All posts by jagung bisi

BISI Salurkan Beasiswa Bagi Mahasiswa

Pendidikan merupakan salah satu kunci utama kemajuan suatu bangsa. Melalui pendidikan, kualitas dan karakter sumber daya manusia akan terbentuk dan terbangun dengan baik sebagai ujung tombak sekaligus motor penggerak pembangunan di segala bidang.

Sebagai salah satu perusahaan agribisnis terkemuka di Indonesia, PT BISI International, Tbk. (BISI) juga memandang penting perlunya pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan. Oleh karena itu, mulai tahun ini, BISI memberikan beasiswa bagi mahasiswa perguruan tinggi yang terkategorikan kurang mampu dan memiliki prestasi akademis yang bagus.

Beasiswa tersebut disalurkan melalui Lembaga Karya Pokphand (LKP) yang merupakan lembaga bentukan PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk. (CPI) yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan yang terkait langsung dengan perusahaan-perusahaan di bawah naungan Charoen Pokphand Group. BISI sendiri adalah salah satu anak usaha CPI yang bergerak di bidang industri benih, pupuk, dan pestisida.

Sesuai dengan bidang yang digelutinya, maka beasiswa BISI tersebut diberikan kepada para mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Malang. Totalnya ada 20 mahasiswa dari jurusan Agribisnis dan Agroekoteknologi yang akan mendapatkan beasiswa tersebut.

beasiswa2

Kerjasama pemberian beasiswa ini tertuang dalam nota kesepakatan bersama (MoU) yang ditandatangani langsung oleh Ketua Umum LKP sekaligus Presiden Direktur CPI Thomas Effendy dengan Rektor UB Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS. di UB Guest House, komplek kampus Universitas Brawijaya, Malang (16/11).

Sebagai tindak lanjut MoU tersebut, Presiden Direktur BISI Jemmy Eka Putra bersama dengan Wakil Rektor III UB Prof. Dr. Ir. Arief Prajitno, MS. juga menandatangani perjanjian kerjasama beasiswa yang diberi nama Beasiswa Universitas Lembaga Karya Pokphand itu. Tampak hadir dalam acara tersebut, di antaranya adalah Direktur BISI Setiadi Setiokusumo, Sekretaris Umum LKP Suparman Sastrodimejo, Ketua Bidang Pendidikan LKP Andi Magdalena Siadari, Wakil Rektor IV UB Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, MS., dan Dekan Fakultas Pertanian UB Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani AR., MS.

beasiswa1

Menurut Sekretaris Umum LKP Suparman Sastrodimejo, beasiswa tersebut akan diberikan kepada para mahasiswa secara bertingkat dari semester 1 sampai semester 8. Tiap semester, mahasiswa terpilih dari Jurusan Agroekoteknologi masing-masing akan mendapatkan beasiswa sebesar Rp4,5 juta. Sementara bagi mahasiswa Jurusan Agribisnis masing-masing akan mendapatkan Rp4 juta/semester.

“Apabila mahasiswa yang mendapat beasiswa ini lulus di semester 8 atau tahun ke-4, maka beasiswanya akan diteruskan oleh mahasiswa lainnya di tahun pertama, demikian seterusnya. Sehingga diharapkan, beasiswa ini akan berlanjut terus-menerus,” terang Suparman.

Sementara Menurut Rektor UB Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS., pihaknya sangat mengapresiasi pemberian beasiswa dari BISI dan CP Group itu. Pasalnya, hal ini juga selaras dengan program yang sedang digencarkannya untuk menciptakan kampus UB yang berkualitas dan berbiaya murah.

“Kebetulan kita juga sedang mencari beasiswa dari berbagai sumber. Kami ingin memberikan kampus yang bagus dan berkualitas tapi biayanya murah. Salah satu caranya adalah dengan beasiswa dari para stakeholder ini,” ujar Bisri.

Lebih lanjut, Bisri mengatakan, hingga saat ini dari total 54 ribu mahasiswa UB, sekitar 20 ribu telah mendapatkan beasiswa dari berbagai institusi. “Salah satunya dari PT BISI dan Charoen Pokphand Group ini,” tambanya.

Menurut Bisri, Fakultas Pertanian UB, khususnya Agribisnis, merupakan jurusan favorit kedua setelah Kedokteran. “Jadi, Fakultas Pertanian kita ini sudah luar biasa sekarang. Kami berharap, dengan adanya kerjasama yang baik seperti ini kualitas mahasiswanya bisa semakin meningkat dan mampu bersaing saat sudah lulus nanti,” terangnya.

beasiswa3

Program Beasiswa Universitas LKP ini merupakan program yang baru dirintis tahun ini oleh CPI Group melalui LKP. Selain UB, terdapat sembilan universitas negeri lainnya yang juga menjadi mitra kerjasama, antara lain: Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajah Mada, Universitas Diponegoro, Universitas Soedirman, Universitas Airlangga, Universitas Udayana, Universitas Hasanudin, Universitas Lampung, dan Universitas Sumatera Utara. Totalnya ada 220 mahasiswa dengan nilai total beasiswa sebesar Rp952 juta/semester.

Sebelum LKP terbentuk di tahun 2003, Charoen Pokphand Group sudah melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan di bidang pendidikan berupa kegiatan anak asuh sejak tahun 1983. “Anak asuh kita mulai dari SD sampai perguruan tinggi. Hingga saat ini, sudah ada 3.500 anak asuh yang dibina CP Group,” ujar Suparman.

Selain pendidikan, kata Suparman, mulai tahun ini LKP juga menangani kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). “Alasan kami, PAUD sudah ada Dirjennya, tapi belum banyak perhatian dan pembiayaan secara intensif dari pemerintah. Untuk itu kami membuat program bedah 100 PAUD,” terangnya.

LKP sedniri juga berkiprah membantu masyarakat yang ada di sekitar unit kerja Charoen Pokphand Group. “Di seluruh Indonesia ada 198 unit kerja CP Group. Kami membina masyarakat sekitar sesuai kebutuhan mereka masing-masing,” jelas Suparman.

 

iklan-aplikasi

BISI Semakin Melambung

Pergerakan saham PT Bisi International Tbk. diperkirakan berbanding lurus dengan kinerja perusahaan yang terus menanjak. Sejauh mana harga saham emiten berkode BISI ini dapat membumbung?

Pada penutupan perdagangan kemarin, harga saham BISI turun 50 poin atau 2,51% menuju Rp1.940. Artinya, sepanjang tahun berjalan 2016, harga saham BISI sudah meningkat 43,7%.

Dalam setahun terakhir, harga saham perusahaan milik Sumet Jiaravanon, orang ketujuh terkaya di Thailand versi Forbes 2016, ini mencapai puncaknya pada 18 Oktober 2016 sebesar Rp2.010. Sementara itu, titik terendah di posisi Rp1.250 pada 3 Februari 2016.

Ranumnya pergerakan saham BISI berbanding lurus dengan kinerja perseroan. Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2016, emiten ini mengantongi penjualan Rp1,91 triliun, naik 19,67% dari kuartal III/2015 sebesar Rp995,38 miliar.

Penjualan benih jagung sebesar Rp484,99 miliar menjadi kontributor utama terhadap penjualan 40,71%, disusul oleh produk pestisida dan pupuk senilai Rp482,67 miliar atau 40,52%.

Kemudian benih sayuran dan buah mencatatkan hasil Rp192,6 miliar atau 16,16% dari total penjualan, benih padi Rp26,11 miliar atau 2,19%, serta produk lain-lain Rp4,86 miliar atau 0,4%.

Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga meningkat 24,26% menuju Rp233,23 miliar dari sebelumnya Rp187,68 miiliar. Laba per saham tumbuh ke Rp78 dibandingkan kuartal III/2015 senilai Rp63.

Menurut Christine Natasya, analis Daewoo Securities Indonesia, dalam publikasi risetnya yang dirilis pada medio Oktober, ada empat faktor yang membuat BISI menarik perhatian investor.

Faktor tersebut ialah dominasi perusahaan dalam pasar jagung nasional, kebijakan pemerintah yang menguntungkan, intervensi Bulog untuk menjaga harga dasar jagung, dan masih rendahnya konsumsi ayam domestik.

BISI menguasai 48% pangsa pasar benih jagung hibrida dalam negeri pada 2015, naik dari tahun sebelumnya sekitar 43%. Dominasi perusahaan masih kokoh meskipun pesaing internasional seperti Pioneer (Dupont), Monsanto, dan Syngenta.

bisimelambung

Peluang menaikkan penjualan juga semakin terbuka karena adanya potensi perluasan perkebunan jagung di Tanah Air.  Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), perkebunan jagung sebesar 3,7 juta hektare merupakan tanaman pertanian kedua terluas di Indonesia setelah padi sekitar 14 juta hektare.

Di sisi lain, jagung memiliki keunggulan yang cenderung tahan di wilayah dengan air minim dibandingkan tanaman lainnya seperti padi dan kedelai. Tumbuhan ini juga menjadi pilihan petani untuk menggantikan beras sebagai makanan pokok masyarakat.

“Mengingat benih jagung memiliki margin kotor yang lebih tinggi bagi perusahaan, kami percaya BISI akan memperbesar penjualan dari segmen ini,” ujar Christine.

DIUNTUNGKAN

Dia menyampaikan kinerja BISI juga bakal terdongkrak kebijakan pemerintah untuk menyediakan benih dan pupuk dengan metode penunjukan langsung.

Beleid yang diatur dalam Peraturan Presiden ini lahir setelah karena kasus korupsi benih yang menimpa PT Sang Hyang Seri (SHS).

Adanya kebijakan baru dari pemerintah itu dapat bermanfaat bagi BISI karena reputasinya yang terbilang baik. Perusahaan juga memiliki fasilitas pengolahan yang memungkinkan produksi biji jagung hibrida sebesar 40.000 ton per tahun.

Angin segar dari kebijakan pemerintah juga datang dari program ketahanan pangan yang dicanangkan Presiden Joko Widodo, yakni ihwal pengurangan impor pertanian, yang salah satunya adalah jagung. Presiden menyatakan Indonesia adalah negara agraris sehingga memiliki potensi luar biasa untuk memproduksi makanan dari hasil tani sendiri.

Daewoo percaya kuota impor benih jagung mulai dikurangi menjadi 2,2 juta ton pada 2014, dari tahun sebelumnya sebanyak 3,4 juta ton.

