pusat kota Enrekang dan mengalir menuju Selat Makassar.

Salah satu komoditas pertanian di Kabupaten Enrekang yang terkenal adalah jagung.  Meskipun berada di daerah pegunungan dan perbukitan, petani di Kabupaten Enrekang mampu menghasilkan hasil panen jagung yang tidak kalah dengan daerah yang lain.  Lereng-lereng pegunungan yang terjal seakan tidak ada artinya bagi petani di Enrekang.  Hampir semua jengkal tanah di lereng-lereng pegunungan menjadi areal produktif untuk tanaman jagung.  Tidak salah kalau Kabupaten Enrekang juga sebagai penyumbang hasil produksi jagung  di Sulawesi Selatan.

enrekang03

Menjelang datangnya musim hujan, biasanya petani di Enrekang mulai menanami lahan mereka dengan beragam komoditas, terutama jagung. Jika musim tanam itu tiba, sepanjang mata memandang, tiap jengkal lahan perbukitan di kabupaten tersebut akan penuh dengan hamparan tanaman jagung yang menghijau.  Salah satu varietas jagung yang disukai dan banyak ditanam di Enrekang adalah Jagung Super Hibrida BISI 18.

enrekang02

Sudah tidak diragukan lagi, hampir semua petani di Enrekang menanam BISI-18, “disini Kampung BISI namanya… sebab Kabupaten Enrekang 90% tanam BISI 18, hehehe….” kata Pak Hebron Sardi, petani dari desa Tuara, Kecamatan Enrekang.

“Lahan di sini memang agak berkerikil dan selalu ditanam dengan sistem tanpa olah tanah. Jadi memang dibutuhkan varietas jagung yang mumpuni untuk ditanam dalam kondisi seperti itu, sekaligus mampu memberikan hasil yang menguntungkan bagi para petani,” itu alasan Hebron Sardi mengapa menanam BISI 18. “disini ada yang tanem 43 kg benih BISI 18, hasil panen 20 ton pipilan kering… itu sudah lumayan baik” tambahnya.

enrekang05

Abdurrahman, petani jagung di Desa Tungka, Kecamatan Enrekang. juga mengungkapkan “Hasilnya lebih bagus dari jagung yang lain, terutama hasil jagung pipilnya. Tanamannya juga lebih tahan dari penyakit bulai yang biasa menyerang di daerah sini.”

Menaman jagung di perbukitan Enrekang seringkali terkendala dengan kurangnya curah hujan yang dibutuhkan oleh tanaman jagung. Tetapi hal ini tidak menjadi kendala yang bagi BISI 18 untuk tetap tumbuh dan menghasilkan produksi yang baik.

“Jagung BISI 18 memang memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap berbagai kondisi cuaca. Jagung BISI 18 yang saya tanam ini sudah sebulan lebih tidak kena hujan, tapi masih bisa memberikan hasil yang maksimal,” ujar Tuti, petani jagung sekaligus Ketua Kelompok Wanita Tani di Desa Maroangin, Kecamatan Maiwa, Enrekang.

enrekang08

Beberapa petani juga mengatakan hal yang sama terkait ‘defisit’ atau kekurangan air di tengah-tengah bercocok tanam BISI 18. Khaerul dan Hebron misalnya, petani yang sama-sama dari Kecamatan Enrekang Selatan ini mengaku sangat kagum dengan performa jagung tersebut.

“Ternyata BISI 18 memang tangguh di segala musim. Dan itu terbukti di musim ini. Meskipun mengalami kekeringan di tengah jalan, tapi hasilnya tetap luar biasa. Kualitas bijinya bagus dan daunnya tetap hijau meskipun sudah dipanen, sehingga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak kami,” urai Hebron.

Bahkan, lantaran begitu senangnya dengan hasil yang mereka dapatkan itu, Hebron dan juga Khaerul pun memiliki ungkapan tersendiri dengan jagung hibrida tersebut, yaitu: “BISI 18 ini juga sebagai jagung kemarau yang hasilnya tidak bikin galau”.  

Di Enrekang rata-rata petani panen jagung BISI 18 pada umur 110-115 hari setelah tanam.  Mereka merasa jagung sudah cukup kering pada umur tersebut. Hasil panen jagung tidak langsung dijual, melainkan disimpan terlebih dahulu sebelum dijual. Panen dan pengangkutan hasil panen jagung ke panggung penyimpanan dilakukan secara gotongroyong oleh masyarakat. Jagung akan disimpan selama satu bulan atau lebih, apabila pedagang sudah datang untuk melihat dan cocok harganya, maka jagung baru dipipil.

enrekang06

Ketahanan dalam penyimpanan ini juga merupakan salah satu kelebihan dari BISI 18. Menurut Abdurrahman, hasil panen BISI 18 berbeda dengan jagung hibrida lainnya. Yang utama adalah memiliki bobot yang lebih berat dan tidak banyak mengalami kerusakan saat disimpan di penampungan sebelum dipipil dan diangkut ke gudang milik pengepul.

enrekang07

“Daya simpannya memang lebih bagus, karena kadar airnya itu rendah. Kalau jagung lain selama disimpan di penampungan sebelum didos (dipipil dengan mesin-red.) ada yang tumbuh. Jemurnya juga tidak perlu lama, karena lebih cepat kering,” terang Syaifudin, petani jagung BISI 18 yang juga tetangga Abdurrahman.

Keuntungan-keuntungan yang didapat dari BISI 18 inilah yang menyebabkan sebagian besar masyarakat percaya dengan BISI 18, sehingga bila saatnya musim tanam jagung di Kabupaten Enrekang, sejauh mata memandang akan terlihat BISI 18. Tidak salah apabila Pak Hebron Sardi mengatakan “disini KAMPUNG BISI namanya…”

enrekang04

Gorontalo Kembali Ekspor Jagung

GORONTALO– Hanya dalam waktu tiga pekan, Gorontalo kembali mengekspor jagung. Sebanyak 2.200 ton jagung di kirim ke Filiphina melalui pelabuhan Anggrek Gorontalo, rabu (27/8) kemarin. Pelepasan ekspor jagung ini dilakukan langsung Gubernur Gorontalo Rusli Habibie. Sebelumnya pada awal agustus 2014 lalu, jagung sebanyak 2000 ton juga dieskpor ke Filiphina. “Ini adalah jagung asli produksi petani Gorontalo. Jagung ini made in Gorontalo,” terang Gubernur Rusli Habibie, kemarin.

Gubernur Rusli Habibie mengaku bangga, petani Gorontalo mampu meningkatkan produksi jagung dengan kualitas ekspor. Dikatanya, dulu Gorontalo memang sering juga melakukan ekspor, tapi jagung yang dikirim sebagian bukan dari Gorontalo. “Ini semuanya dari petani Gorontalo. Dulu ada yang dari Bolaang Mongondow, ada juga dari Sulteng, kirimnya lewat Gorontalo,”ujar Rusli Habibie.

Dipastikan, lanjut Rusli Habibie, bulan depan akan dilakukan ekspor lagi sebanyak 6000 ton jagung ke Korea. Meningkatnya ekspor jagung ini tak lepas dari intevensi Pemerintah Provinsi Gorontalo kepada para petani di daerah ini, hal ini juga dengan sendirinya memupus tudingan bila pemerintahan Gubernur Rusli Habibie dan Wakil Gubernur Idris Rahim tidak lagi memperhatikan jagung yang selama ini menjadi branding Provinsi Gorontalo.

