Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 3.900 (15%) ; Rp. 3.850 (16%)

Lampung
Rp. 3.725 (15%) ; Rp. 3.625 (17%)

Balaraja
Rp. 4.000 (15%)

Cirebon
Rp. 3.750 (15%) ; Rp. 3.650  (17%)

Semarang
Rp. 3.700 (15%) ; Rp. 3.600  (17%)

Surabaya
Rp. 3.600 (15%) ; Rp. 3.500  (17%)

Makasar
Rp. 3.650 (15%) ; Rp. 3.350  (17%)

Last Update 14 December 2017
Saham BISI

1.790

Last Update 15 December 2017
Apa Itu Biotechnology
23 November 2011 [ 845 views ]

Tanaman BIOTEK atau tanaman REKAYASA GENETIKA adalah tumbuhan yang mengandung sekumpulan gen dimana gen-gen tersebut telah dimasukkan secara artificial, tidak melalui penyerbukan. Gen yang disisipkan tersebut (dikenal sebagai transgen) dapat berasal dari spesies tanaman yang sama atau organisme lain yang tidak memiliki hubungan kekerabatan sama sekali. Tanaman yang dihasilkan disebut sebagai “hasil rekayasa genetika”, walaupun sesungguhnya semua tanaman yang dibudidayakan sekarang ini merupakan “hasil rekayasa genetika” dari bentuk liarnya melalui domestifikasi, seleksi, dan pemuliaan yang dikendalikan selama periode waktu yang lama.

Mengapa tanaman REKAYASA GENETIKA diciptakan?

Secara tradisional pemulia mencoba memindahkan gen dari satu tanaman ke tanaman lain untuk menghasilkan keturunan yang memiliki sifat yang dikehendaki.  Hal itu dilakukan dengan menyerbukkan tepung sari dari satu tanaman ke putik tanaman lainnya.  Meskipun demikian pemuliaan dengan persilangan tersebutterbatas pada tanaman yang sejenis atau yang memiliki hubungan kekerabatan yang dekat.  Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan diperlukan waktu yang lama dan biasanya sifat yang diinginkan tidak terdapat dalam spesies yang sama.

Teknologi rekayasa genetika memungkinkan pemulia menyatukan gen penting dari berbagai sumber, yang bahkan satu sama lain tidak memiliki hubungan kekerabatan, ke dalam satu tanaman.  Teknologi yang ampuh ini memungkinkan pemulia untuk melakukan pekerjaannya jauh lebih cepat dibandingkan dengan yang dilakukan selama bertahun-tahun untuk menghasilkan varietas unggul, disamping menghilangkan keterbatasan yang dihadapi pemuliaan tradisional.

Siapa Penghasil tanaman REKAYASA GENETIKA?

Kebanyakan penelitian tanaman tarnsgenik dilakukan di Negara industri, terutama Amerika dan Eropa Barat.  Meskipun demikian banyak Negara berkembang membangun kemampuannya dibidang rekayasa genetika seperti Philipina, India, dan Afrika selatan.

Di negara maju banyak perusahaan baru yang mendominasi pemanfaatan teknologi rekayasa genetika dibidang pertanian, seperti Aventis, Dow AgroSciences, DuPont, Monsanto, dan Syngenta.

Bagaimana Tanaman REKAYASA GENETIKA dibuat?

Tanaman REKAYASA GENETIKA dibuat melalui suatu proses yang disebut dengan rekayasa genetika.  Gen-gen yang mengatur sifat yang memiliki nilai komersial dipindahkan dari satu organism eke organisme lain.  Ada dua metode utama yang digunakan untuk memasukkan gen ke dalam genom tanaman.  Metode pertama menggunakan alat yang disebut dengan “senapan gen”.  DNA yang akan disisipkan kedalam sel tanaman dilapiskan pada partikel-partikel kecil.  Partikel tersebut selanjutnya ditembakkan ke dalam sel tanaman.  Beberapa DNA tersebut terlepas dan menyatu dengan DNA tanaman.  Metode kedua menggunakan bakteri untuk memasukkan gen ke dalam DNA tanaman.

Apakah tanaman REKAYASA GENETIKA cocok untuk Negara berkembang?

