BISI18       BISI222      BISI12      BISI816      BISI16       BISI2       iklan banner

Ketika Rendemen Masih Menjadi Patokan
5 March 2013 pukul 17:03 WIB [ 206 views ]

Di samping performa tanaman, rendemen yang berupa hasil akhir pipilan kering masih menjadi tolak ukur utama bagi petani jagung. Pasalnya, dari rendemen itu pula nilai untung rugi petani dihitung. Oleh karenanya, varietas jagung dengan rendemen yang tinggi masih menjadi pilihan utama para petani.

Ibarat memilih seorang pendamping hidup, menentukan varietas jagung yang hendak ditanam juga memerlukan beberapa pertimbangan yang matang. Bukan hanya dari bentuk fisiknya, namun sifat dan karakteristik genetisnya juga patut diperhitungkan. Pasalnya, hal itulah yang akan menentukan hasil akhir yang bisa diperoleh petani.

Yoto, Ds Penadaran, Gubug, Grobogan (3)Hal itu pula yang kini makin disadari petani jagung. Bukan hanya penampakan fisik tanamannya yang dilihat, namun berapa banyak hasil akhir yang bisa diperoleh nantinya. “Orang yang berpengalaman (tanam jagung), pasti lebih memilih varietas yang memiliki rendemen atau hasil akhir yang tinggi,” ujar Yoto, salah seorang petani jagung di Dusun Kedung Kakap, Desa Penadaran, Kecamatan Gubug, Grobogan, Jawa Tengah.

Pendapat Yoto itu juga dibenarkan Japar, Japar, Ds Jeruk, Bogorejo, Blora (5)petani jagung dari Desa Jeruk, Kecamatan Bogorejo, Blora, Jawa Tengah. Bagi petani jagung yang selalu menjual hasil panen dalam bentuk pipilan kering seperti dirinya, faktor rendemen yang tinggi sudah menjadi perhatian utama tiap kali akan menanam jagung. “Apapun itu jenis jagungnya, saya pasti lihat dulu rendemennya, bagus atau tidak. Kalau bagus, ya saya tanam,” terang Japar.Hal serupa juga dikatakan Rada, petani jagung sekaligus ketua kelompok tani Karya Tani Desa Sumingkir, Kecamatan Kedung Banteng, Tegal, Jawa Tengah. Baginya, dalam usaha tani jagung, yang paling penting adalah hasil akhirnya atau bobot dari pipilan kering. Karena, di wilayahnya, jagung dijual dalam bentuk pipilan kering, bukan gelondongan atau tongkol.

Sementara itu Edi, salah seorang petani jagung dari Desa Pehwetan, Kecamatan Papar, Kediri, Jawa Timur, mengatakan, meskipun performa tanaman juga menjadi perhatian dan pertimbangannya saat memilih varietas jagung yang mau ia tanam, masalah rendemen tetap menjadi pertimbangan utamanya. Ia menilai, sebagus apapun tanamannya, kalau rendemennya rendah, maka keuntungan yang bisa didapat petani juga rendah.

Tinggi rendahnya rendemen itu sendiri menurut Doddy Wiratmoko, Market Development Corn Seed Manager PT. BISI International, Tbk., bisa dilihat dari karakteristik fisik tongkolnya. Varietas jagung dengan ukuran janggel kecil dan biji yang menancap dalam, maka bisa dipastikan rendemennya akan tinggi. “Secara fisik, jagung dengan ukuran janggel yang kecil dan bijinya menancap dalam, maka rendemennya pasti tinggi,” terang Doddy.

jagung18Keterangan dari tim riset dan pengembangan tanaman jagung PT. BISI juga menegaskan hal itu. Terdapat beberapa parameter yang biasa digunakan untuk mengevaluasi tinggi rendahnya rendemen jagung, antara lain: pengisian biji, kerapatan biji pada tongkol, dan panjang bijinya.Untuk parameter panjang biji, diasumsikan, bahwa semakin panjang ukurannya, maka biji jagung itu akan semakin menancap lebih dalam ke janggel, sehingga ukuran janggelnya pun lebih kecil. Dengan demikian, bisa diduga proporsi biji terhadap bobot tongkol menjadi lebih besar. Alhasil, rendemennya pun juga akan besar.

