BISI18       BISI222      BISI12      BISI816      BISI16       BISI2       iklan banner

Menuju Swasembada Jagung Tahun 2014
17 December 2011 pukul 01:51 WIB [ 459 views ]

Sumber: ditjenpdn.depdag.go.id (16/12/2011)

Pada perayaan Hari Pangan Sedunia ke-31, tanggal 16 Oktober lalu, pemerintah Indonesia mengambil tema “Menjaga Stabilitas Harga dan Akses Pangan Menuju Ketahanan Pangan Nasional”.

Kali ini, acara diperingati di Kabupaten Gorontalo, karena keberhasilan kabupaten tersebut dalam meningkatkan produksi jagung. Terpilihnya jagung sebagai ikon dalam kegiatan ini, diharapkan jagung menjadi salah satu solusi yang tepat untuk mengurangi konsumsi beras yang semakin meningkat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor beras Indonesia pada tahun ini telah mencapai US $ 829 juta atau sekitar Rp 7,04 triliun. Dengan konsumsi beras sebesar 139 kilogram/kapita/tahun dan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta jiwa, berarti konsumsi beras nasional tahun ini mencapai 34 juta ton. Hasil ini diperoleh dengan mengalikan konsumsi beras perkapita dan jumlah penduduk Indonesia saat ini. Bisa dikatakan, Indonesia merupakan konsumen beras terbesar di dunia.

Jika kebiasaan makan nasi ini dapat diubah, maka akan berdampak besar pada ketahanan pangan nasional. Beberapa waktu lalu, Wakil Presiden RI Boediono telah mencanangkan program ”One Day No Rice”. Dengan maksud, memberikan penyadaran bahwa kita tidak harus menjadikan beras sebagai makanan pokok. Kita masih bisa mengonsumsi singkong, gandum, ubi, dan jagung (juga produk olahannya) untuk kehidupan sehari-hari.

Pemanfaatan pangan lokal memang perlu terus ditingkatkan, sebagai salah satu solusi dalam memperkuat upaya ketahanan pangan. Caranya, dengan mengubah perspektif masyarakat yang merasa rendah diri karena mengonsumsi pangan lokal—seperti jagung dan umbiumbian. Padahal, pangan non beras ini juga memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. Di sisi lain, kita juga dihadapkan dengan tantangan harga pangan dunia yang terus mengalami kenaikan.

Menurut Food Price Watch, harga pangan global tahun 2011 secara signifikan lebih tinggi dibanding tahun 2010. Sejak krisis pangan melanda tahun 2007 hingga sekarang, kenaikan harga komoditas jagung menempati posisi tertinggi hingga 84 persen, disusul gula 62 persen, gandum 55 persen, dan minyak kacang kedelai 47 persen.

Ada banyak penyebab yang bisa kita inventaris. Di antaranya: Pertama, karena stok jagung di pasar dunia semakin menipis, sementara permintaan jagung dunia semakin meningkat. Ketua Dewan Jagung Nasional (DJN) Anton J Supit mengungkapkan, stok jagung di pasar dunia hanya menyisakan 15 juta ton, padahal biasanya mencapai di atas 70 juta ton. Seperti Cina yang semula tidak mengimpor jagung, tahun ini mengimpor sebesar 1,7 juta ton.

Tahun depan, Cina diprediksi bakal mengimpor sebanyak 5 juta ton, Malaysia 2,8 juta ton, Korea 8,9 juta ton, dan Jepang impor 16 juta ton. Padahal, dari produksi jagung dunia sebanyak 612,5 juta ton, Amerika Serikat masih menguasai produksi yang mencapai 256,9 juta ton dan menyusul Cina sebesar 114 juta ton.

Kedua, karena kenaikan di bursa saham dan harga minyak mentah
dunia. Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan RI, Syahrul R Sempurnajaya mengatakan, kenaikan harga jagung dalam negeri sebagaimana dalam analisis Bappebti disebabkan kenaikan di bursa saham dan harga minyak mentah dunia. “Jadi, harga minyak mentah ternyata berpengaruh terhadap kenaikan ini,” kata Syahrul.

Ketiga, karena semakin meningkatnya permintaan bahan pangan untuk kebutuhan bahan mentah pembuatan energi nabati (agrofuel). Penggunaan bahan bakar nabati—seperti tebu, kedelai, jagung, gandum, tanaman jarak, kelapa sawit, dan singkong— telah menjadi kebijakan energi sejumlah negara seperti Amerika Serikat, kawasan Uni Eropa, Jepang, dan  Brasil.
Peluang Bagi Indonesia

Selain gandum, singkong, dan sagu, sebenarnya jagung memiliki  potensi yang sangat besar untuk menggantikan beras. Karena, jagung merupakan sumber  karbohidrat sebagaimana beras, dan dapat dijadikan bahan baku untuk aneka ragam produk  olahan. Di beberapa daerah di Indonesia, misalnya di Madura dan Nusa Tenggara, telah  menggunakan jagung sebagai bahan pangan pokok.

