Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 4.200 (15%) ; Rp. 4.150 (17%)

Lampung
Rp. 4.000 (15%) ; Rp. 3.900 (17%)

Balaraja
Rp. 4.150 (15%) ; Rp. ——-  (17%)

Cirebon
Rp. 4.100 (15%) ; Rp. 3.900  (17%)

Semarang
Rp. 3.975 (15%) ; Rp. 3.850  (17%)

Surabaya
Rp. 3.900 (15%) ; Rp. 3.800  (17%)

Makasar
Rp. 4.000 (15%) ; Rp. 3.700  (17%)

Last Update 8 November 2017
Saham BISI

1.685

Last Update 23 November 2017
Antusiasme Petani Sambut Padi Hibrida Baru BISI, INTANI-602
24 March 2017 [ 1,548 views ]

Pada 21 Maret 2017 lalu, PT BISI International, Tbk. menggelar show teknologi padi hibrida hasil penelitian dan pengembangan produsen benih terbesar di Indonesia ini. Acara yang diadakan di lahan milik Misraji, salah seorang petani padi di Desa Plumpang, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur tersebut diikuti tidak kurang dari 150 petani dan pedagang padi serta petugas penyuluh lapang dari Ponorogo dan Ngawi.

Sekitar pukul 8:30 pagi, para peserta mulai berdatangan dan langsung menuju lahan untuk melihat sendiri bagaimana performa varietas padi hibrida yang dikembangkan oleh PT BISI itu. Antusiasme mereka tidak hanya dengan sekedar melihat, tapi juga turun langsung ke sawah, mengamati dari dekat, bagaimana penampakan tanamannya hingga ketahanannya terhadap serangan hama dan penyakit. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang menghitung langsung jumlah anakan per rumpun dan jumlah bulir per tanamannya.

“Dengan melihat jumlah bulirnya begini kan kita bisa tahu, ini nanti bisa seberapa banyak hasilnya dibanding padi bukan hibrida yang biasa kita tanam,” ujar Sunarto, salah seorang petani padi dari Desa Ngrambe, Kecamatan Ngrambe, Ngawi.

Disamping mengamati secara langsung performa tanaman padi hibrida di lahan, para peserta juga diberi kesempatan untuk melihat sendiri wujud berasnya sekaligus mencicipi nasi hasil panen dari masing-masing varietas padi hibrida tersebut.

“Kita tidak hanya sekedar memperkenalkan bagaimana tanaman padi hibrida kita di lahan, tapi kita juga menunjukkan bagaimana hasil olahan berasnya. Apakah berasnya disukai atau tidak, apakah rasanya enak atau tidak. Karena di antara para peserta ada pedagang penebas juga, sehingga padi hibrida yang dipilih nanti benar-benar sesuai dengan keinginan petani, pedagang, sekaligus konsumen akhir,” terang Chabib Ahmady, Area Manager PT BISI Jawa Timur.

Lebih lanjut, Chabib menegaskan bahwa sebagai produsen benih pangan terbesar di Indonesia, PT BISI selalu berupaya memberikan yang terbaik bagi petani dalam meningkatkan produktivitas dan pendapatan mereka melalui teknologi padi hibrida.

“Teknologi padi hibrida ini sudah melewati proses yang panjang dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, padi hibrida yang saat ini ditanam di sini ini sudah benar-benar teruji sebelumnya,” ujar Chabib.

Dalam kesempatan itu, Chabib juga menyatakan bahwa padi hibrida baru yang dikembangkan oleh PT BISI tersebut memiliki keunggulan yang berbeda dibanding padi-padi hibrida sebelumnya. Salah satunya adalah daya adaptasi yang lebih bagus, sehingga bisa ditanam di segala musim, baik musim hujan maupun kemarau.

