All posts by jagung bisi

El Nino 2-RF-CD

BMKG: El Nino belum aktif di Indonesia

Jakarta (ANTARA News) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa El Nino belum aktif di Indonesia karena indeks Southern Oscillation Index (SOI) dan angin pasat belum mendukung terjadinya El Nino.

Supari, Analis Bidang Iklim BMKG saat ditemui di Jakarta, Senin, mengatakan fenomena El Nino baru terjadi apabila terdapat tiga indikasi, yaitu kondisi dinamis di Indonesia, kondisi angin pasat tenggara, dan indeks SOI.

“Yang baru terjadi sekarang adalah indeks SOI dan angin pasat belum mendukung indikasi terjadinya El Nino di Indonesia,” kata Supari.

Ia menjelaskan El Nino adalah fenomena alam dan bukan badai. El Nino dapat diartikan suatu gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di sekitar pasifik tengah dan timur sepanjang ekuator dan secara fisik El Nino tidak dapat dilihat.

El Nino sendiri dapat diindikasikan dengan adanya perbedaan tekanan atmosfer antara Tahiti dan Darwin, Australia, atau yang disebut SOI. “Disebut demikan karena keduanya terletak di belahan bumi bagian selatan,” katanya.

Selain itu, ujarnya, terjadinya El Nino dapat ditandai dengan SOI yang negatif artinya tekanan atmosfer di atas Tahiti lebih rendah dari pada tekanan atmosfer di atas Darwin.

Terkait dengan indeks SOI, Supari menjelaskan ada tiga kategori untuk mengukurnya, yakni lemah (di bawah 1), sedang (antara 1-1,5), dan kuat (di atas 2). “Indonesia masih ada di level sedang untuk fenomena El Nino,” katanya.

Ia menyebutkan, dampak El Nino akan terasa antara bulan Juli-Agustus 2014, namun itu baru terjadi apabila intensitasnya kuat dan kondisi perairan di Indonesia sendiri karena suhu perairan Indonesia akan memengaruhi curah hujan.

“El Nino akan berdampak hebat jika intensitasnya kuat dan perairan di Indonesia juga menjadi dingin sehingga akibatnya saling menguatkan,” jelas Supari.

Untuk daerah yang terkena dampak El Nino, Supari menjelaskan semuanya tergantung kategori yang diakibatkan dari El Nino. Apabila relatif kuat biasanya hampir seluruh daerah terkena kecuali Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Sedangkan El Nino yang relatif lemah hanya terjadi di wilayah timur Indonesia saja, misalnya Papua, Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Terkait dengan potensi kebakaran hutan yang diakibatkan El Nino, Supardi mengutarakan bahwa tahun ini potensinya sangat kecil karena BMKG memperkirakan potensi El Nino tahun ini cenderung lemah serta curah hujan yang relatif cukup.

Berbeda dengan yang terjadi pada 1997, ketika itu El Nino relatif kuat membuat udara menjadi kering dan curah hujan sangat rendah. Dengan kondisi yang tidak ada hujan maka vegetasi yang bersifat kering akan mudah terbakar.

“Ketika ada percikan api yang saya yakin berasal dari manusia maka akan mudah terbakar lalu menjalar kemana-mana,” ujar Supari.

Sumber : http://www.antaranews.com (30/06/2014)

El-Nino_main

Fenomena Iklim El Nino dan La Nina

Pernahkan kita berpikir bahwa musim kemarau yang panjang dan juga musim hujan yang terjadi di musim kemarau hanyalah kejadian wajar dan kebetulan? Mungkin sebagian orang hanya berpikir demikian, tetapi sesungguhnya kejadian-kejadian tersebut adalah sebuah siklus iklim, yang disebut dengan fenomena El Nino dan La Nina.

Sebenarnya apa sih El Nino dan La Nina?

El Nino menurut sejarahnya adalah sebuah fenomena yang pertama kali teramati oleh para nelayan Peru dan Ekuador yang tinggal di pantai sekitar Samudera Pasifik bagian timur pada bulan Desember, tepatnya menjelang hari Natal. Fenomena yang teramati adalah meningkatnya suhu permukaan laut yang biasanya dingin. Fenomena ini mengakibatkan perairan yang tadinya kaya akan ikan akibat adanya upwelling atau arus naik permukaan yang membawa banyak nutrien dari dasar menjadi sedikit jumlah ikan di perairan tersebut.

Pemberian nama El Nino itu sendiri berasal dari bahasa Spanyol, yang artinya “anak lelaki”. Suatu saat para ahli kemudian menemukan juga fenomena mendinginnya suhu permukaan laut akibat menguatnya upwelling, yang merupakan kebalikan dari El Nino. Fenomena kebalikan ini diberi nama La Nina (juga bahasa Spanyol), yang berarti “anak perempuan”. Kedua fenomena ini memiliki periode 2 sampai 7 tahun, tetapi periode El Nino dan La Nina menjadi semakin pendek seiring dengan pemanasan global yang terjadi di dunia sekarang ini.

Bagaimana proses kejadian El Nino dan La Nina?

Ed05-fisika1-1

Ketika Peru mengalami musim panas, arus laut dingin Humbolt tergantikan oleh arus laut panas. Kuatnya penyinaran oleh sinar matahari pada perairan di Pasifik Tengah dan Timur menyebabkan meningkatnya suhu dan kelembapan udara pada atmosfer sehingga tekanan udara di Pasifik Tengah dan Timur menjadi rendah. Hal ini diikuti oleh kemunculan awan-awan konvektif, atau awan yang terbentuk oleh penyinaran matahari yang kuat.

Di sisi lain, di bagian Pasifik Barat awan sulit terbentuk. Daerah Pasifik Barat contohnya adalah Indonesia, yang pada dasarnya cuacanya dipengaruhi oleh angin muson, angin pasat, dan angin lokal walaupun sebenarnya pengaruh angin muson yang lebih kuat berasal dari daratan Asia. Oleh karena sifat udara adalah bergerak dari tekanan udara tinggi ke tekanan udara rendah, udara dari Pasifik Barat akan bergerak ke Pasifik Tengah dan Timur. Hal ini menyebabkan awan konvektif di atas Indonesia bergeser ke Pasifik tengah dan Timur.

Pada La Nina, atau kebalikan dari El Nino, fenomena tersebut terjadi saat permukaan laut di Pasifik Tengah dan Timur suhunya lebih rendah dari biasanya pada waktu-waktu tertentu. Kemudian, tekanan udara di kawasan Pasifik Barat jadi menurun yang memungkinkan terbentuknya awan. Sebagai akibatnya, tekanan udara di Pasifik Tengah dan Timur menjadi tinggi sehingga proses pembentukan awan terhambat.

Ed05-fisika1-2

Sementara itu, di bagian Pasifik Barat, misalnya di Indonesia, tekanan udara menjadi rendah sehingga mudah terbentuk awan cumulus nimbus. Awan ini menimbulkan turunnya hujan lebat yang disertai petir. Seperti yang disebutkan sebelumnya, sifat udara yang bergerak dari tekanan udara tinggi ke tekanan udara rendah menyebabkan udara dari Pasifik Tengah dan Timur bergerak ke Pasifik Barat. Hal ini menyebabkan awan konvektif di atas Pasifik Tengah dan Timur bergeser ke Pasifik Barat.

Adakah parameter untuk menentukan El Nino dan La Nina?

Saat ini indikator yang digunakan untuk mengetahui fenomena El Nino dan La Nina adalah dengan menggunakan data indeks yang diperoleh dari Badan Meteorologi Australia (www.bom.gov.au/climate/current/soihtm1.shtml), yang disebut dengan Southern Oscillation Index (disingkat SOI). SOI diukur dari fluktuasi bulanan perbedaan tekanan udara antara Tahiti dan Darwin. Nilai SOI inilah yang menunjukkan apakah terjadi fenomena El Nino, La Nina, atau normal. Tabel di bawah menunjukkan acuan nilai SOI yang dijadikan acuan penentuan El Nino dan La Nina:

Hasil kajian para ahli meteorologi dari tahun 1900 sampai tahun 1998 menunjukan bahwa El Nino telah terjadi sebanyak 23 kali (rata-rata 4 tahun sekali), sedangkan La Nina hanya 15 kali (rata-rata 6 tahun sekali). Dari 15 kali kejadian La Nina, sekitar 12 kali (80%) terjadi berurutan dengan kejadian El Nino. La Nina mengikuti El Nino hanya terjadi 4 kali dan mendahului El Nino sebanyak 8 kali dari 15 kali kejadian. Secara umum, hal ini menunjukkan bahwa peluang terjadinya La Nina setelah El Nino tidaklah begitu besar. Kejadian El Nino pada tahun 1982/1983 yang dikategorikan sebagai tahun kejadian El Nino yang kuat malah tidak diikuti oleh La Nina sama sekali.