Tahun 2014, Pemprov Gorontalo melalui APBD telah mengadakan benih jagung sebanyak 150 ton dan dibagi-bagi gratis kepada para petani. Jumlah ini bantuan benih ini adalah yang terbanyak selama ini. “Itu yang dari APBD murni, pada APBD perubahan kita anggarkan lagi untuk benih jagung. Belum lagi bantuan dari APBN,” terang Gubernur Rusli Habibie.

Data Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Pergangan (Diskumperindag) Provinsi Gorontalo pada seksi perdagangan luar negeri menyebutkan, ekspor jagung meningkat signifikan dibanding tahun 2013, yakni naik 27 persen hingga bulan agustus 2014, dengan nilai sebesar US$ 3.156. Peningkatan ekspor jagung ini tak lepas dari peran pemerintah Provinsi Gorontalo yang menjadikan pertanian sebagai salah satu program prioritas pembangunan. Gubernur Gorontalo Rusli Habibie menambahkan, Gorontalo akan terus meningkatkan produksi. Tahun 2014 lanjut Gubernur, ditargetkan produksi jagung mencapai lebih dari 700 ribu ton. “Per Juni sudah mencapai lebih dari 350 ribu ton. Kita optimis bisa mencapainya,” kata Rusli Habibie. Ekspor jagung dengan menggunakan kapal Jake Vincent Tres itu akan langsung dikirim ke Filphina. (tro)

Sumber : http://gorontalopost.com (28/08/2014)

Penggunaan Benih Jagung Hibrida Regenerasi pada Usahatani Jagung

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, penggunaan benih hibrida turunan atau recycled hybrid masih menjadi pilihan petani khususnya pada pertanaman musim tanam kedua. Alasannya pun sederhana, harga benih hibrida mahal dan resiko gagal panen yang disebabkan kekurangan air pada pertanaman di musim kemarau.

Untuk menghindari kerugian, petani cenderung lebih memilih menanam generasi kedua (F2) dari pertanaman sebelumnya. Bahkan pada daerah tertentu, petani bahkan menanam generasi ketiga dan keempat. Tidak seperti tanaman padi, sistim penyerbukan tanaman jagung yaitu dengan sistim penyerbukan silang. Sehingga peluang kontaminasi atau pencampuran dengan tanaman lain sangat besar. Hal inilah yang mendasari mengapa jagung hibrida disarankan hanya boleh ditanam sekali saja, ungkap peneliti Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitseral) Maros Fauziah Koes.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan turunan hibrida silang tunggal berpotensi menurunkan hasil sampai 42%, selain itu juga terjadi penurunan sejumlah parameter pertumbuhan seperti pertumbuhan fenotifik tanaman, hasil biji, mutu hasil, dan menurunkan daya simpan. Pada jagung hibrida silang tiga jalur, penurunan hasil relatif lebih kecil karena perbedaan sumberdaya genetik dimana hibrida silang tiga jalur dibentuk dari persilangan antara varietas dengan galur.

Hasil penelitian Balitsereal menunjukkan bahwa penggunaan benih turunan pada pertanaman jagung hibrida silang tiga jalur menurunkan hasil sebesar 21,82%. Mempertimbangkan tingkat penurunan hasil maka jagung hirida silang tiga jalur sebaiknya ditanam maksimal sampai generasi kedua.

Sumber : http://www.litbang.deptan.go.id (26/08/2014)

Petani Lampung Kesulitan Benih Jagung

BANDAR LAMPUNG-Hujan yang mulai sering turun sejak dua pekan belakangan ini dimanfaatkan petani di Provinsi Lampung untuk menanam jagung. Namun aktivitas penanaman jagung terhambat oleh kekurangan stok benih jagung.

Kuswanto, petani jagung di Desa Trirahayu, Kecamatan Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran mengatakan, begitu hujan mulai sering turun para petani buru-buru mempersiapkan lahan untuk menanam jagung.

“Namun setelah lahan siap tanam, kami mengadapi kesulitan benih jagung hibrida. Mungkin karena petani mau tanam jagung bersamaan sehingga stok di distributor kurang,” ujar Kuswanto di rumahnya, Jumat (22/8) siang.

Menurut Kuswanto, dalam menyiapkan lahan untuk menanam jagung para petani di daerahnya bisa cepat karena mereka menerapkan pola semi tanpa olah tanah (TOT). Lahan bekas tanaman jagung sebelumnya cukup disemprot dengan herbisida. Lalu bagian yang akan ditanam jagung dibajak segaris dengan bajak sapi, kemudian ditebar pupuk kandang dan dibuat lobang untuk menanam benih jagung.

Sementara di Kabupaten Lampung Timur, petani di daerah ini malah menerapkan TOT sepenuhnya. Setelah lahan disemprot dengan herbisida untuk mematikan gulma, lalu ditugal untuk selanjutnya ditanami benih jagung.

“Karena itu sebagian besar sentra jagung sedang bersiap menanam jagung,” tutur Nazarudin, petani jagung di Desa Pugung, Kecamatan Pugung, Kabupaten Lampung Timur.

Diakuinya, pada musim tanam sebelumnya bagi petani yang menanam jagung bulan Februari dan Maret tanamannya terkena kemarau sehingga poduksinya turun.

“Karena khawatir kekeringan lagi maka kami buru-buru menyiapkan lahan untuk segera ditanami jagung. Tapi terkendali oleh kesulitan benih jagung hibrida,” ungkapnya.

Sementara di Kecamatan Bumiratu Nuban, Kabupaten Lampung Tengah para petani masih menunggu musim hujan lebih merata untuk menanam jagung. “Kami masih belum menanam jagung masih menunggu musim hujan merata. Kalau kami perhatikan, sekarang baru musim pancaroba sehingga dikhawatirkan jagung sudah ditanam, hujan tidak turun sehingga kami rugi,” ujar Eko Siswanto,petani jagung di Desa Sidowaras, Kecamatan Bumiratu Nuban, Kabupaten Lampung Tengah.

Pada musim tanam sebelumnya sebagian besar petani jagung di Kecamatan Bumiratu Nuban, Kabupaten Lampung Tengah menjual tebon (batang jagung-red). Selain harga tebon cukup mahal, petani juga khawatir harga jatuh pada saat musim panen

Menurut Eko, pada panen pertama sekitar Januari -Februari lalu, petani di daerah ini memanen jagung biji karena harga jual masih tinggi. Tapi pada panen kedua yang jatuh pada Mei-Juni lalu, banyak yang menjual tebon  karena jagung sudah bisa dijual pada usia 70 hari. Sementara jika mau menjual jagung kering harus menunggu usia 90 hari dan jika hujan masih sering turun, kadar air juga tinggi hingga 40% sehingga dihargai murah oleh pedagang. “Jadi, selain mengejar waktu, juga trend harga jagung turun. Sebaliknya saat ini harga tebon sedang bagus,” jelasnya.

Dari 2 ha kebun jagungnya, Eko menjual 1 ha berupa tebon dengan harga Rp20 juta. Harga itu dinilai Eko lebih menguntungkan dibandingkan nanti dipanen jagung kering, meski produksinya  bisa 10 ton, tapi harganya dikhawatirkan turun hingga di bawah Rp2 ribu/kg.

Sumber : http://sinarharapan.co (22/08/2014)

biotek

Penerapan Bioteknologi, Solusi Tingkatkan Produksi Pangan

Jakarta, InfoPublik – Badang Pangan Dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO) memprediksi populasi penduduk Indonesia pada tahun 2050 akan mendekati 300 juta orang. Ledakan jumlah populasi penduduk mengakibatkan kebutuhan pangan naik signifikan.