Produsen benih jagung dalam negeri tentunya diuntungkan dengan kondisi tersebut, apalagi pemerintah menargetkan menghentikan impor jagung pada 2017.

Kementerian Pertanian juga sudah mempeluas peran Bulog sebagai stabilisator harga pangan. Bulog diharapkan menyerap minimal 1 juta ton jagung per tahun, dari produksi nasional yang diprediksi mencapai 2,2 juta ton pada 2016.

Sekitar 80% produksi jagung nasional digunakan untuk pakan ternak. Selain itu, impor jagung yang digunakan untuk pakan ternak juga dibuat satu pintu melalui Perum tersebut.

Beberapa waktu lalu, Tjiu Thomas Effendy, Komisaris Utama Bisi International sekaligus Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Tbk., (CPIN), menyampaikan kebijakan pembatasan impor jagung melalui Bulog memberikan keuntungan bagi BISI dalam memacu pendapatan. Adanya program swasembada ini dapat membuat permintaan bibit jagung semakin meningkat.

Kinerja BISI maupun CPIN berpotensi terus bertumbuh karena masih rendahnya konsumsi ayam domestik. Berdasarkan catatan Daewoo, pada 2015 konsumsi ayam per kapita di Tanah Air hanya sebesar 6,3 kg per kapita.

Angka ini masih jauh dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia yang mencapai 54 kg per kapita. “Rendahnya konsumsi menunjukkan banyaknya ruang untuk pertumbuhan,” papar Christine.

Dalam publikasi riset lainnya, Inav Chandra, analis OCBC Sekuritas, memperkirakan laba bersih BISI pada tahun ini dapat tumbuh 47% secara tahunan menjadi Rp388 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan 2015, perusahaan mengantongi laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp263,95 miliar.

Peningkatan pendapatan terutama ditopang pertumbuhan penjualan benih jagung menjadi 47% dari 2015 sekitar 42%. Adapun faktor eksternal yang mendukung kinerja perseroan ialah menanjaknya pertumbuhan ekonomi nasional, kebijakan-kebijakan yang positif dari pemerintah, dan depresiasi dolar AS.

Sementara itu, lanjut Inav, ada tiga faktor yang dapat menekan pendapatan BISI, yaitu penguatan dolar AS, rendahnya harga di dalam negeri akibat kebijakan yang tidak menguntungkan, dan kendala cuaca terhadap proses perkebunan.

OCBC memberikan rekomendasi beli terhadap saham BISI dengan target harga Rp2.600. Sementara itu dalam konsensus Bloomberg, dua analis merekomendasikan beli dengan target harga Rp2.300, sedangkan satu analis memberikan saran hold.

Sumber : http://koran.bisnis.com (04/11/2016)

500 hektar BISI-18 ditanam serentak di Kabupaten Paser Kaltim

Desa Karang Dayu, Kecamatan Batu Engau, Kabupaten Paser, Propinsi Kalimantan Timur menjadi lokasi pencanangan penanaman jagung secara serentak di Kalimantan Timur pada musim ini.  Sasaran penanaman jagung hibrida serentak di kabupaten Paser mencapai 1.000 hektar. Dan seluas 500 hektar menggunakan Jagung Super Hibrida BISI 18.

Pencanangan Gerakan Menanam Jagung Kaltim 2016 ini dipimpin langsung oleh Gubernur Kalimantan Timur,  Awang Faroek Ishak pada hari Selasa tanggal 8 Nopember 2016. Gubernur  mengawali dengan menanam benih jagung Super Hibrida BISI-18 pada lubang tanam yang sudah disediakan.

gubkaltim-2

Gubernur meyakini kegiatan pertanian tanaman pangan mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan Kaltim pada daerah lain untuk memenuhi kebutuhan komoditas pangan daerah termasuk komoditas jagung.

“Ayo kita galakkan dan sukseskan komoditas jagung, sehingga Kaltim mampu berswasembada  sekaligus berkontribusi untuk ketahanan pangan nasional,” seru Awang kepada masyarakat yang hadir.

Kepala Dinas Pertanian Kaltim H Ibrahim, menyatakan bahwa  selain di Kabupaten Paser, penanaman jagung  juga dilaksanakan di Kabupaten Berau, Penajam Paser Utara, Kutai Kartanegara serta di beberapa kabupaten lainnya dengan luas areal penanaman secara keseluruhan lebih 5.000 hektare.

gubkaltim-3

Pada pencanangan penanaman jagung ini, Gubernur Kaltim juga menyerahkan benih jagung super hibrida BISI-18 kepada petani dan menyerahkan tiga unit traktor untuk pengolahan tanah.

Haryo Pratikno, Marketing PT. BISI International wilayah Kalimantan menyatakan, “Kabupaten Paser adalah area potensial, kita dukung secara total mulai sektor penyediaan benih sampai mencarikan pasar ke pabrik pakan, langkah ini sdh kita mulai dari 2014”.

Ditambahkan oleh Haryo bahwa ini merupakan area pengembangan tanaman jagung, sebanyak 80% dari luasan tersebut baru menanam jagung, selebihnya sudah terbiasa menanam jagung super hibrida BISI-222 dan BISI-18. “Petani memilih benih jagung BISI karena hasil tinggi, kualitas baik dan mudah menjual hasilnya ke pengepul maupun pabrik dibanding varietas lain.” ungkapnya.

gubkaltim-1

Diharapkan oleh Haryo, “Dengan jaminan pasar yang baik dan terus meningkat jumlahnya akan semakin banyak petani  tertarik menanam jagung BISI, bila hasil panenan terserap maka antusiasme petani akan terus meningkat utk tanam jagung dan tentunya dapat meningkatkan kesejahteraan petani.”

Foto : Marketing Wilayah Kalimantan

 

iklan-aplikasi

Rekor Muri Tertinggi, Menara Jagung BISI-18

Minggu, 30 Oktober 2016, secara resmi Menara Jagung BISI-18 di Boyolali tercatat dalam rekor Muri menjadi yang Tertinggi di Indonesia.

Menara Jagung BISI-18 yang dibangun dalam rangka menyemarakkan Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 36 di Boyolali ini diprakarsai oleh Bupati Boyolali, dan pengerjaannya dilaksanakan oleh Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BK3P) Boyolali dan PT. BISI International Tbk.

Sebanyak sekitar 16 ribu tongkol jagung atau setara 6 ton, yang dibutuhkan untuk membangun menara setinggi 15 meter dan diameter 3 meter tersebut.  Seluruh tongkol jagung yang digunakan untuk membangun menara  tersebut adalah berjenis jagung BISI-18.

menarajagungmuri2

Selain Menara Jagung BISI-18 tertinggi, rekor Muri juga mencatatkan Boyolali sebagai pembuat menu masakan olahan jagung terbanyak  di Indonesia, yaitu sebanyak 301 jenis masakan. Jenis masakan berbahan jagung itu antara lain oseng, sop matahari, puding, ketan jagung, capcai, omelet, berondong, cilok, es teler, bubur, kue tar, timlo, mutiara, dan lain lain.

olahan-jagung

Penghargaan dua rekor MURI tersebut, diserahkan langsung oleh Sri Widayati, perwakilan MURI kepada Wakil Bupati (Wabup) Boyolali, M Said Hidayat, Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BK3P) Boyolali, Juwaris, Regional Manager Wilayah Tengah PT. BISI International Tbk, Tejo Iswoyo serta sejumlah pihak pendukung lainnya.

Menurut, Sri Widayati, dua rekor tersebut tercatat di MURI pada nomor rekor 7.688 dan 7.689. “Menara jagung dan masakan olahan jagung di Boyolali menjadi yang tertinggi dan terbanyak di Indonesia,” lanjut  Sri Widayati .

menarajagungmuri3

Khusnul Imtihan, Manajer Area PT BISI Intenational tbk. Jawa Tengah-DIY, mengatakan akan terus mendukung program pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan, khususnya jagung. Menurut Khusnul, benih jagung produksi PT BISI hingga saat ini masih menjadi yang terdepan dan diminati para petani, khususnya varietas BISI 18 dan BISI 2. “Dua varietas ini dapat julukan raja dan ratunya jagung sebab sampai saat ini sangat digemari petani,” paparnya.

Foto-foto : Team Marketing Jawa Tengah

 

aplikasi-pertanian-bisi

Heboh, Menara Jagung BISI-18 Akan Pecahkan Rekor Muri

Berdirinya menara jagung BISI-18 setinggi 15 meter dan berdiameter 3 meter pada acara Hari Pangan Sedunia ke-36 yang berpusat di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada Jumat, 28 Oktober 2016, betul-betul membuat Heboh masyarakat Boyolali.

menarajagung1

Menara ini disusun dari tongkol jagung asli, dengan menggunakan jagung Hibrida BISI-18. Khusnul Imtihan, Area Manager Jawa Tengah PT BISI International menjelaskan, untuk membentuk menara ini dibutuhkan tongkol jagung sekita 16 ribu tongkol atau setara dengan 5-6 ton jagung gelondong. Membutuhkan waktu sekitar 2-3 hari untuk menyusunnya hingga merata.

menarajagung6

menarajagung5

Tujuan mendirikan menara jagung ini menurut Khusnul, selain untuk mengenalkan varietas jagung BISI-18 pada masyarakat, juga untuk mencoba memecahkan rekor Muri untuk kategori menara jagung.

Masyarakat berjubel untuk melihat menara jagung BISI-18  tertinggi ini, berfoto selfie menjadi kegiatan yang tidak putus putusnya di depan menara ini. “Setiap pagi sampe sore masyarakat antusias selfie di depan menara” kata Ruli Ramadhani, Market Development Area Jawa Tengah PT BISI International. Tukang foto berbayar pun laku keras, meskipun harga sekali foto ukuran besar adalah Rp. 50.000,- ujarnya.

menarajagung2

menarajagung4

Menteri Pertanian, Amran mengaku takjub dan memamerkannya kepada tamu dari Food and Agriculture Organization (FAO). “Saya tunjukkan kepada beliau, inilah produksi Indonesia, beliau tertawa,” kata Amran. Diapun berharap bahwa hasil pertanian di Indonesia akan semakin melimpah sehingga tidak pernah kekurangan pangan.

menarajagung3

“Saya lihat jagung tertinggi ini hanya ada satu di dunia. Dan itu hanya ada di wilayah Pak Gubernur Ganjar Pranowo dan Pemkab Boyolali,” kata Amran saat membuka acara.