Bagaimana dampak El Nino dan La Nina di Indonesia?

Dampak yang paling nyata dari fenomena El Nino adalah kekeringan di Indonesia yang menyebabkan langkanya air di sejumlah daerah dan kemudian berakibat pada penurunan produksi pertanian karena tertundanya masa tanam. Selain itu, meluasnya kebakaran hutan yang terjadi di beberapa wilayah di Kalimantan dan Sumatera juga diindikasikan sebagai salah satu dampak dari fenomena El Nino tersebut. Untuk La Nina, dampak yang paling terasa adalah hujan deras yang juga menyebabkan gagal panen pada pertanian karena sawah tergenang.

Ada juga keuntungan dari El Nino, yaitu bergerak masuknya ikan tuna yang berada di Samudera Hindia ke selatan Indonesia. Hal itu terjadi karena perairan di timur samudera mendingin, sedangkan yang berada di barat Sumatera dan selatan Jawa menghangat. Akibat proses ini, Indonesia mendapat banyak ikan tuna, sebuah berkah yang perlu dimanfaatkan.

DSC_9447

Temu Tani Binaan di Geltek PT. BISI International Tbk

Tanaman sayuran di Gelar Teknologi (Geltek) PT. BISI International tampak subur menghijau. Di sana sini tampak peserta Penas dan masyarakat umum menyemut mengamati berbagai tanaman di geltek tersebut. Mulai padi hibrida, berbagai jenis tanaman cabai, berbagai jenis pare, tomat, terong, kubis, jagung, Laboratorium Biotek dan lain lain.

DSC_9622

“Kami puas setelah berkunjung di Geltek PT. BISI” kata para petani kepada Sinar Tani. Menurut komentar para petani, semua tanaman dan hasilnya yang disajikan di sini (Geltek PT. BISI) memang luar biasa. Semoga hasil seperti ini bisa dikembangkan oleh para petani di daerah masing-masing. Terutama bagi petani yang belum tersentuh teknologi dari PT. BISI.

DSC_9447

Market Development Manager PT. BISI International, Ir. Doddy Wiratmoko menyatakan, dalam rangka kegiatan Penas ke XIV ini pihaknya memberikan yang terbaik kepada peserta Penas yang datang dari penjuru tanah air. “Sejak 8-11 Juni kami mengadakan pertemuan petani binaan PT. BISI yang berasal dari penjuru tanah air sebanyak 573 orang,” kata Doddy.

DSC_9507

Namun demikian, lanjut Doddy, di Geltek PT. BISI juga terbuka untuk peserta Penas yang lain maupun masyarakat umum.  “Memperhatikan berjejalnya pengunjung di Geltek PT. BISI jumlahnya bisa mencapai ribuan setiap hari,” ujar Doddy.

DSC_9467

Para petani kepada wartawan Sinar Tani mengakui, mereka sangat berminat mengunjungi Geltek PT. BISI. Karena banyak teknologi yang perlu diketahui untuk dikembangkan di daerahnya. Bahkan mereka (petani-Red) berkunjung di Geltek PT. BISI selama berlangsungnya Penas rata-rata lebih dari satu kali kunjungan.

DSC_9445

Sementara itu, menurut Azis Rifianto dari Divisi jagung PT BISI International menyatakan, disamping benih sayuran pihaknya saat ini sedang mengembangkan jagung pulut. Jagung ini mempunyai kelebihan tersendiri. Sesuai dengan namanya pulut rasanya pulen dan empuk seperti ketan. Di Indonesia masih terbatas baru di tiga wilayah yaitu Sulawesi Selatan, Lampung dan NTB. Pada tiga wilayah inipun penyebarannya masih sangat terbatas.

Jagung pulut di luar negeri banyak digemari antara lain di Cina dan Vietnam. “Jagung ini mengandung amilopektin tinggi” tambah Azis.

DSC_9494

Menurut pengamatan di tiga daerah tersebut, dan percobaan sebagai makanan penyaji selama ini, jagung pulut ini diminati masyarakat. Maka PT. BISI ke depan akan mengembangkan jagung pulut.

Sumber : Tabloid Sinar Tani, Edisi Khusus PENAS XIV, Selasa, 10 Juni 2014. Foto oleh : Team MD PT. BISI.

Tahun Ini RI Sudah Impor Jagung 669 Ribu Ton, Terbanyak dari India

Jakarta -Jagung menjadi satu komoditas pangan yang rutin diimpor Indonesia sampai saat ini. Setiap bulan, Indonesia mengimpor ratusan ribu ton jagung dari berbagai negara.

Pada April 2014, impor jagung tercatat sebanyak 154.189 ton dengan nilai US$ 39,2. Turun 14% dibandingkan bulan sebelumnya.

Pada Januari, impor jagung masih sebanyak 215.716 ton (US$ 52,3 juta). Kemudian Februari 153.322 ton (US$ 37,1 juta), dan Maret 176.197 ton (US$ 43,8 juta).

Secara kumulatif, total impor jagung sepanjang Januari-April 2014 adalah 699.425 ton (US$ 172,6 juta). Demikian data Badan Pusat Statistik (BPS) seperti dikutip detikFinance, Selasa (3/6/2014).

Berikut adalah negara-negara asal jagung impor periode Januari-April 2014:

  • India: 137.321 ton (US$ 34,2 juta)
  • Brasil: 13.834 ton (US$ 3,5 juta)
  • Thailand : 2.694 ton (US$ 1,2 juta)
  • Amerika Serikat: 102 ton (US$ 104 ribu)
  • Negara lainnya: 235 ton atau US$ 150 ribu

(mkl/hds)

Sumber : http://finance.detik.com (03/06/2014). Foto : https://media.zenfs.com

BISI-kinerja-2013

Raih Laba Bersih Rp129,32 Miliar, BISI Bagi Dividen Rp12/Saham

PT BISI International Tbk. sepanjang tahun 2013, berhasil meraih laba kotor sebesar Rp447,89 miliar. Jumlah ini naik 15,14% daripada laba kotor di akhir tahun 2012 yang sebesar Rp388,99 miliar. Sedangkan, laba bersihnya sebesar Rp129,32 miliar di akhir tahun 2013. Kemudian, perseroan juga berhasil membukukan penjualan Rp1,06 triliun, tumbuh 21,9%, dibandingkan dengan tahun 2012 yang sebesar Rp866,27 miliar.

BISI-kinerja-2013

“Dengan itu, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) kami memutuskan yang melakukan pembagian dividen tunai sebesar 28,3% dari laba bersih tahun 2013, atau sebesar Rp12 per saham, yang sama dengan Rp36 miliar,” ungkap Jemmy Eka Putra, Presiden Direktur PT BISI International Tbk.

Sampai akhir 2014 mendatang, perseroan optimis akan mengoleksi penjualan senilai Rp1,32 triliun. Meski proyeksi itu meningkat 25% dari pencapaian akhir tahun lalu yang sebesar Rp1,05 triliun, mereka percaya bahwa target itu akan tercapai.

“Hal ini karena kami akan mengeluarkan tujuh produk baru, baik dari benih jagung, sayuran ataupun penjualan pestisida, serta masih akan mendapatkan hasil dari produk yang baru dirilis pada tahun lalu. Jadi kami yakini bahwa laba bersih juga akan meningkat 25% menjadi Rp158,78 miliar pada akhir tahun ini,” ujarnya.

Penjualan dari BISI, kata Jemmy, masih akan bertumpu pada penjualan benih jagung. Di mana sekitar 40% dari total penjualan atau setara Rp528 miliar akan dihasilkan melalui penjualan benih jagung tersebut. Sementara, untuk penjualan pestisida dan pupuk diharap menyumbang Rp462 miliar, dan 25% sisanya akan dihasilkan dari penjualan benih sayur dan buah-buahan.