Sementara perdebatan tentang tanaman transgenic banyak terjadi di Negara-negara maju, Negara berkembang tetap mengharapkan keuntungan dari setiap teknologi yang dapat meningkatkan produksi pangan, menurunkan harga pangan, dan meningkatkan kualitas pangan.

Di negara dimana tidak tersedia cukup pangan dan harga pangan mempengaruhi pendapatan mayoritas penduduk, potensi keuntungan tanaman REKAYASA GENETIKA tidak dapat diabaikan.  Memang benar bahwa peningkatan gizi pangan belum merupakan keperluan di Negara berkembang, tetapi akan dapat memerankan peranan penting dalam membantu mengatasi malnutrisi di Negara berkembang.

Apa potensi manfaat tanaman REKAYASA GENETIKA?

Di negara maju jelas terbukti bahwa pemanfaatan tanaman REKAYASA GENETIKA telah memberikan keuntungan yang nyata, diantaranya adalah : hasil tanaman yang lebih tinggi, mengurangi biaya produksi, meningkatkan keuntungan petani, memperbaiki lingkungan.

Tanaman generasi pertama tersebut telah membuktikan kemampuannya dalam menurunkan biaya produksi pada tingkat petani.  Saat ini penelitian difokuskan pada generasi ke dua tanaman transgenic yang ditujukan untuk meningkatkan nilai gizi dan atau untuk keperluan industri.  Tanaman tersebut akan memberikan keuntungan bagi konsumen, seperti misalnya: beras yang diperkaya dengan vitamin A dan zat besi, kentang dengan kandungan pati yang lebih tinggi, varietas jagung yang dapat tumbuh di  lahan tandus, minyak kedelai dan kanola yang lebih sehat.

Apa potensi resiko dari tanaman REKAYASA GENETIKA?

Tentu saja setiap teknologi baru memiliki potensi resiko.  Resiko tersebut termasuk: bahaya akan terikutnya allergen dan factor anti nutrisi secara tidak sengaja kedalam pangan, kemungkinan terlepasnya transgen dari tanaman budidaya kedalam kerabat liarnya, kemungkinan bahwa tanaman transgenic dengan gen antibiotic akan menimbulkan ketahanan terhadap antibiotic pada ternak atau manusia, potensi terjadinya ketahanan hama terhadap racun yang dihasilkan oleh tanaman REKAYASA GENETIKA, dan resiko pengaruh toksin tersebut terhadap organisme bukan target.

Apabila telah tersedia lembaga legislative dan pengatur, tentu memiliki langkah yang rinci untuk secara tepat menghindari atau mengatasi resiko tersebut.  Sudah menjadi kewajiban dari innovator teknologi, produsen dan pemerintah untuk menjamin masyarakat akan keamanan pangan dan obat-obatan yang dihasilkan serta kebaikannya terhadap lingkungan.

Ada pula resiko yang tidak disebabkan atau tidak dapat dicegah oleh teknologi itu sendiri. Sebaai contoh, makin melebarnya perbedaan ekonomi antara Negara maju (pengguna teknologi) dengan Negara berkembang (bukan pengguna teknologi).  Meskipun demikian, resiko tersebut dapat ditanggulangi dengan menggembangkan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat miskin dan dengan memasukkan aturan-aturan sehingga simiskin memiliki akses terhadap teknologi baru.

Bagaimanakah bioteknologi digunakan pada bidang pertanian dan pangan?

Bioteknologi, yang merupakan kombinasi pemahaman yang tinggi antara biologi molekuler dan biologi seluler, dengan berbagai cara akan terus membantu bidang pertanian dan produksi makanan.  Manfaat utama dari teknologi ini adalah bahwa bioteknologi dapat mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mengantarkan sifat dari produk konvensional dan makanan yang diperbaiki dipasaran.  Bioteknologi mengurangi beberapa tahun ujicoba dan seleksi sifat tanaman dilapangan menjadi hanya beberapa bulan uji coba dan seleksi di laboratorium. Pengurangan waktu yang sangat signifikan ini memberikan manfaat bagi penanam dan konsumen.