“Kami tahu, opini yang berkembang di petani hingga saat ini terkait padi hibrida salah satunya adalah tanamannya tidak cocok ditanam di musim penghujan, karena kurang tahan dari serangan penyakit. Tapi, padi hibrida yang bapak ibu lihat di sini ini ditanam bulan Desember tahun lalu, pas sedang banyak hujan, dan sampai sekarang ini hujannya juga belum habis. Tapi ternyata (padi hibrida) masih bisa bertahan dengan baik dan performanya juga lebih bagus,” terang Chabib di hadapan para peserta.

Solusi di tengah konversi

Sementara itu, Tejo Iswoyo, Regional Manager Marketing Central Area PT BISI, dalam sambutannya mengatakan, benih hibrida bisa menjadi alternatif solusi peningkatan produksi pangan di tengah semakin gencarnya konversi atau alih fungsi lahan pertanian untuk kebutuhan pembangunan industri.

“Saat ini perluasan lahan tanam sudah sangat terbatas, dan pupuk juga terbatas. Dengan menggunakan benih hibrida, meskipun lahannya terbatas, tapi produktivitasnya bisa meningkat 20-25% per hektar. Sehingga bisa menjadi salah satu solusi peningkatan produksi dan pencapaian swasembada pangan,” terang Tejo.

Hal yang sama juga disampaikan Agung Setyo P., Kepala Seksi Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi. Menurutnya, dalam upaya peningkatan produksi tanaman pangan, khususnya di Jawa, alternatif solusinya saat ini hanya satu, yaitu meningkatkan produktivitas tanaman.

“Karena, untuk menambah luasan areal tanam sudah tidak memungkinkan lagi. Di Ngawi sendiri misalnya, setiap tahun makin banyak alih fungsi lahan untuk industri. Sehingga lahan sawah di Ngawi cenderung berkurang setiap tahunnya,” ujar Agung.

Oleh karena itu, lanjut Agung, dengan adanya teknologi padi hibrida bisa menjadi jawaban atas permasalahan tersebut. “Karena, padi hibrida memiliki produktivitas yang lebih tinggi. Sementara varietas padi biasa potretnya ya seperti ini, produksinya tidak bisa lebih banyak lagi,” katanya.

Potensi hingga 12 ton

Karakter tanaman, hasil, dan bentuk beras serta rasa nasi menjadi perhatian utama dalam acara show teknologi padi hibrida kali ini. Dari beberapa nomor varietas yang ditanam, satu nomor hibrida baru paling banyak dipilih para peserta, yaitu hibrida nomor 4 atau nama komersilnya Intani 602.

“Saya sendiri pilih nomor 4 (Intani 602-red.). Karena pertumbuhannya dari awal tanam sampai panen paling bagus. Rasa nasinya juga enak, pulen, dan lebih wangi. Perlakukan dan perawatannya juga sama dengan padi biasa,” ujar Misraji.

Sementara menurut Nancy Nugraini, staf penelitian dan pengembangan padi hibrida PT BISI, padi hibrida Intani 602 memiliki umur panen 114 hari setelah semai. “Potensinya bisa sampai 12 ton per hektar gabah kering giling. Kalau rata-ratanya sekitar 9 ton per hektar. Tanamannya kokoh dan tahan rebah. Perawatannya juga tidak sulit dan tidak berbeda dengan padi biasa atau inbrida,” ujarnya.

Lebih lanjut Nancy mengatakan, kelebihan lain dari padi hibrida tersebut adalah mudahnya beradaptasi dengan berbagai macam kondisi musim. Pasalnya, benih padi ini dikembangkan langsung di Indonesia dengan menyesuaikan kondisi cuaca dan iklim setempat.

“Sehingga tanamannya bisa lebih sesuai dan cocok dengan kondisi iklim di sini. Ketahanan terhadap hama penyakit juga lebih baik, sehingga potensi produksinya pun bisa stabil lebih tinggi,” terang Nancy.

Di samping Intani 602, padi hibrida lain yang juga banyak dipilih peserta dalam kesempatan itu adalah Intani 301. Berbeda dengan Intani 602, padi hibrida ini memiliki umur yang lebih genjah. “Umurnya lebih genjah 7 sampai 10 hari. Kalau potensi produksinya hampir sama dengan Intani 602,” ujar Nancy.

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856