“Jadi kami akan menyuntikkan belanja modal sebesar Rp81,1 miliar. Alokasi itu meningkat 3 kali lipat lebih dari belanja modal di tahun lalu yang kira-kira sebesar Rp24,1 miliar. Hingga kuartal pertama 2014, perseroan baru menyerap belanja modal Rp16,2 miliar,” ucapnya.

Selain itu, untuk meningkatkan penjualan, perseroan bakal membangun satu pabrik baru di Mojokerto. Pabrik itu berkapasitas 16.450 ton, dan akan didirikan di atas lahan seluas 2,6 hektar. Dengan dana investasi Rp53 miliar, perseroan menargetkan optimalisasi pabriknya pada tahun depan.

“Pabrik itu nantinya akan memproduksi pestisida granular sebanyak 15 ribu ton per tahun. Kemudian umpan sebanyak 500 ton per tahun dan pestisida cair sebanyak 950 ton per tahun. Nah, dalam dua tahun operasionalisasi pabrik baru, diharapkan akan berkontribusi terhadap penjualan sebesar Rp250 miliar,” tuturnya. (EVA)

Sumber : http://swa.co.id (01/06/2014)

Dispertapan Sumbawa Panen Jagung BISI-18 di Desa Prajak

Moyo Hilir, Gaung NTB – Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Dispertapan) Kabupaten Sumbawa bekerjasama dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Pabanang I dan Panabang II menggelar panen perdana jagung di Desa Prajak, Moyo Hilir, Rabu (30/04). Kegiatan panen perdana jagung BISI-18 tersebut dihadiri Kadis Dispertapan Sumbawa, Camat Moyo Hilir, Kepala BP4K Sumbawa, Danramil Moyo Hilir, perwakilan PT Bisi Internasional Tbk, dan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Kadis Dispertapan Sumbawa Ir Talifudin MSi menyampaikan bahwa, meski panen pertama kali yang dilakukan oleh Pabanang I dan Pabanang II, namun hasil yang diperoleh tidak mengecewakan, bahkan hasilkan mutu terbaik. Tidak kalah dengan jagung yang dihasilkan di daerah-daerah lain. “Kami sangat senang melihat hasil jagungnya karena memiliki kualitas yang baik,” jelas pejabat ramah ini.

Menurut Ir Talifuddin MSi, melihat hasil jagung yang berkualitas, tentunya hal tersebut merupakan langkah awal yang baik bagi para petani kedepannya. Awal yang baik untuk membudidayakan jagung karena hasil yang diperoleh para petani sangat menjanjikan. Pada kesempatan itu, Kadis Dispertapan berjanji dan siap support para petani, baik dari pembibitan hingga pengajaran teknis pembudidayaan jagung yang lebih baik.

Sementara itu, Camat Moyo Hilir Abu Bakar SH bangga daerahnya tidak kalah dengan daerah lain. Abu Bakar SH bangga didaerahnya tidak kalah menghasilkan jagung berkualitas. Ia pun mengakui bahwa potensi yang ada di desa Prajak ini cukup besar untuk budidaya jagung. Ia berharap kedepannya, Prajak dan Moyo Hilir akan lebih maju dan mampu bersaing dengan daerah lainnya.

Sumber : http://www.gaungntb.com (03/05/2014)

BISI-18-parepare

Pemilihan Benih Jagung Unggul BISI 18 Mendorong Produksi Jagung Parepare Tumbuh 186,93%

Produksi jagung Kota Parepare, Sulawesi Selatan, sepanjang tahun 2013 mencapai 505 ton dengan luas area tanam 176 Hektar (Ha). Angka tersebut naik dibanding produksi tahun sebelumnya yang hanya mencapai 176 ton dengan luas area tanam 54 Ha.

Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Sulawesi Selatan, Muhammad Aris, mengatakan peningkatan produksi jagung di Parepare merupakan hasil dari upaya Pemerintah memberikan penyuluhan kepada petani, termasuk soal pemilihan bibit unggulan.

“Jagung Bisi 18 merupakan bibit unggulan. Selain isinya yang padat, jagung memiliki tongkol yang besar dan seragam. Jadi peralihan petani untuk menanam jagung jenis ini merupakan keuntungan dalam meningkatkan pendapatan petani,” jelas Aris, di Makassar, Kamis, (24/04/2014).

Aris menambahkan, tiap tahunnya produksi jagung Parepare meningkat seiring dengan luas arealnya yang terus meningkat.

“Ini merupakan sesuatu yang unik. Parepare yang merupakan daerah perkotaan yang mengandalkan sektor jasa dan niaga, ternyata mampu mengembangkan produksi pertanian,” tuturnya.

Luas area tanam hanya 923 Ha, sangat kecil dibandingkan dengan daerah lain di Sulawesi Selatan. Namun, luas area tanam yang minim tersebut tidak menjadi kendala dalam mengembangkan sektor pertanian.

Selain itu, kata dia, faktor lain meningkatnya produksi jagung Parepare karena menggunakan pupuk dasar atau petroganik, kemudian dilanjutkan pemupukan lanjutan yang banyak mengandung unsur hara.

“Di tahun 2014 ini, produksi jagung Parepare diperkirakan bisa mencapai 10 ton per hektarnya,” tandas Aris.

Sumber : http://www.yiela.com (24/04/2014)

bisi-18 atasbawah

BISI-18 yang Kuat di Bawah dan Tangguh di Atas

Masalah bulai dan busuk tongkol adalah dua hal klasik yang akrab menghampiri pertanaman jagung. Hanya dengan menggunakan varietas yang memiliki gen tahan lah, dua masalah klasik itu bisa lebih efektif diatasi. Seperti varietas jagung super hibrida BISI 18 yang terbukti tangguh menghadapi gempuran dua masalah utama tersebut.

Bulai dan busuk tongkol bisa jadi adalah dua hal yang akan selalu menjadi masalah bagi para petani jagung. Namun keduanya bukanlah dua hal yang akan menyerang dan menghabiskan pertanaman jagung dalam satu waktu sekaligus. Keduanya memiliki ritme dan karakteristik tersendiri dalam menyerang salah satu komoditas pangan penting itu.

BISI-18 kuatatasbawah
Bulai yang dipicu oleh munculnya jamur Pheronosclerospora maydis biasanya banyak menyerang pertanaman jagung yang ada di dataran rendah yang memiliki derajat suhu dan kelembaban yang tinggi. Penyakit ini telah terkenal sebagai penghancur tanaman jagung dengan tingkat kerusakan hingga 80%, bahkan bisa sampai gagal panen.

Periode pergantian musim, baik itu dari musim hujan ke musim kemarau ataupun sebaliknya, merupakan saat-saat yang disukai jamur P. maydis untuk berkembang biak. Meski begitu, bukan berarti di luar periode tersebut bisa terbebas sama sekali dari serangan penyakit ini. Bisa jadi di luar periode tersebut tetap ada tanaman jagung yang terserang meskipun intensitasnya sangat kecil. Namun, jika intensitas serangan yang boleh dibilang tidak merugikan itu tidak diantisipasi, maka bisa menjadi momentum serangan yang lebih besar. Pasalnya, tanaman yang terserang, meskipun jumlahnya sangat sedikit, akan menjadi sumber infeksi bagi tanaman yang ditanam periode berikutnya.

Sementara untuk busuk tongkol, penyakit ini juga sama-sama dipicu oleh ulah jamur. Ada beberapa macam jamur yang menjadi biang keroknya, tiga di antaranya adalah: Fusarium moniliforme, Giberella zeae, dan Diplodia maydis. Ketiga spesies jamur tersebut semuanya memberikan dampak buruk pada perkembangan tongkol, penurunan kualitas hasil panen, hingga kegagalan panen.

Untuk berkembang biak, jamur penyebab busuk tongkol itu sendiri umumnya menyukai lingkungan yang sejuk dan lembab. Kondisi lingkungan seperti itu umumnya kerap dijumpai di kawasan dataran tinggi.

Oleh karena itu, untuk mengatasi dua masalah utama tanaman jagung itu memang dibutuhkan langkah-langkah spesifik sesuai karakter penyakitnya masing-masing. Hanya saja, masalah bulai dan busuk tongkol tersebut bisa diatasi dengan satu cara yang lebih efektif, yaitu dengan menggunakan varietas yang memiliki ketahanan genetis yang bagus terhadap dua penyakit itu.