Manfaat yang kedua adalah bahwa sifat-sifat produk bioteknologi diintegrasikan kedalam tanaman. Hal ini memungkinkan penanam dapat mengurangi waktu dan biaya produksi, meningkatkan efisiensi, dan control hama dengan cara yang ramah lingkungan. Misalnya, tanaman jagung yang mempunyai sifat tahan terhadap serangan hama, ini akan memberi petani hasil yang meningkat dan mengurangi kebutuhan dan frekuensi semprot.

Manfaat yang ketiga adalah bahwa bioteknologi menyediakan tanaman yang dapat mensuplai pakan yang lebih baik bagi peternakan dan pilihan-pilihan nilai nutrisi yang beragam bagi konsumen.

Apakah bioteknologi benar-benar sebuah teknologi baru?

Bioteknologi mencakup berbagai aktifitas seperti penggunaan ragi dalam pembuatan bir atau roti, dan pada proses fermentasi susu untuk membuat yogurt. Dalam beberapa abad, manusia telah melakukan seleksi, menabur, dan memanen benih-benih terbaik yang kemudian memproduksi pangan yang kita makan sekarang.

Saat ini, pengembangan baru bidang bioteknologi membolehkan kita untuk mengidentifikasi dan mentransfer gen spesifik yang dapat menciptakan sebuah sifat yang diinginkan dan menawarkan sebuah cara yang lebih cermat untuk memproduksi tanaman dengan karakteristik tertentu seperti nutrisi yang lebih baik.

Apakah penilaian terhadap pangan hasil rekayasa genetika dinilai berbeda dengan pangan tradisional?

Secara umum konsumen mempertimbangkan bahwa pangan tradisional (yang sering dikonsumsi selama ribuan tahun) aman.  Ketika suatu pangan baru yang terbentuk menggunakan metode alami, beberapa karakteristik pangan berubah, baik positif maupun negative.  Instansi yang berkaitan dibidang pangan suatu Negara terpanggil untuk memeriksa pangan tradisional, akan tetapi hal ini tidak selalu dilakukan.  Demikian juga halnya dengan tanaman baru yang dikembangkan melalui teknik pembiakan tradisional boleh tidak dievaluasi dengan menggunakan teknik penilai resiko (risk assessment).

Akan tetapi untuk pangan hasil rekayasa genetika, sebagian besar instansi yang bertanggungjawab berpendapat bahwa penilaian khusus diperlukan.  System khusus telah dirancang untuk pelaksanaan evaluasi yang teliti terhadap organisme rekayasa genetika dan pangan rekayasa genetika terkait dengan kesehatan manusia dan lingkungan.  Evaluasi demikian umumnya tidak dilakukan terhadap pangan tradisional.  Oleh karena itu, terdapat perbedaan yang signifikan dalam proses evaluasi sebelum pemasaran untuk kedua grup pangan tersebut.

Salah satu tujuan WHO Food Safety Program adalah untuk membantu instansi pemerintah dalam mengidentisikasi pangan yang harus melalui pengkajian resiko termasuk pangan rekayasa genetika, dan memberikan rekomendasi pengkajian yang benar.

Jika bioteknologi sangat aman, bagaimana dengan kontroversi yang ada?

Banyak kontroversi yang disebabkan oleh ketidaktahuan.  Banyak orang menganggap bahwa bioteknologi akan menimbulkan masalah-masalah yang tidak terduga dalam kaitannya dengan keamanan manusia dan keamanan lingkungan. Sehingga pertanyaan yang muncul adalah apakah kita akan menghentikan produk biotek ini dan tidak melakukan apapun? Atau apakah kita akan melanjutkan teknologi ini dan menyesuikannya dengan pengetahuan yang kita punya?

Bioteknologi, sepanjang dikerjakan secara cermat, cerdas, dan hati-hati dengan tujuan untuk mengisi harapan-harapan bioteknologi yaitu untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat luas, sambil kita mendengarkan dan merespon apa yang menjadi concern masyarakat, maka teknologi ini akan sangat bermanfaat bagi manusia dan lingkungannya.

Bagaimana menentukan/mengukur risiko yang potensial terhadap kesehatan manusia?