Rencananya Muri akan memverifikasi dan mencatatkan pada Rekor hari Minggu, tanggal 30 Oktober 2016.

Foto-foto : Team Marketing Jawa Tengah

 

aplikasi-pertanian-bisi

 

Hati-hatiI!! Jagung Ini Serba ‘AMOH’

Baru dan memberikan kesan berbeda di benak petani. Itulah BISI 226, jagung super hibrida terbaru dari PT BISI International, Tbk.. Varietas ini memang baru dikenal petani, namun performanya membuat banyak petani penanamnya tertegun. Hingga petani di Tegal menjulukinya sebagai “jagung serba amoh”.

Serba ‘amoh’. Itulah yang diucapkan Sucipto, salah seorang petani penanam jagung BISI 226 di Desa Dermasuci, Kecamatan Pangkah, Tegal, Jawa Tengah. Ungkapan itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, jagung super hibrida baru ini mampu menunjukkan performa yang meyakinkan petani jagung sepertinya. Hingga lahirlah istilah ‘jagung serba amoh’.

Amoh, dalam bahasa sehari-hari orang Tegal artinya mudah. Sehingga kalau para petani menyebut BISI 226 sebagai jagung yang serba amoh, maka artinya BISI 226 adalah jagung yang serba mudah.

“Pertumbuhane bagus, perawatane mudah, panennya mudah, pipilane mudah. Pokoknya (BISI) 226 serba amoh,” ujar Cipto saat ditemui Abdi Tani di rumahnya.

Menurut Cipto, ‘keamohan’ jagung hibrida satu ini yang paling disukai olehnya dan juga petani jagung lain di daerahnya adalah amoh pipilane atau mudah pemipilan bijinya. Pasalnya, dengan biji yang mudah dipipil, selain bisa menghemat tenaga kerja, kualitas biji jagung hasil panennya juga lebih bagus karena lebih bersih, tidak ada kotoran dari janggel yang biasanya tersertakan saat dipipil.

“Kalau di sini, kebanyakan hasil panen dipipil sendiri pakai tangan. Karena lahannya jauh di pegunungan, sulit dijangkau mesin pemipil. Jadi kalau pipilannya mudah seperti BISI 226 ini tentu sangat memudahkan petani,” terang Cipto.

Sementara menurut Warso, petani jagung lain di Pangkah yang juga menanam BISI 226, selain amoh, jagung super hibrida baru ini juga memiliki produktivitas yang tinggi. “Kemarin saya tanam 5 kilogram benih dapat 2,5 ton pipil. Tumben-tumbene bisa dapat sebanyak itu, biasanya hanya dapat 1 ton,” ujarnya.

Tongkol besar, tahan hama penyakit

Bagi kebanyakan petani jagung, performa tanaman dan besarnya tongkol masih menjadi acuan utama bagi mereka dalam menentukan pilihan. Karena, dua parameter itu memang menjadi faktor penentu tinggginya hasil yang bisa didapatkan petani. Lantaran alasan itu pula BISI 226 langsung menjadi pilihan petani.

 

Sukarso, petani sekaligus pedagang jagung di Desa Joho, Kecamatan Bawang, Banjarnegara, Jawa Tengah mengatakan, pertumbuhan BISI 226 mulai tampak luar biasa setelah dilakukan pemupukan susulan kedua (umur sekitar 30 hst). “Awal pertumbuhannya itu biasa saja, tapi setelah pupuk kedua langsung kelihatan bagusnya. Luar biasa tumbuhnya. Tanamannya sangat seragam, batangnya besar, kokoh, dan daunnya hijau subur. Nyenengaken (menyenangkan-red.),” jelasnya.

Selain itu, lanjut Karso, jagung super hibrida satu ini juga memiliki karakter tongkol yang besar dan panjang, sehingga wajar kalau bobot hasil panennya pun juga tinggi. “Tongkole ageng-ageng tur panjang. Bobote sae (Tongkolnya besar-besar dan panjang. Bobotnya bagus-red.),” terangnya.

Hal itu juga dibenarkan Wawan, petani sekaligus pemilik kios asal Desa Blambangan, Kecamatan Bawang, Banjarnegara. Menurutnya, petani jagung di daerahnya mulai beralih ke BISI 226 lantaran ukuran tongkolnya yang besar.

“Kalau di sini, petani lebih suka jagung yang tongkolnya lebih besar. Kalau besar kan hasilnya pasti banyak, itu yang ada di pikiran petani jagung di sini,” ujar Wawan.

Di samping itu, lanjut Wawan, petani lebih memilih BISI 226 juga karena varietas ini memiliki keunggulan yang tidak dimiliki varietas lain yang selama ini dipakai petani setempat. “(BISI) 226 sangat tahan bulai. Yang selain jagung BISI sudah tidak kuat ditanam di sini, hancur karena bulai,” katanya.

Hadiyono, petani jagung lain di Desa Blambangan juga membenarkan hal itu. “Tanamannya memang terbukti tahan bulai. Yang lainnya sudah banyak yang habis karena terserang bulai, BISI 226 di lahan saya masih aman-aman saja,” terangnya.

Selain tahan bulai, jagung ini juga tahan serangan busuk batang. “Biasanya serangan busuk batang itu muncul saat tanaman mulai berbunga. Dari yang saya tanam kemarin semuanya aman dari busuk batang,” kata Hadiyono.

Sementara menurut Karso, jagung BISI 226 juga aman dari serangan wereng yang banyak menyerang di musim kering atau istilah petani setempat musim garingan. “Kata petani di sini, jagung produksi BISI itu, termasuk BISI 226 ini, kebal dari segala hama penyakit. Wereng dan bulai aman. Makanya jagung ini bisa langsung disenangi di sini,” terangnya.

Tahan simpan

Petani jagung di kawasan pegunungan dengan lahan yang letaknya jauh dari akses jalan seperti Cipto, daya simpan menjadi pertimbangan lain yang selalu dicermati petani. Bagaimana tidak, setelah dipanen dari lahan, hasil panen tidak bisa langsung dibawa ke rumah atau ke tempat pengepul jagung. Jagung yang telah dipanen akan ‘transit’ dulu di tempat penampungan sementara di dekat lahan.

“Penyimpanan di lahan bisa sampai 2 atau 3 bulan. Hasil panen baru diambil saat mau tanam musim berikutnya secara bertahap dengan menggunakan ojek motor,” terang Cipto.

Lantaran menggunakan ‘ojek motor’ itulah pengambilan hasil panen di lahan tidak bisa serta merta dilakukan dalam satu waktu sekaligus. Karena ongkos ojeknya juga cukup mahal. “Rp30 ribu sekali jalan dan hanya mampu membawa sekarung atau sekitar 50 kilogram,” terang Sunaryo, petani jagung di Desa Dermasuci, Pangkah, Tegal.

Menurut Sunaryo, daya simpan BISI 226 lebih bagus dibanding jagung selain produknya PT BISI. Dengan waktu simpan yang cukup lama di penampungan, kondisi biji jagung saat hendak dijual masih tetap bagus.

“Kualitasnya tetap bagus, tidak jamuran. Menurut saya karena kadar air BISI 226 lebih rendah dari yang lain sehingga bisa tetap bagus saat disimpan,” ucap Sunaryo.

Hal itu juga dibenarkan Karso yang juga merupakan pedagang pengepul jagung. Menurutnya, kadar air jagung yang memiliki potensi produksi hingga 15 ton/ha pipil tersebut memang lebih rendah, sehingga selain kualitasnya tetap bagus, saat dijemur untuk pengeringan, susutnya tidak banyak.

“Dari setelah panen hingga siap jual, paling susutnya maksimal 10% saja. Bijinya juga bersih tidak mudah jamuren. Pengalaman saya kemarin, dari 3 kilogram benih bisa dapat 32 karung atau sekitar 27 kuintal gelondong. Setelah dipipil dan dikeringkan, bisa dapat sekitar 19 kuintal pipil kering siap jual, ” ujar Karso saat ditemui Abdi Tani di rumahnya.

Sumber : Majalah Abdi Tani (Oktober 2016)

aplikasi-pertanian-bisi

BISI-226, Mengagumkan Sejak Awal

Lampung merupakan salah satu lumbung jagung nasional. Dari provinsi paling selatan Pulau Sumatera ini, jagung telah menjadi salah satu komoditas favorit yang menjadi tumpuan pendapatan para petani. Tidak heran jika banyak varietas jagung yang beredar di provinsi ini. Lantas, seperti apa jagung superhibrida BISI 226 mencoba masuk dan meramaikan pasar jagung di Lampung?

BISI 226 merupakan nama baru di pasaran jagung hibrida. Varietas terbaru dari PT BISI International, Tbk. (BISI) ini hadir di tengah-tengah ramainya pasar benih jagung dalam negeri. Tidak ketinggalan pula di Lampung. Di provinsi ini, BISI 226 mencoba untuk eksis dengan bekal keunggulan yang dimilikinya.

Di Lampung sendiri, petani jagung seakan dimanjakan oleh banyaknya varietas dari berbagai produsen benih yang dipasarkan. Semua membawa kelebihannya masing-masing. Mulai dari harga, produktivitas, hingga ketahanan terhadap penyakit menjadi parameter utama yang kerap dijadikan tolak ukur dipilihnya suatu varietas oleh para petani. Varietas yang memiliki daya saing dan stabilitas dari parameter utama itulah yang bisa dipastikan akan lebih cepat berkembang dan lebih mudah diterima pasar.

Jagung super hibrida BISI 226 yang dalam setahun terakhir dikenalkan di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), khususnya Lampung, seakan menjadi warna baru dunia perjagungan di kawasan ini. Menyitir ungkapan petani yang sudah menanamnya, yakni Aidi Prayoga dari Desa Sri Mulyo, Kecamatan Anak Ratu Aji, Kabupaten Lampung Tengah, satu kalimat yang tepat untuk mengomentari BISI 226 adalah “mengagumkan sejak awal”. Ungkapan itu terasa sangat cocok. Karena, ketangguhan BISI 226 diawali sejak jagung ini tumbuh pertama kalinya. Tarikan awal yang menyenangkan.

Bagaimana tidak, dari keseragaman pertumbuhan awal, batang dan daun yang hijau gelap pasti akan membuat siapapun yang tanam BISI 226 akan kesengsem dan terpikat pada varietas ini. Karena di tingkat petani, yang dirasakan adalah apabila tanaman sejak awal pertumbuhan sudah seperti ini, maka semangat untuk berbudidaya atau merawat tanaman lebih lanjut akan semakin tinggi. Sehingga tanamannya akan terus terawat dengan baik sampai masa panen tiba.