Namun kenaikan kebutuhan pangan tidak diimbangi pasokan karena produksi pangan Indonesia mulai memasuki trend penurunan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan, produksi pertanian perlu ditingkatkan setidaknya 70 persen.

Upaya itu memiliki banyak tantangan terutama perubahan iklim, dinamika ekologis, degradasi kualitas tanah dan air. Selain itu juga konversi pertanian yang berubah menjadi pemukiman dan serangan penyakit hama.

Peneliti Senior Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, Agus Pakhpahan mengatakan, solusi yang bisa diterapkan di tingkat petani adalah penggunaan bioteknologi.

“Pemanfaatan bioteknologi di 27 negara selama 17 tahun telah berhasil memperluas areal tanam dari awalnya 1,7 juta hektare tahun 1996 hingga saat ini sudah mencapai 175 juta hektare,” ujar Agus Pakhpahan di Jakarta, Jumat (15/8).

Secara umum bioteknologi adalah meningkatkan kualitas suatu organisme melalui aplikasi teknologi. Aplikasi teknologi tersebut dapat memodifikasi fungsi biologis suatu organisme dengan menambahkan gen dari organisme lain atau merekayasa gen pada organisme tersebut.

Lewat pemanfaatan teknologi, Agus meyakini mampu memecahkan persoalan sektor pertanian lewat peningkatan produktifitas pertanian dalam negeri. Hal ini berkaca pada kesuksesan negara yang telah mengembangkan pertanian berbasis bioteknologi.

Misalnya, petani di Hokaido, Jepang, semula lahan sawah yang dimiliki sebesar 4 hektare melonjak 20 hektare. Bahkan, petani di Amerika Serikat yang tadinya menguasai 80 hektare menjadi bertambah menjadi 200 hektare setelah memanfaatkan tanaman bioteknologi.

Petani India, Tiongkok dan Filipina telah memulai penggunaan bioteknologi. Di India sudah ada 7,3 juta petani yang menggunakan bioteknologi, Tiongkok mencapai 7,5 juta petani dan Filipina mencapai 400 ribu petani.

Menurut Agus, proses industrialisasi agribisnis menjadi salah satu kunci. Indikatornya, berkurangnya jumlah petani karena diserap sektor industri dan jasa. Setidaknya, setiap pengurangan satu persen Produk Domestic Bruto akan mengurangi dua persen angkatan kerja sektor pertanian. “Tidak ada eksodus tenaga kerja ke kota,” terangnya.

Sementara Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis IPB, Arief Daryanto menambahkan, melalui bioteknologi, petani memperoleh manfaat berupa peningkatan produktivitas pertanian sekaligus efisiensi biaya produksi.

Merujuk hasil studi Graham Brookes pada tahun 2012, petani jagung di Filipina memperoleh keuntungan sebesar 125 sampai 135 dollar AS per hektare. Selain itu, peningkatan pendapatan di lahan pertanian jagung bioteknologi tahan herbisida secara global mencapai 1,2 miliar dollar AS.

Sumber : http://infopublik.kominfo.go.id (14/08/2014)

Petani Karo Tanam Jagung BISI 18

T Karo (SIB)-Mengatasi berbagai penyakit dan menurunnya produksi jagung yang terjadi akhir-akhir ini di dataran tinggi Sumut, khususnya di Tanah Karo, Dairi dan Simalungun, PT Bisi International Tbk mengembangkan varietas bibit jagung terbaru Bisi 18. Selain tahan berbagai hama, terutama hawar daun juga dapat meningkatkan produksi  petani.

Hal itu  dikatakan tim Marketing Development PT Bisi International, Tbk Agus Purba SP, Ir Alam Sembiring selaku pimpinan PT Bisi International, Tbk Area Sumbagut, Kadis Pertanian dan Perkebunan Karo Agustoni Tarigan SP dalam temu ramah dengan sekitar 500 petani dari Desa Perbesi, Limang, Nagerijahe, Bintangmeriah, Pertumbuken, Bungabaru, Kecamatan Tigabinanga,  Singgamanik, Kecamatan Munte, Sabtu lalu di Desa Perbesi, Kecamatan Tigabinanga.

Ada beberapa hal yang menjadi perhatian Dinas Pertanian Karo menyikapi berbagai masalah yang dihadapi petani dan imbauan kepada pihak produsen bibit. Pihak produsen benih jagung diharapkan tetap menjaga kualitas benih yang dipasarkan.

Kepada petani juga dihimbau agar penebusan pupuk subsidi agar sesegera mungkin menyelesaikan RDKK sehingga pemberian pupuk tidak terlambat, namun tepat waktu sesuai dibutuhkan tanaman dengan memanfaatkan program pemerintah seperti, KPPE (Kredit Peningkatan Pangan dan Energi) dan KUR (Kredit Usaha rakyat).

Pada pertemuan itu, juga diadakan demo pemipilan dan penimbangan hasil jagung Bisi-18 dikoordinir Edi Sihombing SP, dan hasil ubinan per panggung 252 Kg (setara dengan 9,7 ton/ha) dengan rendemen 86,8%. “Ini hasil yang maksimal dan memuaskan bagi petani jagung di Tanah Karo saat ini”,  kata Alam.(BR2/c).

Sumber : http://hariansib.co (20/07/2014)

El Nino 2-RF-CD

BMKG: El Nino belum aktif di Indonesia

Jakarta (ANTARA News) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa El Nino belum aktif di Indonesia karena indeks Southern Oscillation Index (SOI) dan angin pasat belum mendukung terjadinya El Nino.

Supari, Analis Bidang Iklim BMKG saat ditemui di Jakarta, Senin, mengatakan fenomena El Nino baru terjadi apabila terdapat tiga indikasi, yaitu kondisi dinamis di Indonesia, kondisi angin pasat tenggara, dan indeks SOI.

“Yang baru terjadi sekarang adalah indeks SOI dan angin pasat belum mendukung indikasi terjadinya El Nino di Indonesia,” kata Supari.

Ia menjelaskan El Nino adalah fenomena alam dan bukan badai. El Nino dapat diartikan suatu gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di sekitar pasifik tengah dan timur sepanjang ekuator dan secara fisik El Nino tidak dapat dilihat.

El Nino sendiri dapat diindikasikan dengan adanya perbedaan tekanan atmosfer antara Tahiti dan Darwin, Australia, atau yang disebut SOI. “Disebut demikan karena keduanya terletak di belahan bumi bagian selatan,” katanya.

Selain itu, ujarnya, terjadinya El Nino dapat ditandai dengan SOI yang negatif artinya tekanan atmosfer di atas Tahiti lebih rendah dari pada tekanan atmosfer di atas Darwin.

Terkait dengan indeks SOI, Supari menjelaskan ada tiga kategori untuk mengukurnya, yakni lemah (di bawah 1), sedang (antara 1-1,5), dan kuat (di atas 2). “Indonesia masih ada di level sedang untuk fenomena El Nino,” katanya.

Ia menyebutkan, dampak El Nino akan terasa antara bulan Juli-Agustus 2014, namun itu baru terjadi apabila intensitasnya kuat dan kondisi perairan di Indonesia sendiri karena suhu perairan Indonesia akan memengaruhi curah hujan.

“El Nino akan berdampak hebat jika intensitasnya kuat dan perairan di Indonesia juga menjadi dingin sehingga akibatnya saling menguatkan,” jelas Supari.

