Harga Jagung CPI

Medan
Rp. 4.400 (15%) ; Rp. 4.150 (17%)

Lampung
Rp. 4.050 (15%) ; Rp. 3.900 (17%)

Balaraja
Rp. 4.350 (15%) ; Rp. ——-  (17%)

Cirebon
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.150  (17%)

Semarang
Rp. 4.250 (15%) ; Rp. 4.000  (17%)

Surabaya
Rp. 4.150 (15%) ; Rp. 4.050  (17%)

Makasar
Rp. 4.100 (15%) ; Rp. 3.900  (17%)

Last Update 6 September 2017
Saham BISI

1.495

Last Update 13 September 2017
AAN ‘Kenthir’ Bangunkan Lahan Tidur Dengan Jagung BISI
21 October 2016 [ 219 views ]

Pria satu ini jauh dari sangat apa adanya, penampilannya jauh dari kesan rapi dan pintar, tapi apa yang sudah dilakukannya telah menjadi inspirasi petani di Karanggayam untuk lebih produkstif dalam bertani. Langkah nyatanya dengan membangunkan lahan tidur menjadi bukti nyata kegilaan otaknya yang seakan tidak pernah berhenti untuk berbuat lebih.

Penampilannya boleh dibilang awut-awutan. Jauh dari kesan rapi. Rambutnya pun dibiarkan panjang tak bersisir. Dan rokok telah menjadi teman setianya yang tidak pernah lepas dari jari tangan dan mulutnya. Dialah Ahmad Fauzan atau yang lebih dikenal dengan nama panggilan Aan “Gila” atau Aan “Kenthir”.

Penampilannya memang, maaf, seperti orang gila. Dan dia sendiri mengakui hal itu. “Saya di sini dikenal sebagai orang gila. Sering saya dijuluki kenthir (gila-Bahasa Jawa). Ya memang gila di otak saya ini,” ucapnya sembari tertawa.

Begitulah Aan, sosok pria yang selalu tampil apa adanya. Bagi yang baru melihatnya, mungkin akan berpikiran lain. Tapi begitu berbincang seputar pertanian, banyak hal di luar dugaan seakan mengalir begitu saja dari otaknya. Ditambah dengan kepandaiannya berbicara menjadikan setiap obrolan lebih menarik dan tidak membosankan.

Pria yang tidak mau menyebutkan usia pastinya ini, kalau diamati usianya sekitar 40-an tahun, baru menetap di Desa Karanggayam, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah pada tahun 2012. Sebelumnya ia menetap di kawasan Kebumen selatan, tepatnya di Desa Karangduwur, Kecamatan Petanahan. Di Karanggayam, ia mendirikan sebuah rumah sederhana yang berada persis di seberang lahan yang ia kelola.

Bangunkan lahan tidur

Karanggayam merupakan kecamatan terluas di Kebumen yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani dan buruh tani. Sebagian besar lahannya berupa lahan kering atau tegalan. Dari data BPS Kebumen, luas lahan kering di Karanggayam 9.313 ha, sementara lahan sawah yang rutin ditanami padi luasnya hanya 1.616 ha.

Meski potensi lahan pertanian cukup luas, belum sepenuhnya dimanfaatkan dengan baik. Seperti di Desa Karanggayam sendiri. Dalam setahun, para petani hanya memanfaatkan lahan mereka untuk bercocok tanam padi, selebihnya dibiarkan menganggur atau diberokan.

“Lahan di sini hanya ditanami saat musim hujan, itupun umumnya hanya tanam padi. Setelah padi lahannya dibiarkan begitu saja menjadi lahan tidur sampai musim tanam padi berikutnya. Ada beberapa yang ditanami kacang hijau, tapi ya sekedar tanam saja, tidak dirawat,” terang Aan.

Hal itulah yang menggelitik Aan untuk memanfaatkan potensi yang menganggur itu menjadi sebuah peluang yang bisa mendatangkan hasil lebih. “Karena, sebenarnya selama musim kemarau masih bisa ditanami sampai dua kali. Saya ingin merubah paradigma petani di sini, bahwa saat kemarau pun masih bisa ditanami dan masih bisa menghasilkan,” ucapnya.

Sebagai langkah nyatanya, ia pun menyewa sejumlah lahan dari beberapa petani setempat untuk ditanami jagung di musim kemarau atau saat lahannya tengah “ditidurkan” oleh pemiliknya. Ia juga membuat sumur bor untuk mengairi lahannya saat diperlukan.

“Saya buat tiga titik sumur bor. Yang paling dangkal kedalamannya sekitar 50 meter,” katanya.

Aan memang bertekad untuk membalik opini para petani setempat sekaligus membuka wacana baru bagi mereka untuk lebih produktif dalam bercocok tanam. Ia pun menyewa lahan sekitar satu hektar untuk ditanami jagung, lokasinya bersebelahan dengan lahan yang selama ini ia sewa untuk ditanami pepaya california.