Tahan bulai

Bulai bagi petani jagung merupakan momok yang paling menakutkan. Karena, pengaruh terhadap produksi yang luar biasa, dan bahkan mampu mengakibatkan kegagalan panen dari serangan yang ditimbulkannya. Semua jagung berkemungkinan terkena serangan penyakit ini, namun setiap varietas memiliki ketahanan yang berbeda terhadapnya.

Kalau dilihat dari penyebabnya, bulai pada tanaman jagung disebabkan oleh jamur Peronosclerospora maydis. Sehingga serangannya sangat cepat, karena penyebaranya dengan spora yang menyerupai benang. Kalau dilihat dari sifatnya, penyebaran bulai dipicu oleh faktor kelembaban yang tinggi. Maksudnya, kadar uap air di dalam udara tinggi sementara sinar matahari cukup panas.

Kondisi seperti itu biasanya terjadi pada musim tanam kedua, dimana hujan masih cukup banyak akan tetapi panas matahari juga sudah mulai terik karena sudah masuk musim kemarau. Saat seperti inilah, yang mendorong pertumbuhan jamur bulai mengalami peningkatan, sehingga dampaknya pada tanaman jagung luar biasa, apalagi bagi varietas yang kurang tahan terhadapnya.

Dalam kondisi seperti itu, varietas BISI 226 menunjukan superioritasnya sebagai jagung yang tahan serangan penyakit bulai. Hal ini terbukti dari hasil trial di sejumlah lokasi di belahan Sumatera Bagian Selatan, tidak ada yang terserang, apalagi sampai gagal panen.

Supriyono, Ketua Gapoktan Desa Srimulyo, Kecamatan Anak Ratu Aji, Kabupaten Lampung Tengah, menjadi salah satu yang telah membuktikannya. “Tanam BISI 226 dipastikan akan nyaman, karena kekhawatiran kegagalan akibat bulai menjadi semain kecil bahkan tidak ada. Setidaknya hal ini menjadi sebuah modal dasar yang baik dalam berbudidaya jagung,” ujarnya.

Juga Aman dari Busuk Pangkal Batang

Di Lampung, penyakit busuk pangkal batang ini disebut juga sebagai mati bujang atau mati gadis. Bagi petani jagung, penyakit ini cukup menghawatirkan, karena serangan yang ditimbulkannya bisa mencapai 10-20%. Gejala awal serangannya bisa dillihat saat tanaman berumur 60-75 HST. Pada umur tersebut, tanaman jagung masih tampak hijau karena fase penyerbukan telah selesai dan beralih pada fase pengisian biji. Pada saat inilah biasanya di antara hamparan tanaman jagung yang menghijau tersebut muncul beberapa tanaman yang tiba-tiba mengering.

Tanaman yang kering itulah yang terkena serangan busuk pangkal batang atau mati gadis. Penyebabnya adalah bakteri. Hal ini ditandai dengan kondisi batang tanaman tersebut yang berair dan berbau busuk yang cukup menyengat. Karena penyebabnya adalah bakteri, maka tanaman yang terserang tersebut harus segera dicabut dan dibakar untuk memutus perkembangan serangan bakteri tersebut.

Lantas, bagaimana dengan BISI 226? Jagung super hibrida terbaru ini ternyata juga terbukti aman dari serangan ‘mati gadis’ tersebut. Dengan kelebihan ini, maka bisa dipastikan jagung BISI 226 bisa lebih memuaskan petani dengan jaminan hasil yang lebih baik dan aman dari penyakit.

Produksinya stabil tinggi

Aidi Prayoga, petani penanam BISI 226 di Desa Sri Mulyo, Kecamatan Anak Ratu Aji, Kabupaten Lampung Tengah, dalam Panen Raya BISI 226 dilahannya (23/7),  mengatakan setiap jagung memiliki harga yang berbeda. Bagaimanapun jagung yang berkualitas dengan kadar air yang rendah pada saat panen,  harganya pasti lebih baik. Karena tidak mudah terkontaminasi toksin meskipun penanganan pascapanennya kurang optimal. Dan varietas itu adalah jagung produksi BISI.

aidi-prayoga-dengan-bisi-226-saat-ffd-23-juli-2016

“Pada beberapa tahun terakhir ini, petani kita banyak pakai varietas lain. Tapi di tiga musim terakhir saya membuktikan sendiri, setiap kali mengirim jagung ke pabrik pakan belum pernah mengalami tolakan karena saya menanam jagung BISI. Ini adalah sejarah baru bagi saya dalam mengirim jagung ke pabrik. Dan selama dua musim belakangan ini, saya menggunaan BISI 226,” ujar Aidi.

Disamping itu, kata Aidi, BISI 226 sangat mudah dipanen, tidak ulet.  Sehingga tukang panen tidak akan menunda jadwal panen. Biaya panennya pun juga pasti lebih murah. “Saya sangat puas dengan penanaman BISI 226. Yang jelas, BISI datang, petani jaya,” imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Yudiman, petani penanam BISI 226 yang telah dipanen pada Pebruari 2016 lalu, di Desa Donoarum, Kecamatan Seputih Agung, Kabupaten Lampung Tengah. “Panen BISI 226 sangat mudah. Sehingga kita tidak kesulitan lagi mencari tukang panen saat panen raya jagung,” terang Yudiman.

Yudiman juga mengakui tingginya produksi jagung ini. “Saat percobaan awal dulu, saya hanya tanam 5 kg benih, dan rata-rata menghasilkan 500 kg jagung pipil per 1 kg benihnya. Dan untuk di kawasan kami jagung dengan hasil produksi sebesar ini, dimusim tanam kedua, termasuk sangat tinggi,” paparnya.

Pengalaman yang dialami langsung oleh para petani jagung di salah satu lumbung jagung nasional itu menunjukkan bahwa BISI 226 merupakan jagung super, memiliki stabilitas produksi yang tinggi di berbagai lokasi di Lampung. Superioritasnya sudah terlihat sejak dalam penanaman awal, tahan bulai, tahan mati gadis, panen mudah, tidak ulet saat panen, dan produksi tinggi. Dengan keunggulan komparatif ini, BISI 226 bisa menjadi salah satu pilihan utama bagi petani jagung di Sumbagsel khususnya dan di Indonesia pada umumnya. (Ditulis oleh M. Haris Sukamto, Market Development Field Crop Division Sumbagsel).

team-marketing-lampung-saat-lounching-bisi-226-pertengahan-2015-lalu

Sumber : Majalah Abdi Tani (Oktober 2016)

aplikasi-pertanian-bisi

BISI-226 Yang Mapan Saat Petik Muda

Kebanyakan jagung pakan akan selalu dipanen saat sudah tua. Namun, tidak jarang pula jagung ini dipetik muda untuk dijadikan jagung bakar atau rebus layaknya jagung manis. Salah satunya adalah jagung super hibrida BISI 226 yang memiliki rasa manis, sehingga ‘mapan’ alias bagus untuk dipanen muda.

Tanamannya tinggi, berbatang besar dan kokoh, serta daunnya hijau subur. Pun dengan tongkolnya, tampak besar dan sangat seragam. Itulah performa tanaman jagung super hibrida BISI 226 milik Syafiudin yang tengah dipanen muda untuk memenuhi permintaan pasar jagung muda di sekitaran Probolinggo.

“Yang dipanen sekarang ini berumur 70 hari,” ujar Syafi, panggilan akrab petani jagung asal Desa Klenang Kidul, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur ini.

Bagi petani jagung di Probolinggo, panen muda sudah menjadi alternatif bagi mereka dalam usaha tani komoditas utama bahan baku ternak ini. “Sekarang ini harga jagung pipil kering agak murah, jadi saya jual muda untuk sayur,” terang Syafi.

Dalam setahun, petani jagung seperti Syafi ini rata-rata menanam jagung sebanyak tiga kali. Kecuali, kalau dipanen muda, bisa sampai empat kali setahun. “Kalau ada yang panen muda bisa tanam empat kali jagung terus menerus dalam setahun,” ucapnya.

syafiudin-desa-klenang-kidul-kecamatan-banyuanyar-kabupaten-probolinggo-11

Menurut Syafi, untuk panen muda, tidak diperlukan syarat khusus. Yang penting tanamannya bagus, tongkolnya besar, dan tidak mudah terkena serangan hama penyakit.

“Seperti jagung (BISI) 226 ini. Meskipun saya masih baru dua kalinya tanam, ternyata tanamannya juga bagus untuk dipanen muda,” terang Syafi.

Keunggulan BISI 226 untuk dipetik muda adalah performa tanamannya yang kuat dan tidak mudah terserang penyakit. Menurut Syafi, di awal pertumbuhan, tanaman jagung produksi PT BISI International, Tbk. ini terbukti lebih kuat dari serangan penyakit bulai. Tanamannya juga lebih besar, kuat, dan kokoh.

“Kalau tanamannya besar dan kuat seperti ini, maka tongkol yang dihasilkan juga bisa besar-besar,” kata Syafi saat ditemui Abdi Tani di lahan BISI 226 miliknya yang tengah dipanen muda.

Syafi mengatakan, tongkol BISI 226 muda memang berbeda dari jagung lain yang biasa ditanamnya. Selain ukurannya yang besar dan seragam, bijinya juga bisa penuh hingga ujung tongkol (muput) dengan klobot yang menutup sempurna. “Rasanya juga lebih manis,” lanjutnya.

Sementara menurut Nailus, pedagang jagung asal Desa Pendil, Banyuanyar, Probolinggo yang menebas jagung milik Syafi, tongkolnya tidaklah jauh berbeda dengan jagung lain yang biasa ditebasnya. Hanya saja, tanamannya memang lebih baik dibanding lainnya.

nailus-pedagang-jagung-asal-desa-pendil-banyuanyar-probolinggo

“Batangnya besar-besar dan daunnya biru (hijau-Bahasa Madura), jadi tebonnya juga lebih mapan (bagus-Bahasa Madura),” kata Nailus.

Saat panen muda, tebon atau bagian tanaman jagung selain tongkol juga bernilai ekonomis untuk dijadikan hijauan pakan ternak. Dengan tanaman yang lebih besar seperti BISI 226, maka nilai jualnya pun akan lebih tinggi.