Untuk daerah yang terkena dampak El Nino, Supari menjelaskan semuanya tergantung kategori yang diakibatkan dari El Nino. Apabila relatif kuat biasanya hampir seluruh daerah terkena kecuali Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Sedangkan El Nino yang relatif lemah hanya terjadi di wilayah timur Indonesia saja, misalnya Papua, Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Terkait dengan potensi kebakaran hutan yang diakibatkan El Nino, Supardi mengutarakan bahwa tahun ini potensinya sangat kecil karena BMKG memperkirakan potensi El Nino tahun ini cenderung lemah serta curah hujan yang relatif cukup.

Berbeda dengan yang terjadi pada 1997, ketika itu El Nino relatif kuat membuat udara menjadi kering dan curah hujan sangat rendah. Dengan kondisi yang tidak ada hujan maka vegetasi yang bersifat kering akan mudah terbakar.

“Ketika ada percikan api yang saya yakin berasal dari manusia maka akan mudah terbakar lalu menjalar kemana-mana,” ujar Supari.

Sumber : http://www.antaranews.com (30/06/2014)

El-Nino_main

Fenomena Iklim El Nino dan La Nina

Pernahkan kita berpikir bahwa musim kemarau yang panjang dan juga musim hujan yang terjadi di musim kemarau hanyalah kejadian wajar dan kebetulan? Mungkin sebagian orang hanya berpikir demikian, tetapi sesungguhnya kejadian-kejadian tersebut adalah sebuah siklus iklim, yang disebut dengan fenomena El Nino dan La Nina.

Sebenarnya apa sih El Nino dan La Nina?

El Nino menurut sejarahnya adalah sebuah fenomena yang pertama kali teramati oleh para nelayan Peru dan Ekuador yang tinggal di pantai sekitar Samudera Pasifik bagian timur pada bulan Desember, tepatnya menjelang hari Natal. Fenomena yang teramati adalah meningkatnya suhu permukaan laut yang biasanya dingin. Fenomena ini mengakibatkan perairan yang tadinya kaya akan ikan akibat adanya upwelling atau arus naik permukaan yang membawa banyak nutrien dari dasar menjadi sedikit jumlah ikan di perairan tersebut.

Pemberian nama El Nino itu sendiri berasal dari bahasa Spanyol, yang artinya “anak lelaki”. Suatu saat para ahli kemudian menemukan juga fenomena mendinginnya suhu permukaan laut akibat menguatnya upwelling, yang merupakan kebalikan dari El Nino. Fenomena kebalikan ini diberi nama La Nina (juga bahasa Spanyol), yang berarti “anak perempuan”. Kedua fenomena ini memiliki periode 2 sampai 7 tahun, tetapi periode El Nino dan La Nina menjadi semakin pendek seiring dengan pemanasan global yang terjadi di dunia sekarang ini.

Bagaimana proses kejadian El Nino dan La Nina?

Ed05-fisika1-1

Ketika Peru mengalami musim panas, arus laut dingin Humbolt tergantikan oleh arus laut panas. Kuatnya penyinaran oleh sinar matahari pada perairan di Pasifik Tengah dan Timur menyebabkan meningkatnya suhu dan kelembapan udara pada atmosfer sehingga tekanan udara di Pasifik Tengah dan Timur menjadi rendah. Hal ini diikuti oleh kemunculan awan-awan konvektif, atau awan yang terbentuk oleh penyinaran matahari yang kuat.

Di sisi lain, di bagian Pasifik Barat awan sulit terbentuk. Daerah Pasifik Barat contohnya adalah Indonesia, yang pada dasarnya cuacanya dipengaruhi oleh angin muson, angin pasat, dan angin lokal walaupun sebenarnya pengaruh angin muson yang lebih kuat berasal dari daratan Asia. Oleh karena sifat udara adalah bergerak dari tekanan udara tinggi ke tekanan udara rendah, udara dari Pasifik Barat akan bergerak ke Pasifik Tengah dan Timur. Hal ini menyebabkan awan konvektif di atas Indonesia bergeser ke Pasifik tengah dan Timur.

Pada La Nina, atau kebalikan dari El Nino, fenomena tersebut terjadi saat permukaan laut di Pasifik Tengah dan Timur suhunya lebih rendah dari biasanya pada waktu-waktu tertentu. Kemudian, tekanan udara di kawasan Pasifik Barat jadi menurun yang memungkinkan terbentuknya awan. Sebagai akibatnya, tekanan udara di Pasifik Tengah dan Timur menjadi tinggi sehingga proses pembentukan awan terhambat.

Ed05-fisika1-2

Sementara itu, di bagian Pasifik Barat, misalnya di Indonesia, tekanan udara menjadi rendah sehingga mudah terbentuk awan cumulus nimbus. Awan ini menimbulkan turunnya hujan lebat yang disertai petir. Seperti yang disebutkan sebelumnya, sifat udara yang bergerak dari tekanan udara tinggi ke tekanan udara rendah menyebabkan udara dari Pasifik Tengah dan Timur bergerak ke Pasifik Barat. Hal ini menyebabkan awan konvektif di atas Pasifik Tengah dan Timur bergeser ke Pasifik Barat.

Adakah parameter untuk menentukan El Nino dan La Nina?

Saat ini indikator yang digunakan untuk mengetahui fenomena El Nino dan La Nina adalah dengan menggunakan data indeks yang diperoleh dari Badan Meteorologi Australia (www.bom.gov.au/climate/current/soihtm1.shtml), yang disebut dengan Southern Oscillation Index (disingkat SOI). SOI diukur dari fluktuasi bulanan perbedaan tekanan udara antara Tahiti dan Darwin. Nilai SOI inilah yang menunjukkan apakah terjadi fenomena El Nino, La Nina, atau normal. Tabel di bawah menunjukkan acuan nilai SOI yang dijadikan acuan penentuan El Nino dan La Nina:

Hasil kajian para ahli meteorologi dari tahun 1900 sampai tahun 1998 menunjukan bahwa El Nino telah terjadi sebanyak 23 kali (rata-rata 4 tahun sekali), sedangkan La Nina hanya 15 kali (rata-rata 6 tahun sekali). Dari 15 kali kejadian La Nina, sekitar 12 kali (80%) terjadi berurutan dengan kejadian El Nino. La Nina mengikuti El Nino hanya terjadi 4 kali dan mendahului El Nino sebanyak 8 kali dari 15 kali kejadian. Secara umum, hal ini menunjukkan bahwa peluang terjadinya La Nina setelah El Nino tidaklah begitu besar. Kejadian El Nino pada tahun 1982/1983 yang dikategorikan sebagai tahun kejadian El Nino yang kuat malah tidak diikuti oleh La Nina sama sekali.

Bagaimana dampak El Nino dan La Nina di Indonesia?

Dampak yang paling nyata dari fenomena El Nino adalah kekeringan di Indonesia yang menyebabkan langkanya air di sejumlah daerah dan kemudian berakibat pada penurunan produksi pertanian karena tertundanya masa tanam. Selain itu, meluasnya kebakaran hutan yang terjadi di beberapa wilayah di Kalimantan dan Sumatera juga diindikasikan sebagai salah satu dampak dari fenomena El Nino tersebut. Untuk La Nina, dampak yang paling terasa adalah hujan deras yang juga menyebabkan gagal panen pada pertanian karena sawah tergenang.

Ada juga keuntungan dari El Nino, yaitu bergerak masuknya ikan tuna yang berada di Samudera Hindia ke selatan Indonesia. Hal itu terjadi karena perairan di timur samudera mendingin, sedangkan yang berada di barat Sumatera dan selatan Jawa menghangat. Akibat proses ini, Indonesia mendapat banyak ikan tuna, sebuah berkah yang perlu dimanfaatkan.