Pengkajian keamanan pangan hasil rekayasa genetika secara umum menilai: a) efek langsung terhadap kesehatan (toksisitas); b) kecenderungan untuk menyebabkan reaksi alergi (alergenisitas); c) komponen spesifik yang diduga mempunyai nilai gizi atau sifat toksik; d) stabilitas dari gen yang disisipkan; e) efek nutrisi terkait dengan modifikasi genetika; f) efek lain yang tidak diharapkan yang mungkin muncul sebagai akibat dari penyisipan gen.

Isu penting apa saja yang terkait dengan kesehatan manusia?

Secara teori, pembahasan mencakup berbagai aspek, 3 isu utama yang diperdebatkan adalah kecenderungan untuk menyebabkan reaksi alergi (alergenitas), transfer gen dan outcrossing.


Alergenitas.  Pada prinsipnya transfer gen dari pangan yang biasanya menyebabkan alergi tidak diinginkan kecuali jika dapat dibuktikan bahwa protein dari transfer gen tidak bersifat alergenik.  Pangan yang diproduksi secara tradisional umumnya tidak diuji alergenitasnya, akan tetapi untuk pangan hasil rekayasa genetika protocol untuk pengujian tersebut telah dievaluasi oleh FAo dan WHO.  Tidak ditemukan adanya efek alergi dalam pangan hasil rekayasa genetika yang sekarang ini ada dipasaran.

Transfer gen.  transfer gen dari pangan hasil rekayasa genetika kedalam sel tubuh atau ke bakteri didalam system pencernaan tersebut menimbulkan kekhawatiran jika material genetika yang ditransfer tersebut dapat merugikan kesehatan manusia.  Hal ini bias menjadi sangat relevant jika akan melakukan transfer gen yang resisten terhadap antibiotic dalam pembuatan produk hasil rekayasa genetika.  Walaupun peluang tersebut kecil, para ahli dari FAO/WHO telah menyarankan penggunaan teknologi tanpa gen resisten antibiotika.

Outcrossing. Perpindahan gen dari tanaman rekayasa genetika ke tanaman konvensional atau spesies yang terkait dialam (disebut sebagai out crossing), serta percampuran produk pasca panen dari bibit konvensional dengan produk yang ditanam dari produk rekayasa genetika, mungkin mempunyai efek tidak langsung terhadap keamanan pangan dan ketahanan pangan.  Risiko ini nyata seperti ditunjukkan ketika dilakukan penelusuran terhadap jenis jagung yang hanya diijinkan untuk pakan terdapat pada jagung untuk konsumsi manusia di Amerika.  Beberapa Negara telah menggunakan strategi untuk mengurangi pencampuran tersebut, termasuk pemisahan yang jelas antara lahan pertanian untuk tanaman rekayasa genetika dan dengan lahan untuk tanaman konvensional.

Kelayakan dan metode pangawasan post-market produk pangan rekayasa genetika dalam rangka pengawasan keamanan produk pangan hasil rekayasa genetika tersebut yang berkelanjutan masih didiskusikan.

Bagaimana melakukan kajian risiko pada lingkungan?

Kajian resiko terhadap lingkungan dilakukan terhadap organisme rekayasa genetika dan lingkungan yang paling potensial mendapat risiko.  Proses kajian meliputi evaluasi karakteristik organisme rekayasa genetika, efek dan stabilitasnya di lingkungan, dikombinasikan dengan karakteristik ekologi lingkungan dimana introduksi gen dilaksanakan.  Kajian juga meliputi efek yang tidak diharapkan akibat penyisipan gen baru.

Isu-isu apa saja yang terkait dengan lingkungan?

Isu-isu yang dikhawatirkan meliputi: kemampuan organisme rekayasa genetika untuk terlepas dan berpotensi mengintroduksi gen tersebut ke populasi liar; ketahanan gen setelah organisme rekayasa genetika dipanen; kerentanan organisme non target terhadap gen rekayasa genetika (contohnya serangga yang bukan hama); stabilitas gen; reduksi spectrum dari tanaman lain termasuk kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity); dan peningkatan penggunaan bahan kimia di dalam pertanian.  Aspek keamanan lingkungan dari produk rekayasa genetika berbeda-beda, sangat tergantung pada kondisi local.