“Ini satu ikat bisa dijual eceran Rp2.000. Batang dan daunnya bagus untuk tebon,” ujar pedagang yang setiap harinya membawa 6 kuintal jagung muda ke pasar Kraksaan, Probolinggo ini.

Perawatan murah

Jagung memang telah menjadi salah satu komoditas utama bagi petani di Probolinggo. Rata-rata dalam setahun, petani setempat menanam jagung sebanyak tiga kali. Kegemaran petani menanam jagung salah satu alasannya adalah murahnya biaya usaha tani salah satu komoditas pangan penting ini. Rata-rata petani setempat hanya mengeluarkan biaya tanam Rp2 juta per hektar lahan.

“Jagung ini (BISI 226-red.) hanya saya pupuk sekali dengan tetes (pupuk cair dari limbah pabrik tebu-red.), setelah itu sudah tidak saya apa-apakan lagi, disemprot pun juga tidak. Makanya biayanya juga sangat murah,” ujar Syafi seraya tersenyum saat ditemui Abdi Tani di lahan jagung BISI 226 seluas 8.000 m2 yang sudah berumur 70 hari.

Di samping hanya sekali dipupuk dengan tetes pada waktu tanaman berumur 20 hari setelah tanam, Syafi juga menerapkan sistem tanam TOT atau Tanpa Olah Tanah, sehingga biaya tanamnya juga lebih hemat lagi.

“Ini tanpa olah tanah. Jadi bekas jagung sebelumnya hanya saya semprot obat rumput (herbisida-red.) dan langsung saya tanami lagi,” terang Syafi.

Syafi sendiri telah menanam jagung BISI 226 sebanyak dua kali. Sebelumnya, ia telah menanam jagung super hibrida ini seluas 3 ha yang sebagian besar dipanen muda. “Hanya lahan 300 (3.000 m2-red.) yang saya panen tua, selebihnya dipanen muda.

Menurut Syafi, jagung BISI 226 miliknya yang dipanen muda tersebut ditebas seharga Rp10 juta per hektarnya. Dengan biaya tanam tidak lebih dari Rp2 juta, maka tiap hektar lahannya Syafi bisa mengantongi untung sekitar Rp8 juta.

Sementara untuk yang panen tua, lanjutnya, hasilnya juga lebih bagus dari jagung lain yang biasa ia tanam. Bahkan, karena hasilnya yang lebih bagus, jagung ini dijuluki jagong buwet, istilah dalam Bahasa Madura yang artinya ‘jagung barokah’. “Disebut buwet karena tanamannya tinggi, batangnya besar, pupuknya tidak banyak, dan hasil pipilan keringnya juga banyak. Kalau dihitung, rendemennya kemarin mencapai 75%. Jagung lain paling hanya 60%, itupun saat dipipil janggelnya ikut hancur. Kalau yang (BISI) 226 tidak hancur janggelnya, jadi lebih bersih pipilannya,” terangnya.

Saat ini, Syafi sendiri kembali menanam BISI 226 seluas 2,5 ha. “Sebagian sudah dipanen muda. Yang 800 (8.000 m2-red.) saya tuakan, karena umurnya sudah lewat kalau untuk panen muda,” katanya.d

Sumber : Majalah Abdi Tani (Oktober 2016)

aplikasi-pertanian-bisi

AAN ‘Kenthir’ Bangunkan Lahan Tidur Dengan Jagung BISI

Pria satu ini jauh dari sangat apa adanya, penampilannya jauh dari kesan rapi dan pintar, tapi apa yang sudah dilakukannya telah menjadi inspirasi petani di Karanggayam untuk lebih produkstif dalam bertani. Langkah nyatanya dengan membangunkan lahan tidur menjadi bukti nyata kegilaan otaknya yang seakan tidak pernah berhenti untuk berbuat lebih.

Penampilannya boleh dibilang awut-awutan. Jauh dari kesan rapi. Rambutnya pun dibiarkan panjang tak bersisir. Dan rokok telah menjadi teman setianya yang tidak pernah lepas dari jari tangan dan mulutnya. Dialah Ahmad Fauzan atau yang lebih dikenal dengan nama panggilan Aan “Gila” atau Aan “Kenthir”.

Penampilannya memang, maaf, seperti orang gila. Dan dia sendiri mengakui hal itu. “Saya di sini dikenal sebagai orang gila. Sering saya dijuluki kenthir (gila-Bahasa Jawa). Ya memang gila di otak saya ini,” ucapnya sembari tertawa.

Begitulah Aan, sosok pria yang selalu tampil apa adanya. Bagi yang baru melihatnya, mungkin akan berpikiran lain. Tapi begitu berbincang seputar pertanian, banyak hal di luar dugaan seakan mengalir begitu saja dari otaknya. Ditambah dengan kepandaiannya berbicara menjadikan setiap obrolan lebih menarik dan tidak membosankan.

Pria yang tidak mau menyebutkan usia pastinya ini, kalau diamati usianya sekitar 40-an tahun, baru menetap di Desa Karanggayam, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah pada tahun 2012. Sebelumnya ia menetap di kawasan Kebumen selatan, tepatnya di Desa Karangduwur, Kecamatan Petanahan. Di Karanggayam, ia mendirikan sebuah rumah sederhana yang berada persis di seberang lahan yang ia kelola.

Bangunkan lahan tidur

Karanggayam merupakan kecamatan terluas di Kebumen yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani dan buruh tani. Sebagian besar lahannya berupa lahan kering atau tegalan. Dari data BPS Kebumen, luas lahan kering di Karanggayam 9.313 ha, sementara lahan sawah yang rutin ditanami padi luasnya hanya 1.616 ha.

Meski potensi lahan pertanian cukup luas, belum sepenuhnya dimanfaatkan dengan baik. Seperti di Desa Karanggayam sendiri. Dalam setahun, para petani hanya memanfaatkan lahan mereka untuk bercocok tanam padi, selebihnya dibiarkan menganggur atau diberokan.

“Lahan di sini hanya ditanami saat musim hujan, itupun umumnya hanya tanam padi. Setelah padi lahannya dibiarkan begitu saja menjadi lahan tidur sampai musim tanam padi berikutnya. Ada beberapa yang ditanami kacang hijau, tapi ya sekedar tanam saja, tidak dirawat,” terang Aan.

Hal itulah yang menggelitik Aan untuk memanfaatkan potensi yang menganggur itu menjadi sebuah peluang yang bisa mendatangkan hasil lebih. “Karena, sebenarnya selama musim kemarau masih bisa ditanami sampai dua kali. Saya ingin merubah paradigma petani di sini, bahwa saat kemarau pun masih bisa ditanami dan masih bisa menghasilkan,” ucapnya.

Sebagai langkah nyatanya, ia pun menyewa sejumlah lahan dari beberapa petani setempat untuk ditanami jagung di musim kemarau atau saat lahannya tengah “ditidurkan” oleh pemiliknya. Ia juga membuat sumur bor untuk mengairi lahannya saat diperlukan.

“Saya buat tiga titik sumur bor. Yang paling dangkal kedalamannya sekitar 50 meter,” katanya.

Aan memang bertekad untuk membalik opini para petani setempat sekaligus membuka wacana baru bagi mereka untuk lebih produktif dalam bercocok tanam. Ia pun menyewa lahan sekitar satu hektar untuk ditanami jagung, lokasinya bersebelahan dengan lahan yang selama ini ia sewa untuk ditanami pepaya california.

“Yang saya tanami jagung ini sekitar satu hektar. Ini juga pertama kalinya saya tanam jagung,” ujar Aan saat berbincang dengan Abdi Tani di lahan jagungnya yang sudah siap panen.

Terkait penanaman jagung itu sendiri, kata Aan, ada persepsi yang unik yang berkembang di kalangan petani setempat. Yaitu, keyakinan bahwa tanah yang ditanami jagung akan menjadi tandus atau rusak. “Menurut mereka kalau ditanami jagung tanahnya menjadi cengkar atau tandus. Padahal tidak demikian,” ungkapnya.

Ini pula yang ingin dibuktikan Aan bahwa dengan bercocok tanam jagung yang baik dan benar bisa memberikan hasil lebih, sekaligus tidak merusak lahan yang ditanami.

Merintis misi dengan jagung BISI

Sebagai pengalaman pertamanya, bercocok tanam jagung kali ini dirasa Aan banyak keterbatasan. Di samping keterbatasan biaya perawatan karena suatu hal, kondisi cuaca juga kurang bersahabat. “Ini saya bilang jagung tanpa perawatan. Kemarin ketelatan biaya, jadi perawatannya seadanya. Tapi kalau dilihat pertumbuhannya sejauh ini masih lumayan bagus,” ungkapnya sembari menunjukkan tanaman jagung miliknya.

Jagung yang ditanam Aan tersebut semuanya produk dari PT BISI International, Tbk., yaitu BISI 18 dan BISI 226. “Semuanya hampir satu hektar. Sebagian besar, sekitar 7.000 m2, BISI 18. Sedangkan sisanya satu petak saya tanami BISI 226,” ujarnya.

Performa yang cukup bagus itu semakin membuat Aan menggebu untuk memberikan contoh langsung kepada para petani setempat dalam bercocok tanam jagung di lahan yang dibuat tidur oleh pemiliknya itu. Dan, kesempatan itu pun datang dengan digelarnya acara studi banding sekaligus panen raya bersama Dinas Pertanian dan perwakilan para petani setempat di lokasi tanam jagung miliknya tersebut.

Bagusnya performa tanaman jagung yang ditanam Aan dengan keterbatasan biaya perawatan itu ternyata juga diikuti oleh hasil ubinan yang tinggi. Menurut keterangan Sipartulah, Agronomis Jagung PT BISI Area Kebumen, hasil ubinan yang dilakukan di lokasi menunjukkan hasil yang sangat memuaskan.

“Yang kita ubin hanya yang BISI 18. Sebelum dipipil hasilnya 12,7 kilogram, dan setelah dipipil hasilnya 10,6 kilogram dari luasan ubinan 6,25 m2,” terang Sipartulah.