DSC_9447

Temu Tani Binaan di Geltek PT. BISI International Tbk

Tanaman sayuran di Gelar Teknologi (Geltek) PT. BISI International tampak subur menghijau. Di sana sini tampak peserta Penas dan masyarakat umum menyemut mengamati berbagai tanaman di geltek tersebut. Mulai padi hibrida, berbagai jenis tanaman cabai, berbagai jenis pare, tomat, terong, kubis, jagung, Laboratorium Biotek dan lain lain.

DSC_9622

“Kami puas setelah berkunjung di Geltek PT. BISI” kata para petani kepada Sinar Tani. Menurut komentar para petani, semua tanaman dan hasilnya yang disajikan di sini (Geltek PT. BISI) memang luar biasa. Semoga hasil seperti ini bisa dikembangkan oleh para petani di daerah masing-masing. Terutama bagi petani yang belum tersentuh teknologi dari PT. BISI.

DSC_9447

Market Development Manager PT. BISI International, Ir. Doddy Wiratmoko menyatakan, dalam rangka kegiatan Penas ke XIV ini pihaknya memberikan yang terbaik kepada peserta Penas yang datang dari penjuru tanah air. “Sejak 8-11 Juni kami mengadakan pertemuan petani binaan PT. BISI yang berasal dari penjuru tanah air sebanyak 573 orang,” kata Doddy.

DSC_9507

Namun demikian, lanjut Doddy, di Geltek PT. BISI juga terbuka untuk peserta Penas yang lain maupun masyarakat umum.  “Memperhatikan berjejalnya pengunjung di Geltek PT. BISI jumlahnya bisa mencapai ribuan setiap hari,” ujar Doddy.

DSC_9467

Para petani kepada wartawan Sinar Tani mengakui, mereka sangat berminat mengunjungi Geltek PT. BISI. Karena banyak teknologi yang perlu diketahui untuk dikembangkan di daerahnya. Bahkan mereka (petani-Red) berkunjung di Geltek PT. BISI selama berlangsungnya Penas rata-rata lebih dari satu kali kunjungan.

DSC_9445

Sementara itu, menurut Azis Rifianto dari Divisi jagung PT BISI International menyatakan, disamping benih sayuran pihaknya saat ini sedang mengembangkan jagung pulut. Jagung ini mempunyai kelebihan tersendiri. Sesuai dengan namanya pulut rasanya pulen dan empuk seperti ketan. Di Indonesia masih terbatas baru di tiga wilayah yaitu Sulawesi Selatan, Lampung dan NTB. Pada tiga wilayah inipun penyebarannya masih sangat terbatas.

Jagung pulut di luar negeri banyak digemari antara lain di Cina dan Vietnam. “Jagung ini mengandung amilopektin tinggi” tambah Azis.

DSC_9494

Menurut pengamatan di tiga daerah tersebut, dan percobaan sebagai makanan penyaji selama ini, jagung pulut ini diminati masyarakat. Maka PT. BISI ke depan akan mengembangkan jagung pulut.

Sumber : Tabloid Sinar Tani, Edisi Khusus PENAS XIV, Selasa, 10 Juni 2014. Foto oleh : Team MD PT. BISI.

Tahun Ini RI Sudah Impor Jagung 669 Ribu Ton, Terbanyak dari India

Jakarta -Jagung menjadi satu komoditas pangan yang rutin diimpor Indonesia sampai saat ini. Setiap bulan, Indonesia mengimpor ratusan ribu ton jagung dari berbagai negara.

Pada April 2014, impor jagung tercatat sebanyak 154.189 ton dengan nilai US$ 39,2. Turun 14% dibandingkan bulan sebelumnya.

Pada Januari, impor jagung masih sebanyak 215.716 ton (US$ 52,3 juta). Kemudian Februari 153.322 ton (US$ 37,1 juta), dan Maret 176.197 ton (US$ 43,8 juta).

Secara kumulatif, total impor jagung sepanjang Januari-April 2014 adalah 699.425 ton (US$ 172,6 juta). Demikian data Badan Pusat Statistik (BPS) seperti dikutip detikFinance, Selasa (3/6/2014).

Berikut adalah negara-negara asal jagung impor periode Januari-April 2014:

  • India: 137.321 ton (US$ 34,2 juta)
  • Brasil: 13.834 ton (US$ 3,5 juta)
  • Thailand : 2.694 ton (US$ 1,2 juta)
  • Amerika Serikat: 102 ton (US$ 104 ribu)
  • Negara lainnya: 235 ton atau US$ 150 ribu

(mkl/hds)

Sumber : http://finance.detik.com (03/06/2014). Foto : https://media.zenfs.com

BISI-kinerja-2013

Raih Laba Bersih Rp129,32 Miliar, BISI Bagi Dividen Rp12/Saham

PT BISI International Tbk. sepanjang tahun 2013, berhasil meraih laba kotor sebesar Rp447,89 miliar. Jumlah ini naik 15,14% daripada laba kotor di akhir tahun 2012 yang sebesar Rp388,99 miliar. Sedangkan, laba bersihnya sebesar Rp129,32 miliar di akhir tahun 2013. Kemudian, perseroan juga berhasil membukukan penjualan Rp1,06 triliun, tumbuh 21,9%, dibandingkan dengan tahun 2012 yang sebesar Rp866,27 miliar.

BISI-kinerja-2013

“Dengan itu, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) kami memutuskan yang melakukan pembagian dividen tunai sebesar 28,3% dari laba bersih tahun 2013, atau sebesar Rp12 per saham, yang sama dengan Rp36 miliar,” ungkap Jemmy Eka Putra, Presiden Direktur PT BISI International Tbk.

Sampai akhir 2014 mendatang, perseroan optimis akan mengoleksi penjualan senilai Rp1,32 triliun. Meski proyeksi itu meningkat 25% dari pencapaian akhir tahun lalu yang sebesar Rp1,05 triliun, mereka percaya bahwa target itu akan tercapai.

“Hal ini karena kami akan mengeluarkan tujuh produk baru, baik dari benih jagung, sayuran ataupun penjualan pestisida, serta masih akan mendapatkan hasil dari produk yang baru dirilis pada tahun lalu. Jadi kami yakini bahwa laba bersih juga akan meningkat 25% menjadi Rp158,78 miliar pada akhir tahun ini,” ujarnya.

Penjualan dari BISI, kata Jemmy, masih akan bertumpu pada penjualan benih jagung. Di mana sekitar 40% dari total penjualan atau setara Rp528 miliar akan dihasilkan melalui penjualan benih jagung tersebut. Sementara, untuk penjualan pestisida dan pupuk diharap menyumbang Rp462 miliar, dan 25% sisanya akan dihasilkan dari penjualan benih sayur dan buah-buahan.

“Jadi kami akan menyuntikkan belanja modal sebesar Rp81,1 miliar. Alokasi itu meningkat 3 kali lipat lebih dari belanja modal di tahun lalu yang kira-kira sebesar Rp24,1 miliar. Hingga kuartal pertama 2014, perseroan baru menyerap belanja modal Rp16,2 miliar,” ucapnya.

Selain itu, untuk meningkatkan penjualan, perseroan bakal membangun satu pabrik baru di Mojokerto. Pabrik itu berkapasitas 16.450 ton, dan akan didirikan di atas lahan seluas 2,6 hektar. Dengan dana investasi Rp53 miliar, perseroan menargetkan optimalisasi pabriknya pada tahun depan.