Terlebih varietas jagung tersebut memiliki dua gen ketahanan sekaligus, yaitu mampu menghadapi gempuran penyakit bulai di kawasan dataran rendah sekaligus tangguh mengatasi busuk tongkol yang banyak menyerang di kawasan dataran tinggi.

Varietas super hibrida BISI 18

Saat ini memang sudah begitu banyak varietas jagung hibrida yang dikenalkan kepada para petani dengan berbagai kelebihannya. Entah sudah berapa varietas yang telah dilepas ke pasaran, dan tentunya hanya akan ada beberapa varietas saja yang mam-pu bertahan dan menjadi pilihan favorit petani.

Seperti halnya petani jagung di Sumatera Utara, mulai dari kawasan dataran rendah hingga kawasan pegunungan memiliki kriteria sendiri terhadap varietas jagung yang hendak mereka tanam.

“Untuk petani di daerah bawah (dataran rendah-red.) seperti di Kabupaten Langkat dan Deli Serdang, selain menghendaki varietas yang memiliki hasil yang tinggi, mereka juga menginginkan varietas yang tahan bulai. Sedangkan petani di atas (dataran tinggi-red.) seperti di Tanah Karo, lebih menghendaki varietas jagung yang tahan busuk tongkol,” terang Senior Manager Corns Seed Market Development PT BISI International, Tbk., Doddy Wiratmoko.

Menurut Doddy, dua kriteria dari dua topografi berbeda tersebut kini sudah bisa dipenuhi sekaligus oleh satu varietas jagung hibrida, yaitu BISI 18. Kualitas dan kuantitas hasil varietas jagung terbaru dari PT BISI ini telah terbukti dan diakui banyak petani di Sumatera Utara “bagian bawah” dan bagian atas”.

Sionita Br. Ginting misalnya. Wanita tani sekaligus pengepul jagung dari Desa Sigara Gara, Kecamatan Patumbang, Kabupaten Deli Serdang ini mengaku sangat puas dengan hasil jagung BISI 18. Ia sendiri sudah dua kali berturut-turut menanamnya dengan hasil yang menurutnya sangat memuaskan.

Sionita Br Ginting-Kampong Karo-Ds Sigara Gara-Kec Patumbang-Kab Deli Serdang-Sumut“Hasilnya luar biasa. Jagungnya lebih berat dibanding yang lain. Biasanya saya nimbang dari satu karug itu 70 kilogram (gelondongan), tapi BISI 18 bisa dapat lebih dari 80 kilogram. Jadi selisihnya bisa 10 kilogram per karung,” ujar Sionita.

Yang lebih penting baginya adalah ketahanan BISI 18 terhadap serangan penyakit bulai. Menurutnya, lantaran lebih aman dari bulai, jagung hibrida tersebut kini lebih dipilih petani di daerahnya.

“Sekarang ini lebih banyak petani yang lebih memilih tanam BISI 18. Karena, sekarang ini musimnya jagung lain banyak yang terkena bulai, jadi banyak petani yang beralih ke BISI 18,” sambung Sionita.

Hal yang sama juga disampaikan Sudarwin, petani jagung di Desa Kuala Mencirim, Kecamatan Sei Binggei, Kabupaten Langkat. Menurutnya, selain lebih aman dari serangan penyakit bulai, jagung super hibrida BISI 18 yang ditanamnya juga memiliki postur tanaman yang sangat seragam dan lebih kokoh, sehingga tidak mudah roboh terkena angin.

Sudarwin-Ds Pasar 6-Kuala Mencirim-Kec Sei binggei-Langkat-Sumut
“Bulainya nggak ada sama sekali. Batangnya rata tingginya, tongkolnya juga rata besarnya. Menurut saya, kalau kutengok, BISI 18 ini juga lebih tahan angin, soalnya yang lain kalau sedang bunga dan ada musim angin seperti sekarang ini tanamannya mudah putus (roboh-red.),” terang Sudarwin.

Sementara itu, Model Bangun, petani jagung di Desa Narigunung 2, Tigandreket, Tanah Karo, mengungkapkan, jagung BISI 18 di kawasan pegunungan yang ia tanam terbukti lebih aman dan tahan dari serangan busuk tongkol yang selalu menjadi masalah bagi petani di daerahnya.
“Dari awal tumbuh tanamannya bagus dan seragam. Hasilnya masih lebih baik dari jagung yang pernah saya tanam. Karena, BISI 18 ini lebih aman dari busuk tongkol dan busuk batang,” terang Bangun.

Bangun juga mengatakan, bahwa masalah busuk tongkol tidak bisa begitu saja disepelekan. Pasalnya, hal itu sangat mempengaruhi hasil dan kualitas panen. “Kalau sudah terkena busuk, sudah pasti tidak akan bisa dipanen dan juga tidak akan laku dijual,” terangnya.

Hal itu juga dibenarkan Didimus Barus, pedagang pengepul jagung di Desa Sigara Gara, Kecamatan Patumbak, Deli Serdang. Menurutnya, tanaman jagung yang terserang busuk secara kualitas sudah tidak layak untuk dijual.

Didimus Barus-Kampong Karo-Ds Sigara Gara-Kec Patumbak-Kab DeliSerdang-Sumut“Sebagai agen, saya juga tidak mau menerima jagung yang terkena busuk tongkol. Karena pasti tidak laku di pasaran. Pabrik pun juga pasti akan menolak,” terang Didimus.

Lantaran itu pula, Didimus Barus akhirnya juga lebih memilih untuk menanam sendiri BISI 18 di lahannya. Dan memang terbukti, tanamannya itu aman dari bulai sekaligus busuk batang dan busuk tongkol hingga masa panennya tiba.

“Dengan menanam BISI 18 jelas lebih menguntungkan. Karena, tidak ada yang busuk, aman dari bulai, dan hasil panennya juga lebih banyak, dari satu kilogram benih bisa dapat 600 kilogram pipil kering,” ujar Didimus.

panen-perdana-pt-bmh

Petani Binaan PT BMH – OKI Panen Perdana Jagung BISI-2

Petani dari Desa Srigading, Kecamatan Sungai Menang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), melakukan panen perdana jagung dua tongkol (BISI-2) seluas 130 hektar, Jumat (18/4/2014). Setelah dipenen diperoleh hasil 3,9 ton jagung untuk satu lahan seluas satu hektar.

Kebun jagung ini dikelola petani binaan PT Bumi Mekar Hijau (PT BMH),  yang bergerak di bidang Hutan Tanam Industri (HTI).

Gunawan, Manejer Distrik Sungai Gebang, PT BMH Desa Srigading mengatakan, panen jagung dua tongkol ini merupakan panen perdana kebun jagung binaan PT BMH. Perusahaan membina petani jagung dalam rangka meningkatkan taraf hidup petani di sekitar tempat usaha perusahaan.

“Ini merupakan program CRS dari PT BMH untuk masyarakat sekitar perusahaan, tujuanya untuk membantu perekonomian masyarakat, melalui program tanaman jagung sistem  tumpang sari,” kata gunawan.

Walaupun baru  panen perdana menurut Gunawan, sudah menghasilkan sebanyak 3,9 ton untuk per hektar.

“Sistem tumpang sari yang dilakukan ini, menunggu pohon akasia tumbuh besar, lahannya kita tanami tanaman sela yakni tanaman jagung BISI-2, pengelolaannya kita serahkan ke masyarakat sekitar, kita bantu pupuk, bibit, bahkan setelah panen kita bayar juga dalam membersihkan bekas lahan jagung tersebut,” ujar Gunawan.

Armaizal, dari manajemen PT BMH  menambahkan, untuk panen pedana ini hasilnya masih sedikit, pihaknya berharap kedepan hasilnya lebih banyak.

“Setelah ini akan dievaluasi, dan sesuai pendapat dari tim observasi dari UNSRI masih bisa dilakukan budidaya jagung  sebanyak  50 hektar lagi, ini tentu akan membantu pendapatan masyarakat sekitar,” jelasnya.

Menurut Ir Irfan dari Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sumsel, Pemprov Sumsel menyambut baik adanya program ini.