Jika dikonversikan ke satuan hektar, hasil ubinan 10,6 kg tersebut setara dengan 16,9 ton pipil kering panen per hektar. “Ternyata hasil ubinannya memang luar biasa. Semoga hasil riilnya nanti tidak terlalu jauh dengan hasil ubinan ini. Karena selain faktor perawatan yang kurang optimal, kondisi cuaca sewaktu tanam juga kurang mendukung. Hujannya berlebihan di awal pertumbuhan, jadi banyak yang tidak tumbuh dan tidak pernah saya sulami lagi,” terang Aan.

aan1

Aan memang menyayangkan perawatan jagungnya yang kurang optimal tersebut, namun ia juga mengaku puas dengan performa jagung BISI (BISI 18 dan BISI 226) yang ditanamnya tersebut. “Meski kondisinya serba terbatas, tapi hasilnya masih cukup memuaskan,” ungkapnya.

Menurut Aan, setelah acara studi banding di lahannya tersebut, banyak petani setempat yang tertarik untuk ikut mengembangkan komoditas jagung di lahan mereka, khususnya di saat tanah mereka ditidurkan atau diberokan.

“Tanam jagung itu kan sangat mudah. Istilahnya, ditinggal tidur saja sudah bisa tumbuh sendiri,” kelakarnya. Ia pun lantas menggagas ide lomba tanam jagung di Karanggayam. “Ya biar para petani semakin semangat. Kalau ada hadiahnya dan lebih baik lagi kalau mereka juga mendapatkan bantuan benih dan pupuk, tentu mereka akan lebih tertarik lagi menanam jagung,” tambahnya.

Sumber : Majalah Abdi Tani (Oktober 2016)

aplikasi-pertanian-bisi

 

Tidak Takut Menghadapi Bule

Penyakit downy mildew atau lebih dikenal dengan sebutan penyakit bule kerap mendapat perhatian lebih dalam budidaya tanaman jagung. Pasalnya, dibanding dengan penyakit lainnya, serangan bule bisa mengakibatkan kehilangan hasil hingga 100% pada varietas yang rentan.

Selain itu, penyakit ini juga telah masuk kategori sebagai penyakit paling berbahaya pada tanaman jagung. Karena, semua kawasan penghasil jagung dunia, mulai dari Amerika, Afrika, India, Thailand, Filipina, hingga Indonesia tidak luput dari serangan penyakit ini.

Jamur atau cendawanlah yang menjadi biang kerok di balik merebaknya serangan bule tersebut. Dari catatan Wakman dan Burhanuddin dari Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros, Sulawesi Selatan, dalam “Pengelolaan Penyakit Prapanen Jagung”, ada 10 spesies jamur dari tiga generasi yang menjadi penyebab bulai. Di antaranya adalah: Peronosclerospora maydis (bule Jawa), Peronosclerospora philippinensis (bule Philipina), Peronosclerospora sorghi (bule sorgum), Peronosclerospora saccari (bule tebu), Peronosclerospora spontanea (bule Spontanea), Peronosclerospora miscanthi (bule Miscanthi), Peronosclerospora heteropogani (bule Rajasthan), Sclerophthora macrospora (crazy top), Sclerophthora rayssiae var. zeae (brown stripe), dan Sclerospora graminicola (bule Graminicola).

Di Indonesia sendiri, jamur penginfeksi bule yang banyak berkembang adalah Peronosclerospora maydis. Menurut Wakman dan Burhanuddin, jamur ini dapat menginfeksi tanaman jagung muda melalui permukaan daun. Konidia yang disebarkan oleh angin dan menempel di permukaan daun akan masuk ke jaringan tanaman melalui stomata tanaman muda dan lesio lokal akan berkembang ke titik tumbuh yang menyebabkan infeksi sistemik. Konidiofor dan konidia jamur sendiri akan terbentuk dan keluar dari stomata pada malam hari yang lembab. Karena, P. maydis menghendaki suhu di bawah 240C dan kondisi gelap sekaligus lembab untuk berkembang.

Wakman dan Burhanuddin juga menulis, apabila biji jagung juga terinfeksi jamur P. maydis, maka kotiledon atau daun yang muncul dari kecambah jagung akan selalu terinfeksi. Tapi jika sumber inokulumnya dari spora, maka daun kotiledon akan tetap sehat.

Perlu diketahui juga bahwa jamur tersebut sejatinya bersifat parasit obligat dimana seluruh hidupnya berperan sebagai parasit, sehingga hanya mampu berkembang pada jaringan inangnya. Oleh karena itu, jamur ini hanya akan menyerang tanaman jagung yang notabene merupakan inangnya.

Tanaman jagung yang terinfeksi P. maydis biasanya akan menunjukkan gejala berupa perubahan daun jagung yang menjadi kuning pucat dan bergaris sejajar tulang daun. Lebih lanjut daun tersebut akan mengalami nekrotik coklat, sempit, dan kaku. Jika diamati lebih dekat, pada bagian atas dan bawah daun terdapat massa seperti tepung berwarna putih yang merupakan spora dari jamur P. maydis.

Jika tidak segera dikendalikan, pertumbuhan tanaman jagung akan terhambat dan mengganggu pembentukan tongkol, bahkan bisa sampai tidak bertongkol sama sekali. Infeksi sistemik pada tanaman muda (berumur 3-4 minggu) biasanya akan menimbulkan kerusakan parah hingga tanaman mati.

Pengendalian sejak dini

Gejala lainnya adalah terbentuknya anakan yang berlebihan dengan daun-daun yang menggulung dan terpuntir. Bunga jantan yang terbentuk juga akan berubah menjadi massa daun yang berlebihan dan daunnya sobek-sobek.

Menurut Dr. Ir. Andi Khaeruni, MSi., dosen Fakultas Pertanian Universitas Haluoleo Kendari, untuk mengatasi serangan penyakit tersebut diperlukan tindakan antisipasi sejak dini dengan mengutamakan prinsip-prinsip pengendalian hama dan penyakit terpadu (PHT).

“Prinsip PHT itu adalah dengan menggunakan beberapa metode pengendalian yang kompatibel dan memberikan hasil yang terbaik,” ujar Andi.

Lebih lanjut Andi menjelaskan, terdapat beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengendalikan penyakit pada tanaman jagung secara terpadu. Antara lain: menggunakan benih yang bebas patogen, yaitu benih yang berasal dari induk yang sehat (bersertifikat) atau benih yang telah diberi perlakuan fungisida; Penanaman dilakukan jauh dari pertanaman yang terinfeksi penyakit; Lakukan teknik budidaya yang baik, sanitasi lahan, pemupukan berimbang, dan teknik irigasi yang baik, serta pemeliharaan tanaman; Lakukan pergiliran varietas atau rotasi tanaman pada waktu tertentu; Dalam kondisi cuaca yang sangat mendukung perkembangan penyakit, sebaiknya dilakukan pengendalian dengan menggunakan fungisida atau bakterisida sesuai dosis anjuran.

Andi juga menekankan pentingnya penggunaan varietas jagung yang tahan terhadap penyakit bule. Pasalnya, hal tersebut merupakan salah satu cara yang paling murah, mudah, aman, dan efektif. “Murah, karena tidak membutuhkan biaya penyemprotan. Mudah, karena tidak diperlukan teknik khusus. Aman, karena tidak mempunyai efek residu kimia. Kemudian efektif, karena dapat mengendalikan penyakit-penyakit yang tidak bisa menggunakan cara lain,” terangnya.

Sementara itu, Doddy Wiratmoko, Senior Manager Pengembangan Pasar Benih Jagung PT BISI International, Tbk., ada beberapa produk benih jagung yang secara genetis memiliki karakter tahan penyakit bule. Sehingga bisa dijadikan pilihan dan andalan para petani jagung. Varietas yang dimaksud antara lain: jagung super hibrida BISI 226, BISI 228, BISI 18, BISI 816 dan BISI 222.

Penggunaan Demorf

Salah satu alternatif dalam pengendalian penyakit bule saat ini adalah dengan menggunakan fungisida sistemik Demorf 60WP yang mampu bekerja untuk mengatasi masalah tersebut.

Demorf 60W P adalah fungisida sistemik berbahan aktif  Dimetomorf 60%, berbentuk tepung berwarna abu-abu yang dapat disuspensikan dalam air, digunakan untuk mengendalikan penyakit busuk daun (Phytophthora infestans) pada tanaman kentang, bule (Peronosclerospora maydis) pada tanaman jagung dan tembakau Penyakit lanas (Phytophthora nicotianae).

Aplikasi Demorf 60WP dapat dicampurkan dengan benih sebagai seed treatment dengan dosis 5 gram per kilogram benih jagung. Atau disemprotkan pada tanaman jagung mulai umur 7 hari dengan dosis 2,5 gram per liter air. Interval penyemprotan bisa 7 hari sekali.

demorf

Niti Heriyanto, petani jagung di Dukuh Dalingan, Desa Tawangharjo, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah mengatakan sejak menggunakan fungisida baru dari Cap Kapal Terbang itu, penyakit bulai kini tidak lagi menjadi masalah utama baginya. “Karena hasilnya nyata. Begitu pakai Demorf, serangan bulai bisa langsung diatasi. Sekarang di sini sudah banyak yang pakai ini,” ungkap Heri yang juga Ketua Kelompok Tani Harapan Jaya ini.

Hal itu juga diamini oleh Sunarto Setu, petani jagung lain di Desa Tawangharjo. Menurutnya, dengan Demorf 60WP, performa tanaman jagung yang ia tanam di sela-sela hutan jati bisa lebih aman dan meyakinkan. “Saya sekarang rutin memakai Demorf, karena hasilnya memang lebih baik dan nyata,” tegasnya.

Sedangkan bagi Sunardi, petani jagung dari Desa Tegalsumur, Kecamatan Brati, Grobogan, sejak dirinya mendapat informasi tentang Demorf 60WP, ia langsung mencobanya di lahan jagung seluas enam hektar. Hasil yang memuaskan membuatnya rutin untuk selalu menggunakan fungisida sistemik ini setiap kali ia tanam jagung.

“Hasilnya memang bagus dan terlihat perbedaannya. Perlindungannya lebih bagus dibanding fungisida lainnya,” ujar Sunardi saat ditemui Abdi Tani di lahan jagung seluas enam hektar yang ia pinjam dari Perhutani.

Bagi petani jagung, fungisida Demorf 60WP biasa diaplikasikan sebagai perlakuan benih (seed treatment) sebelum benih jagung ditanam. “Saya biasanya tiap satu kilogram benih jagung saya campur dengan Demorf sebanyak lima gram,” terang Riban, petani jagung dari Desa Godan, Tawangharjo, Grobogan.