Kini, Amerika Serikat juga menjadikan  jagung sebagai alternatif sumber pangan. Sebenarnya, Indonesia memiliki potensi yang besar  menjadi eksportir jagung global bersama dengan negara-negara produsen jagung lainnya di  dunia dalam lima tahun mendatang. “Kalau target produksi kita tercapai hingga tahun 2014  mendatang, maka kita sudah bisa mengisi perjagungan dunia,” kata Maxdeyul Sola, Sekretaris Jenderal DJN.

Sebagaimana kita tahu, sumber daya lahan di Indonesia cukup besar dan banyak daerah yang merupakan sentra jagung. Di antaranya, Sumatra Utara, Lampung, Jawa Timur,  Jawa Tengah, Jawa Barat, Gorontalo, dan Sulawesi Selatan. Setidaknya, ada dua provinsi yang  bisa menjadi pilot proyek pengembangan jagung nasional, yakni Lampung dan Sulawesi Selatan. Alasannya, di kedua provinsi tersebut infrastruktur sudah relatif tersedia, banyak ditemukan  pabrik pakan yang memiliki gudang penyimpanan, dryer (pengering), dan lahannya masih  memadai. Ada lahan potensial untuk pengembangan jagung sekitar 500 ribu hektar di Lampung, dan luas lahan jagung di Sulawesi Selatan saat ini mencapai 230-250 ribu hektar.

Menurut data BPS, produksi jagung tahun 2010 (ATAP) sebesar 18,33 juta ton, meningkat sebanyak 697,89  ribu ton (3,96 persen) dibandingkan tahun 2009. Peningkatan produksi tersebut terjadi di Jawa  sebesar 489,94 ribu ton, dan di luar Jawa sebesar 207,95 ribu ton. Angka ramalan I (Aram I)  produksi jagung tahun 2011 sebesar 17,93 juta ton. Jumlah ini turun sekitar 438.960 ton atau  2,39 persen ketimbang produksi tahun lalu.

Sebenarnya, kebutuhan jagung nasional hanya 16,3  juta ton. Dengan produksi jagung sebesar 18,33 juta ton di tahun 2010, seharusnya kebutuhan  dalam negeri tercukupi. Menteri Pertanian Suswono mengaku heran dengan masih adanya sejumlah kalangan yang kesulitan memperoleh pasokan jagung. Ia memperkirakan, persoalan tersebut mengindikasikan adanya masalah dalam pendistribusian hasil produksi jagung. Akibatnya, masih ada impor yang justru akhir-akhir ini meningkat.

Selama semester I tahun  2010 lalu, impor jagung hanya mencapai 600 ribu ton. Tapi di semester I tahun 2011, impor  jagung telah mencapai 2 juta ton. Hingga akhir tahun ini, diperkirakan akan mencapai 2,5 juta  ton. Untuk itu, pihaknya meminta BPS untuk mendata semua produksi dan konsumsi jagung,  agar tidak lagi terjadi perdebatan terkait impor.

Langkah lain yang harus disiapkan pemerintah adalah, menetapkan harga minimum  jagung untuk setiap wilayah. Dengan demikian, petani  memiliki kepastian harga. Selama ini, karena daya tawar petani rendah, harga jual jagung di  tingkat petani relatif murah. Tentu petani tidak bisa menahan jagung terlalu lama, karena tidak mempunyai alat pengering.

Bappebti menyebutkan, harga jagung mengalami kenaikan di  sejumlah pasar dalam negeri. Salah satunya di kabupaten OKU Timur, Sumatra Selatan. Harga  jual jagung dari tingkat petani saat ini tercatat berkisar antara Rp 3.025 hingga Rp 3.050 per  kilogram. Sebelumnya, harga jagung hanya Rp 2.700 hingga Rp 2.750 per kilogram. Sementara  itu, harga jagung pipilan kering pada tingkat pengecer di kota Kendari Provinsi Sulawesi  Tenggara, masih stabil pada level harga Rp 4.000 per kilogram.

Adapun harga jagung pipilan  kering di Bengkulu juga tergolong tinggi, berkisar Rp 5.000 per kilogram. Berbanding terbalik dengan wilayah di Kabupaten Jombang, harga jagung tahun ini lebih rendah daripada harga jagung saat panen tahun sebelumnya. Harga jagung pipilan basah Rp 170.000 per kuintal, lebih  rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 200.000 per kuintal. Sedangkan harga jagung glondongan Rp 110.000 per kuintal, lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 120.000 hingga Rp 125.000 per kuintal.

Maxdeyul Sola, Sekretaris Jenderal DJN, masih merasa optimis bahwa target produksi 24 juta ton per tahun akan tercapai pada tahun 2012. Indonesia  bisa menjadi negara eksportir jagung. Namun untuk tahun ini, target sebesar 22 juta ton memang belum bisa tercapai, lantaran jumlah produksi jagung masih terpengaruh anomali cuaca tahun lalu.

Untuk lebih meningkatkan produksi jagung, Menteri Pertanian RI Suswono telah menjanjikan kredit ke petani senilai Rp 20 triliun. Anggaran itu diperuntukkan bagi petani yang ingin mengembangkan usaha pertaniannya. Jika para petani makmur dan bisa meningkatkan produksinya, maka ditargetkan pada tahun 2014, Indonesia sudah bisa swasembada jagung. (spr/lmn)

Kirim komentar Facebook atau bagikan dengan
twitter share button Share Menuju Swasembada Jagung Tahun 2014 on Google+