“Kami berharap dengan adanya program ini selain membantu perekonomian masyarakat, juga bisa membantu ketahanan pangan di Provinsi Sumatera Selatan, juga membantu produksi jagung di Sumsel,” ungkapnya

Sumber : http://palembang.tribunnews.com

ffd bisi222 lenangguar2

Petani Lenangguar-NTB Panen Perdana Jagung BISI 222

Lenangguar, Gaung NTB – Pemerintah Kecamatan Lenangguar bersama petani setempat yang dibantu PT BISI Internasional Tbk, menggelar panen perdana Jagung Bisi 222 di lokasi Buin Balit Dusun Rate, Desa Tatebal Kecamatan Lenangguar, Sabtu (5/4).

Panen perdana tersebut dihadiri Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumbawa, Ir Talifuddin M.Si, Kepala BP4K Sumbawa Tarunawan S.Sos, Camat Lenangguar, Tajuddin SH, dan Marketing Eksekutif FC NTB PT BISI Internasional Tbk, Tohri, serta dihadiri kepala desa se Kecamatan Lenangguar dan sejumlah kelompok tani setempat.

Dalam kesempatan itu Camat Lenangguar Tajuddin SH, mengatakan, panen perdana dan kerjasama dengan PT BISI ini berangkat dari niat ingin merubah masyarakat terutama petani dalam meningkatkan kesejahteraannya. Salah satu komoditi yang dapat mempercepat untuk terjadi perubahan itu adalah jagung.

Di beberapa wilayah di Kabupaten Sumbawa jelas Tajuddin, sudah mulai tanam jagung, dan salah satu yang membuatnya prihatin bahwa hampir setiap hari ada sekitar 50 truk melalui jalan Lenangguar membawa hasil pertanian dari kecamatan lain.

“Yang menjadi keprihatinan saya, mengapa hasil pertanian itu bukan berasal dari Kecamatan Lenangguar,” katanya.

Karenanya pada tahun pertama ini dia mulai melakukan terobosan baru dengan menambah aktifitas petani setempat dengan menanam jagung.

Berkat subdisi bibit gratis dari Disperta Sumbawa untuk 100 hektar, petani setempat berhasil menaman jagung, meski lokasinya masih sporadis, ada yang 2 hingga 5 hektar pada masing-masing kelompok tani, sehingga panen kali ini dinamakan panen perdana.

Namun untuk bulan yang sama pada tahun depan, Tajuddin memastikan akan menggelar panen raya, karena diyakini petani Lenangguar akan menanam jagung secara total.

Untuk diketahui sebut Tajuddin, kawasan Buin Balit Dusun Rate dan beberapa wilayah lain di Kecamatan Lenenangguar–di luar sawah irigasi, sangat bagus untuk ditanam jagung.

Pada sosialisasi awal, petani merasa pesimis untuk menanam jagung dengan alasan banyak babi dan monyet yang akan menjadi hama tanaman.

Namun ternyata di lokasi Buin Balet yang berdekatan dengan hutan, tidak ada babi atau monyet, karena ada teknis untuk mengusir hewan seperti yang pernah diterapkan di Kecamatan Labangka, yakni dengan memasang keroro dan jaring di sekitar pagar. “Apa yang dikhawatirkan oleh petani ternyata tidak terbukti,” imbuhnya.

Ke depan, Tajuddin berharap Disperta Sumbawa kembali memberikan bantuan bibit, bukan lagi untuk 100 hektar tetapi untuk 500 hektar khusus bagi petani di Kecamatan Lenangguar. “Saya yakin dengan panen perdana ini, menjadi awal yang baik bagi petani untuk menanam jagung,” ujarnya optimis.

Pada kesempatan itu, Tajuddin juga mengundang sejumlah petani jagung dari Labangka yang telah menjadi pengusaha jagung, yang nantinya akan membeli jagung petani Lenangguar. Selain itu juga didatangkan pengusaha yang akan membantu petani memberikan modal dan bibit kepada petani yang nantinya menanam jagung.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Sumbawa, Ir Talifudin M.Si, menyampaikan apresiasi kepada Camat Lenangguar dan petani yang telah menggelar panen perdana jagung di Kecamatan Lenangguar.

Sejak memberikan bibit untuk 100 hektar kepada petani Lenangguar melalui camatnya, Talifuddin sudah merasa yakin bahwa bibit itu tidak akan sia-sia. “Camat Lenangguar (Tajuddin) ini sudah membutikan keberhasilannya dalam mengajak petani untuk menanam jagung, seperti di Kecamatan Labangka maupun di Kecamatan Utan,” pujinya.

Selain itu Camat Lenangguar ini juga telah memiliki jaringan atau akses yang luas terhadap pengusaha jagung, sehingga petani tidak akan kesulitan untuk mendapatkan modal, bibit atau pemasaran.

Karenanya yang sudah dimulai oleh Camat Lenangguar ini dapat ditindaklanjuti secara serius oleh para petani setempat, sebab komoditi ini sangat menjanjikan untuk peningkatan kesejahteraan.
“Kalau beberapa tahun lalu, orang tua kita naik haji dengan ternak, maka sekarang ini sudah banyak petani yang naik haji karena jagung,” jelasnya.

Selaku dinas terkait, pihaknya akan memberikan dukungan kepada petani dalam mengembangkan jagung ini terutama pemberian bantuan bibit dan fasilitas pertanian.

Pada kesempatan yang sama, Marketing Eksekutif FC NTB PT BISI Internasional Tbk, Tohri, menyatakan perusahaannya siap menyediakan benih yang unggul bagi petani, apalagi
lahan di Lenangguar sangat bagus untuk menanam jagung.

“Jangan sampai lahan yang bagus ini dimanfaatkan oleh orang dari luar Lenangguar, maka petani di sini akan rugi,” katanya.

Apalagi sekarang ini kata Tohri, Camat Lenangguar sudah memulai, maka harus diteruskan oleh petani. Untuk diketahui lanjut Tohir, bahwa menanam jagung tidak susah, karena perawatannya tidak sulit. Mulai tanam cukup pemupukan 2 kali, sementara untuk pengairan cukup air hujan dan langsung menunggu panen. “Jagung tidak perlu dikawal, seperti tanaman holtikultura lainnya,” jelas Tohri. Untuk itu, PT BISI Internasioal siap memberikan bantuan baik bibit maupun tenaga teknis yang akan membantu petani.

Demikian juga dengan bibit, berapapun yang diperlukan oleh petani, PT BISI Internasional bersedia memberikannya. “Kami siap memberikan bantuan benih sebanyak yang dibutuhkan petani, demikian juga dengan petugas juga sudah disiapkan untuk membantu petani,” demikian Tohri.

Sumber : http://www.gaungntb.com (08/04/2014)

GPMT: Jangan Buru-Buru Setop Impor Jagung

Bisnis.com, JAKARTA–Kalangan pelaku usaha pakan ternak minta pemerintah tidak terburu-buru menutup keran impor jagung mengingat produksi dalam negeri belum sanggup memenuhi kebutuhan bahan baku industri yang secara konstan 650.000 ton/bulan atau setara 3,6 juta ton pada 2014.

Bulan ini pemerintah tengah menyusun rencana aksi dan kebijakan fiskal demi mengendalikan impor bahan baku dan bahan penolong, sementara industri pakan ternak adalah pengimpor terbesar kedua dengan tren importasi sebesar 21,39%.

Di sisi lain, Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) menargetkan pertumbuhan produksi pakan ternak sebesar 14,7 juta ton pada 2014, atau meningkat 10%-12% dari tahun sebelumnya yaitu 13,4 juta ton.

Sekjen GPMT Desianto Budi Utomo menyatakan bahwa sejatinya pengusaha tidak bermasalah dengan kebijakan tersebut, sebab industri pakan ternak lebih meminati jagung lokal ketimbang impor.

“Kami tidak bisa gambling dong dengan bahan baku. Kalau produsen jagung lokal bisa menyediakan 650.000 ton/bulan sepanjang tahun, tidak masalah impor mau dikendalikan, atau ditutup sekalian,” ujarnya kepada Bisnis.com, Senin (7/4/2014).

Desianto mencatat bahwa industri pakan ternak telah mengimpor 470.000 ton pada kuartal I. Pihaknya menargetkan tahun ini akan mengimpor 3,6 juta ton atau naik 12,5% dari tahun sebelumnya yang hanya 3,2 juta ton.

Meskipun demikian, paparnya, industri tidak bisa menunggu pelaku usaha jagung untuk memenuhi kebutuhan tersebut karena jagung merupakan bahan baku utama yang berkontribusi sampai 70% dari komponen biaya produksi.