Pemeriksaan yang baru difokuskan pada: kemungkinan efek yang tidak diinginkan terhadap serangga yang bermanfaat atau induksi yang lebih cepat pada serangga yang resisten; potensial munculnya generasi baru pathogen tanaman; besarnya konsekuensi kerusakan terhadap keanekaragaman hayati tanaman dan kehidupan alam liar; dan penurunan pelaksanaan rotasi hasil panen pada keadaan local tertentu; serta perpindahan gen resisten herbisida ke tanaman lain.

Apakah pangan hasil rekayasa genetika aman?

Berbagai organisme rekayasa genetika memiliki gen sisipan dan disisipkan dengan cara yang berbeda-beda.  Hal ini berarti bahwa setiap pangan hasil rekayasa genetika dan keamanannya harus dikaji  bedasarkan kasus per kasus dan tidak untuk membuat pernyataan umum tentang keamanan semua panganhasil rekayasa genetika.

Pangan hasil rekayasa genetika yang tersedia di pasaran internasional saat ini telah melewati kajian risiko dan kemungkinan besar tidak menimbulkan risiko terhadap kesehatan manusia.  Disamping itu, belum ditemukan adanya pengaruh terhadap kesehatan manusia sebagai akibat mengkonsumsi pangan tersebut pada masyarakat umum di Negara-negara dimana pangan tersebut telah diizinkan.

Pelaksanaan prinsip kajian risiko berdasarkan pada prinsip-prinsip Codex, dan jika sesuai termasuk pengawasan post-market, harus menjadi dasar dalam mengkaji keamanan pangan hasil rekayasa genetika.

Bagaimana pangan hasil rekayasa genetika diatur di masing-masing Negara?

Cara pemerintah mengatur pangan hasil rekayasa genetika bervariasi.  Dibeberapa Negara, pangan hasil rekayasa genetika belum diatur.  Negara-negar yang telah mempunyai peraturan, mengutamakan pengkajian risiko terhadap kesehatan konsumen.  Negara-negara yang telah mempunyai ketetapan/ketentuan tentang pangan hasil rekayasa genetika biasanya juga mengatur tentang organisme rekayasa genetika secara umum, dengan memperhatikan perihal risiko terhadap kesehatan dan lingkungan termasuk isu-isu yang terkait dengan perdagangan dan pengawasan (seperti kemampuan pengujian dan pelabelan).  Menanggapi dinamika perdebatan tentang organisme rekayasa genetika, peraturan perundang-undangan tetap perlu dikembangkan.

Jenis-jenis pangan hasil rekayasa genetika apa saja yang ada dipasaran?

Semua produk hasil rekayasa genetika yang saat ini tersedia di pasaran internasional telah dirancang menggunakan salah satu dari tiga sifat/cirri dasar: resistensi terhadap serangga perusak; resisten terhadap inveksi virus; dan toleransi terhadap herbisida tertentu.  Semua gen digunakan untuk memodifikasi produk pasca panen diambil dari mikroorganisme.

Hal-hal apa yang harus diperhatikan jika pangan hasil rekayasa genetika diperdagangkan secara internasional?

Saat ini tidak ada peraturan internasional yang mengatur tentang hal ini.  Walaupun demikian, beberapa organisasi internasional ambil bagian dalam mengembangkan beberapa protocol tentang organisme rekayasa genetika.

Codex Alimentarius Commission (Codex) merupakan gabungan antara FAO/WHO yang bertanggungjawab untuk menghimpun, petunjuk, pedoman, dan rekomendasi yang merupakan petunjuk internasional dari Codex.

Codex telah menerbitkan prinsip-prinsip analisis resiko pangan hasil rekayasa genetika terhadap kesehatan manusia (CAC/GL 44-2003).  Dasar pemikiran dari prinsip ini mengharuskan adanya kajian premarket, pelaksanaan kajian kasus per kasus, termasuk evaluasi terhadap efek langsung (dari gen yang disisipkan) dan efek yang tidak diinginkan (hal ini mungkin timbul dari akibat penyisipan gen baru).  Pinsip Codex tersebut tidak bersifat mengikat terhadap perundang-undangan nasional suatu Negara, tetapi terkait dengan ketentuan Sanitary and Phytosanitary Agreement of the World Trade Organization (SPS Agreement), dan dapat digunakan sebagai referensi dalam menyelesaikan kasus sengketa perdagangan.