“Pabrik itu nantinya akan memproduksi pestisida granular sebanyak 15 ribu ton per tahun. Kemudian umpan sebanyak 500 ton per tahun dan pestisida cair sebanyak 950 ton per tahun. Nah, dalam dua tahun operasionalisasi pabrik baru, diharapkan akan berkontribusi terhadap penjualan sebesar Rp250 miliar,” tuturnya. (EVA)

Sumber : http://swa.co.id (01/06/2014)

Dispertapan Sumbawa Panen Jagung BISI-18 di Desa Prajak

Moyo Hilir, Gaung NTB – Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Dispertapan) Kabupaten Sumbawa bekerjasama dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Pabanang I dan Panabang II menggelar panen perdana jagung di Desa Prajak, Moyo Hilir, Rabu (30/04). Kegiatan panen perdana jagung BISI-18 tersebut dihadiri Kadis Dispertapan Sumbawa, Camat Moyo Hilir, Kepala BP4K Sumbawa, Danramil Moyo Hilir, perwakilan PT Bisi Internasional Tbk, dan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Kadis Dispertapan Sumbawa Ir Talifudin MSi menyampaikan bahwa, meski panen pertama kali yang dilakukan oleh Pabanang I dan Pabanang II, namun hasil yang diperoleh tidak mengecewakan, bahkan hasilkan mutu terbaik. Tidak kalah dengan jagung yang dihasilkan di daerah-daerah lain. “Kami sangat senang melihat hasil jagungnya karena memiliki kualitas yang baik,” jelas pejabat ramah ini.

Menurut Ir Talifuddin MSi, melihat hasil jagung yang berkualitas, tentunya hal tersebut merupakan langkah awal yang baik bagi para petani kedepannya. Awal yang baik untuk membudidayakan jagung karena hasil yang diperoleh para petani sangat menjanjikan. Pada kesempatan itu, Kadis Dispertapan berjanji dan siap support para petani, baik dari pembibitan hingga pengajaran teknis pembudidayaan jagung yang lebih baik.

Sementara itu, Camat Moyo Hilir Abu Bakar SH bangga daerahnya tidak kalah dengan daerah lain. Abu Bakar SH bangga didaerahnya tidak kalah menghasilkan jagung berkualitas. Ia pun mengakui bahwa potensi yang ada di desa Prajak ini cukup besar untuk budidaya jagung. Ia berharap kedepannya, Prajak dan Moyo Hilir akan lebih maju dan mampu bersaing dengan daerah lainnya.

Sumber : http://www.gaungntb.com (03/05/2014)

BISI-18-parepare

Pemilihan Benih Jagung Unggul BISI 18 Mendorong Produksi Jagung Parepare Tumbuh 186,93%

Produksi jagung Kota Parepare, Sulawesi Selatan, sepanjang tahun 2013 mencapai 505 ton dengan luas area tanam 176 Hektar (Ha). Angka tersebut naik dibanding produksi tahun sebelumnya yang hanya mencapai 176 ton dengan luas area tanam 54 Ha.

Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Sulawesi Selatan, Muhammad Aris, mengatakan peningkatan produksi jagung di Parepare merupakan hasil dari upaya Pemerintah memberikan penyuluhan kepada petani, termasuk soal pemilihan bibit unggulan.

“Jagung Bisi 18 merupakan bibit unggulan. Selain isinya yang padat, jagung memiliki tongkol yang besar dan seragam. Jadi peralihan petani untuk menanam jagung jenis ini merupakan keuntungan dalam meningkatkan pendapatan petani,” jelas Aris, di Makassar, Kamis, (24/04/2014).

Aris menambahkan, tiap tahunnya produksi jagung Parepare meningkat seiring dengan luas arealnya yang terus meningkat.

“Ini merupakan sesuatu yang unik. Parepare yang merupakan daerah perkotaan yang mengandalkan sektor jasa dan niaga, ternyata mampu mengembangkan produksi pertanian,” tuturnya.

Luas area tanam hanya 923 Ha, sangat kecil dibandingkan dengan daerah lain di Sulawesi Selatan. Namun, luas area tanam yang minim tersebut tidak menjadi kendala dalam mengembangkan sektor pertanian.

Selain itu, kata dia, faktor lain meningkatnya produksi jagung Parepare karena menggunakan pupuk dasar atau petroganik, kemudian dilanjutkan pemupukan lanjutan yang banyak mengandung unsur hara.

“Di tahun 2014 ini, produksi jagung Parepare diperkirakan bisa mencapai 10 ton per hektarnya,” tandas Aris.

Sumber : http://www.yiela.com (24/04/2014)

bisi-18 atasbawah

BISI-18 yang Kuat di Bawah dan Tangguh di Atas

Masalah bulai dan busuk tongkol adalah dua hal klasik yang akrab menghampiri pertanaman jagung. Hanya dengan menggunakan varietas yang memiliki gen tahan lah, dua masalah klasik itu bisa lebih efektif diatasi. Seperti varietas jagung super hibrida BISI 18 yang terbukti tangguh menghadapi gempuran dua masalah utama tersebut.

Bulai dan busuk tongkol bisa jadi adalah dua hal yang akan selalu menjadi masalah bagi para petani jagung. Namun keduanya bukanlah dua hal yang akan menyerang dan menghabiskan pertanaman jagung dalam satu waktu sekaligus. Keduanya memiliki ritme dan karakteristik tersendiri dalam menyerang salah satu komoditas pangan penting itu.

BISI-18 kuatatasbawah
Bulai yang dipicu oleh munculnya jamur Pheronosclerospora maydis biasanya banyak menyerang pertanaman jagung yang ada di dataran rendah yang memiliki derajat suhu dan kelembaban yang tinggi. Penyakit ini telah terkenal sebagai penghancur tanaman jagung dengan tingkat kerusakan hingga 80%, bahkan bisa sampai gagal panen.

Periode pergantian musim, baik itu dari musim hujan ke musim kemarau ataupun sebaliknya, merupakan saat-saat yang disukai jamur P. maydis untuk berkembang biak. Meski begitu, bukan berarti di luar periode tersebut bisa terbebas sama sekali dari serangan penyakit ini. Bisa jadi di luar periode tersebut tetap ada tanaman jagung yang terserang meskipun intensitasnya sangat kecil. Namun, jika intensitas serangan yang boleh dibilang tidak merugikan itu tidak diantisipasi, maka bisa menjadi momentum serangan yang lebih besar. Pasalnya, tanaman yang terserang, meskipun jumlahnya sangat sedikit, akan menjadi sumber infeksi bagi tanaman yang ditanam periode berikutnya.

Sementara untuk busuk tongkol, penyakit ini juga sama-sama dipicu oleh ulah jamur. Ada beberapa macam jamur yang menjadi biang keroknya, tiga di antaranya adalah: Fusarium moniliforme, Giberella zeae, dan Diplodia maydis. Ketiga spesies jamur tersebut semuanya memberikan dampak buruk pada perkembangan tongkol, penurunan kualitas hasil panen, hingga kegagalan panen.

Untuk berkembang biak, jamur penyebab busuk tongkol itu sendiri umumnya menyukai lingkungan yang sejuk dan lembab. Kondisi lingkungan seperti itu umumnya kerap dijumpai di kawasan dataran tinggi.

Oleh karena itu, untuk mengatasi dua masalah utama tanaman jagung itu memang dibutuhkan langkah-langkah spesifik sesuai karakter penyakitnya masing-masing. Hanya saja, masalah bulai dan busuk tongkol tersebut bisa diatasi dengan satu cara yang lebih efektif, yaitu dengan menggunakan varietas yang memiliki ketahanan genetis yang bagus terhadap dua penyakit itu.