Dia menjelaskan, harga jagung lokal sebesar Rp3.300-Rp3.500/kg memang berada di atas jagung impor di kisaran Rp3.200/kg tetapi tidak bisa dipungkiri kualitas jagung lokal lebih bagus, baik dari sisi kesegaran maupun kuning biji jagung.

Sumber : http://industri.bisnis.com (07/04/2014)

Bantuan Benih Jagung BISI-2 di Pohuwato untuk Peningkatan Kesejahteraan

MARISA – Adanya program pemerintah Kabupaten Pohuwato bersama pemerintah Provinsi Gorontalo, melalui dinas pertanian untuk membagikan bibit jagung kepada para petani memang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Kami harap dengan adanya bantuan ini, masyarakat khususnya para petani bisa meningkat kesejahteraannya dari hasil penanaman. Apalagi bibit yang dibagikan adalah bibit varietas unggul,” kata Syarif Mbuinga bersama Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie.

gorontalo-bantuanPembagian bibit untuk merupakan program rutin tahunan yang diberikan untuk beberapa kelompok tani yang memang layak untuk menerima bantuan bibit ini. “Sudah kami verifikasi seluruh kelompok tani, dan kami prioritaskan yang belum dapat tahun lalu,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pohuwato, Wady van Gobel.

Wady mengatakan saat ini Pohuwato mendapatkan bantuan bibit jagung sebanyak 3,6 ton dan akan dibagikan kepada 20 kelompok tani. Namun Wady menjelaskan saat ini pihaknya tengah berupaya agar Pemerintah Provinsi bisa menambah bantuan bibit jagung ini. “Kami terus berupaya agar makin banyak kelompok bisa mendapatkan bantuan ini yang muaranya untuk pengingkatan kesejahteraan petani,” ungkapnya.

Tak hanya itu, untuk penyalurannya sendiri akan terlebih dahulu melihat kesiapan lahan dan curah hujan yang stabil. “Tujuannya agar bantuan bibit memang benar-benar ditanam pada saat yang tepat dan lahan yang mendukung,” pungkasnya. s. (ais)

Sumber : http://gorontalopost.com (07/04/2014)

Harga Jagung Pipilan di Gorontalo Naik

GORONTALO – Harga jagung pipilan di Gorontalo mulai merangkak naik. Dari harga dikisaran Rp2.500 per kilogram untuk kadar air 17-18 persen, kini jagung Gorontalo dihargai Rp2.800 per kilogram oleh para pengusaha.

Menurut Kepala Gudang UD Manna Utara Deddy Abdullah yang menjadi salah satu penampung jagung petani Gorontalo, kenaikkan ini terjadi akibat permintaan jagung yang mulai meningkat. “Sekarang pengusaha jagung itu sudah banyak, jelas permintaan naik sehingga petani juga menaikkan harga,” kata Deddy.

harga-gorontaloSelain itu, kata Deddy, pada Maret hingga April ini, seharusnya menjadi panen raya bagi para petani jagung, namun dikarenakan Pemilu, banyak panen yang terpaksa ditunda. “Sebab para pekerja di lahan pertanian ini banyak yang dari wilayah lain, misalnya lahan di Paguyaman tetapi pekerjanya dari Telaga, maka mereka pulang untuk menyemarakan Pemilu,” ungkapnya. Gorontalo yang akhir-akhir ini terus diguyur hujan juga menjadi penyebab lain. Katanya, banyak petani yang tidak memipilkan jagung, sebab takut akan tumbuh ketika dibiarkan.

Bagaimana produksi jagung dalam beberapa tahun terakhir?, Deddy mengakui, saat ini produksi jagung di Gorontalo mengalami penurunan, sebab banyak para petani yang menanam tidak menggunakan pupuk. “Mereka tidak kebagian pupuk, pasokan saat ini turun,” ujarnya. Ia mencontohkan, dalam sehari saat ini, pasokan jagung petani yang masuk ke gudang minimal 50 ton, sementara sebelumnya minimal sebanyak 150 ton.(dan)

Sumber : http://gorontalopost.com (03/04/2014)

PT. BISI International Peduli Kelud

letusan4Letusan dahsyat Gunung Kelud yang terjadi pada tanggal 13 Februari 2014 lalu telah membawa dampak yang luar biasa. Bukan hanya bagi masyarakat di sekitarnya saja, namun dampak letusannya yang berupa hujan abu juga dirasakan hingga Jawa Barat. Bahkan semua bandara yang ada di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat terpaksa berhenti beroperasi hingga beberapa hari lantaran gangguan abu vulkanik.

Sementara itu, kawasan lereng Kelud, seperti Puncu dan Kepung, yang selama ini menjadi sentra penanaman cabai, turut hancur terkena sapuan gunung berapi paling aktif di Indonesia itu. Dampaknya adalah pasokan cabai nasional ikut terganggu hingga pada akhirnya harga cabai pun ikut meroket.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur Wibowo Eko Putro, Provinsi Jawa Timur merupakan pemasok utama kebutuhan cabai nasional. Sekitar 60% pasokan cabai nasional berasal dari Jawa Timur. Dan dari 60% itu, sekitar 40%-nya dipasok dari lereng Gunung Kelud yang meliputi tiga kecamatan, yaitu: Kepung, Puncu, dan Plosoklaten.

PT BISI International, Tbk. yang salah satu unit produksinya berada tidak begitu jauh dari puncak Kelud, sekitar 20 km, juga tidak luput dari dampak letusan dahsyat tersebut.  Meski demikian, hal itu tidak mengurangi sedikitpun kepedulian perusahaan terhadap korban bencana yang ada di sekitar Gunung Kelud. Bersama jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Kediri dan beberapa produsen benih, PT BISI turut serta secara aktif menyalurkan bantuan kepada masyarakat korban bencana letusan Kelud.

Bantuan itu sendiri berupa sarana produksi (saprodi) pertanian, meliputi benih unggul dan pupuk, yang dinilai lebih bermanfaat bagi masyarakat sekitar Kelud yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Empat kecamatan paling terdampak di Kabupaten Kediri, yaitu: Puncu, Kepung, Ngancar, dan Plosoklaten, menjadi sasaran utama penyaluran bantuan tersebut.

Menurut Hadi Winaryo, GM Personalia & General Affair PT BISI, pemberian bantuan tersebut juga merupakan wujud kepedulian perusahaan yang selama ini selalu berdampingan dan bekerjasama dengan masyarakat yang ada di sekitar Kelud.

03Penyaluran bantuan tersebut dilaksanakan di Balai Desa Asmara Bangun, Kecamatan Puncu pada tanggal 27 Februari 2014 yang dihadiri langsung oleh Bupati Kediri dr. Hj. Hariyanti, Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung, dan perwakilan perusahaan benih terkait. Secara simbolis, Bupati menyerahkan bantuan benih dan pupuk kepada perwakilan kelompok tani dari Kecamatan Puncu, Kepung, Ngancar, dan Plosoklaten.

IMG-20140304-WA0005Dalam acara tersebut, PT BISI turut serta menyalurkan bantuan benih unggul tanaman pangan dan hortikultura sebanyak 20,425 ton, yang terdiri dari: 10 ton benih jagung super hibrida BISI 816, 5 ton benih padi hibrida Intani-2, 2 ton benih jagung manis Super Sweet Corn, 3 ton benih kangkung BISI, 300 kg benih kacang panjang Hijau Super, 2 kg benih timun Hijau Roket, 50 kg benih cabai besar Tombak, 50 kg benih cabai rawit Cakra Putih, 20 kg benih buncis Lebat-1, 2 kg benih terong Naga Hijau, dan 1 kg benih tomat hibrida Kharisma.

Sementara dua perusahaan benih lain, yaitu: PT Agri Makmur Pertiwi dan CV Aura Seed, masing-masing menyalurkan bantuan benih sebanyak 3.332 kg dan 160 kg. Bupati sendiri juga menyumbang benih jagung sebanyak 2 ton, sedangkan Pramono Anung memberikan bantuan berupa pupuk organik sebanyak 70 ton.

Menurut Bupati Hariyanti, dengan pemberian bantuan benih dan pupuk tersebut diharapkan para petani yang berada di empat kecamatan terdampak paling parah itu bisa segera menanam komoditas yang umurnya relatif pendek tersebut. Hal itu diharapkan bisa lebih cepat mendatangkan penghasilan sehingga roda ekonomi petani bisa kembali berputar normal kembali.