The Cartagena Protocol on Biosafety (CPB), perjanjian yang berhubungan dengan lingkungan yang mengikat setiap pihak yang menandatanganinya, mengatur pembatasan pergerakan organisme rekayasa geneika hidup.  Pangan hasil rekayasa genetika termasuk dalam lingkup CPB tersebut hanya jika mengandung organisme rekayasa genetika yang dapat mentransfer atau memperbanyak material genetika.  Landasan dari CPB adalah persyaratan bahwa exporter harus meminta ijin kepada importer sebelum pengiriman pertama organisme rekayasa genetika yang akan dilepas ke linkungan (CPB telah berlaku sejak September 2003, dan Indonesia telah meratifikasi CPB ini melalui Undang-Undang Republik Indonesia No.21 Tahun 2004.

Apakah produk hasil rekayasa genetika dipasaran internasional telah melewati/lolos kajian risiko?

Produk rekayasa genetika saat ini beredar di pasar internasional telah melewati kajian resiko yang dilaksananakn oleh instansi yang berwenang di suatu Negara.  Perbedaan kajian secara umum mengikuti prinsip dasar yang sama, termasuk kajian terhadap lingkungan dan risiko kesehatan manusia.  Kajian telah selesai dilaksanankan, produk-produk tersebut tidak menunjukkan adanya risiko apapun terhadap kesehatan manusia.

Mengapa ada kekhawatiran dati sejumlah politikus, kelompok pemerhati masyarakat dan konsumen terutama di Eropa terhadap pangan hasil rekayasa genetika?

Sejak pertama kali pemasaran pangan hasil rekayasa genetika (kedelai yang resisten terhadap herbisida) dipertengahan tahun 90an, terjadi peningkatan kekhawatiran terhadap pangan tersebut diantara pakar politikus, aktivis dan konsumen, khususnya di Eropa, yang terkait dengan beberapa factor.

Pada akhir tahun 80-an sampai awal tahun 90-an, hasil penelitian molekuler selama puluhan tahun tersebut telah mengusik perhatian masyarakat.  Pada saat itu konsumen umumnya tidak terlalu peduli terhadap penelitian tersebut.  Dalam hal pangan, konsumen mulai bertanya-tanya tentang keamanan karena mereka merasa biologi modern adalah untuk pembuatan spesies baru.

Konsumen sering bertanya “apakah yang ada didalam produk tersebut bermanfaat untuk saya?” jika terkait dengan obat, banyak konsumen lebih siap menerima bioteknologi sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi kesehatan mereka (contohnya obat dengan kemampuan yang lebih baik).  Kemampuan benih rekayasa genetika untuk memberikan hasil panen yang lebih besar per area seharusnya dapat memberikan harga yang lebih rendah.  Namun demikian perhatian masyarakat telah terfokus pada risiko daripada perbandingan antara risiko dan manfaat.

Kepercayaan konsumen terhadap keamanan suplai pangan di Eropa telah mengalami penurunan secara signifikan, sebagai akibat dari kerawanan makanan yang merebak di pertengahan kedua tahun 90-an yang tidak ada hubungannya dengan pangan hasil rekayasa genetika.  Hal ini juga berdampak terhadap pembicaraan tentang penerimaan pangan hasil rekayasa genetika.  Konsumen mempertanyakan validitas kajian risiko, baik terhadap kesehatan konsumen maupun terhadap lingkungan, terutama terhadap efek jangka panjang.  Topic lain yang diperdebatkanoleh organisasi konsumen meliputi alergenitas dan resistensi antimikroba.  Kekhawatiran konsumen telah memunculkan diskusi tentang keinginan untuk pelabelan pangan hasil rekayasa genetika, sebagai suatu informasi untuk melakukan pemilihan.  Pada saat yang sama, telah dibuktikan bahwa sulit untuk mendeteksi jejak rekayasa genetika dalam pangan, hal ini berarti bahwa konsentrasi yang sangat rendah tidak dapat di deteksi.