Terlebih varietas jagung tersebut memiliki dua gen ketahanan sekaligus, yaitu mampu menghadapi gempuran penyakit bulai di kawasan dataran rendah sekaligus tangguh mengatasi busuk tongkol yang banyak menyerang di kawasan dataran tinggi.

Varietas super hibrida BISI 18

Saat ini memang sudah begitu banyak varietas jagung hibrida yang dikenalkan kepada para petani dengan berbagai kelebihannya. Entah sudah berapa varietas yang telah dilepas ke pasaran, dan tentunya hanya akan ada beberapa varietas saja yang mam-pu bertahan dan menjadi pilihan favorit petani.

Seperti halnya petani jagung di Sumatera Utara, mulai dari kawasan dataran rendah hingga kawasan pegunungan memiliki kriteria sendiri terhadap varietas jagung yang hendak mereka tanam.

“Untuk petani di daerah bawah (dataran rendah-red.) seperti di Kabupaten Langkat dan Deli Serdang, selain menghendaki varietas yang memiliki hasil yang tinggi, mereka juga menginginkan varietas yang tahan bulai. Sedangkan petani di atas (dataran tinggi-red.) seperti di Tanah Karo, lebih menghendaki varietas jagung yang tahan busuk tongkol,” terang Senior Manager Corns Seed Market Development PT BISI International, Tbk., Doddy Wiratmoko.

Menurut Doddy, dua kriteria dari dua topografi berbeda tersebut kini sudah bisa dipenuhi sekaligus oleh satu varietas jagung hibrida, yaitu BISI 18. Kualitas dan kuantitas hasil varietas jagung terbaru dari PT BISI ini telah terbukti dan diakui banyak petani di Sumatera Utara “bagian bawah” dan bagian atas”.

Sionita Br. Ginting misalnya. Wanita tani sekaligus pengepul jagung dari Desa Sigara Gara, Kecamatan Patumbang, Kabupaten Deli Serdang ini mengaku sangat puas dengan hasil jagung BISI 18. Ia sendiri sudah dua kali berturut-turut menanamnya dengan hasil yang menurutnya sangat memuaskan.

Sionita Br Ginting-Kampong Karo-Ds Sigara Gara-Kec Patumbang-Kab Deli Serdang-Sumut“Hasilnya luar biasa. Jagungnya lebih berat dibanding yang lain. Biasanya saya nimbang dari satu karug itu 70 kilogram (gelondongan), tapi BISI 18 bisa dapat lebih dari 80 kilogram. Jadi selisihnya bisa 10 kilogram per karung,” ujar Sionita.

Yang lebih penting baginya adalah ketahanan BISI 18 terhadap serangan penyakit bulai. Menurutnya, lantaran lebih aman dari bulai, jagung hibrida tersebut kini lebih dipilih petani di daerahnya.

“Sekarang ini lebih banyak petani yang lebih memilih tanam BISI 18. Karena, sekarang ini musimnya jagung lain banyak yang terkena bulai, jadi banyak petani yang beralih ke BISI 18,” sambung Sionita.

Hal yang sama juga disampaikan Sudarwin, petani jagung di Desa Kuala Mencirim, Kecamatan Sei Binggei, Kabupaten Langkat. Menurutnya, selain lebih aman dari serangan penyakit bulai, jagung super hibrida BISI 18 yang ditanamnya juga memiliki postur tanaman yang sangat seragam dan lebih kokoh, sehingga tidak mudah roboh terkena angin.

Sudarwin-Ds Pasar 6-Kuala Mencirim-Kec Sei binggei-Langkat-Sumut“Bulainya nggak ada sama sekali. Batangnya rata tingginya, tongkolnya juga rata besarnya. Menurut saya, kalau kutengok, BISI 18 ini juga lebih tahan angin, soalnya yang lain kalau sedang bunga dan ada musim angin seperti sekarang ini tanamannya mudah putus (roboh-red.),” terang Sudarwin.

Sementara itu, Model Bangun, petani jagung di Desa Narigunung 2, Tigandreket, Tanah Karo, mengungkapkan, jagung BISI 18 di kawasan pegunungan yang ia tanam terbukti lebih aman dan tahan dari serangan busuk tongkol yang selalu menjadi masalah bagi petani di daerahnya.
“Dari awal tumbuh tanamannya bagus dan seragam. Hasilnya masih lebih baik dari jagung yang pernah saya tanam. Karena, BISI 18 ini lebih aman dari busuk tongkol dan busuk batang,” terang Bangun.

Bangun juga mengatakan, bahwa masalah busuk tongkol tidak bisa begitu saja disepelekan. Pasalnya, hal itu sangat mempengaruhi hasil dan kualitas panen. “Kalau sudah terkena busuk, sudah pasti tidak akan bisa dipanen dan juga tidak akan laku dijual,” terangnya.

Didimus Barus-Kampong Karo-Ds Sigara Gara-Kec Patumbak-Kab DeliSerdang-SumutHal itu juga dibenarkan Didimus Barus, pedagang pengepul jagung di Desa Sigara Gara, Kecamatan Patumbak, Deli Serdang. Menurutnya, tanaman jagung yang terserang busuk secara kualitas sudah tidak layak untuk dijual.

“Sebagai agen, saya juga tidak mau menerima jagung yang terkena busuk tongkol. Karena pasti tidak laku di pasaran. Pabrik pun juga pasti akan menolak,” terang Didimus.

Lantaran itu pula, Didimus Barus akhirnya juga lebih memilih untuk menanam sendiri BISI 18 di lahannya. Dan memang terbukti, tanamannya itu aman dari bulai sekaligus busuk batang dan busuk tongkol hingga masa panennya tiba.

“Dengan menanam BISI 18 jelas lebih menguntungkan. Karena, tidak ada yang busuk, aman dari bulai, dan hasil panennya juga lebih banyak, dari satu kilogram benih bisa dapat 600 kilogram pipil kering,” ujar Didimus.

panen-perdana-pt-bmh

Petani Binaan PT BMH – OKI Panen Perdana Jagung BISI-2

Petani dari Desa Srigading, Kecamatan Sungai Menang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), melakukan panen perdana jagung dua tongkol (BISI-2) seluas 130 hektar, Jumat (18/4/2014). Setelah dipenen diperoleh hasil 3,9 ton jagung untuk satu lahan seluas satu hektar.

Kebun jagung ini dikelola petani binaan PT Bumi Mekar Hijau (PT BMH),  yang bergerak di bidang Hutan Tanam Industri (HTI).

Gunawan, Manejer Distrik Sungai Gebang, PT BMH Desa Srigading mengatakan, panen jagung dua tongkol ini merupakan panen perdana kebun jagung binaan PT BMH. Perusahaan membina petani jagung dalam rangka meningkatkan taraf hidup petani di sekitar tempat usaha perusahaan.

“Ini merupakan program CRS dari PT BMH untuk masyarakat sekitar perusahaan, tujuanya untuk membantu perekonomian masyarakat, melalui program tanaman jagung sistem  tumpang sari,” kata gunawan.

Walaupun baru  panen perdana menurut Gunawan, sudah menghasilkan sebanyak 3,9 ton untuk per hektar.

“Sistem tumpang sari yang dilakukan ini, menunggu pohon akasia tumbuh besar, lahannya kita tanami tanaman sela yakni tanaman jagung BISI-2, pengelolaannya kita serahkan ke masyarakat sekitar, kita bantu pupuk, bibit, bahkan setelah panen kita bayar juga dalam membersihkan bekas lahan jagung tersebut,” ujar Gunawan.