BISI 18
Lantaran itulah, bagi para petani yang lebih berorientasi pada hasil, varietas jagung yang secara genetis memiliki karakteristik rendemen tinggi akan lebih dipilih. Alasannya pun sederhana, mereka ingin mendapatkan keuntungan yang lebih banyak dari hasil usaha tani jagung.

“Sekarang ini banyak sekali jenis jagung yang memiliki pertumbuhan tanaman yang bagus, tapi tidak semua memiliki rendemen yang tinggi,” ujar Rada yang pernah melakukan penanaman sejumRada, Ds. Sumingkir, Kec Kedungbanteng, Tegal (4)lah varietas jagung dalam satu hamparan lahan yang sama.

Dari 10 varietas yang dicoba Rada, ia akhirnya memilih satu varietas yang memiliki pertumbuhan atau performa tanaman yang bagus sekaligus rendemen yang tinggi. Varietas itu adalah jagung super hibrida BISI 18, varietas terbaru yang dikeluarkan PT. BISI.

“Dari varietas yang lain, BISI 18 lebih unggul. Pertumbuhannya bagus dan hasilnya bisa lebih tinggi. Dari satu kilogram benih (BISI 18), bisa dapat 4,5 kuintal (pipil kering). Yang lainnya itu kurang dari empat kuintal,” terang Rada.

Selain itu, kata Rada, daya simpan biji jagung ini juga lebih bagus dibanding yang lainnya, tidak mudah diserang hama gudang atau istilah bahasa setempatnya bubuken. Sehingga bisa ditahan lebih lama sembari menunggu harga yang pas untuk dijual ke pasar.

Demikian halnya dengan Yoto, jagung BISI 18 yang ia coba tanam di ladangnya juga mampu mendatangkan hasil yang lebih banyak dibanding jagung lain. Dari satu bagor (karung), ia bisa mendapatkan 80 kg jagung pipilan kering, padahal biasanya maksimal ia hanya bisa mendapat 70 kg.

Edi-papar-kediri-3Tingginya rendemen itu juga dibuktikan sendiri oleh Edi. Petani jagung dari Kediri ini menimbang langsung jagung BISI 18 yang ditanamnya di lahan seluas 130 ru (± 1.820 m2). Dari total 68 karung (sekitar 2,5 ton jagung glondongan), ia masih bisa mendapatkan dua ton jagung pipilan kering, atau dengan kata lain rendemennya mencapai 80%.

“Biasanya dari luasan itu mendapat 1,8 ton pipil kering, tapi ini bisa lebih,” ungkap Edi. Menurutnya, hal itu disebabkan oleh ukuran tongkolnya yang sangat seragam, bijinya juga muput (mengisi penuh) sampai ujung tongkol, dan ukuran janggelnya yang kecil. “Lha karena janggelnya kecil ini, jadi rendemennya mantap,” ujarnya.

Lain halnya dengan Japar, selain dari rendemennya yang tinggi, ia menyukai jagung yang memiliki potensi hasil hingga 12 ton per hektar pipil kering itu lantaran batang dan daunnya masih hijau dan segar meskipun sudah memasuki umur panen. Sehingga ia bisa memanfaatkannya untuk pakan ternak.

“Karena petani di sini kebanyakan adalah juga sebagai peternak sapi, jadi setiap kali tanam jagung, selain menginginkan hasilnya, kita juga pasti mengambil daun dan batangnya untuk pakan ternak. BISI 18 itu unggulnya di sini, hasilnya tinggi, batang dan daunnya juga masih bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak,” terang Japar.

Menurut Doddy, keunggulan jagung super hibrida BISI memang terletak pada keseragaman tanaman dan tongkolnya. “Tongkolnya sangat seragam dan letaknya relatif sama antara masing-masing tanaman. Prosentase tongkol normalnya dalam satu hamparan juga tinggi, lebih dari 92%, dan tingkat penutupan pucuk tongkolnya atau tip filling-nya bisa mencapai 97%. Sehingga secara keseluruhan hasilnya bisa lebih tinggi dibanding yang lain,” paparnya. (Majalah Abdi Tani Edisi 48, Januari-Maret 2013)

Kirim komentar Facebook atau bagikan dengan
twitter share button Share Ketika Rendemen Masih Menjadi Patokan on Google+