Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 3.900 (15%) ; Rp. 3.850 (16%)

Lampung
Rp. 3.725 (15%) ; Rp. 3.625 (17%)

Balaraja
Rp. 4.000 (15%)

Cirebon
Rp. 3.750 (15%) ; Rp. 3.650  (17%)

Semarang
Rp. 3.700 (15%) ; Rp. 3.600  (17%)

Surabaya
Rp. 3.600 (15%) ; Rp. 3.500  (17%)

Makasar
Rp. 3.650 (15%) ; Rp. 3.350  (17%)

Last Update 14 December 2017
Saham BISI

1.790

Last Update 15 December 2017
Ali Muchson “marem”
2 May 2012 [ 64 views ]

Terhitung sudah ketiga kalinya Ali Muchson (27) menanam jagung super hibrida BISI 222 di lahannya. Tidak ada kata selain “marem (puas)” yang diucapkannya setelah mengetahui hasil panen jagung produksi PT. BISI International Tbk (PT. BISI) itu.

Lahannya tidaklah luas, hanya 100 ru atau sekitar 1.400 m2. Namun, dari lahan itulah Ali Muchson menekuni usaha tani jagung bersama kedua orang tuanya. Selama ini ia juga sudah sangat akrab dengan benih jagung produksi PT. BISI, mulai dari BISI-2 hingga BISI 816. Baru-baru ini ia pun mencoba menanam benih jagung super hibrida BISI 222, salah satu varietas jagung hibrida terbaru yang dikeluarkan oleh salah satu produsen benih terbesar di Indonesia itu.

“Saya sudah tiga kali tanam (BISI) 222,” ujarnya saat ditemui Abdi Tani di rumahnya di Desa Pakisrejo, Srengat, Blitar, Jawa Timur.

Performa tanaman yang bagus dan kualitas serta kuantitas hasil yang baik menjadi pertimbangannya untuk kembali menanam BISI 222. “Lebih marem (puas-red) dengan BISI 222, tongkolnya besar dan seragam. Bijinya bisa muput (penuh hingga ujung tongkol-red) dan warnanya sangat menarik, merah maremake,” ungkap pemuda yang juga dipercaya sebagai Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Pakisrejo.

Menurutnya, jagung dengan warna biji yang lebih merah, tepatnya oranye kemerahan, menjadi daya tarik tersendiri bagi para petani seperti dirinya dan juga bagi pedagang. Pasalnya, warna biji yang demikian menjadi salah satu penanda bahwa jagung tersebut dalam kondisi normal dan sehat.

“Bagi pedagang, jagung yang warnanya lebih merah, seperti BISI 222, itu juga mempengaruhi penjualan dan taksiran dari pedagang penebas. Karena jagung dengan warna seperti itu pasti sehat. Petani juga merasa marem, karena bagus dan bijinya lebih bobot. Istilahnya, dengan melihatnya saja sudah sangat senang,” terang Muchson.

Dari lahan seluas 100 ru, dengan menggunakan benih jagung super hibrida BISI 222, Muchson bisa mendapatkan hasil 15 kuintal (ku) atau sekitar 10,7 ton per hektar pipilan kering. Biasanya, ia hanya mendapatkan hasil rata-rata sebanyak 13 kuintal pipil kering tiap 100 ru (9,2 t/ha) atau selisih 2 ku/100 ru (1,5 t/ha).

Selain itu, katanya, jagung ini juga lebih tahan dari serangan bulai (penyakit yang diakibatkn oleh jamur Peronosclerospora maydis). “Varietas lain yang terkena bulai bisa sampai 40 persen. Tapi BISI 222, sampai tiga kali tanam ini, serangannya sangat kecil sekali, tidak lebih dari lima persen,” ujarnya.

Ia pun bisa mengoptimalkan pendapatan yang bisa diperolehnya dari bercocok tanam jagung tersebut. Dengan harga jual jagung pipilan kering sebesar Rp. 2.600/kg, maka dari 1,5 ton hasil panen BISI 222 ia bisa mendapatkan penghasilan Rp. 4,9 juta.

“Biaya tanamnya tidak banyak, karena sebagian besar tenaga dikerjakan sendiri dan dibantu kedua orang tua saya. Kira-kira hanya menghabiskan biaya sekitar Rp. 700 ribu,” kata Muchson. Dengan demikian, ia pun bisa mengantongi hasil bersih tidak kurang dari Rp. 4,2 juta per 100 ru atau setara dengan Rp. 30,7 juta per hektar lahan.

Untuk mengoptimalkan keuntungan usaha tani jagungnya itu, Muchson tidak pernah menjualnya kepada para tengkulak melalui sistem tebasan atau borongan. Ia memilih untuk memanennya sendiri, kemudian mengeringkannya dan dijual sendiri ke pasaran dalam bentuk pipilan kering.

“Keuntungannya lebih banyak. Kalau ditebaskan, lahan 100 ru hanya ditaksir satu ton, padahal hasil nyatanya bisa sampai 1,5 ton. Kan ada selisih setengah ton, kalau diuangkan kan hasilnya lumayan,” katanya. Selain itu, dengan dipanen sendiri, batang, daun, dan klobotnya bisa diambil untuk dijadikan pakan ternak. Sementara kalau diborongkan, semua bagian tanaman menjadi milik sang pemborong.

Bisa tanam jagung tiga kali dalam setahun

Satu hal lagi yang membuat petani muda asli Blitar itu tertarik dengan jagung super hibrida BISI 222, yaitu umur panennya yang lebih pendek dibandingkan yang lain, yaitu sekitar 95 hari setelah tanam sudah mulai bisa dipanen

“Biasanya umur 90 hari mulai saya pocok (pemangkasan batang jagung yang berada di atas tongkol-red) dan umur 95 hari sudah bisa dipanen,” jelasnya.

Dengan umur yang lebih genjah itu, Muchson bisa mengoptimalkan lahannya untuk ditanami hingga empat kali dalam setahun, yakni padi sekali dan jagung tiga kali. Biasanya, petani di daerahnya hanya melakukan tiga kali penanaman dalam setahun, padi satu kali dan jagung dua kali.

“Dengan jagung ini sesaat setelah dipocok, bawahnya sudah mulai diicir (ditanami benih-red) jagung lagi. Kemudian setelah benih yang baru itu mulai tumbuh, tanaman jagung yang sudah dipocok tadi mulai dipanen. Begitu seterusnya,” terang Muchson.

Sehingga dalam setahun, pendapatan Muchson dari bertanam jagung BISI 222 bisa lebih banyak dibanding mereka yang tanam jagung lain. Karena, ia bisa mendapat penghasilan tambahan dari surplus satu kali tanam jagung tersebut. Jika dari 100 ru BISI 222 bisa mendapatkan penghasilan Rp. 4,9 juta, maka dalam setahun dengan tiga kali tanam penghasilannya bisa Rp. 14,7 juta.

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856