Menurut Riban, selain lebih efektif mengatasi bulai, harganya yang lebih terjangkau membuat Demorf 60WP banyak dipilih para petani jagung di wilayahnya. “Memang lebih laris dan sekarang sudah banyak yang memakai. Karena harganya lebih murah dan hasilnya lebih bagus,” kata Riban yang juga memiliki kios pertanian kecil-kecilan di rumahnya.

aplikasi-pertanian-bisi

Program Tanam Jagung Super Hibrida BISI-18 Bersama Mako Polres Bantaeng

Mako Polres Bantaeng beserta jajarannya, petani dan SKPD setempat melakukan penanaman jagung hibrida BISI-18 serentak secara simbolis di Kelurahan Karatuan, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Rabu 18/10/2016.

” Kami melakukan penanaman jagung serentak secara simbolis bersama petani dan perangkat daerah,” kata Mako Polres Bantaeng.

Menurut Ajun Komisaris Besar Polisi Adip Rojikun Kapolres Bantaeng, tanam jagung hibrida BISI-18 serentak ini adalah simbolis sesuai program Jokowi untuk mensejahterakan petani dan meningkatkan hasil tanamannya agar dapat menyekolahkan anak- anak para petani.

” Pemerintah bertekad mengembangkan program padi jagung di Kabupaten Bantaeng untuk mencapai ketahanan pangan,” tambahnya.

Senada Muklis Kepala Bidang Holtikultura Pertanian yang mewakili Kadis Pertanian mengatakan jika program ini sebagai upaya meningkatkan swasembada pangan.

” Diharapkan dengan program tanam jagung hibrida jenis BISI 18 ini, maka akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani Bantaeng. Dan program ini dicanangkan oleh pemerintah pusat, dengan tujuan meningkatkan swasembada pangan di tanah air, sekaligus bertujuan untuk meningkatkan kesejahteran para petani khususnya bagi petani yang tinggal di wilayah Bantaeng,” kata Muklis.

Sumber : http://news.inikata.com (19/10/2016)

aplikasi-pertanian-bisi

Koramil Bluto Bersama Warga Ramai-ramai Tanam Jagung Hibrida BISI-2

Untuk meningkatkan ketahanan pangan, Koramil 04 Bluto, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur bersama warga Desa Palongan menanam jagung hibrida BISI-2, Jumat (14/10/2016).

Penanaman jagung hibrida BISI-2  itu dilakukan oleh warga dengan didampingi oleh Danramil dan Babinsa setempat serta didampingi petugas penyuluh lapangan (PPL) dari Dinas Pertanian Kecamatan Bluto.

“Kegiatan pendampingan ini merupakan wujud kerjasama antara TNI, Dinas Pertanian, PPL dan para petani dalam upaya meningkatkan produksi pangan,” ungkap Danramil Bluto, Kapten Inf. Andik.

Ia menyampaikan, penanaman jagung hibrida BISI-2  pada musim sekarang ini diharapkan mendapatkan hasil yang meningkat dibanding tahun sebelumnya.

“Ini dilakukan untuk mendukung program TNI dalam membantu para petani untuk terciptanya swasembada pangan pada tahun 2016,” ucapnya.

Lebih lanjut ia menegaskan, dalam membantu petani, TNI tidak hanya pada saat panen. Namun sejak mulai penanaman hingga panen juga turun tangan ikut mengawasi bersama gabungan kelompok tani (Gapoktan).

“Sehingga para petani bisa memahami apa yang harus dilakukan dan dipersiapkan sebelum menghadapi musim tanam,” tuturnya.

Sementara itu, Dandim 0827 Sumenep, Letkol Inf Budi Santosa. S,sos, menghimbau kepada Koramil dan Babinsa di jajaran Kodim 0827 agar meningkatkan hasil panen para petani di wilayahnya dengan terus aktif melakukan pendampingan kepada petani.

“TNI yang ada di masing-masing Koramil harus lebih aktif lagi melakukan pendampingan terhadap petani dalam segala kegiatan bercocok tanam,” harapnya.

Sumber :  http://portalmadura.com (14/10/2016)

aplikasi-pertanian-bisi

Petani Manggarai Timur Mendapat Benih Jagung Super Hibrida BISI-18

Pemerintah kabupaten Manggarai Timur (Matim) melalui dinas pertanian dan peternakaan (Distannak) kabupaten Matim memberikan bantuan benih jagung super hibrida BISI-18 kepada para petani di kabupaten Matim pada tahun 2016 sebanyak 52.500 Kg atau 52,5 ton.

Kepala Distannak kabupaten Matim, Silvester Djerabat yang dikonfirmasi melalui Kabid tanaman pangan Distannak Matim, Servas Ledo menyampaikan hal itu ketika ditemui Pos Kupang di ruang kerjanya, Kamis (13/10/2016).

Ledo menjeleskan, bantuan untuk beni jagung super hibrida BISI-18 untuk petani di Matim pada tahun 2016 sebanyak 52.500 kilogram (Kg) berasal dari dana APBN.

Sumber : http://kupang.tribunnews.com (13/10/2016)

aplikasi-pertanian-bisi

Tanam Jagung Super Hibrida BISI-18, Maros Targetkan Panen 5.600 Ton

Bupati  Maros Hatta Rahman bersama  Dinas Pertanian dan Polres Maros menggelar tanam perdana jagung super hibrida BISI-18 di lahan khusus di Dusun Bontoramba, Desa Bontomatene, Kecamatan Mandai, Kamis (13/10/2016).

Hatta Rahman mengatakan, program tersebut digagas untuk menjadikan Maros sebagai mandiri pangan. Lahan yang ditempati menanam tersebut sebelumnya tidak pernah tersentuh.

maros2

“Tanam perdana jagung ini dilakukan sebagai salah satu upaya peningkatan produksi jagung setiap tahunnya. Kami harap, program ini mampu meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian Maros, Burhanuddin mengatakan, tahun ini Maros mendapatkan anggaran APBN-P untuk sekitar 700 hektare untuk empat Kecamatan di 11 Desa dan 21 kelompok tani.

“Kita mendapat bantuan sekitar 700 hektar untuk peningkatan program penanaman jagung untuk empat kecamatan yakni Mandai, Tompobulu, Mallawa dan Moncongloe,” ujarnya.

Dia menarget produksi jagung di Maros mencapai  10 – 12 ton perhektare. Setiap hektare akan menghasilkan delapan ton. Secara keseluruhan target produksi untuk 700 hektare tersebut mencapai 5600 ton.

Sementara itu, Kapolres Maros, AKBP Erick Ferdinan mengatakan, ini merupakan program nasional. Pihaknya di kepolisian tentu mendukung program penanama perdana jagung hibrida bisi 18. “Kali ini kita mendapat program bantuan dari APBNP, dalam bentuk bibit, traktor, pupuk dan alat untuk panen,” tukas Erick.

Sumber : http://makassar.tribunnews.com (13/10/2016)

aplikasi-pertanian-bisi

Gerakan Pengembangan Jagung Hibrida BISI-18 di Lampung Utara Seluas 735 Hektare

Guna mendorong pengembangan penanaman jagung hibrida di Lampung Utara, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) setempat menyalurkan bantuan benih jagung super hibrida BISI-18 dari Kementerian Pertanian (Kementan) untuk penanaman areal lahan seluas 735 hektare (ha).

Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Peternakan (Distanak) Lampung Utara, Sofyan saat penyaluran benih di Desa Gunung Sari, Kecamatan Abung Semuli, Jumat (7/10/2016), mengatakan bantuan benih jagung hibrida BISI-18 yang disalurkan merupakan program gerakan pengembangan jagung hibrida yang dicanangkan Kementerian Pertanian (Kementan).

“Bantuan benih jagung hibrida BISI-18 di musim tanam (MT) rendeng dari Kementan tahun anggaran (TA) 2016 yang disalurkan untuk penanaman areal seluas 735 ha,” ujarnya.

Perincian penyaluran bantuan benih guna mensukseskan program swasembada jagung di 2018 ini, terbagi di Kec. Abung Semuli seluas 485 ha, yakni; di Desa Gunung Sari seluas 275 ha untuk 16 kelompok tani (poktan) dan Desa Gunung Kramat (210 ha) untuk 11 poktan. Dilanjutkan di Kecamatan Blambangan Pagar (200 ha) di Desa Tulung Singkip untuk 8 poktan serta Kecamatan Sungkai Utara (50 ha), yakni Desa Negarabatin (25 ha) dan Baturaja (25 ha).

“Total benih jagung hibrida BISI-18 yang salurkan di tiga kecamatan itu, 1.025 kg dengan perkiraan kebutuhan benih jagung per hektare 15 kg,” kata Sofyan.

Dia berharap dengan bantuan bibit tersebut akan mendorong peningkatan produktivitas hasil panen jagung di Lampura. Dengan capaian ini, diharapkan pendapatan petani akan turut terdongrak naik bila harga komoditas jagung di pasaran mendukung.

“Selain produktivitas hasil panen jagung, harga juga memiliki pengaruh signifikan pada peningkatan pendapatan petani di Lampura yang harga pembelian pemerintah (HPP) untuk kadar air 15 persen, Rp3.150/kg sementara untuk kadar air 30 persen dihargai Rp2.250/kg,” kata Sofyan.

Sumber : http://lampost.co (08/10/2016)

aplikasi-pertanian-bisi

Wakil Ketua DPRD Bone Tanam Perdana Jagung Super Hibrida BISI-18 di Libureng

Wakil ketua III DPRD Kabupaten Bone, Andi Taufiq Kadir menghadiri tanam perdana Jagung Super Hibrida BISI-18 yang digelar kelompok tani Pada Idi Ceppaga dan UPTD Pertanian Kecamatan Libureng di Lingkungan Belawae, Kamis, 6 Oktober 2016.‎

Hadir dalam penanaman perdana jagung, wakil ketua DPRD Kab. Bone, Andi Taufiq Kadir, Camat Libureng, Andi Rahmat Musrya, Kepala Balai Penyuluh Kecamatan (BPK) Libureng, Andi Rustam, Danramil 1407/14 Kapten Ratman.

Hadir pula, Lurah Ceppaga, H. Bahtiar, Kepala UPTD Pertanian, Harding, Petugas Organisme Penggangu Tanaman (POPT) Libureng, ketua Kelompok Tani (poktan) Pada Idi Ceppaga Iskandaria, PT BSI Internasional, Perwakilan Bone, Burhan.