Apa akibat permasalahan tersebut erhadap pemasaran pangan hasil rekayasa genetika di Eropa?

Kekhawatiran masyarakat terhadap pangan hasil rekayasa genetika dan organisme hasil rekayasa genetika secara umum mengakibatkan suatu dampak yang signifikan terhadap pemasaran produk rekayasa geneika di Eropa.  Kenyataannya hal tersebut berakibat penundaan terhadap produk rekayasa genetika yang telah disetujui untuk diedarkan.

Pemasaran pangan rekayasa genetika dan organisme rekayasa genetika ummnya merupakan subyek dari peraturan/undang-undang.  Peraturan tersebut telah diterbitkan sejak awal 90-an.  Prosedur persetujuan untuk pelepasan organisme rekayasa genetika ke lingkungan cukup kompleks dan pada dasarnya memerlukan kesepakatan antara Negara anggota dan Komisi Eropa.  Antara tahun 1991 dan 1998, pemasaran 18 organisme rekayasa genetika di Uni Eropa telah disetujui melalui keputusan Komisi.

Sampai oktober 1998, tidak ada lagi persetujuan yang dikeluarkan dan ada 12 permohonan yang ditunda.  Beberapa Negara anggota meminta adanya suatu ketentuan berkenaan dengan perlindungan anggota untuk melarang sementara pemasaran jagung dan produk minyak dari oilseed dinegara mereka.  Saat ii ada 9 kasus yang sedang ditangani, delapan diantaranya telah diuji oleh Scientific Committee on Plants, dimana semua kasus menunjukkan bahwa informasi yang diajukan oleh Negara anggota tidak menguatkan larangan mereka.

Selama tahun 90-an, kerangka kerja pengaturan lebih diperluas dan disempurnakan dalam rangka menanggapi kekhawatiran penduduk, organisasi konsumen, dan pelaku ekonomi.

Di Uni Eropa, pelabelan diterapkan secara wajib terhadap produk yang dihasilkan oleh bioteknologi modern atau produk yang mengandung organisme rekayasa genetika.  Aturan ini membuat ambang batas minimum untuk DNA atau protein hasil rekayasa genetika adalah 1%, dibawah ambang batas tersebut pelabelan tidak diwajibkan.

Pada tahun 2001, Komisi Eropa menerapkan dua usulan aturan baru tentang ketertelusuran organisme rekayasa genetika, penekanan peratutan pelabelan yang ada dan mempersingkat prosedur persetujuan untuk organisme rekayasa genetika dalam pangan dan pakan serta pelepasan yang disengaja ke lingkungan.

Apa yang menjadi perdebatan public tentang pangan hasil rekayasa genetika diwilayah lain di dunia?

Pelepasan organisme rekayasa genetika ke lingkungan dan pemasaran pangan hasil rekayasa genetika telah menimbulkan perdebatan public diberbagai belahan dunia.  Walaupun isu yang diperdebatkan biasanya hampir sama (biaya dan manfaat, isu keamanan), dan hasil perdebatan berbeda-beda antar suatu Negara dengan Negara lain.  Isu berkenaan dengan pelabelan dan keterletusuran pangan hasil rekayasa genetika sebagai suatu cara untuk menjawab kekhawatiran konsumen, sehingga sampai saat ini belum ada persetujuan, sebagaimana dapat dilihat selama diskusi dalam sidang the Codex Alimentarius Commission selama beberapa tahun terakhir.

Yang paling terbaru yakni, krisis kemanusian di afrika selatan telah mengundang perhatian orang akan penggunaan pangan hasil rekayasa genetika sebagai bantuan pangan dalam keadaan darurat.  Beberapa Negara diberbagai wilayah menyatakan tentang kekhawatirannya terhadap lingkungan dan keamanan pangan.

Apakah reaksi masyarakat di berbagai wilayah didunia berhubungan dengan perbedaan pandangan tentang pangan?