Armaizal, dari manajemen PT BMH  menambahkan, untuk panen pedana ini hasilnya masih sedikit, pihaknya berharap kedepan hasilnya lebih banyak.

“Setelah ini akan dievaluasi, dan sesuai pendapat dari tim observasi dari UNSRI masih bisa dilakukan budidaya jagung  sebanyak  50 hektar lagi, ini tentu akan membantu pendapatan masyarakat sekitar,” jelasnya.

Menurut Ir Irfan dari Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sumsel, Pemprov Sumsel menyambut baik adanya program ini.

“Kami berharap dengan adanya program ini selain membantu perekonomian masyarakat, juga bisa membantu ketahanan pangan di Provinsi Sumatera Selatan, juga membantu produksi jagung di Sumsel,” ungkapnya

Sumber : http://palembang.tribunnews.com

ffd bisi222 lenangguar2

Petani Lenangguar-NTB Panen Perdana Jagung BISI 222

Lenangguar, Gaung NTB – Pemerintah Kecamatan Lenangguar bersama petani setempat yang dibantu PT BISI Internasional Tbk, menggelar panen perdana Jagung Bisi 222 di lokasi Buin Balit Dusun Rate, Desa Tatebal Kecamatan Lenangguar, Sabtu (5/4).

Panen perdana tersebut dihadiri Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, Ir Talifuddin M.Si, Kepala BP4K Sumbawa Tarunawan S.Sos, Camat Lenangguar, Tajuddin SH, dan Marketing Eksekutif FC NTB PT BISI Internasional Tbk, Tohri, serta dihadiri kepala desa se Kecamatan Lenangguar dan sejumlah kelompok tani setempat.

Dalam kesempatan itu Camat Lenangguar Tajuddin SH, mengatakan, panen perdana dan kerjasama dengan PT BISI ini berangkat dari niat ingin merubah masyarakat terutama petani dalam meningkatkan kesejahteraannya. Salah satu komoditi yang dapat mempercepat untuk terjadi perubahan itu adalah jagung.

Di beberapa wilayah di Kabupaten Sumbawa jelas Tajuddin, sudah mulai tanam jagung, dan salah satu yang membuatnya prihatin bahwa hampir setiap hari ada sekitar 50 truk melalui jalan Lenangguar membawa hasil pertanian dari kecamatan lain.

“Yang menjadi keprihatinan saya, mengapa hasil pertanian itu bukan berasal dari Kecamatan Lenangguar,” katanya.

Karenanya pada tahun pertama ini dia mulai melakukan terobosan baru dengan menambah aktifitas petani setempat dengan menanam jagung.

Berkat subdisi bibit gratis dari Disperta Sumbawa untuk 100 hektar, petani setempat berhasil menaman jagung, meski lokasinya masih sporadis, ada yang 2 hingga 5 hektar pada masing-masing kelompok tani, sehingga panen kali ini dinamakan panen perdana.

Namun untuk bulan yang sama pada tahun depan, Tajuddin memastikan akan menggelar panen raya, karena diyakini petani Lenangguar akan menanam jagung secara total.

Untuk diketahui sebut Tajuddin, kawasan Buin Balit Dusun Rate dan beberapa wilayah lain di Kecamatan Lenenangguar–di luar sawah irigasi, sangat bagus untuk ditanam jagung.

Pada sosialisasi awal, petani merasa pesimis untuk menanam jagung dengan alasan banyak babi dan monyet yang akan menjadi hama tanaman.

Namun ternyata di lokasi Buin Balet yang berdekatan dengan hutan, tidak ada babi atau monyet, karena ada teknis untuk mengusir hewan seperti yang pernah diterapkan di Kecamatan Labangka, yakni dengan memasang keroro dan jaring di sekitar pagar. “Apa yang dikhawatirkan oleh petani ternyata tidak terbukti,” imbuhnya.

Ke depan, Tajuddin berharap Disperta Sumbawa kembali memberikan bantuan bibit, bukan lagi untuk 100 hektar tetapi untuk 500 hektar khusus bagi petani di Kecamatan Lenangguar. “Saya yakin dengan panen perdana ini, menjadi awal yang baik bagi petani untuk menanam jagung,” ujarnya optimis.

Pada kesempatan itu, Tajuddin juga mengundang sejumlah petani jagung dari Labangka yang telah menjadi pengusaha jagung, yang nantinya akan membeli jagung petani Lenangguar. Selain itu juga didatangkan pengusaha yang akan membantu petani memberikan modal dan bibit kepada petani yang nantinya menanam jagung.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Sumbawa, Ir Talifudin M.Si, menyampaikan apresiasi kepada Camat Lenangguar dan petani yang telah menggelar panen perdana jagung di Kecamatan Lenangguar.

Sejak memberikan bibit untuk 100 hektar kepada petani Lenangguar melalui camatnya, Talifuddin sudah merasa yakin bahwa bibit itu tidak akan sia-sia. “Camat Lenangguar (Tajuddin) ini sudah membutikan keberhasilannya dalam mengajak petani untuk menanam jagung, seperti di Kecamatan Labangka maupun di Kecamatan Utan,” pujinya.

Selain itu Camat Lenangguar ini juga telah memiliki jaringan atau akses yang luas terhadap pengusaha jagung, sehingga petani tidak akan kesulitan untuk mendapatkan modal, bibit atau pemasaran.

Karenanya yang sudah dimulai oleh Camat Lenangguar ini dapat ditindaklanjuti secara serius oleh para petani setempat, sebab komoditi ini sangat menjanjikan untuk peningkatan kesejahteraan.
“Kalau beberapa tahun lalu, orang tua kita naik haji dengan ternak, maka sekarang ini sudah banyak petani yang naik haji karena jagung,” jelasnya.

Selaku dinas terkait, pihaknya akan memberikan dukungan kepada petani dalam mengembangkan jagung ini terutama pemberian bantuan bibit dan fasilitas pertanian.

Pada kesempatan yang sama, Marketing Eksekutif FC NTB PT BISI Internasional Tbk, Tohri, menyatakan perusahaannya siap menyediakan benih yang unggul bagi petani, apalagi
lahan di Lenangguar sangat bagus untuk menanam jagung.

“Jangan sampai lahan yang bagus ini dimanfaatkan oleh orang dari luar Lenangguar, maka petani di sini akan rugi,” katanya.

Apalagi sekarang ini kata Tohri, Camat Lenangguar sudah memulai, maka harus diteruskan oleh petani. Untuk diketahui lanjut Tohir, bahwa menanam jagung tidak susah, karena perawatannya tidak sulit. Mulai tanam cukup pemupukan 2 kali, sementara untuk pengairan cukup air hujan dan langsung menunggu panen. “Jagung tidak perlu dikawal, seperti tanaman holtikultura lainnya,” jelas Tohri. Untuk itu, PT BISI Internasioal siap memberikan bantuan baik bibit maupun tenaga teknis yang akan membantu petani.

Demikian juga dengan bibit, berapapun yang diperlukan oleh petani, PT BISI Internasional bersedia memberikannya. “Kami siap memberikan bantuan benih sebanyak yang dibutuhkan petani, demikian juga dengan petugas juga sudah disiapkan untuk membantu petani,” demikian Tohri.

Sumber : http://www.gaungntb.com (08/04/2014)

Benih Jagung Hibrida BISI

  Yahoo!
jagungbision Google+