“Kita lakukan tanam perdana bersama Tripika Kecamatan Libureng, tanam Jagung Super Hibrida BISI-18 untuk tahun 2016, tepatnya dikelompok tani Pada Idi Kelurahan Ceppaga, luas tanam perdana adalah 50 hektar yang semua sarananya ditanggung Pemerintah dalam hal ini Dinas Tanaman Pangan dan holtikultura Kabupaten Bone,” Kata Harding, Kepala UPTD Pertanian Libureng.

Dia menyebutkan, bahwa luas areal lahan yang ditanami jagung yakni 2 hektar, namun kedepannya akan diperluas lagi hingga 50 hektar, dengan menggunakan jenis varietas jagung yang ditanam adalah BISI-18 dengan produktivitas hasil bisa mencapai 12 ton per hektar.

“Selanjutnya yang kita lakukan adalah pemeliharaan, sehingga pada saat panen perdana dan insya Allah akan kita undang bapak Bupati,” ujarnya.

Sementara itu, Staf PT. BISI Internasional, Wilayah Bone, Burhan mengatakan, BISI-18 adalah salah satu varietas jagung hibrida produksi PT. Bisi international tbk dan bibit jagung ini pertama kali di kembangkan di Bone Selatan, khususnya di Kecamatan Libureng.

“Untuk pertama kali di Kecamatan Libureng, tepat di Kelurahan Ceppaga mudah-mudahan hasilnya memuaskan,” ungkapnya.

Sumber : http://www.bonepos.com (06/10/2016)

aplikasi-pertanian-bisi

BISI-18

Sebuah varietas benih jagung baru kembali dilepas oleh PT. BISI Internationak Tbk pada tahun 2011, yaitu Benih Jagung Super Hibrida BISI-18.

Jagung Super Hibrida BISI-18 merupakan jagung hibrida silang tunggal (single cross), yang baik sekali bila ditanam pada dataran rendah hingga dataran tinggi sampai ketinggian 1.000 meter diatas permukaan laut.

Salah satu keunggulan dari jagung Super Hibrida BISI-18 ini muncul saat awal pertumbuhan tanaman, vigor tanaman yang sangat kuat dan kecepatan pertumbuhan yang sangat baik, membuat jagung Super hibrida BISI-18 menyenangkan dan menimbulkan optimisme pada produksi yang tinggi. Ditambah dengan kondisi tanaman yang sangat seragam akan semakin melegakan.

Tinggi tanaman jagung super hibrida BISI-18 mencapai sekitar 230 cm, batang dan daun berwarna hijau gelap. Daun bertipe medium dan tegak, sedangkan batang tanaman besar, kokoh dan tegak.

Jagung super hibrida BISI-18 mempunyai ketahanan terhadap penyakit penyakit karat daun (Puccinia sorghi) dan hawar daun (Helminthosporium maydis).

Saat 50% pembungaan (keluar rambut) pada dataran rendah terjadi pada sekitar umur 57 hari sedangkan  pada dataran tinggi saat sekitar umur 70 hari.  Bentuk malai bunga kompak dan agak tegak dengan warna malai (anther) ungu kemerahan, warna sekam ungu kehijauan serta warna rambut juga ungu kemerahan.

Kedudukan tongkol jagung super hibrida BISI-18 sekitar 115 cm di atas tanah dan relatif sama pada setiap tanaman, sedangkan besar tongkolnya relatif sangat seragam di setiap tanaman. Inilah salah satu keunggulan lain dari jagung super hibrida BISI-18, karena kondisi tongkol yang relatif sama besar di setiap tanaman (seragam) akan semakin meningkatkan produksi.

Jagung super hibrida BISI-18 mempunyai klobot yang menutupi tongkol dengan baik.  Klobot yang menutupi tongkol jagung dengan baik bermanfaat untuk menghindari tetesan air hujan yang masuk ke dalam tongkol jagung yang dapat menyebabkan tumbuhnya jamur pada biji jagung. Sehingga jagung ini bisa ditanam pada musim hujan maupun kemarau.

Keunggulan lain dari jagung super hibrida BISI-18 adalah biji jagungnya terisi penuh sampai ujung (jawa=muput).  Tingkat pengisian pucuk tongkolnya (tip filling) bisa mencapai 97%. Kondisi yang fantastis dan semakin meyakinkan.

Bentuk biji termasuk dalam tipe biji semi mutiara, dengan warna biji oranye kekuningan mengkilap.  Jumlah barisan biji dalam satu tongkol antara 14-16 baris. Termasuk tipe tongkol yang besar.

Potensi hasil panen jagung super hibrida BISI-18 mencapai 12 ton per hektar pipilan kering.  Sedangkan rata-rata adalah sekitar 9,1 ton per hektar pipilan kering. Bobot 1.000 butir biji jagung super hibrida BISI-18 (diukur dalam kondisi Kadar Air 15%) adalah sekitar 303 gram.

Keunggulan utama jagung super hibrida BISI-18 adalah kadar rendemen tongkol yang cukup tinggi, mencapai sekitar 83%. Hal ini disebabkan karena biji jagung yang ramping nancap lebih dalam dan bentuk janggelnya yang sangat kecil. Keistimewaan ini sangat menguntungkan karena prosentase jumlah biji yang didapatkan per satuan luas semakin tinggi dan produksi semakin tinggi.

Jagung super hibrida BISI-18 bisa dipanen saat masak fisiologis yaitu umur  sekitar 100 hari pada dataran rendah sedangkan pada dataran tinggi saat umur sekitar 125 hari.

Silakan klik disini untuk info pembelian (versi web) I Atau klik disini untuk versi Mobile (HP, Tab, dll)

BISI-222

Pertengahan tahun 2010 PT. BISI International Tbk  kembali melepas sebuah varietas benih jagung super hibrida yang sangat sensasional, yaitu Benih Jagung Super Hibrida BISI-222.

Jagung Super Hibrida BISI-222 merupakan jagung hibrida silang tunggal (single cross), yang direkomendasikan untuk daerah dataran tinggi yang endemik terhadap penyakit busuk pucuk tongkol.

Vigor tanaman jagung super hibrida BISI-222 ini sangat kuat dan mempunyai  keseragaman tanaman yang sangat baik.  Lebih baik dibanding tanaman jagung BISI yang lain. Maka tidak salah jika keunggulan ini diambil sebagai tagline dari benih jagung ini, yaitu “Tanaman Kuat”.

Tinggi tanaman jagung super hibrida BISI-222 mencapai sekitar 217 cm dengan daun berwarna hijau tua.  Batang tanaman termasuk besar, kokoh dan tegak serta berwarna hijau tua. Dengan batang yang kokoh dan ditunjang dengn perakaran yang baik, jagung super hibrida ini mampu menopang tanaman terhadap kekuatan angin kencang yang menerpa, sehingga tanaman tahan terhadap kerebahan.

Keunggulan lain yang ada pada  jagung super hibrida BISI-222 adalah ketahanannya terhadap penyakit bulai (Peronosclerospora maydis). Jagung ini tergolong sangat tahan terhadap penyakit bulai sehingga bisa mengurangi resiko kegagalan panen yang mengancam petani.

Selain itu jagung super hibrida BISI-222 juga tergolong tahan terhadap penyakit busuk pucuk tongkol (Gibberella Zeae) yang banyak terjadi di dataran tinggi, yang mempunyai kelembaban yang cukup tinggi. Tahan juga terhadap penyakit karat daun (Puccinia sorghi).

50% pembungaan (keluar rambut) pada dataran rendah terjadi pada sekitar umur 55 hari sedangkan  pada dataran tinggi saat sekitar umur 71 hari.  Bentuk malai bunga sedikit terbuka dan agak tegak dengan warna malai (anther) ungu kemerahan, warna sekam ungu kehijauan serta warna rambut juga ungu kemerahan.

Jagung super hibrida BISI-222 mempunyai klobot yang menutupi tongkol dengan baik.  Klobot yang menutupi tongkol jagung dengan baik bermanfaat untuk menghindari tetesan air hujan yang masuk ke dalam tongkol jagung yang dapat menyebabkan tumbuhnya jamur pada biji jagung. Sehingga jagung ini bisa ditanam pada musim hujan maupun kemarau.

Tongkol jagung super hibrida BISI-222 termasuk besar dan panjang. Kedudukan tongkol jagung sekitar 115 cm di atas tanah. Bentuk tongkolnya silindris mengerucut ke ujung tongkol.  Jumlah baris dalam satu tongkol jagung super hibrida BISI-222 berkisar 14-16 baris, sedangkan jumlah biji dalam satu baris mulai dari pangkal hingga ujung tongkol mencapai 45-50 biji.  Sehingga dalam satu tongkol mempunyai jumlah biji 700-800 biji.

Keistimewaan lain dari jagung super hibrida BISI-222 adalah biji jagungnya terisi penuh sampai ujung (jawa=muput).  Tidak ada ruang kosong atau tersisa lagi pada janggel jagung, semua penuh dengan biji jagung mulai pangkal sampai ujung.  Keistimewaan ini semakin menambah keyakinan petani akan hasil panen jagung super hibrida BISI-222 yang berlipat-lipat.

Warna biji jagung super hibrida BISI-222 ini sangat menarik berwarna oranye kemerahan.Warna ini sangat disukai oleh petani dan pedagang. Bentuknya termasuk dalam tipe biji semi mutiara sampai mutiara.  Bobot 1.000 butir biji jagung super hibrida BISI-222 (diukur dalam kondisi Kadar Air 15%) adalah sekitar 330 gram.

Potensi hasil panen jagung super hibrida BISI-222 mencapai 13,65 ton per hektar pipilan kering.  Sedangkan rata-rata adalah sekitar 10,38 ton per hektar pipilan kering.

Kandungan karbohidrat pada biji jagung super hibrida BISI-222 adalah sekitar 70,50%, kandungan protein sekitar 9,5% dan kandungan lemak sekitar 3,8%.

Jagung super hibrida BISI-222 bisa dipanen saat masak fisiologis yaitu umur  sekitar 102 hari pada dataran rendah sedangkan pada dataran tinggi saat umur sekitar 130 hari.

Jagung super hibrida BISI-222 ini juga cocok dipanen muda untuk konsumsi yaitu umur sekitar 65-70 hari.  Dengan brix (kadar kemanisan) mencapai 8% maka jagung ini cocok juga untuk direbus atau dibakar sebagai santapan yang lezat.

Silakan klik disini untuk info pembelian (versi web) I Atau klik disini untuk versi Mobile (HP, Tab, dll)