Tergantung dari wilayahnya, di dunia masyarakat biasanya mempunyai pandangan yang berbeda terhadap pangan.  Selain nilai gizi, pangan biasanya mempunyai nilai social dan sejarah, dibeberapa wilayah mungkin mempunyai niali religius yang penting.  Teknologi modifikasi pangan dan produksi pangan dapat menimbulkan reaksi negative antara sebagian konsumen terutama apabila tidak ada komunikasi yang baik tentang upaya kajian risiko dan manfaat.

Apa perkembangan lebih lanjut yang dapat diharapkan dari organisme rekayasa genetika?

Dimasa mendatang, organisme rekayasa genetika kemungkinan besar akan mencakup pengembangan tanaman yang resisten terhadap penyakit atau kekeringan, produk dengan kandungan gizi yang lebih baik, spesies ikan yang mempunyai karakter pertumbuhan yang lebih tinggi, dan tanaman atau hewan yang dapat memproduksi protein penting yang dapat digunakan dalam bidang farmasi, seperti vaksin.

Bagaimana dengan Regulasi Pangan Produk Rekayasa Genetika di Indonesia?

Sama halnya dengan pangan lainnya, pangan produk rekayasa genetika harus melalui tahapan pengkajian / penilaian keamanan pangan (pre-market food safety assesment), seperti tertuang pada UU No. 7 tahun 1996 tentang Pangan dan PP No. 28 tahun 2004 tentang Keamanan,Mutu dan Gizi Pangan. Jika pangan PRG sudah dinyatakan aman untuk dikonsumsi dan dijual dalam kemasan, maka label pangan wajib mengikuti PP No. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan.

Untuk menyatakan atau menyetujui pangan produk rekayasa genetika aman dikonsumsi, disusun Pedoman pengkajian keamanan pangan PRG, sebagai acuan dalam pengkajian keamanan pangan PRG, dan sebagai bukti bahwa telah diterapkan pendekatan kehati-hatian. Pengkajian keamanan pangan PRG meliputi informasi genetik (deskripsi umum pangan PRG, deskripsi inang dan penggunaannya sebagai pangan), deskripsi organisme donor, deskripsi modifikasi genetik, dan karakterisasi modifikasi genetik) dan informasi keamanan pangan (kesepadanan substansial, perubahan nilai gizi, alergenisitas, toksisitas, dan pertimbangan lain-lain).

Setiap pemohon yang ingin mendaftarkan pangan produk rekayasa dapat mengajukan permohonan secara tertulis kepada Kepala Badan POM dengan mengisi formulir dan menjawab daftar pertanyaan. Kepala Badan POM akan mengirimkan permohonan ini kepada Komisi Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan (KKHKP) untuk dilakukan pengkajian. Selanjutnya KKHKP menugaskan Tim Teknis Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan (TTKHKP) melaksanakan pengkajian untuk mengetahui apakah produk tersebut aman dikonsumsi atau tidak. Hasil kajian dilaporkan oleh tim teknis KHKP kepada Komisi KHKP untuk selanjutnya disampaikan rekomendasi (aman/tidak) kepada Kepala Badan POM. Berdasarkan rekomendasi ini Kepala Badan POM menerbitkan Surat Persetujuan / Penolakan terhadap produk pangan tersebut.

Komisi Keamanan Hayati dan Keamanan Pangan Produk Rekayasa Genetik, adalah komisi yang mempunyai tugas memberi rekomendasi kepada Menteri, Menteri berwenang dan Kepala LPND berwenang dalam menyusun dan menetapkan kebijakan serta menerbitkan sertifikat keamanan hayati PRG. KKHKP membantu dalam melaksanakan pengawasan terhadap pemasukan dan pemanfaatan PRG, serta pemeriksaan dan pembuktian atas kebenaran laporan adanya dampak negatif. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah NO. 21 Tahun 2005, Kedudukan, susunan keanggotaan, tugas pokok dan fungsi serta kewenangan KKHKP ditetapkan lebih lanjut dengan Peraturan Presiden atas usul Menteri. Proses pemantapan sistem ini sedang dipersiapkan Pemerintah dengan cermat agar pelaksanaannya menjadi tepat guna. (diolah dari berbagai sumber)

disadur dari http://apasihbiotek.com

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856