“Saya kepingin ekonomi kembali normal, syukur-syukur bisa lebih baik lagi. Jangan mengeluh dan putus asa, semua petani harus bangkit dengan semangat yang baru,” ujar Bupati.

Selanjutnya, keseluruhan bantuan tersebut didistribusikan secara langsung kepada para petani yang berada di Kecamatan Puncu, Kepung, Ngancar, dan Plosoklaten. PT BISI sendiri telah menyalurkan bantuannya kepada para petani yang berada di empat kecamatan tersebut secara bertahap.

05Dimulai di Kecamatan Puncu pada tanggal 1 Maret 2014. Penyaluran bantuan benih tersebut diberikan kepada para petani di Desa Manggis dan Wonorejo. Kemudian pada tanggal 3 Maret 2014, distribusi bantuan bergeser ke Kecamatan Plosoklaten. Di kecamatan tersebut, bantuan disalurkan ke empat desa, yaitu: Desa Sepawon, Wonorejo Trisula, Sumberagung, dan Brenggolo. Sementara untuk dua kecamatan lainnya, yaitu Ngancar dan Kepung, penyaluran bantuan dilakukan pada tanggal 6 Maret 2014.

Para petani yang telah mendapatkan bantuan benih dan pupuk tersebut, rencananya juga akan mendapat pendampingan langsung dari petugas penyuluh pertanian Kabupaten Kediri. Tujuannya adalah untuk memotivasi para petani agar bergairah kembali dalam menjalankan usaha tani mereka. Sehingga bisa menghasilkan kembali produk-produk pertanian yang selama ini menjadi tumpuan hidup mereka, sekaligus andalan Kabupaten Kediri.

Sumber : Majalah Abdi Tani

Penyaluran Benih Jagung Hibrida BISI-2 di Kabupaten Pohuwato Tahun 2014

LINTAS POHUWATO, Dinas Pertanian, Perkebunan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pohuwato melakukan Penyaluran Benih Jagung Hibrida di 13 (Tiga Belas) Kecamatan yang ada di Kabupaten Pohuwato.
Penyaluran Benih Jagung Hibrida ini dilaksanakan pada hari Minggu, 09/03/2014 oleh Petugas dari Dinas Pertanian Pohuwato yang diserahkan langsung kepada Koordinator Penyuluh disetiap kecamatan.
pohuwato-07 pohuwato-01 pohuwato-02 pohuwato-04 pohuwato-05 pohuwato-06
Sumber : http://lintaspohuwato.blogspot.com (17/03/2014)

Petani Jagung Kajoran Panen Raya BISI 18

REMBANG (wartamerdeka.com) - Puluhan   petani  di Desa Kajoran, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, belum lama ini melaksanakan  panen raya jagung,  sementara banyak petani jagung di wilayah Kecamatan  Kragan Sarang gagal panen.  Panen raya di desa itu  terbilang cukup gemilang. Hasilnya mencapai belasan ton per hektar.

jagung-panenKetua Kelompok Tani Andalan Kecamatan Sarang Sugiman  mengatakan,  panen raya komoditas jagung di wilayah Sarang  Sedan  ke depan mempunyai prospek yang sangat bagus.  Hal ini bisa dibuktikan dengan meningkatnya permintaan pasar , selain itu semakin banyaknya berdiri  pabrik pakan  ternak khususnya di  wilayah Kabupaten Rembang sehingga  permintaan  bahan baku pakan ternak kedepan  semakin tinggi.

Masih kata Sugiman, terkait  penyakit putihan atau biasa yang disebut bulai  memang akan  menyebabkan hasil panen menurun bahkan beresiko gagal panen. Namun saat ini petani sudah tak perlu risau dan was was  dengan ancaman bulai itu karena Penyakit yang disebabkan oleh jamur itu  saat ini sudah  dapat diatasi.

Misbah (52 tahun), warga Desa Sedan Kec Sedan salah satu petani  jagung, usai panen Raya mengatakan, kendati cuaca ekstrim  curah hujan tinggi ia hanya menggunakan  pupuk sekali saja,  benih jagung BISI 18 yang ia tanam masih bisa tumbuh terbukti saat dipanen pada panen raya ini   jumlahnya mencapai 16,8 ton.

“Selain tahan bulai  dan hasilnya  banyak, tanaman jagung milik kami yang lokasinya tepat berada di  tepi jalan penghubung antar kecamatan hijau seger, padahal  belum sempat dirabuk, hal ini tentunya menjadi perhatian petani lain yang melintas,“pungkasnya.

Terpisah Marketing PT BISI  Sigit Raharjo S.TP  didampingi Petugas Penyuluh Pertanian Kecamatan Sedan menjelaskan, produk BISI-18 memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya selain tahan terhadap penyakit bulai, pertumbuhan awal sangat baik. “Tanaman jagung  kokoh dengan  daun tegak, tongkol besar  dan seragam, mencapai 80-90% sehingga produksi pertanian para petani meningkat,“terangnya.

Masih kata Sigit,  biji terisi sampai ujung, dan janggel kecil.  Rendemen tinggi rata rata 82-84%. Kelobot menutup rapat sampai ujung, sehingga cocok  di musim hujan dan musim kemarau.  “ Jarak tanam rapat : 70 x 20 cm (1 biji per lubang tanam). Produksi tinggi: mencapai 12 ton per hektar, sedang umur panen 100 hari,” pungkasnya. (Hasan)

Sumber : http://wartamerdeka.com (09/03/2014)

Harga Anjlok, Banyak Petani Jagung di Madura Mengeluh

GULUK-GULUK – Kendati memasuki musim namun hasil panen petani. Sebab, harga jagung saat ini sangat rendah. Akibatnya, hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan jumlah biaya selama menanam dan merawat tanaman jagung.

Seperti yang dialami Muzanniyah, 45, warga Desa Ketawang Laok, Kecamatan Guluk-Guluk. Dia mengatakan, harga jagung di pasaran tak pernah menguntungkan petani. Padahal, untuk menghasilkan tanaman jagung, dia mengeluarkan biaya yang cukup banyak. ”Murah sekali harga jagung saat ini,” keluhnya, Senin(3/3).

Dikatakan, saat ini harga jagung kering hanya Rp 2.800 per kilogram. Sementara untuk jagung kering lebih rendah lagi, yakni Rp 2.500.

jagung-madura

Meski demikian, rata-rata petani mengaku tidak akan meninggalkan pekerjaan bertani jagung dan tanaman yang lainnya. Oleh karenanya, dia berharap pemerintah dapat mencarikan solusi yang dapat menguntungkan petani. ”Paling tidak hasil panen dapat mengembalikan biaya selama menanam hingga panen,” harapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sumenep Bambang Heriyanto membenarkan anjloknya harga jagung saat ini. Menurutnya, hal itu disebabkan kualitas hasil panen petani kurang bagus. Sehingga, berdampak pada harga jual di pasaran.

Diungkapkan, kualitas jagung yang kurang bagus disebabkan cuaca ekstrem yang sering terjadi. Tingginya curah hujan menyebabkan kualitas jagung juga kurang baik. Selain itu, tanaman jagung petani banyak yang diserang hama. ”Dua hal itulah yang menyebabkan harga jagung saat ini rendah,” jelasnya.

Untuk itu, Bambang menyarankan petani untuk tidak menjual semua hasil panennya saat ini. Tetapi, dengan cara melakukan tunda jual sambil menunggu saat-saat harga berpihak kepada petani. ”Lakukan resi jagung atau tunda jual sampai pada saat harga lebih berpihak (baik),” sarannya. (c5/rd)

Sumber : http://radarmadura.co.id (04/03/2014)

Jagung : Menggadang Sentra Baru

Di 2014 ini pemerintah berambisi mematok produksi jagung 20,82 juta ton. Sejumlah daerah pun digadang sebagai kawasan baru sentra jagung.