“Yang saya tanami jagung ini sekitar satu hektar. Ini juga pertama kalinya saya tanam jagung,” ujar Aan saat berbincang dengan Abdi Tani di lahan jagungnya yang sudah siap panen.

Terkait penanaman jagung itu sendiri, kata Aan, ada persepsi yang unik yang berkembang di kalangan petani setempat. Yaitu, keyakinan bahwa tanah yang ditanami jagung akan menjadi tandus atau rusak. “Menurut mereka kalau ditanami jagung tanahnya menjadi cengkar atau tandus. Padahal tidak demikian,” ungkapnya.

Ini pula yang ingin dibuktikan Aan bahwa dengan bercocok tanam jagung yang baik dan benar bisa memberikan hasil lebih, sekaligus tidak merusak lahan yang ditanami.

Merintis misi dengan jagung BISI

Sebagai pengalaman pertamanya, bercocok tanam jagung kali ini dirasa Aan banyak keterbatasan. Di samping keterbatasan biaya perawatan karena suatu hal, kondisi cuaca juga kurang bersahabat. “Ini saya bilang jagung tanpa perawatan. Kemarin ketelatan biaya, jadi perawatannya seadanya. Tapi kalau dilihat pertumbuhannya sejauh ini masih lumayan bagus,” ungkapnya sembari menunjukkan tanaman jagung miliknya.

Jagung yang ditanam Aan tersebut semuanya produk dari PT BISI International, Tbk., yaitu BISI 18 dan BISI 226. “Semuanya hampir satu hektar. Sebagian besar, sekitar 7.000 m2, BISI 18. Sedangkan sisanya satu petak saya tanami BISI 226,” ujarnya.

Performa yang cukup bagus itu semakin membuat Aan menggebu untuk memberikan contoh langsung kepada para petani setempat dalam bercocok tanam jagung di lahan yang dibuat tidur oleh pemiliknya itu. Dan, kesempatan itu pun datang dengan digelarnya acara studi banding sekaligus panen raya bersama Dinas Pertanian dan perwakilan para petani setempat di lokasi tanam jagung miliknya tersebut.

Bagusnya performa tanaman jagung yang ditanam Aan dengan keterbatasan biaya perawatan itu ternyata juga diikuti oleh hasil ubinan yang tinggi. Menurut keterangan Sipartulah, Agronomis Jagung PT BISI Area Kebumen, hasil ubinan yang dilakukan di lokasi menunjukkan hasil yang sangat memuaskan.

“Yang kita ubin hanya yang BISI 18. Sebelum dipipil hasilnya 12,7 kilogram, dan setelah dipipil hasilnya 10,6 kilogram dari luasan ubinan 6,25 m2,” terang Sipartulah.

Jika dikonversikan ke satuan hektar, hasil ubinan 10,6 kg tersebut setara dengan 16,9 ton pipil kering panen per hektar. “Ternyata hasil ubinannya memang luar biasa. Semoga hasil riilnya nanti tidak terlalu jauh dengan hasil ubinan ini. Karena selain faktor perawatan yang kurang optimal, kondisi cuaca sewaktu tanam juga kurang mendukung. Hujannya berlebihan di awal pertumbuhan, jadi banyak yang tidak tumbuh dan tidak pernah saya sulami lagi,” terang Aan.

aan1

Aan memang menyayangkan perawatan jagungnya yang kurang optimal tersebut, namun ia juga mengaku puas dengan performa jagung BISI (BISI 18 dan BISI 226) yang ditanamnya tersebut. “Meski kondisinya serba terbatas, tapi hasilnya masih cukup memuaskan,” ungkapnya.

Menurut Aan, setelah acara studi banding di lahannya tersebut, banyak petani setempat yang tertarik untuk ikut mengembangkan komoditas jagung di lahan mereka, khususnya di saat tanah mereka ditidurkan atau diberokan.

“Tanam jagung itu kan sangat mudah. Istilahnya, ditinggal tidur saja sudah bisa tumbuh sendiri,” kelakarnya. Ia pun lantas menggagas ide lomba tanam jagung di Karanggayam. “Ya biar para petani semakin semangat. Kalau ada hadiahnya dan lebih baik lagi kalau mereka juga mendapatkan bantuan benih dan pupuk, tentu mereka akan lebih tertarik lagi menanam jagung,” tambahnya.

Sumber : Majalah Abdi Tani (Oktober 2016)

aplikasi-pertanian-bisi

 

PT. BISI International, Tbk
Jl. Raya Surabaya - Mojokerto Km.19 Taman - Sidoarjo 61257 - Jawa Timur - Indonesia
Telp: (031)7882528 - Fax: (031) 7882856