Catatan Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT) menunjukkan impor jagung oleh perusahaan-perusahaan pakan di 2013 mencapai 3 juta ton. Angka ini melonjak dari impor di 2012 yang tercatat di angka 1,7 juta ton. Ketua Umum GPMT, Sudirman mengatakan, ketergantungan industri peternakan, utamanya perunggasan, pada jagung impor tak terelakkan. Pasalnya di satu sisi permintaan akan jagung terus meningkat, seiring terus bertumbuhnya industri pakan ternak yang mengikuti perkembangan usaha peternakan nasional. Di sisi lain produksi jagung nasional belum mampu memenuhi kebutuhan pasokan jagung.

Gambaran berbeda tersaji saat jumpa pers akhir tahun di Kementerian Pertanian (Kementan) beberapa waktu lalu (30/12/13). Menteri Pertanian, Suswono dalam keterangannya menyebutkan produksi jagung nasional 2013 ada di kisaran 18,51 juta ton (Tabel 1). Dan meskipun produksi tersebut turun 4,15 % dari angka capaian 2012 yang 19,39 juta ton, pemerintah mengklaim 2013 masih surplus komoditas jagung. “Kebutuhan jagung pada 2013 adalah 14,38 juta ton, sehingga tahun lalu surplus 4,12 juta ton,” ujar Suswono menampilkan data.

Lagi-lagi fakta ini mencuatkan kembali sebuah pertanyaan yang sudah menahun senantiasa mengemuka dan tidak pernah terjawab. Dimanakah keberadaan jagung yang melimpah tersebut ketika pabrikan pakan membutuhkannya? Tidak bertemunya antara permintaan dan pasokan ini masih saja jadi “misteri”. Produksi pakan yang menurut GPMT di 2013 13,4 juta ton menuntut ketersediaan jagung sekitar 7 juta ton (komposisi jagung sedikitnya 50 % dalam formulasi pakan). Logikanya jumlah itu akan mudah dipenuhi dari produksi dalam negeri. Apa lacur, pabrikan pakan unggas di waktu-waktu tertentu mengeluhkan langka dan mahalnya jagung lokal, alhasil langkah impor harus ditempuh.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Direktur Budidaya Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, Hasil Sembiring kepada Trobos Livestock mengatakan, saat ini tataniaga jagung belum ada yang mengatur sehingga penggunaan jagung bebas digunakan industri pakan, industri pangan dan industri lainya. Kebutuhan jagung oleh produsen pakan ternak yang tercatat hanya oleh perusahaan besar. Sedangkan produsen pakan ternak lokal yang kecil-menengah tidak tercatat dengan baik. “Padahal peternak skala kecil-menengah ini jumlahnya cukup besar,” kata Hasil. Selain itu, tambah dia, jagung lokal untuk kebutuhan pangan dan bahan baku industri lainnya juga cukup besar.

Tujuh Sentra Jagung
Di 2014 ini pemerintah berambisi mematok produksi jagung 20,82 juta ton. Sementara kebutuhannya diperkirakan sebesar 14,26 juta ton, sehingga bakal terjadi kembali surplus 6,56 juta ton.

jagung-menggadang

Menteri Pertanian yakin target ini bakal tercapai melalui kegiatan peningkatan produktivitas, pengamanan produksi, pengawalan dan pendampingan, perluasan areal tanam dan kegiatan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) seluas 260.000 hektar di 29 provinsi, 201 kabupaten.

Demi tercapainya target yang sudah dipatok, pemerintah pusat menyiapkan anggaran melalui APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) Rp 200 M. Peruntukannya antara lain penyediaan benih, operasional pendampingan, dan bantuan pasca panen. Selain dari APBN, sumber dana berasal dari dana APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah), dan swasta.

Lebih lanjut dijelaskan Hasil, secara umum ada 17 provinsi yang akan menjadi sentra jagung. Tetapi secara khusus pada rentang 2012 – 2014 pemerintah menggadang peningkatan produksi jagung di 7 provinsi yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Utara (Sulut), Sulawesi Tengah (Sulteng), dan Sulawesi Tenggara (Sultra).

Total areal luas lahan di 7 provinsi tersebut yang potensial untuk pengembangan jagung mencapai sekitar 3,16 juta ha, dan dapat ditanami 2 kali setahun. Potensi yang bagus dan komitmen pemerintah daerah setempat yang kuat disebut Hasil sebagai alasan dipilihnya daearah-daerah itu untuk pengembangan sentra jagung. “Dan pertimbangan utama adalah sangat dekatnya 7 provinsi tersebut dengan pasar jagung,” tutur Hasil. Pemerintah daerah-daerah tersebut siap mendukung dengan mengalokasikan anggaran daerah (APBD), serta melakukan pembinaan dan pengawalan program. Dikatakan Hasil, tambahan tanam di areal baru ini diharapkan memberikan tambahan produksi 2 juta ton pipilan kering dalam setahun sehingga target produksi 2014 tercapai.

Sudirman menyambut baik program pemerintah untuk mengembangkan sentra baru jagung, dan mengaku sejauh ini selalu terlibat dalam pengembangan jagung tersebut. “Kalau tidak salah pemerintah punya rencana menaikkan produksi jagung 2 juta ton di 2014 dengan anggaran Rp 200 miliar. Itu bagus, meski perlu waktu untuk itu,” kata dia. Dan beberapa anggota GPMT telah memulai menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah dalam pengembangan jagung.

Sudirman menyarankan, rencana menggenjot produksi jagung perlu dilengkapi dengan penetapan harga terendah untuk memberikan kepastian kepada petani jagung. Dan kabar baik disampaikan Sudirman, Bulog rencananya akan mengambil peran dalam penyerapan komoditas jagung.  Badan usaha pelat merah ini bakal membeli jagung petani untuk mengatur pasar jagung lokal. “Diharapkan tahun ini dapat berjalan,” ucapnya. Sehingga impor jagung di 2014 yang disebutnya diperkirakan mencapai 3,6 juta ton, dapat ditekan.

Kepada TROBOS Livestock, saat masih menjabat sebagai Direktur Budidaya Serealia Kementan, Fathan A. Rasyid mengatakan, dana asal pemerintah untuk mengembangkan sentra jagung hanya 5%, karena itu harus bersinergi dengan swasta. Dan di 7 provinsi tadi, akan dijalin kerja sama dengan swasta sebagai penjamin pasar dan harga. Diharapkan, kebutuhan pabrikan pakan akan ketersediaan jagung dapat bersinergi dengan kebutuhan petani akan kepastian serapan dan jaminan stabilitas harga jagung. “Semoga kualitas yang dituntut perusahaan dapat dipenuhi oleh petani,” kata dia di awal tahun. Fathan menyebut, kebutuhan jagung sebagai bahan baku pakan ternak mencapai 600 ribu ton tiap bulannya.

Sumber : http://www.trobos.com (01/03/2014)

Warga Nusa Sari – Bali Mulai Panen Jagung

KM KEMPO: Keuletan dan ketekuna warga Dusun nusa sari Desa Dororkobo yang berasal dari nusa Penida kabupaten Klungkung propinsi Bali ini memang tidak di ragukan lagi keberadaanya. dalam beberapa tahun terakhir panen jagung perdana dan tercepat selalu di mulai oleh mereka.

Dari hasil peninjauan km kempo, rabu 26 februari 2014 jagung pada kawasan ini tua hampir merata, apalagi di dukung oleh panas terik matahari yang sangat menyengat dalam beberapa hari terakhir memacu semangat para petani untuk segera menikmati hasil dari penantian panjangnya sejak empat bulan yang lalu.

Untuk harga jual jagung pipilan kering panen di tingkat petani sebesar Rp 2 000 perkilogramnya, angka ini berkurang RP 500/kl di banding tahun lalu , sedangkan harga jual jagung pipilan kering sama seperti tahun lalu yaitu Rp 2 800 perkilogramnya.

Menurut Wayan Repang, 52 thn seorang sesepuh warga Dusun Nusa sari, kepada KM kempo mengatakan ”kami di sini selalu fokus dalam berusaha, bulan sembilan kami sudah siap tanam, tergantung hujan, pada prisipnya kita yang menuggu hujan bukan hujan yang menunggu kita, selain itu harga jagung yang terjual pada panen perdana jauh lebih menguntungkan di banding pada puncak panen raya, setelah panen selesai kami bisa menyiapkan untuk tanaman kedua berupa jagung kacang-kacangan atau tanman palawija”. (Am)

Sumber : http://rupa-rupa.kampung-media.com (28/02/2014)

Benih Jagung Hibrida BISI

  Yahoo!
jagungbision Google+